Minggu, 05 Desember 2010

TINGKAT PENGETAHUAN ANAK REMAJA TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa reproduksi adalah masa yang penting bagi seluruh organisme di permukaan bumi untuk meneruskan keturunannya. Seperti halnya makhluk lain, manusia juga menjalankan perannya dalam meneruskan keturunan, dan wanita memiliki peranan yang cukup besar. Sebelum seorang wanita siap menjalani masa reproduksi, terdapat masa pubertas.
Pubertas atau masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Tidak ada batas yang tajam antara akhir masa kanak-kanak dan awal masa pubertas, akan tetapi dapat dikatakan bahwa pubertas mulai dengan awal berfungsinya ovarium dan berakhir pada saat ovarium sudah berfungsi dengan mantap dan teratur. Secara klinis pubertas mulai dengan timbulnya ciri-ciri kelamin sekunder (Manuaba,1998).
Sejak memasuki masa pubertas, hormon yang ada dalam tubuh telah mencukupi untuk memulai mengalirkan darah menstruasi. Hal ini tentu saja sebagai pertanda bahwa sudah memasuki tahap kematangan organ seksual dalam tubuhnya, sehingga sudah dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Datangnya menstruasi pertama ini disebut dengan menarche, biasanya akan terjadi pada usia sekitar 10 tahun. Setiap perempuan tidaklah selalu sama siklus menstruasinya. Siklus menstruasi adalah suatu rangkaian peristiwa sejak mulainya satu menstruasi ke menstruasi bulan berikutnya, dapat terjadi setiap 26-30 hari, bahkan kemungkinan ada yang sampai 40 hari. Siklus ini dapat dikendalikan oleh siapapun dan pada saat kapanpun. Seorang perempuan hanya dapat meramalkan kapan menstruasinya datang, tapi tidak secara umum. Seperti diketahui, siklus menstruasi seseorang dalam setiap bulannya tidaklah sama, bisa terlambat atau agak cepat. Semuanya normal, masa menstruasi seseorang pada umumnya terjadi sekitar 4-7 hari (Dianawati, 2003).
Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang berulang setiap bulan tersebut akhirnya membentuk siklus menstruasi. Siklus menstruasi dihitung dari hari pertama haid sampai tepat satu hari pertama haid bulan berikutnya. Siklus menstruasi berkisar antara 21-40 hari hanya sekitar 10-15 persen wanita yang memiliki siklus 28 hari.
Banyak perempuan yang pada waktu menjelang atau selama menstruasi mengalami stres. Hal ini disebabkan oleh ketegangan mental dan fisik yang dialaminya dan merasa sangat menyulitkan segala aktifitasnya. (Dianawati, 2003)
Gejala yang sering ditemukan pada waktu menjelang atau selama menstruasi seperti iritabilitas (mudah tersinggung) dan disforia (perasaan sedih). Banyak juga diantaranya yang kemudian terlihat pucat, lemas, atau tidak bergairah, serta kehilangan nafsu makan, yang kesemuanya itu berhubungan dengan perubahan hormon yang memicu terjadinya ketidakstabilan dalam diri masing-masing wanita. Karena sifatnya yang hormonal dan temporer maka gejala yang ditimbulkannya pun sangat beragam. (http://www.Keluargasehat.com : 2009)
Di Tasikmalaya berdasarkan data yang diperoleh dari Mitra Citra Remaja (Salah satu konsultasi permasalahan remaja di Tasikmalaya) pada tahun 2008 remaja yang mengalami masalah menstruasi diantaranya dapat mengganggu aktivitas khususnya bagi seorang pelajar. Salah seorang siswi mengakui bahwa setiap menjelang atau selama menstruasi dirinya merasa terganggu, kadang sampai tidak sadarkan diri.
Hampir setiap remaja terutama siswi SLTP di Jawa Barat aktivitas belajarnya merasa terganggu ketika menjelang atau selama menstruasi. Diperkirakan 50% usia remaja 14-20 tahun mengalami hal tersebut. (http://www.Keluargasehat.com : 2007). Selain itu, remaja yang merasa terganggu ketika menjelang atau selama menstruasi juga dialami oleh siswi SLTPN II Taraju. Mereka mengeluh merasa takut dan stres ketika akan menjelang haid yang disertai rasa sakit dan kadang sampai tidak sadarkan diri. Selain itu juga, kadang siswi malas untuk pergi sekolah atau sampai tidak mengikuti jam pelajaran. Salah satu faktor tingginya angka kejadian tersebut yaitu kurangnya pengetahuan siswi dalam menghadapi menstruasi. Oleh karena itu, kemampuan intelektual siswi tentang menstruasi sangat penting misalnya tahu akan pengertian menstruasi, gangguan menstruasi, siklus dan tahu cara penanganan ketika akan menghadapi menstruasi.
Hal ini mungkin tidak akan terjadi jika pengetahuan siswi tentang menstruasi atau cara menghadapinya baik sehingga dapat mengurangi tingkat emosi atau stres saat menstruasi terjadi dan aktifitas belajarpun tidak akan terganggu. Misalkan, bagaimana cara menghadapi menstruasi yang tenang, sedikitnya tahu obat untuk mengurangi rasa nyeri ataupun tindakan lainnya.
Pengetahuan tentang menstruasi ini perlu dimiliki sejak dini, karena dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam bertindak. Menurut Green (1980, dalam Notoatmodjo, 2003), perilaku ditentukan atau terbentuk dari faktor predisposisi, yaitu: pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai; faktor pendukung, yaitu: lingkungan, fisik, fasilitas atau sarana dan faktor pendorong, yaitu: sikap atau perilaku yang mendukung. Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa pengetahuan merupakan domain penting untuk terbentuknya perilaku seseorang karena tindakan yang didasari dengan pengetahuan akan lebih langgeng daripada tindakan atau perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Dengan demikian siswi yang memiliki pengetahuan tentang menstruasi ini diharapkan dapat merealisasikan dalam kegiatan sehari-hari.
Berdasarkan hasil survei awal melalui wawancara mendalam kepada 10 orang siswi SLTPN II Taraju pada bulan April tahun 2009 mengenai masalah tentang menstruasi, ternyata 8 dari 10 orang menyatakan bahwa responden kurang mengetahui tindakan apa yang mesti dilakukan pada saat menstruasi misalnya menghilangkan atau mengurangi rasa sakit pada saat menjelang atau selama menstruasi. Berbeda dengan hasil survei wawancara kepada 10 orang siswi SLTPN I Taraju mengenai masalah tentang menstruasi, ternyata 9 dari 10 orang menyatakan bahwa responden sedikitnya tahu dan mengerti tindakan yang selalu dilakukan pada saat menstruasi. Misalnya, cara mengurangi rasa sakit pada saat menjelang atau selama menstruasi.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Tingkat Pengetahuan Siswi SLTPN II Taraju Tentang Menstruasi”.

B. Rumusan Masalah
Dilihat dari latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan suatu masalah dalam penelitian ini adalah “Sejauhmana Tingkat Pengetahuan Siswi SLTPN II Taraju tentang menstruasi?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan yang dimiliki siswi SLTPN II Taraju tentang menstruasi.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang pengertian menstruasi.
b. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang gangguan menstruasi.
c. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang siklus haid.
d. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang cara menghadapi menstruasi.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti.
Penelitian ini bermanfaat sebagai sarana untuk menerapkan teori dan ilmu yang telah diperoleh di tempat kuliah serta untuk menambah wawasan mengenai pengetahuan tentang menstruasi.
2. Bagi STIKES Muhammadiyah Tasikmalaya
Sebagai bahan untuk memahami mahasiswa yang sedang mengalami menstruasi terhadap perilaku dalam proses pembelajaran.
3. Bagi SLTPN II Taraju
Sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam penyusunan kurikulum guna meningkatkan pengetahuan siswi mengenai pembelajaran Pendidikan Kesehatan Reproduksi.
4. Bagi Profesi Keperawatan
Menambah pengetahuan dan pengembangan ilmu keperawatan tentang permasalahan dan penanganan menstruasi dan dapat dijadikan sebagai bahan untuk pendidikan kesehatan terutama pada wanita.

E. Keaslian Penelitian
Penelitian tentang “Pengetahuan siswi SLTPN II Taraju tentang menstruasi” dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, adapun penelitian lain yang mirip dengan penelitian ini yaitu pada tahun 2007, penelitian tentang “Tingkat pengetahuan tentang Pre Menstruasi Syndrom (PMS) pada siswi SMA Pasundan Tasikmalaya”. Tetapi penelitian ini, sebagian besar diarahkan pada masalah yang muncul terjadi sebelum menstruasi (Pre Menstruasi Syndrom). Sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti sekarang ingin mengetahui tingkat pengetahuan siswi tentang menstruasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
1. Pengetahuan
a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek-objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
b. Ragam Pengetahuan.
Ditinjau dari sifat dan cara penerapannya, pengetahuan terdiri atas dua macam, yaitu:
1) Declarative propositional knowledge, yakni pengetahuan mengenai informasi faktual yang umumnya bersifat statis-normatif dan dapat sijelaskan secara verbal atau lisan. Isi pengetahuan berupa konsep dan fakta yang dapat ditularkan kepada orang lain melalui ekspresi tulisan dan lisan. Pengetahuan ini lazim disebut “mengetahui bahwa”.
2) Procedural knowledge, yakni pengetahuan yang mendasari kecakapan atau keterampilan perbuatan jasmaniah yang cenderung bersifat dinamis. Namun, pengetahuan ini sangat sulit diuraikan secara lisan, meskipun susah didemonstrasikan dengan perbuatan nyata. Pengetahuan ini lazim disebut “mengetahui cara” .
c. Tingkat Pengetahuan Dalam Domain Kognitif.
1) Know (tahu) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Tahap ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2) Comprehension (memahami), diartikan sebagai suatu kemampuan menjalaskan secara benar tentang apa yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3) Application (aplikasi), diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
4) Analysis (analisis), diartikan suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu, material atau objek kedalam komponen-komponen, tapi masih dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5) Syntesis (sintesis), menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6) Evaluation (evaluasi), kemampuan unutk melakuakn justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang sudah ada. (Notoatmodjo,2003).
d. Faktor-faktor Pengetahuan menurut teori Lawrence Green, yaitu:
1) Faktor predisposisi (disposing factors), yaitu faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku sesorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi.
2) Faktor pemungkin (enobling factors), yaitu faktor-faktor yang memungkinan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan, faktor pemungkin adalah sarana prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan, misalnya Puskesmas, Posyandu, Rumah Sakit, Tempat olahraga.
3) Faktor penguat (reinforcing factors), yaitu faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku. Kadang-kadang, meskipun seseorang tahu dan mampu untuk berperilaku sehat, tetapi tidak melakukannya.
e. Pengukuran Pengetahuan.
Pengukuran pengetahuan dapat menggunakan pertanyaan yang bersifat objektif dan subjektif. Pertanyaan objektif merupakan pertanyaan tertutup misalnya pertanyaan pilihan ganda, benar-salah atau menjodohkan. Pertanyaan subjektif berupa pertanyaan terbuka atau essay. Pertanyaan objektif lebih banyak disukai dalam penelitian karena dapat lebih mudah disesuaikan dengan pengetahuan yang akan diukur dan lebih cepat dinilai.
f. Dasar-Dasar Pengetahuan
1) Tradisi
2) Otoriter
3) Meminjam dari disiplin orang lain
4) Pengalaman trial dan error
5) Alasan yang logis
6) Metode ilmiah
g. Tujuan Pengetahuan
Adapun tujuan dari pengetahuan adalah untuk mendapatkan kepastian serta menghilangkan prasangka sebagai akibat ketidak pastian tersebut.
h. Unsur-Unsur Pengetahuan
1) Pengetahuan
2) Tersusun secara sistematis
3) Menggunakan pemikiran
4) Dapat di kontrol secara krotis oleh orang lain atau umum (objek) Pembagian pengetahuan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang antara lain:
a) Dari segi objek
(1) Ilmu Matematika
(2) Ilmu Pengetahuan
(3) Ilmu Perilaku
(4) Ilmu Pengetahuan Kerohanian
b) Dari sifatnya
(1) Pengetahuan Eksa
(2) Pengetahuan non Eksa
c) Dari sudut penerapan
(1) Pengetahuan murni
Membentuk dan mengembangkan pengetahuan secara abstrak yakni untuk mempertinggi mutunya
(2) Pengetahuan Terapan
Untuk membantu masyarakat didalam mengatasi masalah yang dihadapi.
Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku meupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skiner ini disebut “S-O-R” atau Stimulus-Organisme-respon.


2. Menstruasi
a. Pengertian Menstruasi

Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan.
Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium. (Hanafi, 1999)
Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. (http://www.repository.ui.com :2009)
Masa subur adalah masa dimana tersedia sel telur yang siap untuk dibuahi. Masa subur berkaitan erat dengan menstruasi dan siklus menstruasi. Masa subur ditandai oleh kenaikan Luteinizing Hormone (LH), Follicle Stimulating (FSH) dan estrogen. Selain itu siklus juga dipengaruhi ole kondisi psikis si wanita jadi,bisa maju atau mundur, untuk itu pemahaman mengenai bagaimana terjadinya menstruasi dan bagaimana siklus menstruasi itu perlu dipahami kaum hawa secara rinci.
b. Gangguan Menstuasi
Ada beberapa istilah medis yang sering di jumpai untuk menyebutkan adanya gangguan pendarahan pada siklus menstruasi, diantaranya :

1) Hipermenoria
Pendarahan haid yang lebih banyak dari normal.Biasanya berlangsung lebih dari 8 hari, ini karena terdapat gangguan pada uterus atau rahim.
2) Polimenorea
Pendrahan haid yang tidak begitu banyak dan siklus menstruasi kurang dari 21 hari. Biasanya diakibatkan dari gangguan ovulasi atau karena adanya penyakit sistemik yang berhubungan dengan sistem hormonal.
3) Metroregia
Pendarahan yang terjadi antara 2 siklus haid dan darah yang keluar kebanyakan sedikit atau bahkan banyak
4) Oligomenorea
Siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari. Perdarahan pada oligomenorea biasanya berkurang.
5) Amenorea
Keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut.(Simanjuntak:1999)
c. Siklus Menstruasi
Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus, karena jam mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus mengandung kesalahan kurang lebih satu hari. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap siklus haid yang klasik ialah 28 hari,tetapi variasinya cukup luas ,bukan saja anatara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama (Hanafi, 1999)
d. Gangguan lain pada awal haid (Dismenorea)
Dismenorea atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan (Simanjuntak, 1999).
Dismenorea di bagi atas :
1) Dismenorea Primer (esensial, intrinsik, idiopatik), tidak terdapat hubungan kelainan ginekologik.
2) Dismenorea Sekunder (salpingitis, yang diperoleh, acquired), disebabkan oleh kelainan ginekologik (salpingitis kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis servisis uteri, dan lain-lain).
Etiologi beberapa faktor memegang peranan :
1) Faktor Kejiwaan
2) Faktor Konstitusi
3) Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis
4) Faktor Endokrin
5) Faktor Alergi.

Penanganan :
1) Penerangan dan nasehat
2) Pemberian obat analgesik
3) Terapi Hormonal
4) Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin
5) Dilatasi kanalis servikali.

B. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimilki atau didapatkan oleh sesuatu penelitian tentang suatu konsep penelitian tertentu.Variabel penelitian disini adalah “Tingkat Pengetahuan siswi SLTPN II Taraju Tentang Menstruasi”.

C. Kerangka Penelitian
Berdasarkan kerangka teori dan tujuan yang ingin diperoleh melalui penelitian ini, maka kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1
Kerangka Konsep




Sumber: Buku Pendidikan Dan Prilaku Kesehatan
(Soekidjo Notoatmodjo, 2003:15)
D. Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Skala Ukur Alat
Ukur Hasil Ukur
1. Pengetahuan Kemampuan intelektual siswi untuk mengungkapkan kembali apa yang diketahui tentang Menstruasi yang meliputi:
pengertian Menstruasi, -Gangguan menstruasi, Siklus haid,
Cara
menghadapi saat atau menjelang menstruasi.
Benar diberi nilai 1

Salah diberi nilai 0 Ordinal


Kuesioner
Dengan menggunakan soal pilihan ganda (Multiple choice) 1. Baik (76%-100%)
2. Cukup (60%-75%)
3. Kurang (<60%)



(Sugiono, 2005)

1.


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian dan Pendekatan
Metode penelitian bersifat deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang suatu keadaan secara objektif yang digunakan untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang (Notoatmodjo, 2002).

B. Populasi, Sampel dan Sampling
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek peneliti. (Arikunto, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas 2-3 SLTPN II Taraju yang berjumlah 270 siswi, 190 siswi yang sudah menstruasi.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari polulasi yang diteliti. (Arikunto, 2003). Ukuran sampel yang diambil agar mewakili seluruh populasi ditentukan dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Soekidjo Notoatmodjo (2002 ), sebagai berikut :

Keterangan :
n= Jumlah sampel
N= Besar populasi
d=Tingkat kepercayaan (10%)
Perhitungan jumlah sampelnya adalah sebagai berikut:





= 66
Dari hasil perhitungan maka diperoleh sampel sebanyak 66 orang.
Dengan karakteristik sampel :
a. Siswi usia 13-15
b. Siswi yang sudah menstruasi 190 orang
c. Siswi kelas 2-3
3. Sampling
Sampling merupakan sutu proses dalam menyeleksi sampel yang digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, dengan menggunakan tehnik sampling.
Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak sederhana (Sample Random Sampling ) yaitu pengambilan sampel dilakukan secara acak sehingga subjek dianggap sama untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel tanpa perasaan ingin mengistimewakan satu atau beberapa subjek untuk dijadikan sampel. Metode pengambilan sampel acak sederhana yang dilakukan menggunakan tehknik undian.

C. Tempat Penelitian
Rencana penelitian akan ini dilaksanakan di SLTPN II Taraju Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya.

D. Waktu Penelitian
Penelitian telah dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan dari tanggal 20 Juli sampai dengan 21 Agustus 2009.

E. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini hanya menggunakan satu variabel, yaitu pengetahuan siswi tentang menstruasi.

F. Instrumen Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dibantu dengan menggunakan instrumen sebagai berikut :
1. Kuesioner berisi pertanyaan pengetahuan mengenai menstruasi, yang terdiri dari 35 item pertanyaan. Pengertian menstruasi 8 item, gangguan menstruasi 14 item, Siklus haid 4 item, cara penanganan dalam menghadapi menstruasi 9 item.
2. Alat tulis untuk mencatat dan lembaran soal yang di buat sendiri.

G. Jenis dan cara Pengumpulan Data
1. Jenis data
Data yang diambil adalah data primer dengan instrumen kuesioner. Sebelum digunakan, kuesioner dilakukan uji validitas dan relibilitas untuk menguji butir-butir pertanyaan yang ada dalam kuesioner, apakah isi dari butir pertanyaan tersebut sudah valid dan reliable atau belum.
a. Uji Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur. (Notoatmodjo, 2002). Untuk mengetahui valid atau tidaknya alat ukur ini, maka sebelum disebarkan ke responden, terlebih dahulu diujicobakan instrumen ini kepada 20 orang responden yang mempunyai karakteristik yang sama dengan kriteria sampel di SLTPN II Puspahiang untuk selanjutnya dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan formulasi “ Product moment” dari Pearson. Langkah-langkah yang dilakukan untuk uji validitas ini adalah dengan menghitung koefisien dengan menggunakan rumus :
R= N ( ∑ XY ) – ( ∑ X ∑ Y ) ooooo
√{ N∑X2 – ( ∑X )2 }{ N∑Y2 – ( ∑Y )2}

Dimana : N = Jumlah Responden.
X = Nomor pertanyaan.
Y = Skor total.
XY = Skor pertanyaan x Skor total
Setelah diperoleh harga r1 hitung, selanjutnya untuk dapat diputuskan instrumen tersebut valid atau tidak, harga tersebut dikonsultasikan dengan harga r tabel. Dengan n = 20 taraf kesalahan 5% diperoleh 0,444 dan taraf kesalahan 1% = 0,561. jumlah seluruh pertanyaan yang digunakan sebanyak 35 butir dengan nilai validitas 0,980 – 0,994.
b. Uji Reliabilitas
Reliabilitas menunjukkan pada suatu penelitian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang dapat dipercaya juga (Arikunto, 2002). Dalam penelitian ini untuk menguji reliabilitas variabel pengetahuan digunakan metode koefisian reliabilitas K-R 20.
r11 =


Keterangan :
r11 = reliabilitas instrument
K = banyaknya butir pertanyaan
Vt = varian total
p = proporsi subjek yang menjawab betul pada suatu butir
pertanyaan (proporsi subjek yang mendapat skor 1)
q = proporsi subjek yang mendapat skor 0.
Berdasarkan hasil analisis uji coba tersebut, maka instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan reliabel atau sangat kuat karena menghasilkan koefisien reliabelitas yang diperoleh 0,999 lebih besar dari 0,8.

H. Cara Pengumpulan Data
Pengolahan data menggunakan komputer melalui proses dengan tahapan sebagai berikut :
1. Editing Data
Tahapan ini dimaksudkan untuk menyunting data yang telah terkumpul, dilakukan dengan memeriksa kelengkapan, kesalahan pengisian, dan konsistensi dari setiap jawaban pertanyaan (Santoso, 2001).
2. Coding Data
Melakukan pengkodean guna memudahkan dalam pengolahan data, langkah yang digunakan adalah dengan memberi kode angka atau huruf yang telah ditetapkan seperti untuk item pengetahuan untuk jawaban benar = Nilai 1, Untuk jawaban salah = 0.
2. Tabulating Data
Memasukan data sedemikian rupa sehingga mudah dijumlah, disusun, dan disajikan dalam bentuk tabel, gambar atau grafik.
3. Entry Data
Memasukan data kedalam program pengolah data melalui program SPSS.
4. Cleaning Data
Data yang telah di entry kemudian dilakukan pengecekan dan koreksi apabila ada kesalahan pada tahap entry.

I. Rencana Analisis Data
1. Pengetahuan
Dalam analisis ini digunakan rumus (Arikunto, 2002) sebagai berikut :
P =
Keterangan :
P = Persentase
n = Jumlah pertanyaan yang dijawab
N = Jumlah seluruh pertanyaan.
Adapun bentuk analisa dan interpretasi data dari hasil penelitian mengacu pada teori Sugiono (2005) sebagai berikut :
a. Kategori baik apabila pertanyaan dijawab benar oleh responden 76 -100 %.
b. Kategori cukup apabila pertanyaan dijawab benar oleh responden 60 – 75 %.
c. Kategori kurang apabila pertanyaan dijawab benar oleh responden < 60%.

J. Etika Penelitian
1. Self determination (menentukan sendiri)
Subjek berhak untuk menentukan keputusannya sendiri yang terbaik menurut subjek.
2. Privacy (keleluasaan pribadi)
Subjek diberikan keleluasaan dalam mengambil keputusan, tidak menyinggung hal-hal yang paling pribadi.
3. Anonimity (Tanpa nama) dan Confidentiality (kerahasiaan)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden maka peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar angket. Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti.
4. Fair Tratment
Lebih dikenal dengan lembar persetujuan (Informed Consent) penelitian diberikan kepada responden dengan tujuan agar subjek mengetahui maksud dan tujuan peneliti. Jika subjek tidak bersedia untuk diteliti maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati haknya.
5. Protect from discomfort and harm (dilindungi dari rasa tidak nyaman dan dirugikan)
Subjek ditanyakan tentang rasa nyamannya dan jangan sampai merasa dirugikan, tugas peneliti untuk melindungi subjek dari rasa tidak nyaman dan perasaan dirugikan.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang menstruasi di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya telah dilaksanakan pada tanggal 20 Juli sampai dengan 21 Agustus 2009.
A. Hasil Penelitian
1. Karakteristik responden
Tabel 4.1
Nilai Rata-rata Usia Siswi SLTP Negeri II Taraju di
Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya
Tahun 2009

Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Pengertian Menstruasi 14,09 0,83 13-15 13,88-14,29
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.1 di atas, diperoleh nilai mean 14,09, standar deviasi 0,83, min-max 13-15 dan nilai 95% CI 13,88-14,29 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata usia siswi SLTP Negeri II Taraju adalah 14 tahun dengan usia termuda 13 tahun dan usia paling tua 15 tahun.





Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Siswi
SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju
Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Usia Frekuensi %
13 tahun
14 tahun
15 tahun 20
20
26 30,3
30,3
39,4
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS
Tabel 4.2 di atas, menunjukkan siswi SLTP Negeri II Taraju yang berusia 13 tahun sebanyak 20 orang (30,3%), dan usia 14 tahun sebanyak 20 orang (30,3%), sedangkan yang berusia 15 tahun sebanyak 25 orang (39,4%).
2. Tingkat pengetahuan siswi SLTP tentang menstruasi
a. Pengertian menstruasi
Tabel 4.3
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Pengertian Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Pengertian Menstruasi 67,99 19,25 37,50-100 63,25-72,72
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.3 di atas, diperoleh nilai mean 67,99, standar deviasi 19,25, min-max 37,50-100 dan nilai 95% CI 63,25-72,72 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang pengertian menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 67,99%.
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Pengertian Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Pengertian Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 26
13
27 39,4
19,7
36,4
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang pengertian menstruasi dalam kategori baik sebanyak 26 orang (39,4%), kategori cukup 13 orang (19,7%), dan kategori kurang sebanyak 27 orang (36,4%). Dari data di atas menggambarkan bahwa sebagian siswa sudah mengetahui tentang pengertian menstruasi.
b. Gangguan menstruasi
Tabel 4.5
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Gangguan Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Variabel Mean SD Min-Max 95% CI

Gangguan Menstruasi
70,53 16,49 42,80-92,80 66,47-74,58
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.5 di atas, diperoleh nilai mean 70,53, standar deviasi 16,49, min-max 42,80-92,80 dan nilai 95% CI 66,47-74,58 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang gangguan menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 70,53%.
Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Gangguan Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Gangguan Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 33
12
21 50,0
18,2
31,8
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang gangguan menstruasi dalam kategori baik sebanyak 33 orang (50,0%), kategori cukup sebanyak 12 orang (18,2%), dan kategori kurang sebanyak 21 orang (31,8%). Dari data di atas menggambarkan hampir setengahnya siswi mengetahui tentang gangguan menstruasi.
c. Siklus menstruasi
Tabel 4.7
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Siklus Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Variabel Mean SD Min-Max 95% CI

Siklus Menstruasi
71,96 26,49 25-100 65,45-78,48
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.7 di atas, diperoleh nilai mean 71,96, standar deviasi 26,49, min-max 25-100 dan nilai 95% CI 65,45-78,48 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang siklus menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 71,96%.
Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Siklus Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Siklus Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 27
10
29 40,9
15,2
43,9
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS


Berdasarkan tabel 4.8 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang siklus menstruasi dalam kategori baik sebanyak 27 orang (40,9%), kategori cukup sebanyak 10 orang (15,2%), dan kategori kurang sebanyak 29 orang (43,9%). Hal ini menggambarkan bahwa sebagian siswi mengetahui tentang siklus menstruasi.
d. Cara menghadapi menstruasi
Tabel 4.9
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Cara Menghadapi Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Cara menghadapi menstruasi 68,00 15,53 44,44-88,88 64,18-71,82
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.8 di atas, diperoleh nilai mean 68,00, standar deviasi 15,53, min-max 44,44-88,88 dan nilai 95% CI 64,18-71,82 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 68,00%.
Tabel 4.10
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Cara Menghadapi Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Cara Menghadapi Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 26
13
27 39,4
19,7
40,9
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.10 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi dalam kategori baik sebanyak 26 orang (39,4%), kategori cukup sebanyak 13 orang (19,7%), dan kategori kurang sebanyak 27 orang (40,9%). Dari data tersebut menggambarkan bahwa sebagian siswa sudah mengetahui tentang cara menghadapi menstruasi.
Untuk lebih jelasnya peneliti membuat diagram tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang menstruasi dan dapat di lihat pada diagram 4.1 di bawah ini :


Diagram 4.1
Tingkat Pengetahuan Siswi SLTP tentang Menstruasi di
Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya

Sumber: Hasil Uji Graph dengan SPSS

B. Pembahasan
1. Tingkat pengetahuan tentang pengertian menstruasi
Tampak pada tabel 4.4 menunjukkan prosentase tingkat pengetahuan tentang pengertian menstruasi dalam kategori baik sebanyak 39,4%. Dari data tersebut menggambarkan bahwa sebagian siswi sudah mengetahui tentang pengertian menstruasi. Pengetahuan siswa tentang pengertian menstruasi dapat diperoleh melalui pendidikan kesehatan, penyuluhan, pengalaman, membaca materi tentang menstruasi melalui media cetak seperti majalah, leaflet, buku tentang kesehatan atau media elektronik. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium (Hanafi, 1999).
2. Tingkat pengetahuan tentang gangguan menstruasi
Tampak pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar siswi mempunyai pengetahuan baik tentang gangguan menstruasi yaitu sebesar 50%, hal ini menggambarkan setengahnya siswi sudah mengetahui tentang gangguan menstruasi. Pengetahuan siswi tentang gangguan menstruasi dapat diperoleh melalui pengalaman atau membaca materi tentang menstruasi seperti majalah, leaflet, buku tentang kesehatan, karena pengetahuan adalah dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek-objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo, 2003).
Gangguan menstruasi diantaranya: 1) Hipermenoria, yaitu pendarahan haid yang lebih banyak dari normal. Biasanya berlangsung lebih dari 8 hari, ini karena terdapat gangguan pada uterus atau rahim. 2) Polimenorea, yaitu pendrahan haid yang tidak begitu banyak dan siklus menstruasi kurang dari 21 hari. Biasanya diakibatkan dari gangguan ovulasi atau karena adanya penyakit sistemik yang berhubungan dengan sistem hormonal. 3) Metroregia, yaitu pendarahan yang terjadi antara 2 siklus haid dan darah yang keluar kebanyakan sedikit atau bahkan banyak. 4) Oligomenorea, yaitu siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari.Perdarahn pada oligomenorea biasanya berkurang. 5) Amenorea, yaitu keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut (Simanjuntak, 1999).
3. Tingkat pengetahuan tentang siklus menstruasi
Pada tabel 4.8 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang siklus menstruasi dalam kategori baik sebanyak 40,9%. Hal ini menggambarkan bahwa hampir setengahnya siswi mengetahui tentang siklus menstruasi. Pengetahuan siswa tentang siklus menstruasi dapat diperoleh melalui pendidikan kesehatan, penyuluhan, pengalaman, membaca materi tentang menstruasi melalui media cetak seperti majalah, leaflet, buku tentang menstruasi atau media elektronik. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Masa subur adalah masa dimana tersedia sel telur yang siap untuk dibuahi. Masa subur berkaitan erat dengan menstruasi dan siklus menstruasi. Masa subur ditandai oleh kenaikan Luteinizing Hormone (LH), Follicle Stimulating (FSH) dan estrogen. Selain itu siklus juga dipengaruhi oleh kondisi psikis si wanita, jadi bisa maju atau mundur, untuk itu pemahaman mengenai bagaimana terjadinya menstruasi dan bagaimana siklus menstruasi itu perlu dipahami kaum hawa secara rinci.
Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus, karena jam mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus mengandung kesalahan kurang lebih satu hari. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap siklus haid yang klasik ialah 28 hari,tetapi variasinya cukup luas ,bukan saja anatara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama (Hanafi, 1999).
4. Tingkat pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi
Tampak pada tabel 4.10 bahwa tingkat pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi dalam kategori baik sebanyak 39,4%, hal ini menggambarkan bahwa sebagian siswi sudah mengetahui tentang cara menghadapi menstruasi. Pengetahuan siswa tentang cara menghadapi menstruasi dapat diperoleh melalui pendidikan kesehatan, penyuluhan, pengalaman, membaca materi tentang menstruasi melalui media cetak seperti majalah, leaflet, buku tentang menstruasi atau media elektronik. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Nyeri pada saat menstruasi mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan (Simanjuntak, 1999).
Dismenorea/nyeri pada saat menstruasi di bagi atas :
a. Dismenorea Primer (esensial, intrinsik, idiopatik), tidak terdapat hubungan kelainan ginekologik.
b. Dismenorea Sekunder (salpingitis, yang diperoleh, acquired), disebabkan oleh kelainan ginekologik (salpingitis kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis servisis uteri, dan lain-lain).
Etiologi beberapa faktor memegang peranan :
1) Faktor Kejiwaan
2) Faktor Konstitusi
3) Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis
4) Faktor Endokrin
5) Faktor Alergi
Penanganan :
1) Penerangan dan nasehat
2) Pemberian obat analgesik
3) Terapi Hormonal
4) Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin
5) Dilatasi kanalis servikali
Tingkat pengetahuan siswi yang kurang ini mungkin disebabkan karena para siswi kurang mendapat informasi tentang menstruasi, khususnya tentang pengertian, siklus dan cara menghadapi menstruasi. Kebanyakan para siswi hanya mendapatkan informasi dari teman, orang tua, persepsi mereka sendiri yang belum tentu kebenarannya. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan upaya meningkatkan pengetahuan khususnya tentang pengertian, siklus dan cara menanggulangi menstruasi, seperti membaca buku-buku kesehatan, mengikuti penyuluhan-penyuluhan dan lain-lain. Peningkatan pengetahuan ini dapat melalui jalur formal dengan non formal yang diperoleh melalui membaca, mendengarkan penyuluhan, media massa atau informasi dari orang tua, saudara dan teman (Notoatmodjo, 2003). Dengan meningkatkan pengetahuan diharapkan seseorang lebih rasional dalam menyikapi suatu peristiwa.

C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran/deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif. Kerangka penelitian ini hanya mencari gambaran, sehingga besar kemungkinan ada variabel lain yang belum termasuk dalam kerangka penelitian karena keterbatasan peneliti. Pengambilan data primer diambil dari hasil jawaban responden melalui kuesioner yang telah dibagikan oleh peneliti.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang menstruasi di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya mencapai kategori baik, dangan persentase 47,0% (31 orang), cukup 16,7% (11 orang) dan kurang 36,4% (24 orang).
Dari kesimpulan umum di atas, dapat dirinci kesimpulan khusus sebagai berikut :
1. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang pengertian menstruasi hampir yang termasuk kategori baik sebanyak 39,4% (26 orang), kategori cukup sebanyak 19,7% (13 orang), dan kategori kurang sebanyak 36,4% (27 orang).
2. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang gangguan menstruasi termasuk kategori baik sebanyak 50,0% (33 orang), kategori cukup sebanyak 18,2% (12 orang), dan kategori kurang sebanyak 31,8% (21 orang) .
3. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang siklus menstruasi yang termasuk kategori baik sebanyak 40,9% (27 orang), kategori cukup sebanyak 15,2% (10 orang), dan kategori kurang sebanyak 43,9% (29 orang).
4. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang cara menghadapi menstruasi yang mempunyai tingkat pengetahuan baik sebanyak 39,4% (26 orang), kategori cukup sebanyak 19,7% (13 orang), dan kategori kurang sebanyak 40,9% (27 orang).

B. Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan dan pengamatan selama penelitian, peneliti menyadari bahwa hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu peneliti menganggap perlu untuk memberikan saran, antara lain:
1. Bagi peneliti
Diharapkan bagi peneliti dapat lebih mengembangkan teori dan ilmu yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
2. Bagi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Tasikmalaya
Diharpakan dapat memberikan masukan melalui penambahan pembendaharaan referensi khususnya tentang kesehatan reproduksi sehingga mampu memberikan tambahan wawasan pengetahuan untuk diaplikasikan dalam bermasyarakat.
3. Bagi SLTP Negeri II Taraju
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam penyusunan kurikulum guna meningkatkan siswi mengenai pembelajaran pendidikan kesehatan reproduksi.


4. Bagi peneliti selanjutnya
Karena perilaku terbentuk dari pengetahuan dan sikap, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai sikap siswi SLTP terhadap menstruasi.
5. Bagi profesi keperawatan
Bagi profesi keperawatan perlu lebih aktif lagi memberikan penyuluhan dan konseling kepada siswi SLTP, melalui perawat-perawat yang terlatih dan profesional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar