Metti Masnizar
Maasiswi Akademi Keperawatan Pemkab Aceh Selatan
Tahun Akademi 2008
Proses atau keadaan menjadi tua merupakan fenomena perkembangan manusia yang alamiah, di mana secara berangsur angsur menjadi kemunduran dari kapasitas mental, berkurangnya minat sosial dan menurunnya aktifitas fisik. Serupa dengan masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa menjadi tua adalah hal yang normal yang disertai dengan problema yang khusus pula. Tekanan hidup yang beraneka ragam yang terdapat dalam masyarakat ikut membentuk keadaan yang istimewa atau khusus ini pada usia lanjut.
Apa usia lanjut itu? Kapan dan usia berapa seseorang dikatakan tua atau lanjut usia? Sukar manjawab dengan tepat karena perjalanan menjadi tua sangat berbeda pada tiap individu, pada suatu individu proses manjadi tua pada organ tubuhpun tidak sama terjadinya, sehingga adakalanya orang masih muda, tapi tanda-tanda tua sudah tampak padanya. Sebaliknya orang yang sudah mancapai usia 80 tahun adakalanya masih menunjukan vitalitas seperti orang muda. Pada seseorang jantungnya lebih dulu mengalami kerewelan, yang lain ginjalnya, yang lain otaknya dan sebagaiya. Maka dapatlah dikatakan umur kronologik tidak identik dengan umur biologik, hanya kadang-kadang keduanya tampak bersamaan. Belum ada umur yang pasti dalam penetapan usia lanjut karena pada umumnya banyak pendapat bahwa menua adalaha suatu proses fisiologik yang berlangsung perlahan-lahan dan efeknya berlainan pada tiap individu, sehingga sulit ditetapkan batas usia yang pasti untuk geriatri.
Banyak teori yang telah dianjurkan untuk mencoba menerangkan tentang perubahan fisiologik pada usia lanjut hanya menunjukan manifestasi dari proses menjadi tua, tetapi bukan penyebab dari proses menua itu. Karena perubahan jasmani yang khas pada sebagian besar usia lanjut, penyesuaian tertentu diperlihatkan pula dalam pola hidup mereka.
Havighurst menyatakan hal yang berikut ini sebagai tuntutan perkembangan kematangan usia lanjut.
1. Penyesuaian diri pada ketahanan dan kesehatan fisik yang berkurang,
2. Penyesuaian diri dengan kematian istri atau suami,
3. Penyesuaian diri dengan masa pensiun dan berkurangnya pendapatan,
4. Menjalin hubungan yang lebih berarti dengan kelompok umur yang sama,
5. Kemampuan memenuhi kewajiban sosial dan kewarganegaraan,
6. Pengadaan pola hidup yang memuaskan.
Usia lanjut ditandai dengan adanya perubahan fisik dan perubahan mental, perubahan fisik yang konsisten dengan usia lanjut antara lain adalah :
a. Pendengaran berkurang sampai menjadi tuli
b. Penglihatan menjadi kabur karena pembentukan katarak
c. Gigi satu persatu tanggal
d. Kulit tampak keriput karena tidak elastis lagi dan kering
e. Sendi-sendi sudah kurang fleksibel dan kaku, terjadi perubahan osteoartritik
f. Otot-otot mengendor dan lemah
g. Daya pengecapan dan penciuman berkurang
h. Seringkali ada tremor
i. Perubahan fungsi organ internal, misalnya penyakitjantung, hipertensi dan diabetes.
Perubahan mental menyangkut bidang intelegensi (Intelek) dan emosi berbeda pada masing-masing individu.
Bidang Intelek :
a. Sering lupa tentang peristiwa yang baru saja terjadi
b. Tidak dapat berfikir cepat dan terang
c. Daya konsentrasi menurun
d. Disorientasi tempat, waktu dan orang (tidak mampu mengenal orang yang dekat dengannya)
e. Daya menimbang dan menilai(judgement) menurun
Bidang Emosi :
a. Cendering untuk menyendiri, sifat gotong royong menurun, tiap orang sibuk dengan urusannya sendiri.
b. Pesimistik, takut sakit, ada fikiran bahwa permulaan dari suatu penyakit merupakanawal dari suatu akhir, melankolik.
c. Kaku, terikat dengan tata cara lama, menolak ide baru, tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dalam hidup rutinnya ; kepala batu, tidak mau mendengarkan perkataan orang lain; suka menentang.
d. Mempunyai sifat seperti anak kecil
e. Mudah iri hati, mudah curiga, mudah merasa dibelakangi, mudah tersinggung, merasa cemas yang berlebihan. Mudah timbul kemarahan dan pertengkaran, bermusuhan terhadap orang lain, seringkali keluarga dekat.
f. Kadang-kadang keinginan erotik datang kembali, kadang-kadang berusaha untuk mengadakan hubungan seks dengan anak muda; ini merupakan usaha-usaha untuk meyakinkan diri dengan kemampuannya.
g. Tidak berbicara dengan suara keras dan kalau tertawa tidak terbahak-bahak.
Semua perubahan tersebut di atas adalah normal dan terjadi karena bertambahnya usia disertai dengan kemunduran jasmani, sensibilitas dan energi.
A. BENTUK PSIKOSA PADA USIA LANJUT
Tidak ada suatu bentuk yang dikatakan khas, karena ada bentuk yang bervariasi dalam gejala. Perlu diingat jika seseorang menjadi tua dan menderita gangguan jiwa maka maka ia akan membawa dalam penyakit tersebut semua sifat waktu silamnya yang terlihat lebih menonjol.
Pada orang usia lanjut perubahan patologik bersifat permanen dengan disertai memburuknya kondisi badan disebut “SENIL” atau yang sudah amat kita kenal yaitu “ deminsia senilis”. Seseorang yang menderita deminsia mengalami kemunduran mental yang irreversibel dan progresif, terutama daya ingat dan intelegensia akibat kerusakan jaringan otak. Pada permulaan pasian akan kehilangan daya ingat mengenai peristiwa yang baru saja terjadi, misalnya apakah ia sudah makan atau belum. Kemudian setelah agak lama peristiwa lamapun dilupakan pula.
Ada dua macam keadaan senil :
1. Demensia senilia : terjadi sesudah umur 60 tahun dengan kelianan otak terbatas pada atrofi oleh karena proses tua.
2. Demensia Prasenilis : terjadi sebelum 60 tahun akibat atrifi jaringan otak sebagian maupun menyeluruh. Keadaan ini mencakup penyakit alzheimer, Pick dan Jakob Greutzfeldt.
Kecuali ini dikenal pula Paranoia Involutif, depresi dan keadaan delerium seperti maniakal dan paranoia. Kadang-kadang juga terdapat suatu kelainan psikosa organik, ialah gangguan jiwa yang disebabkan oleh kelainan faktor jasmaniah yang mempengaruhi susunan system syaraf pusat/ otak. Hal ini biasanya bersifat sementara karena disebabkan dehydrasi, uremia, gangguan perdarahan dengan atau tanpa gangguan pembukuh darah otak (renjatan pasca rudapaksa otak dan tumor otak).
B. PERANAN PERAWAT DALAM PERAWATAN PASIEN USIA LANJUT
Dengan makin bertambahnya orang dengan usia diatas 60 tahun di masyarakat, karena meningkatnya keadaan kesehatan masyarakat, maka masyarakat dihadapkan pada hal yang membingungkan dalam merawat orang usia lanjut dalam jumlah yang besar sewaktu mereka menderita gangguan jiwa.
Perawat harus ikut bertanggung jawab dalam merawat pasien usia lanjut agar mereka dapat menjadi orang yang bahagia, sehat jasmani dan dapat bekerja sedapat mungkin serta selama mungkin dalam batas-batas kemampuan mereka secara konstruktif. Perawat hendaknya mampu melakukan hubungan antar pribadi yang memuaskan dengan pasien. Mereka membutuhkan toleransi dan keramah tamahan, perawat hendaknya mampu untuk mempermudah penyesuaian diri mereka di bangsal.
Prinsip perawatan pasien usila membahagiakan dan menyembuhkan mereka, perawat yang kerjanya hanya memerintah saja tidak cocok untuk bekerja diruangan ini. sebaiknya perawat yang bekerja disana ramah, suka melucu, dapat menstimulir pasien dalam aktivitas dan dapat membantu memecahkan problemnya diamping serlalu mempunyai waktu untuk pasien. Terlalu memanjakan hanya membuat pasien selalu tergantung pada perawat dan bersifat kekanak-kanakan. Perawat harus hormat kepada pasien. Perawatan pasien usila bukan merupakan perawatan yang mudah dan sederhana, untuk ini dituntut kecermatan, ketelitian dan displin diri sesuai dengan keadaan usia lanjutPerawat yang berhasil merawat pasien usia lanjut, tidak diragukan mempunyai kepribadian yang positif, minat yang tulus, kasih sayang terhadap sesama manusaia , sabar, bijaksana, ramah dan simpatik.
Ia harus mendapat kan kepuasan pribadi dengan menyadari bahwa ia telah membantu memberikan kebahagiaan pada pasiennya tanpa perlu melihat kemajuan yang besar yang didapatkan dari peningkatan keadaan pasien.
C. PERAWATAN INSTITUSIONAL BAGI PASIEN USILA
Orang usia lanjut sangat mudah menjadi bingung karena perubahan yang terjadi di lingkungannya dan karenanya ia akan merasa lebih bahagia, mudah diurus dan disorientasinya akan berkurang jika ia tetap ditempatkan dalam satu suasana yang mudah dikenalinya. Bagaimanapun beberapa individu memperlihatkan problema tingkah laku yang demikian sulitnya sehingga ia mungkin dapat menjadi kecewa dalam satu suasana yang tidak aman seperti di rumahnya sendiri. Mungkin perlu menempatkan mereka dalam satu lembaga dimana mereka diberikan pelayanan perawatan yang lebih teliti dan lebih diperhatikan daripada di rumah. Sayangnya dalam beberapa keadaan satu-satunya lembaga bagi pasien yang demikian adalah rumah sakit jiwa, walaupun biasanya ini merupakan bukan tempat yang ideal bagi pasien usila dengan gangguan jiwa.
Perencanaan yang matang diperlukan untuk mendirikan bangsal yang aman bagi pasien usila yang penglihatannya mungkin sudah kabur, keseimbangan terganggu dan langkahnyapun sudah tidak pasti.
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
• Lantai tidak blh licin
• Keset atau permadani atau tikar kecil jangan dipakai karena pasien akan mudah tersandung dan jatuh.
• Kursi goyang tidak boleh disediakan karena jika pasien duduk di kursi demikian ia akan mudah terjungkir dan jatuh.
• Pegangan di didinding kamar mandi dan kakus perlu disediakan
• Sebaikmya kakus disediakan di dalam ruangan karena pasien usila lebih sering ke kakus, ruangan kakus hendaknya lapang sehingga kursi roda dapat masuk dan mengingat persendian pasien sudah kaku dan berduduk berdiri memerlukan tenaga, sebaiknya kakus berupa kloset.
• Tempat tidue harus rendah sehingga pasien mudah naik turun
• Sediakan kursi roda
• Lingkungan pasien harus menyenangkan, hangat seperti situasi di rumah, ada hiasan dalam ruangan dan dinding. banyak pasien yang senang akan gerakan yang tenang disekitarnya, misalnya ikan dalam aquarium. Sangat ideal jika disekeliling bangsal ada tanaman dengan bangku, dimana pasien dapat duduk santai melihat-lihat bunga pada hari yang cerah. Sebagian pasien tidak mengenal waktu, terutama karena mereka tidak dapat melihat jam, maka sebaiknya disediakan beberapa buah jamlah
TINDAKAN PERAWATAN
1. Komunikasi
Tujuan perawatan pasien usia lanjut ialah untuk mengusahakan agar mereka bahagia dan produktif selama mungkin. Tugas pertama adalah mengusahakan agar mereka senang dan bahagia. Termasuk dalam hal ini antara lain menolong mereka merasakan disayangi, dikasihi, dicintai, diingini dan berguna. Perawat dapat menolong mereka merasakan bahwa mereka diingini ialah dengan memberikan mereka perhatian dan pujian. Perawat juga dapat mengusahakan agar keluarga pasien sering datang berkunjung dan membawa oleh-oleh. Perawat dapat mencarikan teman sebaya bagi mereka dan mengorganisir perkumpulan dan pertemuan, perawat dapat memberikan rasa aman bagi pasien dengan mengatakan bahwa ia dapat tidur ditempat tidur yang tetap, dapat memakai kursi, meja dan tempat lain di ruangan itu sehari-hari. Perawat dapat mengorganisir aktifitas di ruangan sesuai dengan kesenangan pasien. Pasien dapat ditolong merasakan bahwa ia berguna dengan memberinya semangat untuk mengurus dirinya dan barang-barang asal tidak bertentangan dengan pengobatan dan kemampuannya.
Terimalah mereka sebagaimana adanya yaitu mudah tersinggung, lamban, pelupa, jangan ditolak dengan tingkah laku nonverbal walaupun secara verbal ia diterima. Setiap komunikasi akan dipengaruhi oleh gejala yang diperlihatkan dan akan berbeda pada pasien dengan gejala paranoid dan pasien yang kebingungan, tetapi biasanya mudah didekati dan mudah berhubungan dengannya.
2. Perawatan fisik
a. Makanan dan minuman
Makanan harus sederhana, mudah dicerna, lunak, bergizi, dan dihidangkan dalam porsi kecil yang menarik. Porsi makan siang dapat lebih besar. Jika tidak disarankan dokter, paisen tidak perlu banyak makan daging, tetapi lebih banyak memerlukan susu dan sayuran. Mereka memerlukan waktu yang lebih lama untuk makan, mengingat indera pengecap mereka sudah berkurang, berikan kesempatan pada mereka untuk menilih makanannya sendiri jika mungkin.
Sebagian perawat beanggapan adalah tanggungjawabnya untuk menyuapi pasien apabila mereka melihat cara makan pasien yang lambat, usahakan sedapat mungkin agar pasien makan sendiri. Jika perawat menyuapi pasien untuk menjaga agar pasien bersih dan menghemat wakt, maka ia telah membuat satu kesalahan, karena dengan jalan ini ia telah menambah kemunduran pasien dan membuatnya tergantung pada perawat. Usahakan agar pasien sedapat mungkin melakukan apa yang dapat ia lakukan sendiri dalam batas-batas kemampuan fisik dan jiwanya. Dan peting sekali memelihara gigi dan gigi palsu mereka.
b. Tidur
Pasien mungkin susah tidur, sedangkan ia perlu istirahat. Ia harus aktif dan tidak
tidur pada siang hari agar dapat tidur pada malam harinya.
Pemberian susu panas, penggarukan punggung dan duduk dekat pasien akan menenangkan pasien dan membuatnya merasa aman untuk tidur. Kadang-kadang pasien takut tidur, karena takut tidak akan bangun lagi besoknya. Dengan duduk disampingnya, berbicara dan memperlihatkan minat padanya akan dapat menolongnya. Hindarkan agar pasien tidak selalu berbaring di tempat tidur karena dapat mengakibatkan :
1. Osteoprorsis dan akhirnya dapat menimbulkan batu ginjal dan batu kandung kemih. Keluhan pada osteoprosis umumnya sakit di pinggang, rasa sakit di punggung, ini menyebabkan pasien berbaring terus.
2. Spitsvoet ; Spitsvoet terjadi akibat sendi pergelangan kaki tidak dilatih, hal ini dapat dihindarkan dengan melatih jalan, menggerakkan persendian tersebut.
3. Kontraktur lutut dan kontraktur pinggul ; lutut menjadi kaku terutama apabila menggunakan bantal untuk menunjang lutut.
Kontraktur pinggul terjadi karena sikap setengah duduk . hal ini baru akan diketahui setelah pasien disuruh berjalan, ternyata pasien tidak dapat lagi berdiri tegak, apabila pasien harus berbaring terus di tempat tidur, maka konttraktur ini dapat dicegah dengan melatih secara teratur tidur telungkup. Kekakuan sendi lain juga dapat terjadi apabila pasien tidak menggunakannya atau melatihnya.
4. Atropi otot
Pada pasien yang berbaring terus dapat mempercepat atropi otot dan merasa sangat lelah. Tanpa latihan khusus sangat sukar mengaktifkan pasien kembali dan pasien cenderung berbaring terus.
5. Gangguan peredaran darah
Peredaran darah menjadi lambat dan akhirnya dapat menimbulkan trombosis dan emboli.
6. Gangguan saluran pernafasan
Pasien yang lama berbaring terus di tempat tidur mudah terserang bronchitis, bronchopneumonia, dan hipostatic pneumonia.
7. Gangguan saluran pencernaan
Nafsu makan berkurang, dapat terjadi obstipasi. Jiga dapat menyebabkan incontinensia alvidan elius.
8. Gangguan jiwa dapat terjadi karena terbatasnya lingkungan akibat harus tinggal di tempat tidur. Akibatnya secara perlahan-lahan pasien menarik diri ke masa bayi dan disorientasi. Juga kadang-kadang disertai dengan main fseces. Apabila pasien dilatih dan diaktifkan kembali dapat dilihat bahwa kepribadiannya dapat sebagian atau seluruhnya kembali.
Jika pasien harus tinggal ditempat tidur, perawat harus membantu mendudukan pasien beberapa kali sehari ditempat tidur dan pasien disuruh bernafas dalam.
Latihan ini membantu melancarkan peredaran darah dan merangsang pernafasan.
c. Kulit
Inkontinensia berbahaya bagi kulit pasien usia lanjut yang sudah keriput, kering dan kurang elastik. Kulit pasien mudah lecet kena sabun, karena itu pasien jangan dimandikan terlalu sering tetapi harus dibersihkan dengan lotion kapanpun diperlukan.
d. Penampilan
Penglihatan yang kabur dan kemunduran motorik dapat mengakibatkan pasien sukar untuk berpakaian rapi, ia mungkin bingung dan lebih memerlukan banyak waktu serta tidak dapat memutuskan pakaian apa yang harus dipakai. Ia mungkin inkontinen dan tidak menukar pakaiannya. Ia mungkin menolak untuk menukar pakaiannya dan mendesak untuk tetap memakai pakaian yang sama setiap hari. Perlu kasabaran dan berikan dukungan agar pasien mau selalu berpakaian bersih dan rapi. Juga harus diperhatikan agar pasien tidak kedinginan, jika cuaca dingin mungkin pasien memerlukan pakaian ekstra agara ia tetap hangat.
3. Perlindungan
Pasien perlu dilindungi dari dirinya sendiri, pasien mungkin bingung (confusid), sering keluyuran dan mudah tersesat, ketiduran saat sedang merokok, atau dapat jatuh tersandung karena benda kecil yang dapat terlihat olehnya, maka diperlukan perlindungan dan observasi yang terus menerus, ia mungkin mencuri barang pasien lain, kadang-kadang agresif sehingga pasien lain harus dilindungi. Walaupun wahamnya sudah menetap, perawat harus selalu memberi orientasi. Jika ilusinya membuatnya tidak dapat tidur, mungkin lampu yang diredupkan dapat membantu. Ciptakanlah lingkungan yang aman bagi pasien.
Prinsip perawatan pasien usila :
1. Menciptakan lingkungan yang aman, hangat dan penuh kasih sayang (t.l.c= tender love care).
2. Jangan memaksakan ide atau perilaku baru kepada pasien
3. Mengusahakan pasien selalu merasa senang dan bahagia
4. Mengusahakan kesehatan fisik pasien
5. Mengusahakan agar pasien dapat mengurus dirinya sendiri
6. Mengusahakan agar pasien berperan aktif dalam terapi okupasi dan kegiatan lain
7. Merancanakan keperawatan setiap pasien sesuai kebutuhannya
8. Menolong pasien agar ia dapat merasakan bahwa ia dibutuhkan dan berguna
9. Perawat harus mengetahui bahwa terapi usila tidak hanya ditujukan untuk memperpanjang usia harapan hidup, tetapi untuk meneruskan satu kehidupan yang bahagia.
ASKEP JIWA LANSIA
PENDAHULUAN
6,9% dari total penduduk indonesia (15,4 juta jiwa) pada tahun 2000 adalah lansia
Tiap tahun jumlah lansia cenderung bertambah/ meningkat
Lansia merupakan proses penuaan alamiah, yaitu terjadi :
- Penurunan fungsi tubuh
- Penurunan adaptasi terhadap stress
Teori menua :
- Biologi
- Psikologi
- Sosial budaya
a. Teori Biologi
Teori progresi biologi, kognitif dan psikomotor yang irrevesible
b. Teori Psikologi
Integritas VS putus asa (teori Erikson)
c. Teori Sosial Budaya
Teori pelepasan merupakan manifestasi dari kemunduran aktivitas, dan cenderung membentuk kelompok dengan teman sebaya (Aging merupakan suatu proses yang normal)
PROSES KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Interview
Diperlukan komunikasi terapeutik
1. Topik spesifik, singkat dan jelas, waktu cukup, tehnik yang digunakan
klarifikasi
2. Ciptakan tempat/ lingkungan yang nyaman karena lingkungan baru seringkali
membuat stress.
3. Tempat duduk yang nyaman dan rileks, sehingga dapat duduk dengan tenang
4. Berbicara dan gerakan harus lambat karena pada lansia terjadi gangguan
Sensori
b. Pengkajian kemampuan fungsi
1. Mobilisasi sebagai kemampuan untuk
- Bergerak/ berpindah
- Partisipasi dalam keluarga
- Kontak dengan orang lain
2. ADL
Mandi, berpakaian, makan, BAB & BAK, gerakan menyisir, menyiapkan makan, berbelanja
d. Fungsi fisiologi
1. Nutrisi; mandiri atau dibantu, gangguan mengunyah
2. Medikasi
e. Dukungan sosial
– Interaksi keluarga/ klien untuk adaptasi, kerjasama dan perhatian
DIAGNOSIS
a. Depresi
– Harga diri rendah
– Resiko tinggi merusak diri
– Intoleransi aktifitas
– Defisit perawatan diri
– Gangguan pola tidur
– Perubahan proses fikir
b. Delirium
– Perubahan sensori persepsi
– Kerusakan interaksi sosial
c. Demensia
– Kerusakan komunikasi verbal
– Perubahan penampilan peran
– Defisit perawatan diri
– Kerusakan interaksi sosial
d. Delusi
– Perubahan proses fikir
- Kerusakan interaksi sosial
e. Ansietas
– Koping individu inefektif
– Ansietas
– Intoleransi aktivitas
PERENCANAAN/ INTERVENSI
A. Terapi lingkungan
- Perasaan aman, tenang
- Minimalkan perilaku distruktive
- Stimulasi kognitif untuk memperbaiki fungsi kognitif
B. Terapi somatik
- E C T
- Psychotropic medication
C. Intervensi interpersonal
- Psycoterapi
- Life review terapi
Individu/ kelompok seperti menceritakan riwayat hidup
- Orientasi realita; waktu, tempat, orang (struktur lingkungan; jam, alamat dan kontak realitas)
- Latihan dan terapi kognitif untuk melatih daya ingat
- Terapi relaksasi; cara sederhana untuk relaksasi, nafas dalam
- Konseling untuk meningkatkan empati dan percaya diri
- Pendidikan klien dan keluarga
EVALUASI
- Peningkatan fungsi kognitif
- Peningkatan ADL (Self Care)
- Kesehatan emosional
DIAGNOSA YANG SERING DITEMUKAN :
1. Gangguan daya ingat
- Sebutkan nama perawat dan panggil nama klien pada awal percakapan
- Topik yang akan dibicarakan dipilih oleh klien
- Hindarkan konfrontasi bila pernyataan klien salah
- Penataan barang pribadi jangan dirubah
- Laksanakan program orientasi
2. Gangguan orientasi realitas
- Berikan nama/ petunjuk/ tanda yang jelas pada kamar/ ruangan klien
- Semua petugas memakai nama yang dapat dibaca dengan jelas
- Orientasikan klien pada barang milik pribadi
- Sediakan alat-alat penunjuk waktu (jam yang berbunyi, kalender)
- Terapi aktifitas kelompok dengan program orientasi realita
3. Gangguan perawatan diri
- Buat jadwal mandi, ganti pakaian
- Ajarkan cara mandi secara bertahap
a. Peralatan mandi
b. Langkah-langkah mandi
c. Privacy
- Ajarkan cara berpakaian
a. Langkah-langkah berpakaian
b. Hindarkan kancing dan resleting
c. Instruksi sederhan dan berulang
d. Privacy
- Ajarkan BAB & BAK pada tempatnya
a. Anjurkan ke WC setiap 2 jam setelah makan, sebelum/ sesudah tidur
b. Beri pujian
4. Isolasi sosial
- Kontak dengan keluarga dan teman dekat
- Dorong berhubungan dengan orang lain
- Masukkan dalam kelompok ektifitas
- Buat jadwal kontak sosial secara teratur
5. Resti terjadi kecelakaan
- Beri alat bantu : kaca mata, tonglat, alat bantu pendengaran
- Observasi dan jauhkan alat-alat berbahaya
- Ciptakan lingkungan yang aman : lantai tidak licin, penerangan cukup
6. Resti gangguan pola tidur
- Buat jadwal tetap untuk tidur dan bangun
- Hindari tidur diluar jam tidur
- Hindari tidur siang lebih dari 1 jam
- Mandi sore dengan air hangat
- Minum susu hangat sebelum tidur
- Lakukan metode relaksasi
Minggu, 05 Desember 2010
KEPERAWATAN KELUARGA
Metti Masnizar
Mahasiswi Akademi keperawatan Pemkab Aceh Selatan
Tahun Akademi 2008
BAB I
PENDAHULUAN
Perawatan keluarga yang komprehensip merupakan suatu proses yang rumit, sehingga memerlukan suatu pendekatan yang logis dan sistematis untuk bekerja dengan keluarga dan anggota keluarga . Pendekatan ini disebut proses keperawatan. Menurut Yura dan Walsh (1978), “proses keperawatan merupakan inti dan sari dari keperawatan”. Proses adalah suatu aksi gerak yang dilakukan dengan sengaja dan sadar dari satu titik ke titik yang lain menuju pencapaian tujuan. Pada dasarnya, proses keperawatan merupakan suatu proses pemecahan masalah yang sistematis, yang digunakan ketika bekerja dengan individu, keluarga, kelompok atau komunitas.
Salah satu aspek terpenting dari keperawatan adalah penekanannya pada keluarga. Keluarga bersama dengan individu, kelompok dan komunitas adalah klien
atau resipien keperawatan. Secara empiris, disadari bahwa kesehatan para anggota keluarga dan kualitas kesehatan keluarga mempunyai hubungan yang erat. Akan tetapi, hingga saat ini sangat sedikit yang diberikan perhatian pada keluarga sebagai objek dari studi yang sistematis dalam bidang keperawatan. Beberapa alasan penting meyakinkan mengapa unit keluarga harus menjadi focus sentral dari keperawatan keluarga, yaitu : Dalam sebuah unit keluarga, disfungsi apa saja (penyakit, cedera, perpisahan) yang mempengaruhi satu atau lebih anggota keluarga, dan dalam hal tertentu, sering akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain dan unit ini secara keseluruhan.
Ada semacam hubungan yang kuat antara keluarga dan status kesehatan anggotanya.
Melalui perawatan kesehatan keluarga yang berfokus pada peningkatan, perwatan diri (self care), pendidikan kesehatan, dan konseling keluarga serta upaya-upaya yang berarti dapat mengurangi resiko yang diciptakan oleh pola hidup dan bahaya dari lingkungan.
Upaya menemukan kasus merupakan suatu alasan bagus lainnya untuk memberikan perawatan kesehatan keluarga.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
1. PROSES KEPERAWATAN KELUARGA
Proses keperawatan keluarga akan relatif berbeda pada siapa yang menjadi focus perawatan. Perbedaan focus tersebut tergantung pada keonseptualisasi keluarga dari perawat tersebut dalam prakteknya. Jika ia melihat keluarga sebagai latar belakang atau konteks dari pasien keperawtan yang berorientasi secara individu, seperti pada tradisional.
Dalam prakteknya, kebanyakan perawat bekerja sekaligus dengan keluarga dan anggota keluarga secara individu. Ini berarti bahwa perawat keluarga akan menggunakan proses keperawatan pada dua lingkaran yaitu tingkat individu dan keluarga. Dalam hali ini, pengakjian diagnosa, perencanaan, intervensi, dan evaluasi akan menjadi lebih luas dan rumit.
Palayanan perawatan keluarga amat khusus dan hanya bekerja pada keluarga sebagai system. Dan dilain pihak, suatu pemahaman dari setiap anggota keluarga yang tidak adekuat tidak dapat dicapai tanpa memandang anggota tersebut dalam konteks kelompok primer-keluarga.
Pendekatan kedua tingkatan ini, yang digunakan untuk mengakji dan melaksanakan keperawatan keluarga digambarkan pada gambar berikut ini yang menggambarkan langkah-langkah dalam proses keperawatan keluarga.
2. PENGKAJIAN KELUARGA
a. Analisa Tingkat Interaksi
Untuk dapat bekerja secara efektif dengan klien, maka dalam melakukan pengkajian dan memberikan perawatan, perawat keluarga harus berfiikir secara interaksi. Wright dan Leahey (1984) menerangkan bahw variabel paling penting meningkatkan atau merintangi perawatan yang berpusat keluarga adalah bagaimana perawat mengkonseptualisasikan masalah. Pengetahuan tentang teori keluarga dan penelitian serta suatu kerangka kerja sistematis untuk mengkaji dan bekerja dengan keluarga, benar-benar membantu perawat dalam membuat transisi dari persfektif familistis.
Penkajian terhadap keluarga
Mengidentifikasikan dan data sosiologi, lingkungan, struktur dan fungsi
Pengakajian anggota keluarga
Secara individu :
Mental, fisik, emosional, sosial dan spiritual Identifikasi masalah-masalah keluarga dan individu (diagnosa
Rencana Perawatan :
Penyusunan tujuan Mengidentifikasikan sumbersumber, Mendefinisikan pendekatan alternatif Memilih intervesi perawatan Penyusunan prioritas
Intervensi :
Implementasi rencana pengarahan Sumber-sumber Evaluasi Perawatan.
b. Proses Pengkajian
Proses pengkajian keperawatan diwarnai dengan pengumpulan informasi secara terus menerus terhadap arti yang melekat pada informasi yang sedang dikumpulkan tersebut. Dengan kata lain, data dikumpulkan secara sistematis, diklasifikasikan dan dianalisa artinya. Pengumpulan data merupakan syarat utama untuk mengidentifikasi masalah.
Pengumpulan data tentang keluarga didapat dari berbagai sumber, yaitu :
- Wawancara dengan klien dalam hubungannya dengan kejadian-kejadian pada waktu lalu dan sekarang.
- Temuan-temuan yang objektif, missal : observasi terhadap rumah dan fasiliats-fasilitas yang ada didalamnya .
- Informasi-informasi yang tertulis maupun lisan dan rujukan, berbagi lembaga yang menangani keluarga dan anggota tim lainnya.
Salah satu peran penting dari perawat keluarga adalah menjadi partisipan pengamat dalam keluarga. Sementara perawat bekerja secara aktif dengan keluarga, ia juga harus memiliki kemampuan melangkah mundur dan secara mengobservasi kondisi dan situasi dirumah.
Keperawatan keluarga biasa terdiri dari beberapa babak interaksi dengan sebuah keluarga. Keefektifan dari para perawat dalam membantu keluarga mengidentifikasikan kebutuhan keluarga tersebut dan memenuhi kebutuhannya tidak hanya tergantung pada keahlian perawat profesional, tetapi juga bagaimana perawat tersebut peka dan keluarga yang bagaimana mengalaminya. Sebuah keluarga yang membutuhkan bantuan seringkali lebih cepat terbuka apabila ada seorang dimana mereka biasa mengungkapkan masalah mereka secara bebas.
3. DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA
Pengkajian terhadap keluarga mencapai puncaknya dengan pengidentifikasian masalah-masalah keluarga. Banyak sekali masalah-masalah keluarga yang berbeda dalam lingkup praktek dari perawat, yang dinamakan diagnosa keperawatan keluarga.Masalah-masalah keluarga perlu diidentifikasikan dan didiskusikan dengan keluarga, untuk memeriksa kepentingan bahwa masalah atau kebutuhan tersebut dilihat secara timbal balik.Diagnosa-diagnosa keluarga merupakan perpanjangan dari diagnosa-diagnosa keperawatan terhadap system keluarga dan merupakan hasil dari pengkajian terhadap perawatan. Diagnosa keperawatan keluarga didalamnya termasuk masalah-masalah kesehatan yang actual dan potensial.
Pada tingkat keluarga, diagnosa keperawatan dapat diturunkan dari pemakaian salah satu teori tentang keluarga atau keperawatan atau dari diagnosa North American Diagnosis Association (NANDA). Ataupun klasifikasi NANDA adalah :
- Diagnosa-diagnosa tersebut tidak bersifat teoritis, yang mana bisa jadi merupakan kakuatan dan kelemahan, tergantung pada sudut pandang seseorang.
- Sebagian besar keperawatan yang berorientasi pada keluarga bersifat sangat luas dan tidak cukup untuk mengarahkan intervensi.
- Diagnosa-diagnosa tersebut lebih berorientasi pada penyakit.
- Daftar yang ada sekarang tidak lengkap dan tidak mencakup sebagian besar masalah/diagnosa yang potensial dan actual dari keperawatan keluarga yang dilihat praktis.
1. PERENCANAAN
a. Penyusunan Tujuan
Perencanaan meliputi perumusan tujuan yang berorientasi pada klien. Penyusunan bersama tujuan tersebut terdiri atas kemungkinan sumber – sumber , menggambarkan pendekatan alternatif untuk memenuhi tujuan – tujuan , menyeleksi intervensi keperawatan yang spesipik , memobilisasi sumber – sumber dan mengoperasionalisasikan perencanaan. Penyusunan tujuan bersama dengan keluarga menjadi penentu perencanaan yang efektif. Salah satu tujuan utama keperawatan keluarga adalah bahwa klien mempunyai tanggung jawab akhir dalam mengatur hidup mereka sendiri. Pemutusan tujuan bersama anggota keluarga secara konsisten telah unggul dari pada penyusunan tujuan unilateral karena alasan :
1. Peoses penyusunan tujuan bersama memiliki efek positip terhadap interaksi keluarga
2. Orang nampaknya lebih menentang bila diberi tahu apa yang harus dilakukan
3. Orang yang membuat keputusan cenderung merasa bertanggung jawab terhadap mereka.
Penyusunan tujuan semakin dikenali dengan suatu komponen yang amat penting dalam perencanaan. Ada beberapa tingkatan tujuan yaitu , tujuan jangka pendek yang sifatnya dapat diukur , langsung dan spesifik. Ditengah kontinum adalah tujuan tingkat menengah dan tujuan jangka panjang adalah tujuan akhir yang menyatakan maksud secara luas yang diharapkan oleh perawat dan keluarga agar dapat dicapai.
b. Membuat pendekatan alternatif dan mengidentifikasi sumber – sumber
Sebagaimana digambarkan bahwa sumber – sumber yang dapat dipakai untuk menangani kebutuhan – kabutuhan perlu diidentifikasi. Sumber – sumber itu meliputi kekuatan – kekuatan yang paling dalam , termasuk sumber – sumber perawatan diri dari mereka , system pendukung dari mereka dan sumber – sumber bantuan fisik serta komunitas.
Tindakan atau pendekatan yang spesifik yang dimudahkan oleh perawat , dipilih dari alternatif dan sumber yang ada.
c. Penyusunan prioritas
Penyusunan prioritas intervensi dalam suatu perencanan yang bertahap dan terkoordinasi akan membawa intervensi tersebut kepada pengimplementasiannya.
Pengurutan prioritas yang dibuat oleh keluarga merupakan paling penting dalam penyusunan prioritas secara bersama. Sejumlah perawat menetapkan intervensi - intervensi terencana dengan urutan prioritas rendah , menengah dan utama , dengan yang termasuk prioritas utama perlu dilaksanakan segera.
2. INTERVENSI KEPERAWATAN KELUARGA
Tahap intervensi diawali dengan penyelesaian perencanaan perawatan. Implementasi dapat dilakukan oleh banyak orang : klien , perawat dan anggota tim perawat kesehatan lain.
Kriteria untuk membuat keputusan termasuk keinginan dan motivasi keluarga dalam menerima bantuan dan mencoba memecahkan masalah masalahnya , dan tingkat fungsinya , keluarga serta sumber – sumber yang tersedia.
Wright dan Leahey menyarankan bahwa normalnya keluarga memerlukan bantuan dalam situasi sebagai berikut :
1. Sebuah keluarga menjadi penyebab suatu masalah dimana hubungan anatara para anggota keluarga terganggu.
2. Seorang anggota keluarga menjadi penyebab suatu penyakit yang mempunyai pengaruh buruk terhadap anggota yang lain.
3. Anggota keluarga memperbesar gejala atau masalah seorang individu.
4. Kemajuan kesehatan seorang anggota keluarga menimbulkan gejala atau kemerosotan pada seorang anggota keluarga yang lain.
Disamping itu Wright dan Leahey membagi tingkatan intervensi menjadi dua tingkatan yaitu intervenesi permulaan atau tingkat dasar yang bersifat suportif dan mendidik, dan intervensi yang telah maju meliputi sejumlah intervensi terapi keluarga yang bersifat psikososial dan tidak langsung.
Wright dan Leahey juga mengklasifikasikan intervensi keluarga dalam tingkatan fungsi keluarga yaitu kognitif, afektif dan perilaku.
3. EVALUASI
Evaluasi didasarkan pada bagaimana efektifnya intervensi-intervesi yang dilakukan oleh keluarga, perawat dan yang lainnya. Keefektifan ditentukan dengan melihat respon keluarga dan hasi, bukan intervensi-intervensi yang diimplementasikan.
Meskipun evaluasi dengan pendekatan terpusat pada klien paling relevan, seringkali membuat frustasi karena adanya kesulitan-kesulitan dalam membuat criteria objektif untuk hasil yang dikehendaki.
Rencana perawatan mengandung kerangka kerja evaluasi. Evaluasi merupakan proses berkesinambungan yang terjadi setiap kali seorang perawat memperbaharui rencana asuhan keperawatan. Sebelum perencanaanperencanaan dikembangkan, perawat bersama keluarga perlu melihat tindakantindakan perawatan tertenu apakah tindakan tersebut benar-benar membantu. Berikut ini pertanyaan-pertanyaan yang perlu direnungkan ketika melakukan evaluasi :
1. Apakah ada consensus antara keluarga dan anggota tim perawatan kesehatan lain dalam hal evaluasi?
2. Data tambahan apa yang perlu dikumpulkan untuk mengevaluasi perkembangan?
3. Apakah terdapat hasil tersembunyi yang perlu di kembangkan?
4. Jika perilaku dan persepsi keluarga menyatakan bahwa masalah dimaksud diselesaikan secara tidak memuaskan, maka apa alasannya?
5. Apakah diagnosa keperawatan, tujuan dan pendekatan-pendekatan bersifat akurat?
Faktor yang paling penting adalah bahwa metode tersebut harus disesuaikan dengan tujuan dan intervensi yang sedang dievaluasi.
4. KESIMPULAN
Perawatan keluarga yang komprehensif merupakan suatu proses yang rumit, sehingga memerlukan suatu pendekatan yang logis dan sistematis. Dimana dalam proses keperawatan keluarga akan relatif berbeda pada focus perawatannya.
Perbedaan focus perawatan tergantung pada konseptualisasi keluarga.
Dalam prakteknya, proses keperawatan keluarga menggunakan dua tingkatan yaitu tingkatan ini digunakan untuk mengkaji dan melaksanakan keperawatan keluarga dengan mengikuti langkah-langkah dalam proses keperawatan keluarga yaitu, Pengkajian (pengkajian terhadap keluarga dan pengkajian dan anggota keluarga secara individu), identifikasi masalah keluarga dan individu (diagnosa keperawatan ), rencana perawatan, intervensi dan evaluasi perawatan.
Mahasiswi Akademi keperawatan Pemkab Aceh Selatan
Tahun Akademi 2008
BAB I
PENDAHULUAN
Perawatan keluarga yang komprehensip merupakan suatu proses yang rumit, sehingga memerlukan suatu pendekatan yang logis dan sistematis untuk bekerja dengan keluarga dan anggota keluarga . Pendekatan ini disebut proses keperawatan. Menurut Yura dan Walsh (1978), “proses keperawatan merupakan inti dan sari dari keperawatan”. Proses adalah suatu aksi gerak yang dilakukan dengan sengaja dan sadar dari satu titik ke titik yang lain menuju pencapaian tujuan. Pada dasarnya, proses keperawatan merupakan suatu proses pemecahan masalah yang sistematis, yang digunakan ketika bekerja dengan individu, keluarga, kelompok atau komunitas.
Salah satu aspek terpenting dari keperawatan adalah penekanannya pada keluarga. Keluarga bersama dengan individu, kelompok dan komunitas adalah klien
atau resipien keperawatan. Secara empiris, disadari bahwa kesehatan para anggota keluarga dan kualitas kesehatan keluarga mempunyai hubungan yang erat. Akan tetapi, hingga saat ini sangat sedikit yang diberikan perhatian pada keluarga sebagai objek dari studi yang sistematis dalam bidang keperawatan. Beberapa alasan penting meyakinkan mengapa unit keluarga harus menjadi focus sentral dari keperawatan keluarga, yaitu : Dalam sebuah unit keluarga, disfungsi apa saja (penyakit, cedera, perpisahan) yang mempengaruhi satu atau lebih anggota keluarga, dan dalam hal tertentu, sering akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain dan unit ini secara keseluruhan.
Ada semacam hubungan yang kuat antara keluarga dan status kesehatan anggotanya.
Melalui perawatan kesehatan keluarga yang berfokus pada peningkatan, perwatan diri (self care), pendidikan kesehatan, dan konseling keluarga serta upaya-upaya yang berarti dapat mengurangi resiko yang diciptakan oleh pola hidup dan bahaya dari lingkungan.
Upaya menemukan kasus merupakan suatu alasan bagus lainnya untuk memberikan perawatan kesehatan keluarga.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
1. PROSES KEPERAWATAN KELUARGA
Proses keperawatan keluarga akan relatif berbeda pada siapa yang menjadi focus perawatan. Perbedaan focus tersebut tergantung pada keonseptualisasi keluarga dari perawat tersebut dalam prakteknya. Jika ia melihat keluarga sebagai latar belakang atau konteks dari pasien keperawtan yang berorientasi secara individu, seperti pada tradisional.
Dalam prakteknya, kebanyakan perawat bekerja sekaligus dengan keluarga dan anggota keluarga secara individu. Ini berarti bahwa perawat keluarga akan menggunakan proses keperawatan pada dua lingkaran yaitu tingkat individu dan keluarga. Dalam hali ini, pengakjian diagnosa, perencanaan, intervensi, dan evaluasi akan menjadi lebih luas dan rumit.
Palayanan perawatan keluarga amat khusus dan hanya bekerja pada keluarga sebagai system. Dan dilain pihak, suatu pemahaman dari setiap anggota keluarga yang tidak adekuat tidak dapat dicapai tanpa memandang anggota tersebut dalam konteks kelompok primer-keluarga.
Pendekatan kedua tingkatan ini, yang digunakan untuk mengakji dan melaksanakan keperawatan keluarga digambarkan pada gambar berikut ini yang menggambarkan langkah-langkah dalam proses keperawatan keluarga.
2. PENGKAJIAN KELUARGA
a. Analisa Tingkat Interaksi
Untuk dapat bekerja secara efektif dengan klien, maka dalam melakukan pengkajian dan memberikan perawatan, perawat keluarga harus berfiikir secara interaksi. Wright dan Leahey (1984) menerangkan bahw variabel paling penting meningkatkan atau merintangi perawatan yang berpusat keluarga adalah bagaimana perawat mengkonseptualisasikan masalah. Pengetahuan tentang teori keluarga dan penelitian serta suatu kerangka kerja sistematis untuk mengkaji dan bekerja dengan keluarga, benar-benar membantu perawat dalam membuat transisi dari persfektif familistis.
Penkajian terhadap keluarga
Mengidentifikasikan dan data sosiologi, lingkungan, struktur dan fungsi
Pengakajian anggota keluarga
Secara individu :
Mental, fisik, emosional, sosial dan spiritual Identifikasi masalah-masalah keluarga dan individu (diagnosa
Rencana Perawatan :
Penyusunan tujuan Mengidentifikasikan sumbersumber, Mendefinisikan pendekatan alternatif Memilih intervesi perawatan Penyusunan prioritas
Intervensi :
Implementasi rencana pengarahan Sumber-sumber Evaluasi Perawatan.
b. Proses Pengkajian
Proses pengkajian keperawatan diwarnai dengan pengumpulan informasi secara terus menerus terhadap arti yang melekat pada informasi yang sedang dikumpulkan tersebut. Dengan kata lain, data dikumpulkan secara sistematis, diklasifikasikan dan dianalisa artinya. Pengumpulan data merupakan syarat utama untuk mengidentifikasi masalah.
Pengumpulan data tentang keluarga didapat dari berbagai sumber, yaitu :
- Wawancara dengan klien dalam hubungannya dengan kejadian-kejadian pada waktu lalu dan sekarang.
- Temuan-temuan yang objektif, missal : observasi terhadap rumah dan fasiliats-fasilitas yang ada didalamnya .
- Informasi-informasi yang tertulis maupun lisan dan rujukan, berbagi lembaga yang menangani keluarga dan anggota tim lainnya.
Salah satu peran penting dari perawat keluarga adalah menjadi partisipan pengamat dalam keluarga. Sementara perawat bekerja secara aktif dengan keluarga, ia juga harus memiliki kemampuan melangkah mundur dan secara mengobservasi kondisi dan situasi dirumah.
Keperawatan keluarga biasa terdiri dari beberapa babak interaksi dengan sebuah keluarga. Keefektifan dari para perawat dalam membantu keluarga mengidentifikasikan kebutuhan keluarga tersebut dan memenuhi kebutuhannya tidak hanya tergantung pada keahlian perawat profesional, tetapi juga bagaimana perawat tersebut peka dan keluarga yang bagaimana mengalaminya. Sebuah keluarga yang membutuhkan bantuan seringkali lebih cepat terbuka apabila ada seorang dimana mereka biasa mengungkapkan masalah mereka secara bebas.
3. DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA
Pengkajian terhadap keluarga mencapai puncaknya dengan pengidentifikasian masalah-masalah keluarga. Banyak sekali masalah-masalah keluarga yang berbeda dalam lingkup praktek dari perawat, yang dinamakan diagnosa keperawatan keluarga.Masalah-masalah keluarga perlu diidentifikasikan dan didiskusikan dengan keluarga, untuk memeriksa kepentingan bahwa masalah atau kebutuhan tersebut dilihat secara timbal balik.Diagnosa-diagnosa keluarga merupakan perpanjangan dari diagnosa-diagnosa keperawatan terhadap system keluarga dan merupakan hasil dari pengkajian terhadap perawatan. Diagnosa keperawatan keluarga didalamnya termasuk masalah-masalah kesehatan yang actual dan potensial.
Pada tingkat keluarga, diagnosa keperawatan dapat diturunkan dari pemakaian salah satu teori tentang keluarga atau keperawatan atau dari diagnosa North American Diagnosis Association (NANDA). Ataupun klasifikasi NANDA adalah :
- Diagnosa-diagnosa tersebut tidak bersifat teoritis, yang mana bisa jadi merupakan kakuatan dan kelemahan, tergantung pada sudut pandang seseorang.
- Sebagian besar keperawatan yang berorientasi pada keluarga bersifat sangat luas dan tidak cukup untuk mengarahkan intervensi.
- Diagnosa-diagnosa tersebut lebih berorientasi pada penyakit.
- Daftar yang ada sekarang tidak lengkap dan tidak mencakup sebagian besar masalah/diagnosa yang potensial dan actual dari keperawatan keluarga yang dilihat praktis.
1. PERENCANAAN
a. Penyusunan Tujuan
Perencanaan meliputi perumusan tujuan yang berorientasi pada klien. Penyusunan bersama tujuan tersebut terdiri atas kemungkinan sumber – sumber , menggambarkan pendekatan alternatif untuk memenuhi tujuan – tujuan , menyeleksi intervensi keperawatan yang spesipik , memobilisasi sumber – sumber dan mengoperasionalisasikan perencanaan. Penyusunan tujuan bersama dengan keluarga menjadi penentu perencanaan yang efektif. Salah satu tujuan utama keperawatan keluarga adalah bahwa klien mempunyai tanggung jawab akhir dalam mengatur hidup mereka sendiri. Pemutusan tujuan bersama anggota keluarga secara konsisten telah unggul dari pada penyusunan tujuan unilateral karena alasan :
1. Peoses penyusunan tujuan bersama memiliki efek positip terhadap interaksi keluarga
2. Orang nampaknya lebih menentang bila diberi tahu apa yang harus dilakukan
3. Orang yang membuat keputusan cenderung merasa bertanggung jawab terhadap mereka.
Penyusunan tujuan semakin dikenali dengan suatu komponen yang amat penting dalam perencanaan. Ada beberapa tingkatan tujuan yaitu , tujuan jangka pendek yang sifatnya dapat diukur , langsung dan spesifik. Ditengah kontinum adalah tujuan tingkat menengah dan tujuan jangka panjang adalah tujuan akhir yang menyatakan maksud secara luas yang diharapkan oleh perawat dan keluarga agar dapat dicapai.
b. Membuat pendekatan alternatif dan mengidentifikasi sumber – sumber
Sebagaimana digambarkan bahwa sumber – sumber yang dapat dipakai untuk menangani kebutuhan – kabutuhan perlu diidentifikasi. Sumber – sumber itu meliputi kekuatan – kekuatan yang paling dalam , termasuk sumber – sumber perawatan diri dari mereka , system pendukung dari mereka dan sumber – sumber bantuan fisik serta komunitas.
Tindakan atau pendekatan yang spesifik yang dimudahkan oleh perawat , dipilih dari alternatif dan sumber yang ada.
c. Penyusunan prioritas
Penyusunan prioritas intervensi dalam suatu perencanan yang bertahap dan terkoordinasi akan membawa intervensi tersebut kepada pengimplementasiannya.
Pengurutan prioritas yang dibuat oleh keluarga merupakan paling penting dalam penyusunan prioritas secara bersama. Sejumlah perawat menetapkan intervensi - intervensi terencana dengan urutan prioritas rendah , menengah dan utama , dengan yang termasuk prioritas utama perlu dilaksanakan segera.
2. INTERVENSI KEPERAWATAN KELUARGA
Tahap intervensi diawali dengan penyelesaian perencanaan perawatan. Implementasi dapat dilakukan oleh banyak orang : klien , perawat dan anggota tim perawat kesehatan lain.
Kriteria untuk membuat keputusan termasuk keinginan dan motivasi keluarga dalam menerima bantuan dan mencoba memecahkan masalah masalahnya , dan tingkat fungsinya , keluarga serta sumber – sumber yang tersedia.
Wright dan Leahey menyarankan bahwa normalnya keluarga memerlukan bantuan dalam situasi sebagai berikut :
1. Sebuah keluarga menjadi penyebab suatu masalah dimana hubungan anatara para anggota keluarga terganggu.
2. Seorang anggota keluarga menjadi penyebab suatu penyakit yang mempunyai pengaruh buruk terhadap anggota yang lain.
3. Anggota keluarga memperbesar gejala atau masalah seorang individu.
4. Kemajuan kesehatan seorang anggota keluarga menimbulkan gejala atau kemerosotan pada seorang anggota keluarga yang lain.
Disamping itu Wright dan Leahey membagi tingkatan intervensi menjadi dua tingkatan yaitu intervenesi permulaan atau tingkat dasar yang bersifat suportif dan mendidik, dan intervensi yang telah maju meliputi sejumlah intervensi terapi keluarga yang bersifat psikososial dan tidak langsung.
Wright dan Leahey juga mengklasifikasikan intervensi keluarga dalam tingkatan fungsi keluarga yaitu kognitif, afektif dan perilaku.
3. EVALUASI
Evaluasi didasarkan pada bagaimana efektifnya intervensi-intervesi yang dilakukan oleh keluarga, perawat dan yang lainnya. Keefektifan ditentukan dengan melihat respon keluarga dan hasi, bukan intervensi-intervensi yang diimplementasikan.
Meskipun evaluasi dengan pendekatan terpusat pada klien paling relevan, seringkali membuat frustasi karena adanya kesulitan-kesulitan dalam membuat criteria objektif untuk hasil yang dikehendaki.
Rencana perawatan mengandung kerangka kerja evaluasi. Evaluasi merupakan proses berkesinambungan yang terjadi setiap kali seorang perawat memperbaharui rencana asuhan keperawatan. Sebelum perencanaanperencanaan dikembangkan, perawat bersama keluarga perlu melihat tindakantindakan perawatan tertenu apakah tindakan tersebut benar-benar membantu. Berikut ini pertanyaan-pertanyaan yang perlu direnungkan ketika melakukan evaluasi :
1. Apakah ada consensus antara keluarga dan anggota tim perawatan kesehatan lain dalam hal evaluasi?
2. Data tambahan apa yang perlu dikumpulkan untuk mengevaluasi perkembangan?
3. Apakah terdapat hasil tersembunyi yang perlu di kembangkan?
4. Jika perilaku dan persepsi keluarga menyatakan bahwa masalah dimaksud diselesaikan secara tidak memuaskan, maka apa alasannya?
5. Apakah diagnosa keperawatan, tujuan dan pendekatan-pendekatan bersifat akurat?
Faktor yang paling penting adalah bahwa metode tersebut harus disesuaikan dengan tujuan dan intervensi yang sedang dievaluasi.
4. KESIMPULAN
Perawatan keluarga yang komprehensif merupakan suatu proses yang rumit, sehingga memerlukan suatu pendekatan yang logis dan sistematis. Dimana dalam proses keperawatan keluarga akan relatif berbeda pada focus perawatannya.
Perbedaan focus perawatan tergantung pada konseptualisasi keluarga.
Dalam prakteknya, proses keperawatan keluarga menggunakan dua tingkatan yaitu tingkatan ini digunakan untuk mengkaji dan melaksanakan keperawatan keluarga dengan mengikuti langkah-langkah dalam proses keperawatan keluarga yaitu, Pengkajian (pengkajian terhadap keluarga dan pengkajian dan anggota keluarga secara individu), identifikasi masalah keluarga dan individu (diagnosa keperawatan ), rencana perawatan, intervensi dan evaluasi perawatan.
. MENYESUAIKAN DIRI DENGAN PERUBAHAN PSIKOLOGI DAN SOSIAL PADA USIA LANJUT
Metti Masnizar
Mahasiswi Akademi Keperawatan Pemkab Aceh Selatan
Tahun Akademi 2008
Faktor-faktor yang mempengar
uhi perilaku manusia
1. Genetika
2. Sikap - adalah suatu ukuran tingkat
kesukaan seseorang terhadap perilaku
tertentu.
3. Norma sosial - adalah pengaruh
tekanan sosial.
4. Kontrol perilaku pribadi -
adalah kepercayaan seseorang mengenai sulit tidaknya melakukan suatu perilaku
PENDAHULUAN
Keberhasilan Pembangunan khususnyadi bidang kesehatan menumbulkan jumlah penduduk yang meninggal dalam usia muda menurun drastis dan harapan hidup rata-rata semakin panjang.Ini berarti bahwa dalam kangka panjang jumlah golongan penduduk dalam usia lanjut semakin besar.Data di biro statistik menunjukkan bahwa sensus penduduk th 1995 terdapat 12,7 juta orang yang berusia 60 tahun keatas.Hal ini dapat menimbulkan masalah baru apabila tidak kita perhatikan sejak dini.Karena pada kenyataannya sering kita jumpai orang yang merasa takut dalam menghadapi usia lanjut.Mereka takut dengan adanya perubahan fisik,badannya tidak menarik seperti pada saat masih muda,rambutnya mulai banyak uban ,kulitnya mulai banyak keriput.timbulnya menopause,takut menghadapi pensiun,merasa tidak ada peranan penting lagi,merasa tidak dapat berkarier lagi,merasa tersaingi dengan yang mida dan sebagainya.
Ketakutan dalam menghadapi usia lanjut ini dapat menimbulkan mereka mempunyai harga diri yang rendah,sulit tidur,tidak nafsu makan,tidak bergairah dalam bekerja,dan bahkan dapat menimbulkan seseorang mengalami gangguan jiwa.Sebetulnya keadaan ini tidak perlu terjadi apabila ada persiapan dalam menghadapi usia lanjut dan mereka berani dalam menghadapi tantangan atau bahaya pada usia ini ,dengan demikian maka kesempatan manis bagi pertumbuhan dan pengembangan diri tidak hilang,mereka mempunyai kesempatan yang besar untuk pematangan diri,untuk mencapai tingkat perkembangan diri sebagai manusia secara penuh,serta dapat menikmati usia lanjut dengan bah.
PERUBAHAN PSIKOLOGI DAN SOSIAL PADA USIA LANJUT
Menjadi tua tidak berarti mundur secara psikologis. Daya ingat memang berkurang, sebab orang lebih memperhatikan hal-hal penting, sedangkan yang kurang penting tidak diingat. Di luar negeri pernah diadakan percobaan mendirikan universitas yang menerima mahasiswa yang sudah berusia lanjut. Ternyata banyak orang yang berusia lanjut yang berhasil. Semangat belajar mereka lebih besar daripada orang-orang muda. Hal ini disebabkan mereka mempunyai pengalaman hidup yang lebih banyak dibandingkan dengan yang muda.
Beberapa masalah sosial dan psikologi yang dihadapi pada usia lanjut antaralain:
1. Pensiun
2. Fungsi Mental
:
a. Tipe Konstruktif:.
b. Tipe independan
c. Tipe Independen (mandiri)
d. Tipe Bermusuhan:
e. Tipe Benci diri: .
3. Kehilangan pasangan.
4. Fungsi Seksual
.
5. Menemukan Kebahagia
6. Kematangan Iman
7. Menemukan Makna hidup.
Membina Perkawinan Lansia, perubahan perilaku, persepsi keluarga.
Latar belakang: proses menua merupakan hal yang pasti dialami oleh setiap individu. Memasuki masa lansia, lansia akan mengalami penurunan baik kondisi fisik psikologis maupun sosial. Penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial ini berpengaruh pula pada perubahan perilaku lansia, misalnya; adanya ketergantungan oleh karena kelemahan fisik, lebih egois, cerewet serta ingin selalu diperhatikan. Perubahan perilaku lansia ini cenderung membuat orang lain marah-marah dan jengkel terhadap lansia. Persepsi keluarga terhadap perubahan perilaku lansia adalah respon atau tanggapan keluarga terhadap perubahan perilaku lansia. Persepsi dibagi menjadi 2 yaitu persepsi positif dan negatif. Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode diskriftif, pengambilan sampel dilakukan secara non random dengan teknik quota sampling. Responden yang diambil berjumlah 30 keluarga dari 150 populasi. Kriteria responden yaitu keluarga yang tinggal bersama lansia, serta lansia tersebut berusia lebih dari 60 tahun. Setiap responden diberikan 20 pertanyaan yang berkaitan dengan persepsi keluarga terhadap perubahan perilaku lansia yang mencakup aspek fisik, psikologis serta sosial. Hasil: Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keluarga memiliki persepsi yang baik terhadap penurunan kondisi fisik (66,7%), psikologis (50%) seta sosial (46,7%). Dari 30 responden didapatkan bahwa 76,7% atau 23 keluarga memiliki persepsi yang positif. Ini berarti keluarga mampu menerima semua perubahan perilaku lansia dan menganggap bahwa semua perubahan perilaku lansia merupakan hal yang wajar. Sedangkan 23,3% atau 7 keluarga memiliki persepsi yang negatif. Hal ini berarti bahwa keluarga menolak atau tidak menerima adanya perubahan perilaku lansia. Persepsi negatif ini dapat muncul oleh karena adanya beberapa faktor diantaranya; umur dari lansia, tingkat pendidikan dari responden serta hubungan lansia dengan responden. Kesimpulan dan rekomendasi: keluarga memiliki persepsi yang positif terhadap perubahan perilaku lansia. Pemberian informasi kepada keluarga yang merawat lansia agar pengetahuan keluarga tentang lansia dapat bertambah.
Deskripsi Alternatif :
Latar belakang: proses menua merupakan hal yang pasti dialami oleh setiap individu. Memasuki masa lansia, lansia akan mengalami penurunan baik kondisi fisik psikologis maupun sosial. Penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial ini berpengaruh pula pada perubahan perilaku lansia, misalnya; adanya ketergantungan oleh karena kelemahan fisik, lebih egois, cerewet serta ingin selalu diperhatikan. Perubahan perilaku lansia ini cenderung membuat orang lain marah-marah dan jengkel terhadap lansia. Persepsi keluarga terhadap perubahan perilaku lansia adalah respon atau tanggapan keluarga terhadap perubahan perilaku lansia. Persepsi dibagi menjadi 2 yaitu persepsi positif dan negatif. Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode diskriftif, pengambilan sampel dilakukan secara non random dengan teknik quota sampling. Responden yang diambil berjumlah 30 keluarga dari 150 populasi. Kriteria responden yaitu keluarga yang tinggal bersama lansia, serta lansia tersebut berusia lebih dari 60 tahun. Setiap responden diberikan 20 pertanyaan yang berkaitan dengan persepsi keluarga terhadap perubahan perilaku lansia yang mencakup aspek fisik, psikologis serta sosial. Hasil: Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keluarga memiliki persepsi yang baik terhadap penurunan kondisi fisik (66,7%), psikologis (50%) seta sosial (46,7%). Dari 30 responden didapatkan bahwa 76,7% atau 23 keluarga memiliki persepsi yang positif. Ini berarti keluarga mampu menerima semua perubahan perilaku lansia dan menganggap bahwa semua perubahan perilaku lansia merupakan hal yang wajar. Sedangkan 23,3% atau 7 keluarga memiliki persepsi yang negatif. Hal ini berarti bahwa keluarga menolak atau tidak menerima adanya perubahan perilaku lansia. Persepsi negatif ini dapat muncul oleh karena adanya beberapa faktor diantaranya; umur dari lansia, tingkat pendidikan dari responden serta hubungan lansia dengan responden. Kesimpulan dan rekomendasi: keluarga memiliki persepsi yang positif terhadap perubahan perilaku lansia. Pemberian informasi kepada keluarga yang merawat lansia agar pengetahuan keluarga tentang lansia dapat bertambah.
8. Monadic Satu Kesatuan Yang Baru .
Mahasiswi Akademi Keperawatan Pemkab Aceh Selatan
Tahun Akademi 2008
Faktor-faktor yang mempengar
uhi perilaku manusia
1. Genetika
2. Sikap - adalah suatu ukuran tingkat
kesukaan seseorang terhadap perilaku
tertentu.
3. Norma sosial - adalah pengaruh
tekanan sosial.
4. Kontrol perilaku pribadi -
adalah kepercayaan seseorang mengenai sulit tidaknya melakukan suatu perilaku
PENDAHULUAN
Keberhasilan Pembangunan khususnyadi bidang kesehatan menumbulkan jumlah penduduk yang meninggal dalam usia muda menurun drastis dan harapan hidup rata-rata semakin panjang.Ini berarti bahwa dalam kangka panjang jumlah golongan penduduk dalam usia lanjut semakin besar.Data di biro statistik menunjukkan bahwa sensus penduduk th 1995 terdapat 12,7 juta orang yang berusia 60 tahun keatas.Hal ini dapat menimbulkan masalah baru apabila tidak kita perhatikan sejak dini.Karena pada kenyataannya sering kita jumpai orang yang merasa takut dalam menghadapi usia lanjut.Mereka takut dengan adanya perubahan fisik,badannya tidak menarik seperti pada saat masih muda,rambutnya mulai banyak uban ,kulitnya mulai banyak keriput.timbulnya menopause,takut menghadapi pensiun,merasa tidak ada peranan penting lagi,merasa tidak dapat berkarier lagi,merasa tersaingi dengan yang mida dan sebagainya.
Ketakutan dalam menghadapi usia lanjut ini dapat menimbulkan mereka mempunyai harga diri yang rendah,sulit tidur,tidak nafsu makan,tidak bergairah dalam bekerja,dan bahkan dapat menimbulkan seseorang mengalami gangguan jiwa.Sebetulnya keadaan ini tidak perlu terjadi apabila ada persiapan dalam menghadapi usia lanjut dan mereka berani dalam menghadapi tantangan atau bahaya pada usia ini ,dengan demikian maka kesempatan manis bagi pertumbuhan dan pengembangan diri tidak hilang,mereka mempunyai kesempatan yang besar untuk pematangan diri,untuk mencapai tingkat perkembangan diri sebagai manusia secara penuh,serta dapat menikmati usia lanjut dengan bah.
PERUBAHAN PSIKOLOGI DAN SOSIAL PADA USIA LANJUT
Menjadi tua tidak berarti mundur secara psikologis. Daya ingat memang berkurang, sebab orang lebih memperhatikan hal-hal penting, sedangkan yang kurang penting tidak diingat. Di luar negeri pernah diadakan percobaan mendirikan universitas yang menerima mahasiswa yang sudah berusia lanjut. Ternyata banyak orang yang berusia lanjut yang berhasil. Semangat belajar mereka lebih besar daripada orang-orang muda. Hal ini disebabkan mereka mempunyai pengalaman hidup yang lebih banyak dibandingkan dengan yang muda.
Beberapa masalah sosial dan psikologi yang dihadapi pada usia lanjut antaralain:
1. Pensiun
2. Fungsi Mental
:
a. Tipe Konstruktif:.
b. Tipe independan
c. Tipe Independen (mandiri)
d. Tipe Bermusuhan:
e. Tipe Benci diri: .
3. Kehilangan pasangan.
4. Fungsi Seksual
.
5. Menemukan Kebahagia
6. Kematangan Iman
7. Menemukan Makna hidup.
Membina Perkawinan Lansia, perubahan perilaku, persepsi keluarga.
Latar belakang: proses menua merupakan hal yang pasti dialami oleh setiap individu. Memasuki masa lansia, lansia akan mengalami penurunan baik kondisi fisik psikologis maupun sosial. Penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial ini berpengaruh pula pada perubahan perilaku lansia, misalnya; adanya ketergantungan oleh karena kelemahan fisik, lebih egois, cerewet serta ingin selalu diperhatikan. Perubahan perilaku lansia ini cenderung membuat orang lain marah-marah dan jengkel terhadap lansia. Persepsi keluarga terhadap perubahan perilaku lansia adalah respon atau tanggapan keluarga terhadap perubahan perilaku lansia. Persepsi dibagi menjadi 2 yaitu persepsi positif dan negatif. Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode diskriftif, pengambilan sampel dilakukan secara non random dengan teknik quota sampling. Responden yang diambil berjumlah 30 keluarga dari 150 populasi. Kriteria responden yaitu keluarga yang tinggal bersama lansia, serta lansia tersebut berusia lebih dari 60 tahun. Setiap responden diberikan 20 pertanyaan yang berkaitan dengan persepsi keluarga terhadap perubahan perilaku lansia yang mencakup aspek fisik, psikologis serta sosial. Hasil: Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keluarga memiliki persepsi yang baik terhadap penurunan kondisi fisik (66,7%), psikologis (50%) seta sosial (46,7%). Dari 30 responden didapatkan bahwa 76,7% atau 23 keluarga memiliki persepsi yang positif. Ini berarti keluarga mampu menerima semua perubahan perilaku lansia dan menganggap bahwa semua perubahan perilaku lansia merupakan hal yang wajar. Sedangkan 23,3% atau 7 keluarga memiliki persepsi yang negatif. Hal ini berarti bahwa keluarga menolak atau tidak menerima adanya perubahan perilaku lansia. Persepsi negatif ini dapat muncul oleh karena adanya beberapa faktor diantaranya; umur dari lansia, tingkat pendidikan dari responden serta hubungan lansia dengan responden. Kesimpulan dan rekomendasi: keluarga memiliki persepsi yang positif terhadap perubahan perilaku lansia. Pemberian informasi kepada keluarga yang merawat lansia agar pengetahuan keluarga tentang lansia dapat bertambah.
Deskripsi Alternatif :
Latar belakang: proses menua merupakan hal yang pasti dialami oleh setiap individu. Memasuki masa lansia, lansia akan mengalami penurunan baik kondisi fisik psikologis maupun sosial. Penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial ini berpengaruh pula pada perubahan perilaku lansia, misalnya; adanya ketergantungan oleh karena kelemahan fisik, lebih egois, cerewet serta ingin selalu diperhatikan. Perubahan perilaku lansia ini cenderung membuat orang lain marah-marah dan jengkel terhadap lansia. Persepsi keluarga terhadap perubahan perilaku lansia adalah respon atau tanggapan keluarga terhadap perubahan perilaku lansia. Persepsi dibagi menjadi 2 yaitu persepsi positif dan negatif. Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode diskriftif, pengambilan sampel dilakukan secara non random dengan teknik quota sampling. Responden yang diambil berjumlah 30 keluarga dari 150 populasi. Kriteria responden yaitu keluarga yang tinggal bersama lansia, serta lansia tersebut berusia lebih dari 60 tahun. Setiap responden diberikan 20 pertanyaan yang berkaitan dengan persepsi keluarga terhadap perubahan perilaku lansia yang mencakup aspek fisik, psikologis serta sosial. Hasil: Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keluarga memiliki persepsi yang baik terhadap penurunan kondisi fisik (66,7%), psikologis (50%) seta sosial (46,7%). Dari 30 responden didapatkan bahwa 76,7% atau 23 keluarga memiliki persepsi yang positif. Ini berarti keluarga mampu menerima semua perubahan perilaku lansia dan menganggap bahwa semua perubahan perilaku lansia merupakan hal yang wajar. Sedangkan 23,3% atau 7 keluarga memiliki persepsi yang negatif. Hal ini berarti bahwa keluarga menolak atau tidak menerima adanya perubahan perilaku lansia. Persepsi negatif ini dapat muncul oleh karena adanya beberapa faktor diantaranya; umur dari lansia, tingkat pendidikan dari responden serta hubungan lansia dengan responden. Kesimpulan dan rekomendasi: keluarga memiliki persepsi yang positif terhadap perubahan perilaku lansia. Pemberian informasi kepada keluarga yang merawat lansia agar pengetahuan keluarga tentang lansia dapat bertambah.
8. Monadic Satu Kesatuan Yang Baru .
Merawat Bayi Baru Lahir
Merawat Bayi Baru Lahir
Berapa kali sehari, sih, bayi harus dimandikan? Kenapa pula bokongnya kerap berwarna merah? Perlukah kita membersihkan lidah si kecil? Nah, simak jawaban ahli mengenai pertanyaan yang kerap Anda lontarkan.
Merawat bayi memang bukan pekerjaan mudah. Padahal jika tak dirawat dengan benar dan kebersihannya tak dijaga, tubuhnya bakal rentan terhadap banyak penyakit. Bagian tubuh mana saja yang penting dirawat dan dijaga kebersihannya?
TALI PUSAT
Perawatan tali pusat pada bayi baru lahir harus diperhatikan betul, sebab daerah ini mudah sekali terkena infeksi. Libatkan pangkal tali pusat dengan kasa steril yang dibasahi alkohol 70 persen. Ingat, pangkal tali pusat harus tertutup rapat. Lakukan dua kali sehari. Jaga agar kasa steril senantiasa lembab.
Jika tali pusat yang belum putus tak sengaja terkena air saat bayi dimandikan, keringkan dengan cotton buds atau kasa steril, lalu beri alkohol 70 persen.
Jangan bubuhi ramuan apa pun pada pangkal tali pusat. Cukup alkohol 70 persen, karena tak mengandung zat-zat racun yang bisa diserap tubuh bayi. Selain itu, alkohol dapat membunuh kuman dan mengeringkan pangkal tali pusat, sehingga pangkal tali pusat menciut dan akhirnya puput atau putus. Umumnya, tali pusat akan putus antara 1-2 minggu setelah kelahiran, tapi bisa juga terjadi lebih dini atau lebih lambat.
MATA
Di sini terdapat sumber air mata yang terletak di atas mata. Setiap 3 detik, sumber air mata mengeluarkan air mata, yang lalu mengalir ke saluran di ujung tengah mata dekat hidung. Pada bayi baru lahir, karena di kandungan belum pernah menangis, maka sumber air mata belum berproduksi. Jadi, salurannya masih tertutup. Bisa juga, kadang terbuka tapi lalu menutup lagi, sehingga airmata yang seharusnya sudah mengalir jadi tergenang.
"Air mata ini 'aneh'. Dia membunuh kuman untuk beberapa menit, tapi setelah lewat beberapa menit, dia tak membunuh lagi, malah menjadi makanan kuman. Jadi, bila air mata tergenang atau tak mengalir, tumbuhlah kuman-kuman yang lalu menimbulkan tahi mata. Itu dapat membahayakan kornea," terang dokter spesialis anak yang juga praktek di RS International Bintaro ini.
Karena itu perlu dilakukan pemijatan di area sudut mata dengan menggunakan jari yang tak berkuku panjang atau cotton buds yang dibasahi air matang. Pijat lembut dari sudut mata ke bawah dan ke arah hidung, selama 5-10 kali. Lakukan lebih kurang 2 minggu, karena setelah itu, umumnya saluran air mata telah terbuka tetap dan berfungsi. Untuk membersihkan tahi mata, gunakan kapas steril yang dibasahi air matang. Selalu gunakan satu kapas steril untuk tiap mata.
KULIT
Kulit manusia harus dibersihkan, karena merupakan "makanan empuk" bagi kuman-kuman kulit. Bayi baru lahir minimal dimandikan sehari sekali karena ia belum tahan dingin. Entah dengan cara berendam di bak mandi atau dilap dengan waslap basah yang sudah diberi sabun bayi. "Pilih yang mengandung Pro Vitamin B5. Ini berguna untuk merawat kesehatan kulit, memberi rasa nyaman, dan menjaga kulit tetap halus," kata Rini Budiyanti, Senior Brand Manager PT Cussons Indonesia,
Agar kulit tetap lembab dan terhindar dari kekeringan, Rini menganjurkan pemakaian baby oil yang mengandung Vitamin E. "Vitamin ini juga bermanfaat untuk membuat kulit tetap halus, lembut, dan terhindar dari lecet," terangnya dalam acara Ibu, Bayi & Balita di SCTV, kerjasama nakita dengan PT Endrass Perdana.
Untuk mencegah munculnya biang keringat, atur temperatur ruangan/kamar bayi senyaman mungkin. Jangan sampai bayi kepanasan. Jika tak punya AC, ventilasi kamar harus baik.
Untuk mengatasi biang keringat, cukup diberi bedak khusus bayi. "Gunakan bedak bayi yang mengandung Pro Vitamin B5, agar kulit si kecil tetap halus dan lembut," saran Rini pula.
Lalu, pada jam-jam yang banyak mengeluarkan keringat seperti siang hari, lap bagian tubuh yang banyak keringat dengan kapas yang dibasahi air hangat atau tisu basah non-alkohol. Lakukan sesering mungkin pada bayi yang banyak biang keringat, terutama di daerah-daerah lipatan.
KULIT KEPALA
Yang paling menjengkelkan tapi tak berbahaya ialah cradle crap atau kerak di kulit kepala. Antara lain disebabkan kulit kepala terpolusi udara dan debu. Bersihkan dengan air matang setelah diberi obat dari dokter. Tapi jangan keras-keras karena setelah diberi obat, sebenarnya nanti akan ngelotok sendiri.
Boleh juga menggunakan baby oil, diamkan kira-kira 10-15 menit, lalu pijat secara lembut, dilanjutkan dengan pencucian. Tapi ingat, jangan lakukan pijatan atau pembersihan dengan keras. Jika kulit kepala sampai berdarah dan infeksi, bisa berbahaya. Sebab, ada satu peredaran darah di kepala yang menyambung dengan otak.
Usahakan kulit kepala tetap sejuk dan kering, karena kerak ini akan makin parah jika kulit kepala berkeringat. Jangan kenakan topi pada bayi kecuali jika sangat diperlukan dan lepaskan topi itu setelah bayi Anda berada di dalam rumah atau kendaraan.
RAMBUT
Kata Adi Tagor, untuk menumbuhkan rambut bayi sebenarnya tak perlu sampo. Ia lebih menganjurkan pemakaian daun seledri sebagai perangsang. Tapi, boleh-boleh saja menggunakan sampo khusus bayi dan cukup dua kali seminggu.
Rini menyarankan pemakaian sampo bayi yang mengandung Pro Vitamin B5, agar rambut tetap sehat, mudah diatur, dan lebih bercahaya. "Untuk membantu pertumbuhan rambut, bisa digunakan hair lotion yang juga mengandung Pro Vitamin B5 dan Vitamin E yang memberikan kelembaban ekstra pada kulit bayi yang sensitif," katanya.
Untuk bayi kecil, basahi rambutnya dengan semprotan halus atau dengan menuangkan secangkir air. Tambahkan satu-dua tetes sampo dan gosok lembut sampai berbusa. Hindari jangan sampai sampo mengenai mata. Basuh sampai bersih dengan semprotan lembut atau beberapa cangkir air.
Untuk bayi yang sudah dapat berdiri sendiri, gunakan alat khusus yang dapat melindungi mata dari aliran air dan sampo saat rambutnya dikeramasi.
HIDUNG
Bagian dalam hidung punya daya pembersih sendiri dan tak perlu perawatan khusus. Jika ada cairan atau kotoran yang keluar, bersihkan bagian luarnya. Jangan gunakan cotton buds, tisu yang digulung kecil atau jari Anda untuk mengeluarkan kotoran dari dalam hidung. Anda hanya akan mendorong kotoran itu lebih jauh ke dalam atau bahkan menggores membran pembatas hidung yang peka.
Jika bayi punya banyak lendir karena pilek sehingga menghambat pernapasan, sedot keluar dengan cara mengisapnya oleh ibu secara lembut atau dengan aspirator hidung bayi. Tutup sebelah lubang hidung dengan jari, lalu isap sebelahnya. Begitu bergantian. Jangan sekali-sekali mengisap kedua lubang sekaligus, karena berbahaya. Lendir dapat naik ke telinga tengah, sehingga menimbulkan infeksi telinga tengah.
TELINGA
Seperti hidung, bagian dalam telinga juga tak boleh dibersihkan. Anda boleh membersihkan jika kotoran itu sudah mencapai "pintu" keluar atau setelah melewati "tikungan" di dalam liang telinga luar. Gunakan cotton buds yang diberi air hangat agar kotoran jadi lebih lunak, sehingga mudah dikeluarkan. Minta pertolongan dokter untuk membersihkan kotoran yang berada di dalam telinga dan keras.
Sementara daun telinga dapat dibersihkan tiap kali memandikan bayi. Gunakan cotton buds atau kapas yang dibasahi air hangat. Lakukan secara lembut.
Berapa kali sehari, sih, bayi harus dimandikan? Kenapa pula bokongnya kerap berwarna merah? Perlukah kita membersihkan lidah si kecil? Nah, simak jawaban ahli mengenai pertanyaan yang kerap Anda lontarkan.
Merawat bayi memang bukan pekerjaan mudah. Padahal jika tak dirawat dengan benar dan kebersihannya tak dijaga, tubuhnya bakal rentan terhadap banyak penyakit. Bagian tubuh mana saja yang penting dirawat dan dijaga kebersihannya?
TALI PUSAT
Perawatan tali pusat pada bayi baru lahir harus diperhatikan betul, sebab daerah ini mudah sekali terkena infeksi. Libatkan pangkal tali pusat dengan kasa steril yang dibasahi alkohol 70 persen. Ingat, pangkal tali pusat harus tertutup rapat. Lakukan dua kali sehari. Jaga agar kasa steril senantiasa lembab.
Jika tali pusat yang belum putus tak sengaja terkena air saat bayi dimandikan, keringkan dengan cotton buds atau kasa steril, lalu beri alkohol 70 persen.
Jangan bubuhi ramuan apa pun pada pangkal tali pusat. Cukup alkohol 70 persen, karena tak mengandung zat-zat racun yang bisa diserap tubuh bayi. Selain itu, alkohol dapat membunuh kuman dan mengeringkan pangkal tali pusat, sehingga pangkal tali pusat menciut dan akhirnya puput atau putus. Umumnya, tali pusat akan putus antara 1-2 minggu setelah kelahiran, tapi bisa juga terjadi lebih dini atau lebih lambat.
MATA
Di sini terdapat sumber air mata yang terletak di atas mata. Setiap 3 detik, sumber air mata mengeluarkan air mata, yang lalu mengalir ke saluran di ujung tengah mata dekat hidung. Pada bayi baru lahir, karena di kandungan belum pernah menangis, maka sumber air mata belum berproduksi. Jadi, salurannya masih tertutup. Bisa juga, kadang terbuka tapi lalu menutup lagi, sehingga airmata yang seharusnya sudah mengalir jadi tergenang.
"Air mata ini 'aneh'. Dia membunuh kuman untuk beberapa menit, tapi setelah lewat beberapa menit, dia tak membunuh lagi, malah menjadi makanan kuman. Jadi, bila air mata tergenang atau tak mengalir, tumbuhlah kuman-kuman yang lalu menimbulkan tahi mata. Itu dapat membahayakan kornea," terang dokter spesialis anak yang juga praktek di RS International Bintaro ini.
Karena itu perlu dilakukan pemijatan di area sudut mata dengan menggunakan jari yang tak berkuku panjang atau cotton buds yang dibasahi air matang. Pijat lembut dari sudut mata ke bawah dan ke arah hidung, selama 5-10 kali. Lakukan lebih kurang 2 minggu, karena setelah itu, umumnya saluran air mata telah terbuka tetap dan berfungsi. Untuk membersihkan tahi mata, gunakan kapas steril yang dibasahi air matang. Selalu gunakan satu kapas steril untuk tiap mata.
KULIT
Kulit manusia harus dibersihkan, karena merupakan "makanan empuk" bagi kuman-kuman kulit. Bayi baru lahir minimal dimandikan sehari sekali karena ia belum tahan dingin. Entah dengan cara berendam di bak mandi atau dilap dengan waslap basah yang sudah diberi sabun bayi. "Pilih yang mengandung Pro Vitamin B5. Ini berguna untuk merawat kesehatan kulit, memberi rasa nyaman, dan menjaga kulit tetap halus," kata Rini Budiyanti, Senior Brand Manager PT Cussons Indonesia,
Agar kulit tetap lembab dan terhindar dari kekeringan, Rini menganjurkan pemakaian baby oil yang mengandung Vitamin E. "Vitamin ini juga bermanfaat untuk membuat kulit tetap halus, lembut, dan terhindar dari lecet," terangnya dalam acara Ibu, Bayi & Balita di SCTV, kerjasama nakita dengan PT Endrass Perdana.
Untuk mencegah munculnya biang keringat, atur temperatur ruangan/kamar bayi senyaman mungkin. Jangan sampai bayi kepanasan. Jika tak punya AC, ventilasi kamar harus baik.
Untuk mengatasi biang keringat, cukup diberi bedak khusus bayi. "Gunakan bedak bayi yang mengandung Pro Vitamin B5, agar kulit si kecil tetap halus dan lembut," saran Rini pula.
Lalu, pada jam-jam yang banyak mengeluarkan keringat seperti siang hari, lap bagian tubuh yang banyak keringat dengan kapas yang dibasahi air hangat atau tisu basah non-alkohol. Lakukan sesering mungkin pada bayi yang banyak biang keringat, terutama di daerah-daerah lipatan.
KULIT KEPALA
Yang paling menjengkelkan tapi tak berbahaya ialah cradle crap atau kerak di kulit kepala. Antara lain disebabkan kulit kepala terpolusi udara dan debu. Bersihkan dengan air matang setelah diberi obat dari dokter. Tapi jangan keras-keras karena setelah diberi obat, sebenarnya nanti akan ngelotok sendiri.
Boleh juga menggunakan baby oil, diamkan kira-kira 10-15 menit, lalu pijat secara lembut, dilanjutkan dengan pencucian. Tapi ingat, jangan lakukan pijatan atau pembersihan dengan keras. Jika kulit kepala sampai berdarah dan infeksi, bisa berbahaya. Sebab, ada satu peredaran darah di kepala yang menyambung dengan otak.
Usahakan kulit kepala tetap sejuk dan kering, karena kerak ini akan makin parah jika kulit kepala berkeringat. Jangan kenakan topi pada bayi kecuali jika sangat diperlukan dan lepaskan topi itu setelah bayi Anda berada di dalam rumah atau kendaraan.
RAMBUT
Kata Adi Tagor, untuk menumbuhkan rambut bayi sebenarnya tak perlu sampo. Ia lebih menganjurkan pemakaian daun seledri sebagai perangsang. Tapi, boleh-boleh saja menggunakan sampo khusus bayi dan cukup dua kali seminggu.
Rini menyarankan pemakaian sampo bayi yang mengandung Pro Vitamin B5, agar rambut tetap sehat, mudah diatur, dan lebih bercahaya. "Untuk membantu pertumbuhan rambut, bisa digunakan hair lotion yang juga mengandung Pro Vitamin B5 dan Vitamin E yang memberikan kelembaban ekstra pada kulit bayi yang sensitif," katanya.
Untuk bayi kecil, basahi rambutnya dengan semprotan halus atau dengan menuangkan secangkir air. Tambahkan satu-dua tetes sampo dan gosok lembut sampai berbusa. Hindari jangan sampai sampo mengenai mata. Basuh sampai bersih dengan semprotan lembut atau beberapa cangkir air.
Untuk bayi yang sudah dapat berdiri sendiri, gunakan alat khusus yang dapat melindungi mata dari aliran air dan sampo saat rambutnya dikeramasi.
HIDUNG
Bagian dalam hidung punya daya pembersih sendiri dan tak perlu perawatan khusus. Jika ada cairan atau kotoran yang keluar, bersihkan bagian luarnya. Jangan gunakan cotton buds, tisu yang digulung kecil atau jari Anda untuk mengeluarkan kotoran dari dalam hidung. Anda hanya akan mendorong kotoran itu lebih jauh ke dalam atau bahkan menggores membran pembatas hidung yang peka.
Jika bayi punya banyak lendir karena pilek sehingga menghambat pernapasan, sedot keluar dengan cara mengisapnya oleh ibu secara lembut atau dengan aspirator hidung bayi. Tutup sebelah lubang hidung dengan jari, lalu isap sebelahnya. Begitu bergantian. Jangan sekali-sekali mengisap kedua lubang sekaligus, karena berbahaya. Lendir dapat naik ke telinga tengah, sehingga menimbulkan infeksi telinga tengah.
TELINGA
Seperti hidung, bagian dalam telinga juga tak boleh dibersihkan. Anda boleh membersihkan jika kotoran itu sudah mencapai "pintu" keluar atau setelah melewati "tikungan" di dalam liang telinga luar. Gunakan cotton buds yang diberi air hangat agar kotoran jadi lebih lunak, sehingga mudah dikeluarkan. Minta pertolongan dokter untuk membersihkan kotoran yang berada di dalam telinga dan keras.
Sementara daun telinga dapat dibersihkan tiap kali memandikan bayi. Gunakan cotton buds atau kapas yang dibasahi air hangat. Lakukan secara lembut.
STUDI KASUS KONTROL FAKTOR BIOMEDIS TERHADAP KEJADIAN ANEMIA IBU HAMIL DI PUSKESMAS BANTIMURUNG MAROS TAHUN 2004
STUDI KASUS KONTROL FAKTOR BIOMEDIS TERHADAP KEJADIAN ANEMIA IBU HAMIL DI PUSKESMAS BANTIMURUNG MAROS TAHUN 2004
Metti Masnizar
Mahasiswi Akper PemKab Aceh Selatan Tahun Akademi
2008.
Pendahuluan.
Sampai saat ini tingginya angka kematian ibu di Indonesia masih merupakan masalah yang menjadi prioritas di bidang kesehatan. Di samping menunjukkan derajat kesehatan masyarakat, juga dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan kualitas pelayanan kesehatan. Penyebab langsung kematian ibu adalah trias perdarahan, infeksi, dan keracunan kehamilan. Penyebab kematian langsung tersebut tidak dapat sepenuhnya dimengerti tanpa memperhatikan latar belakang (underlying factor), yang mana bersifat medik maupun non medik. Di antara faktor non medik dapat disebut keadaan kesejahteraan ekonomi keluarga, pendidikan ibu, lingkungan hidup, perilaku, dan lain-lain.
Kerangka konsep model analisis kematian ibu oleh Mc Carthy dan Maine menunjukkan bahwa angka kematian ibu dapat diturunkan secara tidak langsung dengan memperbaiki status sosial ekonomi yang mempunyai efek terhadap salah satu dari seluruh faktor langsung yaitu perilaku kesehatan dan perilaku reproduksi, status kesehatan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan.1 Ketiga hal tersebut akan berpengaruh pada tiga hasil akhir dalam model yaitu kehamilan, timbulnya komplikasi kehamilan/persalinan dan kematian ibu. Dari model Mc Carthy dan Maine tersebut dapat dilihat bahwa setiap upaya intervensi pada faktor tidak langsung harus selalu melalui faktor penye�bab yang langsung. 2
Status kesehatan ibu, menurut model Mc Carthy dan Maine 1 merupakan faktor penting dalam terjadinya kematian ibu. Penya�kit atau gizi yang buruk merupakan faktor yang dapat mempenga�ruhi status kesehatan ibu. Rao (1975) melaporkan bahwa salah satu sebab kematian obstetrik tidak langsung pada kasus kema�tian ibu adalah anemia.3,4 Grant 5 menya�takan bahwa anemia merupakan salah satu sebab kematian ibu, demikian juga WHO 6b menyatakan bahwa anemia merupakan sebab penting dari kematian ibu. Penelitian Chi, dkk 7 menunjukkan bahwa angka kematian ibu adalah 70% untuk ibu-ibu yang anemia dan 19,7% untuk mereka yang non anemia. Kematian ibu 15-20% secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan anemia. Anemia pada kehamilan juga berhubungan dengan meningkatnya kesakitan ibu.8
Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Di samping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah.9 Soeprono.10 menyebutkan bahwa dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan atonis), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infek�si dan stres kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian peri�natal, dan lain-lain).10
Prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia berkisar 20-80%, tetapi pada umumnya banyak penelitian yang menunjukkan prevalensi anemia pada wanita hamil yang lebih besar dari 50%. Juga banyak dilaporkan bahwa prevalensi anemia pada trimester III berkisar 50-79%.11 Affandi 12 menyebut�kan bahwa anemia kehamilan di Indonesia berdasarkan data Departemen Kesehatan tahun 1990 adalah 60%. Penelitian selama tahun 1978-1980 di 12 rumah sakit pendidikan/rujukan di Indo�nesia menunjukkan prevalensi wanita hamil dengan anemia yang mela�hirkan di RS pendidikan /rujukan adalah 30,86%. Prevalensi tersebut meningkat dengan bertambahnya paritas.9 Hal yang sama diperoleh dari hasil SKRT 1986 dimana prevalensi anemia ringan dan berat akan makin tinggi dengan bertambahnya paritas.13 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa prevalensi anemia pada kehamilan secara global 55% dimana secara bermakna tinggi pada trimester ketiga dibandingkan dengan trimester pertama dan kedua kehamilan.6a
Anemia karena defisiensi zat besi merupakan penyebab utama anemia pada ibu hamil dibandingkan dengan defisiensi zat gizi lain. Oleh karena itu anemia gizi pada masa kehamilan sering diidentikkan dengan anemia gizi besi Hal ini juga diungkapkan oleh Simanjuntak tahun 1992 bahwa sekitar 70 % ibu hamil di Indonesia menderita anemia gizi.
Indonesia, prevalensi anemia tahun l970�an adalah 46,5�70%. Pada SKRT tahun 1992 dengan angka anemia ibu hamil sebesar 63,5% sedangkan data SKRT tahun 1995 turun menjadi 50,9%. Pada tahun 1999 didapatkan anemia gizi pada ibu hamil sebesar 39,5%. Propinsi Sulawesi Selatan berdasarkan SKRT pada tahun 1992 prevalensi anemia gizi khususnya pada ibu hamil berkisar 45,5 � 71,2% dan pada tahun 1994 meningkat menjadi 76,17% 14,3 % di Kabupaten Pinrang dan 28,7% di Kabupaten Soppeng dan tertinggi adalah di Kabupaten Bone 68,6% (1996) dan Kabupaten Bulukumba sebesar 67,3% (1997). Sedangkan laporan data di Kabupaten Maros khususnya di Kecamatan Bantimurung anemia ibu hamil pada tahun 1999 sebesar 31,73%, pada tahun 2000 meningkat menjadi 76,74% dan pada tahun 2001 sebesar 68,65%.
Prevalensi anemia yang tinggi dapat membawa akibat negatif seperti: 1) gangguan dan hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak, 2) Kekurangan Hb dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang dibawa/ditransfer ke sel tubuh maupun ke otak. Pada ibu hamil dapat mengakibatkan efek buruk pada ibu itu sendiri maupun pada bayi yang dilahirkan. Studi di Kualalumpur memperlihatkan terjadinya 20 % kelahiran prematur bagi ibu yang tingkat kadar hemoglobinnya di bawah 6,5gr/dl. Studi lain menunjukkan bahwa risiko kejadian BBLR, kelahiran prematur dan kematian perinatal meningkat pada wanita hamil dengan kadar hemoglobin kurang dari 10,4 gr/dl. Pada usia kehamilan sebelum 24 minggu dibandingkan kontrol mengemukakan bahwa anemia merupakan salah satu faktor kehamilan dengan risiko tinggi.
Sumber : Data primer
Metti Masnizar
Mahasiswi Akper PemKab Aceh Selatan Tahun Akademi
2008.
Pendahuluan.
Sampai saat ini tingginya angka kematian ibu di Indonesia masih merupakan masalah yang menjadi prioritas di bidang kesehatan. Di samping menunjukkan derajat kesehatan masyarakat, juga dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan kualitas pelayanan kesehatan. Penyebab langsung kematian ibu adalah trias perdarahan, infeksi, dan keracunan kehamilan. Penyebab kematian langsung tersebut tidak dapat sepenuhnya dimengerti tanpa memperhatikan latar belakang (underlying factor), yang mana bersifat medik maupun non medik. Di antara faktor non medik dapat disebut keadaan kesejahteraan ekonomi keluarga, pendidikan ibu, lingkungan hidup, perilaku, dan lain-lain.
Kerangka konsep model analisis kematian ibu oleh Mc Carthy dan Maine menunjukkan bahwa angka kematian ibu dapat diturunkan secara tidak langsung dengan memperbaiki status sosial ekonomi yang mempunyai efek terhadap salah satu dari seluruh faktor langsung yaitu perilaku kesehatan dan perilaku reproduksi, status kesehatan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan.1 Ketiga hal tersebut akan berpengaruh pada tiga hasil akhir dalam model yaitu kehamilan, timbulnya komplikasi kehamilan/persalinan dan kematian ibu. Dari model Mc Carthy dan Maine tersebut dapat dilihat bahwa setiap upaya intervensi pada faktor tidak langsung harus selalu melalui faktor penye�bab yang langsung. 2
Status kesehatan ibu, menurut model Mc Carthy dan Maine 1 merupakan faktor penting dalam terjadinya kematian ibu. Penya�kit atau gizi yang buruk merupakan faktor yang dapat mempenga�ruhi status kesehatan ibu. Rao (1975) melaporkan bahwa salah satu sebab kematian obstetrik tidak langsung pada kasus kema�tian ibu adalah anemia.3,4 Grant 5 menya�takan bahwa anemia merupakan salah satu sebab kematian ibu, demikian juga WHO 6b menyatakan bahwa anemia merupakan sebab penting dari kematian ibu. Penelitian Chi, dkk 7 menunjukkan bahwa angka kematian ibu adalah 70% untuk ibu-ibu yang anemia dan 19,7% untuk mereka yang non anemia. Kematian ibu 15-20% secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan anemia. Anemia pada kehamilan juga berhubungan dengan meningkatnya kesakitan ibu.8
Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Di samping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah.9 Soeprono.10 menyebutkan bahwa dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan atonis), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infek�si dan stres kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian peri�natal, dan lain-lain).10
Prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia berkisar 20-80%, tetapi pada umumnya banyak penelitian yang menunjukkan prevalensi anemia pada wanita hamil yang lebih besar dari 50%. Juga banyak dilaporkan bahwa prevalensi anemia pada trimester III berkisar 50-79%.11 Affandi 12 menyebut�kan bahwa anemia kehamilan di Indonesia berdasarkan data Departemen Kesehatan tahun 1990 adalah 60%. Penelitian selama tahun 1978-1980 di 12 rumah sakit pendidikan/rujukan di Indo�nesia menunjukkan prevalensi wanita hamil dengan anemia yang mela�hirkan di RS pendidikan /rujukan adalah 30,86%. Prevalensi tersebut meningkat dengan bertambahnya paritas.9 Hal yang sama diperoleh dari hasil SKRT 1986 dimana prevalensi anemia ringan dan berat akan makin tinggi dengan bertambahnya paritas.13 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa prevalensi anemia pada kehamilan secara global 55% dimana secara bermakna tinggi pada trimester ketiga dibandingkan dengan trimester pertama dan kedua kehamilan.6a
Anemia karena defisiensi zat besi merupakan penyebab utama anemia pada ibu hamil dibandingkan dengan defisiensi zat gizi lain. Oleh karena itu anemia gizi pada masa kehamilan sering diidentikkan dengan anemia gizi besi Hal ini juga diungkapkan oleh Simanjuntak tahun 1992 bahwa sekitar 70 % ibu hamil di Indonesia menderita anemia gizi.
Indonesia, prevalensi anemia tahun l970�an adalah 46,5�70%. Pada SKRT tahun 1992 dengan angka anemia ibu hamil sebesar 63,5% sedangkan data SKRT tahun 1995 turun menjadi 50,9%. Pada tahun 1999 didapatkan anemia gizi pada ibu hamil sebesar 39,5%. Propinsi Sulawesi Selatan berdasarkan SKRT pada tahun 1992 prevalensi anemia gizi khususnya pada ibu hamil berkisar 45,5 � 71,2% dan pada tahun 1994 meningkat menjadi 76,17% 14,3 % di Kabupaten Pinrang dan 28,7% di Kabupaten Soppeng dan tertinggi adalah di Kabupaten Bone 68,6% (1996) dan Kabupaten Bulukumba sebesar 67,3% (1997). Sedangkan laporan data di Kabupaten Maros khususnya di Kecamatan Bantimurung anemia ibu hamil pada tahun 1999 sebesar 31,73%, pada tahun 2000 meningkat menjadi 76,74% dan pada tahun 2001 sebesar 68,65%.
Prevalensi anemia yang tinggi dapat membawa akibat negatif seperti: 1) gangguan dan hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak, 2) Kekurangan Hb dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang dibawa/ditransfer ke sel tubuh maupun ke otak. Pada ibu hamil dapat mengakibatkan efek buruk pada ibu itu sendiri maupun pada bayi yang dilahirkan. Studi di Kualalumpur memperlihatkan terjadinya 20 % kelahiran prematur bagi ibu yang tingkat kadar hemoglobinnya di bawah 6,5gr/dl. Studi lain menunjukkan bahwa risiko kejadian BBLR, kelahiran prematur dan kematian perinatal meningkat pada wanita hamil dengan kadar hemoglobin kurang dari 10,4 gr/dl. Pada usia kehamilan sebelum 24 minggu dibandingkan kontrol mengemukakan bahwa anemia merupakan salah satu faktor kehamilan dengan risiko tinggi.
Sumber : Data primer
GEJOLAK EMOSI REMAJA
Pengertian Emosi
Menurut Crow & Crow (1958) pengertian emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri
individu tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud suatu tingkah
laku yang tampak.
Emosi adalah warna afektif yang kuat dan
disertai oleh perubahan-perubahan pada fisik.Pada saat terjadi emosi
sering kali terjadi perubahan-perubahan pada fisik antara lain :
1. Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona
2. Peredaran darah : bertambah cepat bila marah
3. Denyut jantung : bertambah cepat bila terkejut
4. Pernafasan : bernafas panjang kalau kecewa
5. Pupil mata : membesar bila marah
6. Liur : mengering kalau takut atau tegang
7. Bulu roma : berdiri kalau takut
8. Pencernaan : mencret-mencret kalau tegang
9. Otot : menegang dan bergetar saat ketakutan atau tegang
10. komposisi darah : akan ikut berubah karena emosi yang menyebabkan kalenjar-kalenjar lebih aktif.
Karakteristik Emosi Remaja
Masa remaja secara tradisional dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”,
dimana pada masa itu emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik
dan kalenjar. Namun tidak semua remaja menjalani masa badai dan
tekanan, namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami
ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi usaha
penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru.
Pola
emosi masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang
secara normal dialami adalah : cinta atau kasih sayang, gembira,
amarah, takut, sedih dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam
dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola
pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
• Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun
1. Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
2. Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
3. Kemarahan biasa terjadi
4. Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
5. Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif
• Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun
1. “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak menuju dewasa
2. Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
3. Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
Sejumlah
penelitian tentang emosi remaja menunjukan bahwa perkembangan emosi
mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar. Kematangan
dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi
perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan
untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti dimana itu
menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Kemampuan mengingat juga
mempengaruhi reaksi emosional. Dan itu menyebabkan anak-anak menjadi
reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada
usia yang lebih muda.
Kegiatan belajar juga turut menunjang perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain yaitu :
1. Belajar dengan coba-coba
Anak
belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk
perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak
perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak
memberikan kepuasan.
2. Belajar dengan cara meniru
Dengan
cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain. Anak-anak
bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang
yang diamatinya.
3. Belajar dengan mempersamakan diri
Anak
menyamakan dirinya dengan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan
emosional yang kuat dengannya. Yaitu menirukan reaksi emosional orang
lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama.
4. Belajar melalui pengkondisian
Dengan
metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi
emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. penggunaan
metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan
tidak suka, setelah melewati masa kanak-kanak.
5. Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
Dengan
pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang
biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak
bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.
Anak
memperhalus ekspresi-ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika ia
beranjak dari masa kanak-kanak menuju masa remaja. Mendekati
berakhirnya remaja, seorang anak telah melewati banyak badai emosional,
ia mulai mengalami keadaan emosional yang lebih tenang dan telah
belajar dalam seni menyembunyikan perasaan-perasaannya. Jadi, emosi
yang ditunjukan mungkin merupakan selubung yang disembunyikan.
Contohnya, seorang yang merasa ketakutan tetapi menunjukan kemarahan,
dan seseorang yang sebenarnya hatinya terluka tetapi ia malah tertawa,
sepertinya ia merasa senang.
Para remaja semasa kanak-kanak,
mereka diberitahu atau diajarkan untuk tidak menunjukan
perasaan-perasaannya, entah perasaan takut ataupun sedih. Akhirnya
seringkali mereka takut dan ingin menangis tetapi tidak berani
menunjukan perasaan tersebut secara terang-terangan. Kondisi-kondisi
kehidupan atau kulturlah yang menyebabkan mereka merasa perlu
menyembunyikan perasaan-perasaannya. Tidak hanya perasaan-perasaannya
terhadap orang lain saja, namun pada derajat tertentu bahkan ia dapat
kehilangan atau tidak merasakan lagi.
Dengan bertambahnya umur,
menyebabkan terjadinya perubahan dalam ekspresi emosional. Bertambahnya
pengetahuan dan pemanfaatan media massa atau keseluruhan latar belakang
pengalaman, berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosional ini.
Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Emosi Remaja
Dengan
meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lunak karena
mereka telah mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang
berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang
menyenangkan lainnya. Adapun karena anak-anak mengekang sebagian
ekspresi emosi mereka, emosi tersebut cenderung berahan lebih lama
daripada jika emosi itu diekspresikan secara lebih terbuka. Oleh kerena
itu, ekspresi emosional mereka menjadi berbeda-beda.
Dan
perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itu
dan taraf kemampuan intelektualnya. Anak yang sehat cenderung kurang
emosional dibandingkan dengan anak yang kurang sehat. Jika dilihat
sebagai anggota suatu kelompok, anak-anak yang pandai bereaksi lebih
emosional terhadap berbagai macam rangsangan dibandingkan dengan anak
yang kurang pandai bereaksi. Tetapi sebaliknya mereka lebih dapat mampu
mengendalikan emosi.
Dalam sebuah keluarga, anak laki-laki lebih
sering dan lebih kuat mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jenis
kelamin mereka. Rasa cemburu dan marah lebih umum terdapat di kalangan
keluarga besar, sedangkan rasa iri lebih umum terdapat di kalangan
keluarga kecil. Rasa cemburu dan ledakan kemarahan lebih umum dan lebih
kuat di kalangan anak pertama dibandingkan dengan anak yang lahir
kemudian dalam keluarga yang sama.
Cara mendidik yang otoriter
mendorong perkembangan emosi kecemasan dan takut, sedangkan cara
mendidik yang permisif atau demokratis mendorong berkembangnya semangat
dan rasa kasih sayang. Anak-anak dari keluarga yang berstatus sosial
ekonomi rendah cenderung lebih mengembangkan rasa takut dan cemas
dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus
sosial ekonomi tinggi.
Hubungan Antara Emosi Dan Tingkah Laku
Rasa
takut atau marah dapat menyebabkan seseorang gemetar. Dalam ketakutan,
mulut menjadi kering, cepatnya jantung berdetak, derasnya aliran darah
atau tekanan darah, dan sistem pencernaan mungkin berubah selama
pemunculan emosi. Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi
sebagai alat pembantu untuk mencerna, sedangkan perasaan tidak senang
akan menghambat atau mengganggu proses pencernaan.
Peradangan di
dalam perut atau lambung, diare, dan sembelit adalah keadaan-keadaan
yang dikenal karena terjadinya berhubungan dengan gangguan emosi.
Keadaan emosi yang normal sangat bermanfaat bagi kesehatan. Gangguan
emosi juga dapat menjadi penyebab kesulitan dalam berbicara. Ketegangan
emosional yang cukup lama mungkin menyebabkan seseorang gagap. Banyak
situasi yang timbul di sekolah atau dalam suatu kelompok yang dapat
menyebabkan seseorang menjadi tenang.
Seorang siswa tidak senang
kepada gurunya bukan karena pribadi guru, namun bisa juga disebabkan
sesuatu yang terjadi pada saat sehubungan dengan situasi kelas.
Penderitaan emosional dan frustasi mempengaruhi efektivitas belajar.
Anak sekolah akan belajar efektif apabila ia termotivasi, karena ia
perlu belajar. Setelah hal ini ada pada dirinya, selanjutnya ia akan
mengembangkan usahanya untuk dapat menguasai bahan yang ia pelajari.
Reaksi
setiap pelajar tidak sama, oleh karena itu rangsangan untuk belajar
yang diberikan harus berbeda-beda dan disesuaikan dengan kondisi anak.
Dengan begitu, rangsangan-rangsangan yang menhasilkan perasaan yang
tidak menyenangkan akan mempengaruhi hasil belajar dan demikian pula
rangsangan yang menghasilkan perasaan yang menyenangkan akan
mempermudah siswa dalam belajar.
Referensi :
- Sarwono, Sarlito W. 1991. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Press
- Hurlock, B. 1990. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga
- Gunarsa, Singgih. 1990. Dasar & Teori Perkembangan Anak. Jakarta : PT BPK Gunung mulia
Menurut Crow & Crow (1958) pengertian emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri
individu tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud suatu tingkah
laku yang tampak.
Emosi adalah warna afektif yang kuat dan
disertai oleh perubahan-perubahan pada fisik.Pada saat terjadi emosi
sering kali terjadi perubahan-perubahan pada fisik antara lain :
1. Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona
2. Peredaran darah : bertambah cepat bila marah
3. Denyut jantung : bertambah cepat bila terkejut
4. Pernafasan : bernafas panjang kalau kecewa
5. Pupil mata : membesar bila marah
6. Liur : mengering kalau takut atau tegang
7. Bulu roma : berdiri kalau takut
8. Pencernaan : mencret-mencret kalau tegang
9. Otot : menegang dan bergetar saat ketakutan atau tegang
10. komposisi darah : akan ikut berubah karena emosi yang menyebabkan kalenjar-kalenjar lebih aktif.
Karakteristik Emosi Remaja
Masa remaja secara tradisional dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”,
dimana pada masa itu emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik
dan kalenjar. Namun tidak semua remaja menjalani masa badai dan
tekanan, namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami
ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi usaha
penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru.
Pola
emosi masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang
secara normal dialami adalah : cinta atau kasih sayang, gembira,
amarah, takut, sedih dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam
dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola
pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
• Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun
1. Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
2. Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
3. Kemarahan biasa terjadi
4. Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
5. Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif
• Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun
1. “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak menuju dewasa
2. Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
3. Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
Sejumlah
penelitian tentang emosi remaja menunjukan bahwa perkembangan emosi
mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar. Kematangan
dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi
perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan
untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti dimana itu
menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Kemampuan mengingat juga
mempengaruhi reaksi emosional. Dan itu menyebabkan anak-anak menjadi
reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada
usia yang lebih muda.
Kegiatan belajar juga turut menunjang perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain yaitu :
1. Belajar dengan coba-coba
Anak
belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk
perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak
perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak
memberikan kepuasan.
2. Belajar dengan cara meniru
Dengan
cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain. Anak-anak
bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang
yang diamatinya.
3. Belajar dengan mempersamakan diri
Anak
menyamakan dirinya dengan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan
emosional yang kuat dengannya. Yaitu menirukan reaksi emosional orang
lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama.
4. Belajar melalui pengkondisian
Dengan
metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi
emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. penggunaan
metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan
tidak suka, setelah melewati masa kanak-kanak.
5. Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
Dengan
pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang
biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak
bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.
Anak
memperhalus ekspresi-ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika ia
beranjak dari masa kanak-kanak menuju masa remaja. Mendekati
berakhirnya remaja, seorang anak telah melewati banyak badai emosional,
ia mulai mengalami keadaan emosional yang lebih tenang dan telah
belajar dalam seni menyembunyikan perasaan-perasaannya. Jadi, emosi
yang ditunjukan mungkin merupakan selubung yang disembunyikan.
Contohnya, seorang yang merasa ketakutan tetapi menunjukan kemarahan,
dan seseorang yang sebenarnya hatinya terluka tetapi ia malah tertawa,
sepertinya ia merasa senang.
Para remaja semasa kanak-kanak,
mereka diberitahu atau diajarkan untuk tidak menunjukan
perasaan-perasaannya, entah perasaan takut ataupun sedih. Akhirnya
seringkali mereka takut dan ingin menangis tetapi tidak berani
menunjukan perasaan tersebut secara terang-terangan. Kondisi-kondisi
kehidupan atau kulturlah yang menyebabkan mereka merasa perlu
menyembunyikan perasaan-perasaannya. Tidak hanya perasaan-perasaannya
terhadap orang lain saja, namun pada derajat tertentu bahkan ia dapat
kehilangan atau tidak merasakan lagi.
Dengan bertambahnya umur,
menyebabkan terjadinya perubahan dalam ekspresi emosional. Bertambahnya
pengetahuan dan pemanfaatan media massa atau keseluruhan latar belakang
pengalaman, berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosional ini.
Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Emosi Remaja
Dengan
meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lunak karena
mereka telah mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang
berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang
menyenangkan lainnya. Adapun karena anak-anak mengekang sebagian
ekspresi emosi mereka, emosi tersebut cenderung berahan lebih lama
daripada jika emosi itu diekspresikan secara lebih terbuka. Oleh kerena
itu, ekspresi emosional mereka menjadi berbeda-beda.
Dan
perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itu
dan taraf kemampuan intelektualnya. Anak yang sehat cenderung kurang
emosional dibandingkan dengan anak yang kurang sehat. Jika dilihat
sebagai anggota suatu kelompok, anak-anak yang pandai bereaksi lebih
emosional terhadap berbagai macam rangsangan dibandingkan dengan anak
yang kurang pandai bereaksi. Tetapi sebaliknya mereka lebih dapat mampu
mengendalikan emosi.
Dalam sebuah keluarga, anak laki-laki lebih
sering dan lebih kuat mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jenis
kelamin mereka. Rasa cemburu dan marah lebih umum terdapat di kalangan
keluarga besar, sedangkan rasa iri lebih umum terdapat di kalangan
keluarga kecil. Rasa cemburu dan ledakan kemarahan lebih umum dan lebih
kuat di kalangan anak pertama dibandingkan dengan anak yang lahir
kemudian dalam keluarga yang sama.
Cara mendidik yang otoriter
mendorong perkembangan emosi kecemasan dan takut, sedangkan cara
mendidik yang permisif atau demokratis mendorong berkembangnya semangat
dan rasa kasih sayang. Anak-anak dari keluarga yang berstatus sosial
ekonomi rendah cenderung lebih mengembangkan rasa takut dan cemas
dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus
sosial ekonomi tinggi.
Hubungan Antara Emosi Dan Tingkah Laku
Rasa
takut atau marah dapat menyebabkan seseorang gemetar. Dalam ketakutan,
mulut menjadi kering, cepatnya jantung berdetak, derasnya aliran darah
atau tekanan darah, dan sistem pencernaan mungkin berubah selama
pemunculan emosi. Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi
sebagai alat pembantu untuk mencerna, sedangkan perasaan tidak senang
akan menghambat atau mengganggu proses pencernaan.
Peradangan di
dalam perut atau lambung, diare, dan sembelit adalah keadaan-keadaan
yang dikenal karena terjadinya berhubungan dengan gangguan emosi.
Keadaan emosi yang normal sangat bermanfaat bagi kesehatan. Gangguan
emosi juga dapat menjadi penyebab kesulitan dalam berbicara. Ketegangan
emosional yang cukup lama mungkin menyebabkan seseorang gagap. Banyak
situasi yang timbul di sekolah atau dalam suatu kelompok yang dapat
menyebabkan seseorang menjadi tenang.
Seorang siswa tidak senang
kepada gurunya bukan karena pribadi guru, namun bisa juga disebabkan
sesuatu yang terjadi pada saat sehubungan dengan situasi kelas.
Penderitaan emosional dan frustasi mempengaruhi efektivitas belajar.
Anak sekolah akan belajar efektif apabila ia termotivasi, karena ia
perlu belajar. Setelah hal ini ada pada dirinya, selanjutnya ia akan
mengembangkan usahanya untuk dapat menguasai bahan yang ia pelajari.
Reaksi
setiap pelajar tidak sama, oleh karena itu rangsangan untuk belajar
yang diberikan harus berbeda-beda dan disesuaikan dengan kondisi anak.
Dengan begitu, rangsangan-rangsangan yang menhasilkan perasaan yang
tidak menyenangkan akan mempengaruhi hasil belajar dan demikian pula
rangsangan yang menghasilkan perasaan yang menyenangkan akan
mempermudah siswa dalam belajar.
Referensi :
- Sarwono, Sarlito W. 1991. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Press
- Hurlock, B. 1990. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga
- Gunarsa, Singgih. 1990. Dasar & Teori Perkembangan Anak. Jakarta : PT BPK Gunung mulia
GEJOLAK EMOSI REMAJA
Pengertian Emosi
Menurut Crow & Crow (1958) pengertian emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri
individu tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud suatu tingkah
laku yang tampak.
Emosi adalah warna afektif yang kuat dan
disertai oleh perubahan-perubahan pada fisik.Pada saat terjadi emosi
sering kali terjadi perubahan-perubahan pada fisik antara lain :
1. Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona
2. Peredaran darah : bertambah cepat bila marah
3. Denyut jantung : bertambah cepat bila terkejut
4. Pernafasan : bernafas panjang kalau kecewa
5. Pupil mata : membesar bila marah
6. Liur : mengering kalau takut atau tegang
7. Bulu roma : berdiri kalau takut
8. Pencernaan : mencret-mencret kalau tegang
9. Otot : menegang dan bergetar saat ketakutan atau tegang
10. komposisi darah : akan ikut berubah karena emosi yang menyebabkan kalenjar-kalenjar lebih aktif.
Karakteristik Emosi Remaja
Masa remaja secara tradisional dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”,
dimana pada masa itu emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik
dan kalenjar. Namun tidak semua remaja menjalani masa badai dan
tekanan, namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami
ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi usaha
penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru.
Pola
emosi masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang
secara normal dialami adalah : cinta atau kasih sayang, gembira,
amarah, takut, sedih dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam
dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola
pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
• Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun
1. Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
2. Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
3. Kemarahan biasa terjadi
4. Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
5. Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif
• Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun
1. “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak menuju dewasa
2. Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
3. Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
Sejumlah
penelitian tentang emosi remaja menunjukan bahwa perkembangan emosi
mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar. Kematangan
dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi
perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan
untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti dimana itu
menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Kemampuan mengingat juga
mempengaruhi reaksi emosional. Dan itu menyebabkan anak-anak menjadi
reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada
usia yang lebih muda.
Kegiatan belajar juga turut menunjang perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain yaitu :
1. Belajar dengan coba-coba
Anak
belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk
perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak
perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak
memberikan kepuasan.
2. Belajar dengan cara meniru
Dengan
cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain. Anak-anak
bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang
yang diamatinya.
3. Belajar dengan mempersamakan diri
Anak
menyamakan dirinya dengan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan
emosional yang kuat dengannya. Yaitu menirukan reaksi emosional orang
lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama.
4. Belajar melalui pengkondisian
Dengan
metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi
emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. penggunaan
metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan
tidak suka, setelah melewati masa kanak-kanak.
5. Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
Dengan
pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang
biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak
bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.
Anak
memperhalus ekspresi-ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika ia
beranjak dari masa kanak-kanak menuju masa remaja. Mendekati
berakhirnya remaja, seorang anak telah melewati banyak badai emosional,
ia mulai mengalami keadaan emosional yang lebih tenang dan telah
belajar dalam seni menyembunyikan perasaan-perasaannya. Jadi, emosi
yang ditunjukan mungkin merupakan selubung yang disembunyikan.
Contohnya, seorang yang merasa ketakutan tetapi menunjukan kemarahan,
dan seseorang yang sebenarnya hatinya terluka tetapi ia malah tertawa,
sepertinya ia merasa senang.
Para remaja semasa kanak-kanak,
mereka diberitahu atau diajarkan untuk tidak menunjukan
perasaan-perasaannya, entah perasaan takut ataupun sedih. Akhirnya
seringkali mereka takut dan ingin menangis tetapi tidak berani
menunjukan perasaan tersebut secara terang-terangan. Kondisi-kondisi
kehidupan atau kulturlah yang menyebabkan mereka merasa perlu
menyembunyikan perasaan-perasaannya. Tidak hanya perasaan-perasaannya
terhadap orang lain saja, namun pada derajat tertentu bahkan ia dapat
kehilangan atau tidak merasakan lagi.
Dengan bertambahnya umur,
menyebabkan terjadinya perubahan dalam ekspresi emosional. Bertambahnya
pengetahuan dan pemanfaatan media massa atau keseluruhan latar belakang
pengalaman, berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosional ini.
Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Emosi Remaja
Dengan
meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lunak karena
mereka telah mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang
berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang
menyenangkan lainnya. Adapun karena anak-anak mengekang sebagian
ekspresi emosi mereka, emosi tersebut cenderung berahan lebih lama
daripada jika emosi itu diekspresikan secara lebih terbuka. Oleh kerena
itu, ekspresi emosional mereka menjadi berbeda-beda.
Dan
perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itu
dan taraf kemampuan intelektualnya. Anak yang sehat cenderung kurang
emosional dibandingkan dengan anak yang kurang sehat. Jika dilihat
sebagai anggota suatu kelompok, anak-anak yang pandai bereaksi lebih
emosional terhadap berbagai macam rangsangan dibandingkan dengan anak
yang kurang pandai bereaksi. Tetapi sebaliknya mereka lebih dapat mampu
mengendalikan emosi.
Dalam sebuah keluarga, anak laki-laki lebih
sering dan lebih kuat mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jenis
kelamin mereka. Rasa cemburu dan marah lebih umum terdapat di kalangan
keluarga besar, sedangkan rasa iri lebih umum terdapat di kalangan
keluarga kecil. Rasa cemburu dan ledakan kemarahan lebih umum dan lebih
kuat di kalangan anak pertama dibandingkan dengan anak yang lahir
kemudian dalam keluarga yang sama.
Cara mendidik yang otoriter
mendorong perkembangan emosi kecemasan dan takut, sedangkan cara
mendidik yang permisif atau demokratis mendorong berkembangnya semangat
dan rasa kasih sayang. Anak-anak dari keluarga yang berstatus sosial
ekonomi rendah cenderung lebih mengembangkan rasa takut dan cemas
dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus
sosial ekonomi tinggi.
Hubungan Antara Emosi Dan Tingkah Laku
Rasa
takut atau marah dapat menyebabkan seseorang gemetar. Dalam ketakutan,
mulut menjadi kering, cepatnya jantung berdetak, derasnya aliran darah
atau tekanan darah, dan sistem pencernaan mungkin berubah selama
pemunculan emosi. Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi
sebagai alat pembantu untuk mencerna, sedangkan perasaan tidak senang
akan menghambat atau mengganggu proses pencernaan.
Peradangan di
dalam perut atau lambung, diare, dan sembelit adalah keadaan-keadaan
yang dikenal karena terjadinya berhubungan dengan gangguan emosi.
Keadaan emosi yang normal sangat bermanfaat bagi kesehatan. Gangguan
emosi juga dapat menjadi penyebab kesulitan dalam berbicara. Ketegangan
emosional yang cukup lama mungkin menyebabkan seseorang gagap. Banyak
situasi yang timbul di sekolah atau dalam suatu kelompok yang dapat
menyebabkan seseorang menjadi tenang.
Seorang siswa tidak senang
kepada gurunya bukan karena pribadi guru, namun bisa juga disebabkan
sesuatu yang terjadi pada saat sehubungan dengan situasi kelas.
Penderitaan emosional dan frustasi mempengaruhi efektivitas belajar.
Anak sekolah akan belajar efektif apabila ia termotivasi, karena ia
perlu belajar. Setelah hal ini ada pada dirinya, selanjutnya ia akan
mengembangkan usahanya untuk dapat menguasai bahan yang ia pelajari.
Reaksi
setiap pelajar tidak sama, oleh karena itu rangsangan untuk belajar
yang diberikan harus berbeda-beda dan disesuaikan dengan kondisi anak.
Dengan begitu, rangsangan-rangsangan yang menhasilkan perasaan yang
tidak menyenangkan akan mempengaruhi hasil belajar dan demikian pula
rangsangan yang menghasilkan perasaan yang menyenangkan akan
mempermudah siswa dalam belajar.
Referensi :
- Sarwono, Sarlito W. 1991. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Press
- Hurlock, B. 1990. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga
- Gunarsa, Singgih. 1990. Dasar & Teori Perkembangan Anak. Jakarta : PT BPK Gunung mulia
Menurut Crow & Crow (1958) pengertian emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri
individu tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud suatu tingkah
laku yang tampak.
Emosi adalah warna afektif yang kuat dan
disertai oleh perubahan-perubahan pada fisik.Pada saat terjadi emosi
sering kali terjadi perubahan-perubahan pada fisik antara lain :
1. Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona
2. Peredaran darah : bertambah cepat bila marah
3. Denyut jantung : bertambah cepat bila terkejut
4. Pernafasan : bernafas panjang kalau kecewa
5. Pupil mata : membesar bila marah
6. Liur : mengering kalau takut atau tegang
7. Bulu roma : berdiri kalau takut
8. Pencernaan : mencret-mencret kalau tegang
9. Otot : menegang dan bergetar saat ketakutan atau tegang
10. komposisi darah : akan ikut berubah karena emosi yang menyebabkan kalenjar-kalenjar lebih aktif.
Karakteristik Emosi Remaja
Masa remaja secara tradisional dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”,
dimana pada masa itu emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik
dan kalenjar. Namun tidak semua remaja menjalani masa badai dan
tekanan, namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami
ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi usaha
penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru.
Pola
emosi masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang
secara normal dialami adalah : cinta atau kasih sayang, gembira,
amarah, takut, sedih dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam
dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola
pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
• Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun
1. Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
2. Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
3. Kemarahan biasa terjadi
4. Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
5. Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif
• Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun
1. “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak menuju dewasa
2. Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
3. Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
Sejumlah
penelitian tentang emosi remaja menunjukan bahwa perkembangan emosi
mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar. Kematangan
dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi
perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan
untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti dimana itu
menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Kemampuan mengingat juga
mempengaruhi reaksi emosional. Dan itu menyebabkan anak-anak menjadi
reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada
usia yang lebih muda.
Kegiatan belajar juga turut menunjang perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain yaitu :
1. Belajar dengan coba-coba
Anak
belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk
perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak
perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak
memberikan kepuasan.
2. Belajar dengan cara meniru
Dengan
cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain. Anak-anak
bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang
yang diamatinya.
3. Belajar dengan mempersamakan diri
Anak
menyamakan dirinya dengan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan
emosional yang kuat dengannya. Yaitu menirukan reaksi emosional orang
lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama.
4. Belajar melalui pengkondisian
Dengan
metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi
emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. penggunaan
metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan
tidak suka, setelah melewati masa kanak-kanak.
5. Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
Dengan
pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang
biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak
bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.
Anak
memperhalus ekspresi-ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika ia
beranjak dari masa kanak-kanak menuju masa remaja. Mendekati
berakhirnya remaja, seorang anak telah melewati banyak badai emosional,
ia mulai mengalami keadaan emosional yang lebih tenang dan telah
belajar dalam seni menyembunyikan perasaan-perasaannya. Jadi, emosi
yang ditunjukan mungkin merupakan selubung yang disembunyikan.
Contohnya, seorang yang merasa ketakutan tetapi menunjukan kemarahan,
dan seseorang yang sebenarnya hatinya terluka tetapi ia malah tertawa,
sepertinya ia merasa senang.
Para remaja semasa kanak-kanak,
mereka diberitahu atau diajarkan untuk tidak menunjukan
perasaan-perasaannya, entah perasaan takut ataupun sedih. Akhirnya
seringkali mereka takut dan ingin menangis tetapi tidak berani
menunjukan perasaan tersebut secara terang-terangan. Kondisi-kondisi
kehidupan atau kulturlah yang menyebabkan mereka merasa perlu
menyembunyikan perasaan-perasaannya. Tidak hanya perasaan-perasaannya
terhadap orang lain saja, namun pada derajat tertentu bahkan ia dapat
kehilangan atau tidak merasakan lagi.
Dengan bertambahnya umur,
menyebabkan terjadinya perubahan dalam ekspresi emosional. Bertambahnya
pengetahuan dan pemanfaatan media massa atau keseluruhan latar belakang
pengalaman, berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosional ini.
Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Emosi Remaja
Dengan
meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lunak karena
mereka telah mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang
berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang
menyenangkan lainnya. Adapun karena anak-anak mengekang sebagian
ekspresi emosi mereka, emosi tersebut cenderung berahan lebih lama
daripada jika emosi itu diekspresikan secara lebih terbuka. Oleh kerena
itu, ekspresi emosional mereka menjadi berbeda-beda.
Dan
perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itu
dan taraf kemampuan intelektualnya. Anak yang sehat cenderung kurang
emosional dibandingkan dengan anak yang kurang sehat. Jika dilihat
sebagai anggota suatu kelompok, anak-anak yang pandai bereaksi lebih
emosional terhadap berbagai macam rangsangan dibandingkan dengan anak
yang kurang pandai bereaksi. Tetapi sebaliknya mereka lebih dapat mampu
mengendalikan emosi.
Dalam sebuah keluarga, anak laki-laki lebih
sering dan lebih kuat mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jenis
kelamin mereka. Rasa cemburu dan marah lebih umum terdapat di kalangan
keluarga besar, sedangkan rasa iri lebih umum terdapat di kalangan
keluarga kecil. Rasa cemburu dan ledakan kemarahan lebih umum dan lebih
kuat di kalangan anak pertama dibandingkan dengan anak yang lahir
kemudian dalam keluarga yang sama.
Cara mendidik yang otoriter
mendorong perkembangan emosi kecemasan dan takut, sedangkan cara
mendidik yang permisif atau demokratis mendorong berkembangnya semangat
dan rasa kasih sayang. Anak-anak dari keluarga yang berstatus sosial
ekonomi rendah cenderung lebih mengembangkan rasa takut dan cemas
dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang berstatus
sosial ekonomi tinggi.
Hubungan Antara Emosi Dan Tingkah Laku
Rasa
takut atau marah dapat menyebabkan seseorang gemetar. Dalam ketakutan,
mulut menjadi kering, cepatnya jantung berdetak, derasnya aliran darah
atau tekanan darah, dan sistem pencernaan mungkin berubah selama
pemunculan emosi. Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi
sebagai alat pembantu untuk mencerna, sedangkan perasaan tidak senang
akan menghambat atau mengganggu proses pencernaan.
Peradangan di
dalam perut atau lambung, diare, dan sembelit adalah keadaan-keadaan
yang dikenal karena terjadinya berhubungan dengan gangguan emosi.
Keadaan emosi yang normal sangat bermanfaat bagi kesehatan. Gangguan
emosi juga dapat menjadi penyebab kesulitan dalam berbicara. Ketegangan
emosional yang cukup lama mungkin menyebabkan seseorang gagap. Banyak
situasi yang timbul di sekolah atau dalam suatu kelompok yang dapat
menyebabkan seseorang menjadi tenang.
Seorang siswa tidak senang
kepada gurunya bukan karena pribadi guru, namun bisa juga disebabkan
sesuatu yang terjadi pada saat sehubungan dengan situasi kelas.
Penderitaan emosional dan frustasi mempengaruhi efektivitas belajar.
Anak sekolah akan belajar efektif apabila ia termotivasi, karena ia
perlu belajar. Setelah hal ini ada pada dirinya, selanjutnya ia akan
mengembangkan usahanya untuk dapat menguasai bahan yang ia pelajari.
Reaksi
setiap pelajar tidak sama, oleh karena itu rangsangan untuk belajar
yang diberikan harus berbeda-beda dan disesuaikan dengan kondisi anak.
Dengan begitu, rangsangan-rangsangan yang menhasilkan perasaan yang
tidak menyenangkan akan mempengaruhi hasil belajar dan demikian pula
rangsangan yang menghasilkan perasaan yang menyenangkan akan
mempermudah siswa dalam belajar.
Referensi :
- Sarwono, Sarlito W. 1991. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Press
- Hurlock, B. 1990. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga
- Gunarsa, Singgih. 1990. Dasar & Teori Perkembangan Anak. Jakarta : PT BPK Gunung mulia
Langganan:
Postingan (Atom)