Minggu, 05 Desember 2010

Asuhan Keperawatan pada Ny. W dengan Hiperemesis Gravidarum di Ruang Rawat Inap Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan adalah bagian integral pembangunan nasional yang bertujuan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi individu, keluarga, kelompok dan masyarakat merupakan tujuan dari keperawatan khususnya perawatan kesehatan masyarakat yang lebih menekankan kepada upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan terhadap berbagai gangguan kesehatan dan keperawatan suatu pemulihan bagi yang sedang menderita penyakit maupun dalam kondisi pemulihan terhadap penyakit (Effendy, 1998).
Ilmu keperawatan adalah suatu ilmu yang mempelajari pemenuhan kebutuhan dasar manusia mulai dari biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pemenuhan kebutuhan dasar tersebut diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan dalam praktek keperawatan professional. Untuk tercapainya tujuan suatu asuhan keperawatan professional diperlukan suatu pendekatan disebut proses keperawatan dan dokumentasi keperawatan sebagai data tertulis yang menjelaskan tentang penyampaian informasi penerapan suatu standar praktek dan pelaksanaan proses keperawatan (Nursalam, 2001).
Proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang sistematis dalam melakukan asuhan keperawatan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah dari respon terhadap penyakit, proses keperawatan dipergunakan untuk membantu perawat melakukan praktek keperawatan secara sistematis dalam memecahkan masalah keperawatan. Dengan menggunakan metode ini perawat dapat mendemonstrasi tanggung jawab pada klien, sehingga kualitas praktek keperawatan dapat meningkat (Nursalam, 2001).
Praktek keperawatan yang profesional terus berubah dan beradaptasi terhadap prioritas kesehatan masyarakat yang berubah, konsumen asuhan keperawatan maternitas.
Wanita yang telah menekankan bahwa bagian dari kepuasan mereka pada asuhan di awal kehamilan adalah berkaitan dengan persepsi mereka bahwa profesional tenaga kesehatan mempercayai rasa sakit yang mereka derita, bukan mengabaikan ataupun menganggap mereka bertingkah berlebihan seperti halnya nyeri, mual merupakan gejala yang dikatakan oleh pasien (subjektif) dan jika gejala tersebut menyebabkan stres pada wanita, ia berhak diberi cara yang paling memungkinkan untuk mengatasi masalah tersebut. Akibat meremehkan rasa mual dan muntah yang dirasakan wanita pada saat kehamilan terbukti berkontribusi dalam meningkatkan ketegangan emosional, stres psikologi, dan keterlambatan yang tidak semestinya dalam menemukan penanganan yang tepat, terutama jika kondisi menjadi patologi (Tiran, 2008).
Mual dan muntah umumnya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan, disertai kadang-kadang oleh emesis, sering terjadi pada pagi hari, tetapi tidak selalu keadaan ini lazim disebut morning sickness. Dalam batas-batas tertentu keadaan ini masih fisiologik bila melampaui sering, dapat mengakibatkan gangguan kesehatan dan disebut hiperemesis gravidarum (Yeyeh, dkk, 2009).
Keadaan hiperemesis gravidarum yang sangat patologis jauh lebih jarang terjadi dibandingkan mual dan muntah secara logis. Kelly (1996 : 306) memperkirakan bahwa hiperemesis gravidarum yang sangat patologis terjadi dalam 1 : 5 kehamilan, dan Walters (1999) menyatakan bahwa insidennya adalah antara tiga dan sepuluh per seribu kehamilan. Kuscu dan Koyunchu (2002) meyakini bahwa kisarannya adalah antara satu dan dua puluh per seribu kehamilan. Dalam studi power et al (2001) sekitar 2,4% wanita yang mengalami mual muntah memerlukan hospitalisasi untuk hiperemesis gravidarum (Tiran, 2008).
Prevalensi hiperemesis gravidarum di negara maju dalam study power et al (2001) melaporkan bahwa sekitar 2,4% wanita yang mengalami mual dan muntah memerlukan hospitalisasi untuj hiperemesis gravidarum. Sedangkan di Indonesia berdasarkan total kasus program Jamkesda tahun 2008 kasus hiperemesis gravidarum sebesar 1,13 % kasus, sedangkan di wilayah Puskesmas Cunda Muara Dua Lhok Seumawe (NAD) tahun 2008 prevalensi hiperemesis gravidarum berjumlah sebanyak 150 orang ( ______, 2009).
Menurut data yang penulis dapatkan di Medical Record Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan, jumlah ibu yang mengalami hiperemesis gravidarum pada tahun 2009 terhitung sebanyak 22 orang. Pada tahun 2010 banyaknya pasien yang mengalami hiperemesis gravidarum terhitung Januari sampai Maret 2010 sebanyak 4 orang yang di Ruang Rawat Inap Kebidanan.
Perawatan hiperemesis gravidarum sangat penting karena mual muntah pada kehamilan masih tetap mengancam baik pada ibu maupun pada janin. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk melaksanakan study kasus di ruang kebidanan. Study kasus ini penulis laksanakan selama 3 (tiga) hari dengan menetapkan dan melaksanakan proses-proses keperawatan secara objektif dan dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah dengan judul ”ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. W DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. H. YULIDDIN AWAY TAPAKTUAN”.
B. Batasan Penulisan
Dalam Karya Tulis Ilmiah ini penulis mendapatkan kasus di Ruang Rawat Inap Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan. Penulis memberikan asuhan keperawatan mulai 06 Juli 2010 sampai 08 Juli 2010 pada Ny. W, umur 33 tahun, alamat Panjupian, pekerjaan Ibu Rumah Tangga (IRT).
Adapun diagnosa yang timbul pada pasien hiperemesis gravidarum menurut Doengoes (2001) adalah :
1. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah.
2. Ketidaknyamanan berhubungan dengan perubahan fisik dan pengaruh hormonal.
3. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebih.
4. Keletihan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi.
5. Resiko tinggi terhadap cedera janin berhubungan dengan malnutrisi ibu.
6. Kurang pengetahuan mengenai perkembangan kehamilan yang normal berhubungan dengan kurang pemahaman tentang perubahan fisiologi/ psikologi yang normal.
Pada saat penulis melaksanakan praktek klinik keperawatan penulis mendapatkan 3 (tiga) masalah/diagnosa keperawatan pada Ny. W dengan hiperemesis gravidarum, yaitu :
1. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
2. Gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan proses penyakit
3. Resiko tinggi Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Agar mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata serta menambah pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan pada Ny. W dengan hiperemesis gravidarum di Ruang Rawat Inap Kebidanan Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian keperawatan pada Ny. W dengan Hiperemesis Gravidarum di Ruang Rawat Inap Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
b. Menganalisa data pada Ny. W dengan Hiperemesis Gravidarum di Ruang Rawat Inap Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
c. Merumuskan diagnosa pada Ny. W dengan Hiperemesis Gravidarum di Ruang Rawat Inap Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah dr. H.Yuliddin Away Tapaktuan.
d. Menyusun rencana keperawatan pada Ny. W dengan Hiperemesis Gravidarum di Ruang Rawat Inap Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
e. Melaksanakan tindakan-tindakan keperawatan pada Ny.W dengan Hiperemesis Gravidarum di Ruang Rawat Inap Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
f. Mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah diberikan pada Ny.W dengan Hiperemesis Gravidarum di Ruang Rawat Inap Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
g. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada Ny.W dengan Hiperemesis Gravidarum di Ruang Rawat Inap Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
D. Metode Penulisan
Metode yang penulis gunakan dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode deskriptif, yaitu rancangan yang bertujuan menerangkan masalah keperawatan yang terjadi pada suatu penyakit yang berdasarkan distributif tempat, waktu, jenis kelamin dan lain-lain.
Metode penyusunan ini penulis lakukan melalui :
1. Study kepustakaan
Dilakukan sebagai bahan referensi untuk memperjelaskan gambaran teoritis hiperemesis gravidarum dengan cara penerapan asuhan keperawatan.
2. Study kasus
Penelitian langsung terhadap kasus untuk mengetahui suatu masalah secara nyata yang penulis laksanakan di Ruang Rawat Inap Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan selama 3 (tiga) hari dari tanggal 06 Juli sampai 08 Juli 2010 dengan tekhnik pendekatan berupa :
a. Wawancara
Komunikasi secara langsung dengan pasien sehubungan dengan masalah yang timbul pada hiperemesis gravidarum.


b. Pemeriksaan fisik
Memeriksa keadaan fisik pasien sehubungan dengan masalah yang timbul pada hiperemesis gravidarum.
c. Observasi
Mengamati dan mengevaluasi secara langsung mengenai perkembangan status kesehatan pasien.
3. Study dokumentasi
Mempelajari status kesehatan pasien sebelum dan selama rawatan serta mencatat catatan medis sebagai data penunjang asuhan keperawatan.
4. Pemeriksaan penunjang
Untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap tentang keadaan kesehatan pasien ataupun pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan Hb, golongan darah dan urine
E. Sistematika Penulisan
Karya Tulis Ilmiah ini di susun secara sistematika yang terdiri dari :
BAB I : Pendahuluan, berisikan Latar Belakang, Batasan Penulisan, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan.
BAB II : Landasan Teoritis, berisikan Konsep Dasar dan Asuhan Keperawatan.
BAB III : Landasan Kasus, berisikan Pengkajian, Analisa Data, Diagnosa Keperawatan, Rencana Asuhan Keperawatan, Implementasi dan Evaluasi.

BAB IV : Pembahasan
BAB V : Penutup, berisikan Kesimpulan dan Saran
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. Konsep Dasar
1. Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan selama masa hamil. Muntah yang membahayakan ini dibedakan dari morning sickness normal yang umum dialami wanita hamil karena intensitasnya melebihi muntah normal dan berlangsung selama trimester pertama kehamilan (Varney, 2006).
Hiperemesis gravidarum adalah morning sickness dengan gejala muntah terus menerus, makan sangat kurang sehingga menyebabkan gangguan suasana kehidupan sehari-hari (Nugroho, 2010).
Hiperemesis gravidarum merupakan mual muntah yang berlebihan dan merupakan salah satu gejala paling awal, paling umum dan paling menyebabkan stres yang dikaitkan dengan kehamilan (Tiran, 2008).
Hiperemesis gravidarum adalah gejala mual muntah yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester pertama, mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu (Wiknjosastro, 2007).

2. Etiologi
Menurut Wiknjosastro (2007), penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik. Juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inasisi. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut :
a. Faktor predisposisi
Faktor predisposisi yang sering dikemukan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.
b. Faktor organik
Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik.
c. Faktor alergi
Sebagai salah satu respons dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah satu faktor organik.

d. Faktor psikologik
Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup.
3. Patofisiologi
Perasaan mual akibat kadar estrogen meningkat yang biasa terjadi pada trimester I bila perasaan mual muntah terjadi terus menerus dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat, dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi karena oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseto-asetik, asam hidroksida dan aseton darah.
Mual menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah turun. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah kejaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen kejaringan berkurang pula.
Disamping dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (sindroma molarry-weiss) dengan akibat perdarahan gastrointestinal (Mansjoer, 2000).

4. Manifestasi Klinis
Menurut Wiknjosastro (2007), batas jelas manifestasi klinis antara mual yang masih fisiologik dalam kehamilan dan hiperemesis gravidarum tidak ada tetapi bila keadaan umum penderita terpengaruh. Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi kedalam 3 tingkatan:
a. Tingkatan I
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 permenit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang, lidah mengering dan mata cekung.
b. Tingkatan II
Penderita tampak lemah dan apatis, turgor kulit lebih mengurang, lidah mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris. Berat badan turun dan mata menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.
c. Tingkatan III
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tensi menurun. Komplikasi total terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati wernicke, dengan gejala : nistagmus, diplopia dan perubahan mental. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks, timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati.
5. Komplikasi
Menurut Mansjoer (2000) komplikasi hiperemesis gravidarum adalah ensefalopati wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia, dan perubahan mental serta payah hati dengan gejala timbulnya ikterus.
6. Pencegahan
Menurut Mansjoer (2000) prinsip pencegahan hiperemesis gravidarum adalah mengobati emesis agar tidak terjadi hiperemesis :
a. Penerangan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses fisiologis.
b. Makan sedikit-sedikit tapi sering. Berikan makanan selingan seperti biskuit, roti kering dan teh hangat saat bangun pagi dan sebelum tidur. Hindari makanan berminyak dan berbau. Makanan sebaiknya dalam keadaan panas atau sangat dingin.
c. Defekasi tidur.
7. Penatalaksanaan
Menurut Wikjosastro (2007) penatalaksanaan hiperemesis gravidarum adalah :


a. Obat-obatan
Apabila dengan cara pencegahan keluhan dan gejala tidak mengurangi maka diperlukan pengobatan. Sedativa yang sering diberikan adalah phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6. Anti histaminika juga dianjurkan seperti dramamin, avomin pada keadaan lebih berat diberikan antiemetik seperti disiklomin, hidrokhloride atau khlorpromasin.
b. Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan peredaran udara yang baik catat cairan yang keluar. Hanya dokter dan perawat yang boleh masuk kedalam kamar penderita, sampai muntah berhenti dan penderita mau makan. Tidak diberikan makanan/minuman dan selama 24 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
c. Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa sakit oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
d. Cairan parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukose 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambah kalium dan vitamin, khususnya vitamin B complek dan vitamin C. Bila ada kekurangan protein dapat diberikan pula asam amino secara intravena.
e. Penghentian kehamilan
Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, takhikardi, ikterus, anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena disatu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat tetapi dilain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala irreversibel pada organ vital.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan pasien (Nursalam, 2001).
Pada pengkajian, data yang perlu dikaji adalah identifikasi pasien, meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, penanggung jawab, riwayat obstetri, dan riwayat kehamilan.
Yang perlu dikaji pada pasien dengan hiperemesis gravidarum menurut Doengoes (2001), yaitu :
a. Sirkulasi
Hipertensi
perdarahan
b. Integritas ego
Dapat mengekpresikan perasaan tidak adekuat.
c. Makanan/cairan
Penambahan berat badan mungkin tidak sesuai dengan masa gestasi (penambahan yang lebih kecil dapat berakibat negatif bagi janin). Diabetes dependen-insulin pada ibu :
Adanya gangguan pola makan (misal : anoreksia nervosa, bulimia, atau obesitas).
d. Keamanan
Infeksi (misal : penyakit kelamin (PHS), penyakit inflamasi pelvis). Adanya gangguan kejang, derajat/metode kontrol. Pemajanan bermakna pada radiasi, kimia toksik, atau infeksi teratogen (misal : rubela, toksoplasmosis, sitomegalo virus, human immunodeficiency virus/AIDS dan PHS lain. infeksi pascanatal (misal : meningitis, ensefalitis), kekurangan stimulasi/nutrisi pascanatal). Presentasi bokong (khususnya pada anensefali).

e. Seksualitas
Riwayat pernah melakukan aborsi dua kali atau lebih pada trimester pertama, kematian janin, atau anak dengan abnormalitas kromosom. Trauma kelahiran atau penyimpangan transmisi secara genetik yang dapat diidentifikasi. Penggunaan stimulan ovulasi seperti klomifen atau menotropins (pergonal).
f. Interaksi sosial
Pernikahan antar-keluarga (konsanguinitas). Rasa bersalah/menyalahkan diri sendiri dan/atau pasangan yang membawa gen detektif.
g. Penyuluhan/pembelajaran
Riwayat/keturunan keluarga yang positif diketahui ada penyimpangan genetik atau penyimpangan keturunan (misal : sel sabit, fibrosis kistik, hemofilia, phenilketonuria, cacat kraniospinal, malformasi ginjal, talasemia, korea huntington), penyimpangan pada keluarga (kanker, penyakit jantung, diabetes, alergi), abnormalitas kongenital (sindrom down, retardasi mental, kerusakan tubu neural) atau penyimpangan metabolik bawaan dari lahir (misal : penyakit urin sirup maple, penyakit tay-sachs). Latar belakang etnik pada resiko penyimpangan khusus (misal: black african, mediteranian, ashkenazin jewish). Penggunaan obat (alkohol, obat bebas, diresepkan atau obat jalanan, obat anti konvulsan).


2. Analisa Data
Analisa data adalah pemeriksaan dan mengkategorikan informasi untuk mendapatkan sebuah kesimpulan tentang kebutuhan pasien (Doengoes, 1999).
Ada 2 tipe data, yaitu :
a. Data subjektif, adalah data yang didapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian.
b. Data objektif, adalah data yang didapat di observasi dan diukur.
3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial (Hidayat, 2001).
Adapun prioritas diagnosa keperawatan menurut Doengoes (2001), adalah :
a. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah
b. Ketidaknyamanan berhubungan dengan perubahan fisik dan pengaruh hormonal
c. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebih
d. Keletihan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi
e. Resiko tinggi terhadap cedera janin berhubungan dengan malnutrisi ibu
f. Kurang pengetahuan mengenai perkembangan kehamilan yang normal berhubungan dengan kurang pemahaman tentang perubahan fisiologi/ psikologi normal.
4. Rencana/Perencanaan
Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan yang meliputi tujuan perawatan, menetapkan pemecahan masalah, dan menentukan tujuan perencanaan untuk mengatasi masalah pasien (Hidayat, 2001).
Rencana tindakan yang diperlukan pada pasien dengan hiperemesis gravidarum menurut Doengoes (2001) adalah :
a. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah :
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil : memberi makanan yang mengandung vitamin, mineral, protein dan besi.
No Intervensi Rasional
1.




2.





3.




4.




5.





6.




7.



8.

Tentukan keadekuatan kebiasaan asupan nutrisi dulu/sekarang dengan menggunakan batasan 24 jam.


Dapatkan riwayat kesehatan, catat usia (khususnya kurang dari 17 tahun, lebih dari 35 tahun.



Pastikan tingkat pengetahuan tentang kebutuhan diet.



Berikan informasi tertulis/verbal yang tepat tentang diet pranatal dan suplemen vitamin/zat besi setiap hari.

Timbang berat badan klien, pastikan berat badan pregravid biasanya.




Tinjau ulang frekuensi dan beratnya mual/muntah kesampingkan muntah pernisiosa (hiperemesis gravidarum).

Pantau kadar hemoglobin (Hb)



Buat rujukan yang perlu sesuai indikasi (misal : pada ahli diet, pelayanan sosial). Kesejahteraan janin/ibu tergantung pada nutrisi ibu selama kehamilan sebagaimana selama 2 tahun sebelum kehamilan.

Remaja dapat cenderung malnutrisi/anemia dan klien lansia mungkin cenderung obesitas/diabetes gestasional.


Menentukan kebutuhan belajar khusus pada periode pranatal, laju basal metabolik meningkat 20%-25%.

Materi referensi yang dapat dipelajari dirumah, meningkatkan kemungkinan klien memilih diet seimbang.

Ketidakadekuatan penambahan berat badan pranatal dan/atau dibawah berat badan normal masa kehamilan, meningkatkan resiko retardasi pertumbuhan intra uterin.

Mual/muntah trimester I dapat berdampak negatif pada status nutrisi pranatal, khususnya pada periode kritis perkembangan janin.

Mengidentifikasi adanya anemia dan potensial penurunan kapasitas pembawa oksigen ibu.

Mungkin diperlukan bantuan tambahan terhadap pilihan nutrisi.

b. Ketidaknyamanan berhubungan dengan perubahan fisik dan pengaruh hormonal
Tujuan : ketidaknyamanan teratasi
Kriteria hasil : mengidentifikasi tindakan-tindakan yang memberikan kenyamanan.


No Intervensi Rasional
1.




2.




3.




4.






5.



6.





7. Catat adanya/derajat rasa tidak nyaman minor.



Evaluasi derajat ketidaknyamanan selama pemeriksaan internal.



Anjurkan penggunaan bra penyokong tinjau perawatan puting



Kaji adanya hemoroid. Perhatikan keluhan-keluhan gatal, bengkak, perdarahan.




Instruksikan penggunaan kompres es, panas.


Mual/muntah : anjurkan meningkatkan asupan karbohidrat saat bangun tidur.



Tambahkan suplemen kalsium setiap hari bila asupan produk susu dikurangi Memberikan informasi untuk memilih informasi, petunjuk terhadap respon klien pada ketidaknyamanan dan nyeri.

Ketidaknyamanan selama pemeriksaan internal dapat terjadi khususnya pada klien asing yang telah mengalami infibulasi.

Memberikan sokongan yang sesuai untuk jaringan payudara yang membesar, menguatkan jaringan areolar.

Penurunan mortilitas gastrointestinal, perubahan usus serta tekanan pada sistem pembuluh darah oleh pembesaran uterus memberi kecendrungan terjadinya hemoroid.

Menurunkan ketidaknyamanan dan bengkak, meningkatkan mortilitas G1.

Menurunkan kemungkinan gangguan gastrik yang dapat disebabkan oleh efek asam hidroklorid pada lambung yang kosong.

Membantu dalam memperbaiki keseimbangan kalsium/fostor dan menurunkan kram otot.


c. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebih.
Tujuan : kekurangan volume cairan tidak terjadi.
Kriteria hasil : mengidentifikasi dan melakukan tindakan untuk menurunkan frekuensi dan keparahan mual/muntah.
No Intervensi Rasional
1.








2.




3.



4.



5. Tentukan frekuensi/beratnya mual/ muntah







Tinjau ulang riwayat kemungkinan masalah medis lain.



Anjurkan klien mempertahankan masukan/haluaran tes urine, dan penurunan berat badan setiap hari.

Kaji suhu dan turgor kulit, membran mukosa, TD, suhu, masukan/ haluaran.

Anjurkan peningkatan masukan minuman berkarbonat, makan enam kali sehari dengan jumlah yang sedikit. Memberikan data berkenaan dengan semua kondisi. Peningkatan kadar hormon gonadotropin korionik (HcG), perubahan metabolisme karbohidrat dan penurunan mortilitas gastrik memperberat mual muntah pada trimester I.

Membantu dalam mengenyampingkan penyebab lain untuk mengatasi masalah khusus dalam mengidentifikasi intervensi.

Membantu dalam menentukan adanya muntah yang tidak dapat dikontrol

Indikator dalam membantu untuk mengevaluasi tingkat/kebutuhan hidrasi.

Membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan menurunkan keasaman lambung.



d. Keletihan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi
Tujuan : kebutuhan energi terpenuhi, letih berkurang
Kriteria hasil : melaporkan adanya peningkatan energi.
No Intervensi Rasional
1.




2.




3.


Tentukan siklus tidur bangun yang normal dan komitmen terhadap pekerjaan, keluarga, komunitas dan diri sendiri.

Anjurkan tidur siang 1 sampai 2 jam setiap hari, 8 jam tidur malam.



Pantau kadar Hb, jelaskan peran zat besi dalam tubuh, anjurkan mengkonsumsi suplemen zat besi setiap hari sesuai indikasi. Membantu menyusun prioritas yang realistik dan waktu untuk menguji komitmen.


Istirahat untuk memenuhi kebutuhan metabolik berkenaan dengan pertumbuhan jaringan ibu/janin.

Kadar Hb rendah mengakibatkan kelelahan lebih besar karena penurunan jumlah pembawa oksigen.

e. Resiko tinggi terhadap cedera janin berhubungan dengan malnutrisi ibu.
Tujuan : nutrisi ibu dan janin terpenuhi
Kriteria hasil : memulai perilaku yang meningkatkan kesehatan sendiri dan janin.
No Intervensi Rasional
1.







2.



3.



4.





5.






6.






7.



8.



Diskusikan pentingnya kesejahteraan ibu.






Diskusikan tingkat aktivitas normal dan latihan, anjurkan latihan secukupnya bukan latihan berat.

Tinjau ulang kebiasaan dua budaya diet klien.


Kaji terhadap kemungkinan resiko tinggi berkenaan dengan kelainan genetik.



Berikan informasi tentang hal yang dapat mengakibatkan terjadinya perkembangan abnormal seperti sinar-x, alkohol, nikotin, virus hidup yang dilemahkan, kelompok virus STORCH.

Diskusikan bentuk transmisi infeksi tertentu.





Anjurkan penghentian penggunaan tembakau.


Kaji perkembangan uterus melalui pemeriksaan internal.
Kesejahteraan janin secara langsung berhubungan dengan kesejahteraan ibu, khususnya selama trimester I. Saat perkembangan sistem organ paling rentan terhadap cedera dari faktor lingkungan/keturunan.

Aliran darah ke uterus dapat menurun sampai 70% karena latihan keras.

Malnutrisi pada ibu dihubungkan dengan IUGR pada janin dan bayi berat badan lahir rendah.

Klien yang beresiko terhadap kelainan genetik tertentu dapat membutuhkan tes untuk menentukan apakah janin terpengaruh.

Membantu klien membuat keputusan/pilihan tentang perilaku/ lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan.



Di Amerika Serikat, toxoplasma gondii paling sering di transmisikan pada feses kucing, budaya lain melalui makanan mentah atau daging tidak dimasak dengan tepat.

Merokok mempengaruhi sirkulasi plasenta. Scor apgar rendah pada kelahiran.

Memberikan informasi tentang gestasi janin, mengidentifikasi kehamilan multipel.



f. Kurang pengetahuan mengenai perkembangan kehamilan berhubungan dengan kurang pemahaman tentang perubahan fisiologi/psikologi yang normal.
Tujuan : mengungkapkan pemahaman tentang perubahan fisiologi, kebutuhan-kebutuhan individu
Kriteria hasil : menjelaskan perubahan fisiologi/psikologi normal berkaitan dengan kehamilan trimester pertama.
No Intervensi Rasional
1.






2.





3.






4.






5.



6.





7. Buat hubungan perawat-klien yang mendukung dan terus menerus.





Evaluasi pengetahuan dan keyakinan budaya saat ini berkenaan dengan perubahan fisiologi/psikologi yang normal pada kehamilan.

Identifikasi siapa yang membuat dukungan/instruksi dalam kebudayaan klien.




Berikan hubungan antisipasi, meliputi diskusi tentang nutrisi, latihan, tindakan yang nyaman, istirahat, pekerjaan, perawatan payudara, aktivitas seksual, dan kebiasaan/gaya hidup sehat.

Jawab pertanyaan tentang perawatan dan pemberian makan bayi.

Identifikasi tanda bahaya kehamilan, seperti perdarahan, kram, nyeri abdomen akut, sakit kepala dan tekanan pelvis.


Identifikasikan hal yang membahayakan pada janin. Peran penyuluh/konselor dapat memberikan bimbingan antisipasi dan meninngkatkan tanggung jawab individu terhadap kesehatan.


Memberi informasi untuk membantu mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dan membuat rencana perawatan.


Membantu menjamin kualitas/kontinuitas asuhan karena orang pendukung mungkin lebih berhasil daripada dokter/perawat/ bidan dalam memberikan informasi.

Informasi mendorong penerimaan tanggung jawab dan meningkatkan keinginan untuk melakukan perawatan diri.



Memberikan informasi yang dapat bermanfaat untuk membuat pilihan.

Membantu klien membedakan yang normal dan abnormal sehingga membantunya dalam mencari perawatan kesehatan pada waktu yang tepat.

Janin paling rentan dalam trimester I selama periode kritis perkembangan organ.

5. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (iyer et al, 1996 dalam buku Nursalam, 2001).
Tahap pelaksanaan dimulai setelah perencanaan disusun dan ditujukan pada masing-masing oders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan dan pelaksanaan adalah membantu klien mencapai tujuan yang telah diterapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping (Nursalam, 2001).
Menurut Nursalam (2001), tindakan keperawatan meliputi tindakan independen, dependen dan interdependen.
a. Independen, yaitu tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya.
b. Dependen, yaitu tindakan yang dilakukan oleh perawat atas petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya.
c. Interdependen yaitu tindakan keperawatan yang memerlukan suatu kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya.
6. Evaluasi
Evaluasi adalah tahapan terakhir dari proses keperawatan. Evaluasi menyediakan nilai informasi mengenai pengaruh intervensi yang telah direncanakan dan merupakan perbandingan dari hasil yang telah dibuat pada tahap perencanaan (Hidayat, 2001).
Evaluasi merupakan bagian integral pada setiap tahap proses keperawatan, pengumpulan data perlu direvisi untuk menentukan apakah informasi yang telah dikumpulkan telah mencukupi dan apakah perilaku yang diobservasi telah sesuai diagnosa yang perlu di evaluasi dalam hal keakuratan dan kelengkapan.
Tujuan dan intervensi di evaluasi adalah untuk menentukan apakah tujuan tersebut dapat dicapai secara efektif (Nursalam, 2001).
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
Nama Klien : Ny. W
Umur : 33 Tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SD
Agama : Islam
Suku Bangsa : Aceh
Alamat : Panjupian
Nama Suami : Tn. U
Umur : 40 Tahun
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Alamat : Panjupian
I. Persepsi Dan Harapan Klien Sehubungan Dengan Kehamilan
1. Mengapa ibu datang kerumah sakit ?
- Pasien mengatakan dia datang kerumah sakit karena mengalami mual muntah.
2. Apakah kehamilan ini menimbulkan perubahan terhadap kehidupan sehari-hari ?
- Pasien mengatakan tidak bisa beristirahat dan tidak ada nafsu makan karena kehamilannya mengakibatkan mual muntah sehingga pasien merasa lemas dan mengantuk.
3. Harapan apa yang ibu inginkan selama masa kehamilan ?
- Pasien berharap agar cepat sembuh, kehamilannya baik-baik saja dan dapat melahirkan dengan normal.
4. Ibu tinggal dengan siapa ?
- Pasien mengatakan tinggal dengan suaminya dan 2 orang anaknya.
5. Siapa yang terpenting bagi ibu ?
- Pasien mengatakan orang yang terpenting baginya adalah suami dan kedua anaknya.
6. Dengan masuknya ibu kerumah sakit, dampak apa yang terjadi dalam keluarga ?
- Pasien mengatakan dampak yang terjadi dalam keluarganya adalah merasa cemas akan terjadi sesuatu pada dirinya dan pada kandungannya.

7. Apakah orang terdekat ibu mau menemani untuk datang kerumah sakit ?
- Pasien mengatakan suami dan anaknya selalu menemaninya dirumah sakit.
8. Rencana melahirkan dimana ?
- Pasien mengatakan berencana melahirkan di rumah.
9. Apakah ibu merencanakan untuk menyusui bayinya ?
- Pasien mengatakan akan menyusui bayinya jika bayinya sudah lahir.
10. Apakah ibu sudah di imunisasi ?
- Pasien mengatakan sudah diimunisasi.
Kapan ? + 3 minggu yang lalu.
Apa jenisnya ? TT (Tetanus).

II. Riwayat Kesehatan
1. Riwayat kesehatan keluarga ?
- Pasien mengatakan tidak ada penyakit keturunan dalam keluarganya.
2. Penyakit terdahulu yang mempengaruhi kehamilan ?
- Pasien mengatakan penyakit terdahulu yang mempengaruhi kehamilannya adalah mual muntah tetapi tidak sampai dirawat dirumah sakit.
3. Penyakit yang sedang dialami klien ?
- Pasien mengalami mual muntah dalam kehamilan, kepala pusing, lemas dan tidak bisa melakukan aktivitas.
4. Riwayat haid
- Pasien mengatakan haidnya lancar.
HPHT Tanggal : 03 Maret 2010
Lamanya : 7 hari
Banyaknya : 2x ganti duk dalam sehari
Masalah : Tidak ada masalah
5. Riwayat kontrasepsi
Tipe : KB suntik
Tujuan : untuk mencegah kehamilan
Kapan menggunakannya : 3 bulan sekali
Kapan berhenti : + 2 tahun yang lalu
Alasan berhenti : ingin mempunyai anak
Masalah : tidak ada masalah
Rencana KB yang akan- : Pasien mengatakan rencana KB yang akan
digunakan digunakannya adalah KB suntik.
6. Riwayat kehamilan terdahulu
No Gangguan kehamilan Proses persalinan Lama persalinan Tempat bersalin Masalah persalinan Masalah bayi
1.


2. Mual muntah


Tidak ada SC


Normal + 1 jam


+ 30 menit Ruang operasi

Dirumah Tidak ada


Tidak ada Tidak ada


Tidak ada




7. Riwayat pengobatan
a. Obat-obatan yang digunakan
No Nama obat Dosis Fungsi
1.

2.
3. IVFD RL : Glukosa 5%

Injeksi tomit
Ranitidin 30 tts/i

1 amp/8 jam
1 amp/8 jam Keseimbangan cairan dan elektrolit
Mengurangi mual muntah
Menetralkan asam lambung

b. Tujuan pengobatan
- Untuk menghilangkan rasa sakit serta mual muntah.
c. Cara pemberian
- Dengan cara injeksi bolus
8. Masalah yang dirasakan klien/keluhan
(√) nausea (√) vomitus
( ) gangguan kencing (√) sakit hulu hati
( ) perdarahan + 250 cc ( ) kram pada kaki
(√) pusing ( ) nyeri pada perut
(√) lelah ( ) konstipasi
( ) sakit pinggang
9. Pemeriksaan laboratorium
No Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal
1.

2.
3.
4.

5. Hemoglobin

Leukosit
Eritrosit
Hematokrit

Trombosit 09,0

8,900
3.750.000
31,5

240.000 g/dl

/mm3
/mm3
%

/mm3
♂ = 12,0-16,0
♀ = 11,0-13,0
5.000-10.000
-
♂ = 40-48
♀ = 38-49
150.000-400.000
III. Kebutuhan Dasar Khusus
1. Kenyamanan, istirahat tidur
a. Ketidaknyamanan
- Pasien mengatakan selama kehamilan merasa tidak nyaman karena mengalami mual muntah.
b. Istirahat tidur
- Pasien mengatakan sering terbangun dimalam hari dan tidak bisa tidur siang karena sering mengalami mual muntah.
c. Hygiene prenatal
- Pasien mengatakan mandi 2x sehari dengan memakai sabun dan menyikat gigi pada saat mandi.
2. Cairan
- Pasien mengatakan jumlah cairan yang diminum kadang-kadang keluar lagi karena mual muntah yang dialami.
3. Nutrisi
- Pasien mengatakan tidak nafsu makan dan semua makanan yang dimakan keluar kembali karena muntah.
IV. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Lemah
1. Tanda-tanda vital
TD : 100/70 mmHg
RR : 20 x/i
Puls : 80 x/i
Temp : 370 c
2. Berat badan : 60 kg
Tinggi badan : 158 cm
3. Kulit
Warna : kuning langsat
Turgor : baik
Perlukaan : tidak ada perlukaan
4. Kepala
Rambut : hitam, penyebaran rata
Kulit kepala : bersih
5. Wajah
a. Mata
Konjungtiva : anemis
Sklera : tidak ada ikterik
Sekret : tidak ada
Lain-lain : mata tidak cekung
b. Hidung
Keadaan : bersih, simetris kiri kanan
Pengeluaran : tidak ada secret
c. Mulut
Keadaan : lembab
Bibir : simetris atas dan bawah
Rongga mulut : bersih
Gigi : lengkap dan bersih
d. Telinga
Keadaan : bersih, simetris kiri dan kanan
Pengeluaran : tidak ada
6. Leher
Pembesaran getah bening : tidak ada
Pembesaran kelenjar gondok : tidak ada
7. Abdomen
a. Pembesaran : terdapat pembesaran
b. Bentuk perut : membesar
c. Perlukaan : tidak ada
d. Jaringan parut : tidak terdapat jaringan parut
8. Ekstremitas
Ukuran kaki : simetris kiri dan kanan
Warna kuku : pink
Oedema : tidak ada
Varises di kaki : tidak ada
Refleks tungkai bawah : baik


B. Analisa Data
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1. DS :
- Pasien mengatakan takut kehilangan bayinya

DO :
- Pasien tampak cemas
- Pasien tampak gelisah
- Pasien menangis jika mual muntah
Faktor hormonal
Faktor fisiologi


Masalah psikologi karena penyakit pasien




Distress emosional



Perasaan bersalah, ketidak- nyamanan dan perasaan takut


Takut kehilangan bayinya, cemas, menangis, kurang istirahat


Ansietas Ansietas
2. DS :
- Pasien mengatakan tidak bisa istirahat dan tidur

DO :
- Pasien tampak mengantuk
- Pasien hanya tidur 5 jam dalam sehari
- Pasien tampak sulit berkonsentrasi Faktor hormonal
Faktor fisiologi


Masalah psikologi karena penyakit pasien


Distres emosional


Gangguan istirahat tidur karena mual muntah yang berlebih
Gangguan pola istirahat tidur
3. DS :
- Pasien mengatakan mengalami mual muntah.
- Pasien mengatakan tidak nafsu makan.


DO :
- Keadaan umum lemah
- Pasien tampak pucat
- Pasien tampak muntah jika makan
- Pasien hanya menghabiskan ¼ porsi makanan yang disediakan
- Konjungtiva anemis
- Hb : 09,0 gr/dl
- BB : 60 kg
- TB : 158 cm Faktor hormonal
Faktor fisiologi


Peningkatan kadar HCG


Korpus luteum terus mem-produksi estrogen-progesteron


Terjadi perubahan pada saluran gastrointestinal


Mual muntah, pucat, anoreksia, konjungtiva anemis


Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh











C. Diagnosa Keperawatan
1. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan ditandai dengan pasien mengatakan takut kehilangan bayinya, pasien tampak cemas, pasien tampak gelisah, pasien menangis jika mual muntah, pasien tampak kurang istirahat.
2. Gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan pasien mengatakan tidak bisa tidur, pasien tampak mengantuk, Hb : 09,0, pasien hanya tidur 5 jam dalam sehari.
3. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual/muntah ditandai dengan pasien mengatakan mengalami mual muntah, pasien tampak pucat, pasien tampak muntah jika makan, hanya menghabiskan ¼ porsi makanan yang disediakan, konjungtiva anemis, Hb : 09,0 gr/dl, conjungtiva anemis.






D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
No Hari/Tgl Diagnosa Keperawatan Rencana Asuhan Keperawatan Rasional
Tujuan/Kriteria hasil Intervensi
1. 06/07/2010 Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan ditandai dengan
DS :
Pasien mengatakan takut kehilangan bayinya

DO :
- Pasien tampak cemas dan pusing
- Pasien tampak gelisah
- Pasien menangis jika mual muntah
- Pasien tampak kurang istirahat
Tujuan : Cemas pasien dapat teratasi

Kriteria Hasil :
- Pasien mengatakan bayinya akan baik-baik saja
- Pasien tampak rileks
- Mual muntah hilang dan pasien tidak menangis lagi
- Pasien istirahat dengan tenang 1. Awasi respon fisiologi



2. Catat petunjuk perilaku pasien dalam mengekpresikan cemas
3. Berikan lingkungan tenang untuk istirahat

4. Berikan informasi yang akurat dan jawab dengan jujur
5. Dorong orang terdekat tinggal dengan pasien


6. Jelaskan prosedur dan arti gejala-gejala hiperemesis gravidarum 1. Dapat menjadi indikatif derajat takut yang dialami pasien dan berhubungan dengan kondisi fisik
2. Indikator derajat takut yang dialami pasien dan koping individu dalam mengatasi cemas
3. Meningkatkan relaksasi dan meningkatkan keterampilan koping
4. Memungkinkan pasien untuk membuat keputusan yang didasarkan atas pengetahuannya
5. Membantu menurunkan takut melalui pengalaman menakutkan menjadi seorang diri
6. Pengetahuan dapat membantu menurunkan rasa takut dan meningkatkan rasa kontrol terhadap situasi
2. 06/07/2010 Gangguan pola istirahat tidur b/d proses penyakit d/d
DS :
- Pasien mengatakan tidak bisa istirahat tidur

DO :
- Pasien tampak mengantuk
- Hb : 09,0 mg/dl
- Pasien hanya tidur 5 jam dalam sehari Tujuan : Pola istirahat tidur terpenuhi

Kriteria Hasil :
- Istirahat tidur terpenuhi
- Hb normal
- Pasien tidur dengan cukup
1. Tentukan siklus tidur bangun yang normal
2. Anjurkan tidur siang 1-2 jam setiap hari dan 8 jam setiap tidur

3. Pantau kadar Hb


4. Rencanakan periode istirahat adekuat

5. Pantau tanda vital setelah melakukan aktivitas 1. Membantu menyusun perioritas yang realistik
2. Istirahat untuk memenuhi kebutuhan metabolik berkenaan dengan pertumbuhan jaringan ibu/ janin
3. Kadar Hb rendah mengakibatkan kelelahan lebih besar
4. Mencegah kelelahan berlebihan dan menyimpan energi untuk penyembuhan
5. Kolapsnya sirkulasi dapat terjadi sebagai akibat dari stres aktivitas jika curah jantung berkurang.
3. 06/07/2010 Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah ditandai dengan
DS :
- Pasien mengatakan mengalami mual muntah

DO :
- Pasien tampak pucat
- Pasien tampak muntah jika makan
- Hanya menghabiskan ¼ porsi makanan yang disediakan
- Konjungtiva anemis
- Hb : 09,0 gr/dl Tujuan : Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi

Kriteria Hasil :
- Mual muntah berkurang/hilang
- Pasien tampak segar
- Pasien menghabiskan semua makanan yang disediakan 1. Timbang berat badan pasien dan pantau TTV


2. Berikan makanan sedikit tapi sering dan makanan kecil tambahan yang tepat
3. Pantau kadar Hb



4. Pertahankan masukan cairan
5. Konsultasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet
6. Berikan terapy mual muntah sesuai indikasi 1. Ketidakadekuatan penambahan berat badan pranatal di masa kehamilan dapat meningkatkan resiko retardasi pertumbuhan intra uterin
2. Mual muntah dapat terjadi bila pemberian makan terlalu banyak

3. Mengidentifikasi adanya anemia dan potensial penurunan kapasitas pembawa oksigen ibu
4. Membantu dalam menentukan pengeluaran yang seimbang
5. Bermanfaat dalam pemberian diet yang tepat.

6. Agar mual muntah dapat teratasi






D. Catatan Perkembangan
Nama Pasien : Ny. W
Umur : 33 Tahun
Diagnosa Medis : Hiperemesis Gravidarum

Hari/ Tanggal Jam No
Dx Implementasi Evaluasi
Selasa,
06 Juli 2010 08.15 1 1. Mengawasi respon fisiologi
- Pasien kelihatan cemas pasien gelisah dan takut akan terjadi sesuatu pada bayinya
2. Mencatat petunjuk perilaku pasien dalam mengekpresikan cemas

- Pasien mengekpresikan cemas dengan cara menangis

3. Menjelaskan penyebab dan arti gejala-gejala dari hiperemesis gravidarum
- Misalnya menjelaskan bahwa mual dan kadang-kadang muntah dapat terjadi pada kehamilan dan akan hilang setelah kehamilan berusia 4 bulan Tanggal 06-07-2010
Pukul 13.00 wib
S : Pasien mengatakan takut kehilangan bayinya

O : - Pasien tampak cemas
- Pasien tampak gelisah
- Pasien tampak kurang
istirahat
A : Masalah ansietas belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
1. Berikan lingkungan tenang untuk istirahat
2. Pantau respon fisiologi
3. Dorong orang terdekat tinggal dengan pasien
4. Berikan informasi yang akurat dan jawab dengan jujur
Selasa,
06 Juli 2010 10.15






10.30






09.30


13.00




12.00 2 1. Menentukan siklus tidur yang normal
- Pasien diberitahukan yang baik untuk tidur yaitu : 8 jam pada malam hari dan 1-2 jam pada siang hari

2. Menganjurkan tidur siang 1-2 jam setiap hari dan 8 jam setiap tidur
- Pasien tidak tidur siang dan tidur malam hanya 5 jam

3. Memantau kadar Hb
- Hb : 09,0 g/dl

4. Merencanakan periode istirahat adekuat
- Pasien dianjurkan untuk istirahat selama dirumah sakit.
5. Memantau tanda-tanda vital
- TD : 100/70 mmHg
- RR : 20 x/i
- Puls : 80 x/i
- Temp : 370 c
Tanggal 06-07-2010
Pukul 14.00 wib
S : Pasien mengatakan tidak bisa istirahat tidur

O : - Pasien tampak mengantuk
- Hb : 09,0 g/dl
- Pasien hanya tidur 5 jam dalam sehari

A : Masalah pola istirahat tidur belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
1. Menganjurkan tidur siang 1-2 jam setiap hari dan 8 jam setiap tidur malam
2. Memantau tanda-tanda vital



Selasa,
06 Juli 2010 08.00


09.10




09.30


09.35



12.20





13.00

3 1. Menimbang BB pasien
- BB : 60 kg

2. Mempertahankan masukan cairan
- Memasang infus RL 30 tts/menit + drip neorobion

3. Memantau kadar Hb
- Hb : 09,0 g/dl

4. Konsultasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet
- Diet MII

5. Memberikan makanan sedikit tapi sering
- Pasien makan diet MII dan menghabiskan ¼ porsi yang disediakan

6. Memberi injeksi bolus sesuai indikasi
- Tomit 1 amp/8 jam
- Ranitidine 1 amp/ 8 jam Tanggal 06-07-2010
Pukul 14.30 wib
S : Pasien mengatakan mengalami mual muntah

O : - K/U : lemah
- Pasien tampak muntah jika makan
- Pasien hanya menghabiskan ¼ porsi yang disediakan
- Hb : 09,0 g/dl
- Conjungtiva anemis

A : Masalah resiko tinggi nutrisi belum terjadi.
P : Intervensi dilanjutkan
1. Mempertahankan masukan cairan
2. Memantau kadar Hb
3. Memberikan makanan sedikit tapi sering
4. Memberi teraphy
5. Menimbang BB
Rabu,
07 Juli 2010 08.15




08.25




08.40 1 1. Memantau respon fisiologi
- Cemas pasien berkurang dan yakin bayinya akan selamat

2. Mendorong orang terdekat untuk tinggal dengan pasien
- Pasien ditemani oleh suami dan anaknya

3. Memberikan informasi yang akurat dan jawab dengan jujur
- Misalnya menjelaskan kapan terjadi mual muntah, yaitu gejala mual muntah kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama 10 minggu
- Memberi kesempatan pada klien untuk mendapatkan informasi Tanggal 07 Juli 2010
Pukul 13.00 wib
S : Pasien mengatakan setelah mendapat informasi yang akurat rasa takut dan cemasnya berkurang

O : - Pasien tampak tenang
- Pasien tampak rileks
- Pasien istirahat dengan tenang

A : Masalah ansietas teratasi
P : Intervensi dihentikan

Rabu,
07 Juli 2010 11.00 2 1. Menganjurkan pasien tidur siang 1-2 jam setiap hari dan 8 jam setiap tidur malam.
- Pasien tidur siang 1 jam dan tidur malam 6 jam

2. Memantau tanda-tanda vital
- TD : 110/78 mmHg
- RR : 20 tts/i
- Puls : 80 i
- Temp : 370 c Tanggal 07-07-2010
Pukul 14.00 wib
S : - Pasien mengatakan istirahatnya sudah bisa dan malam tidur dengan nyenyak

O : - Pasien tampak segar
- Hb : 11,0 g/dl
- Pasien tidur malam 6 jam
- TTV
TD : 110/80 mmHg
RR : 20 x/i
Puls : 80 x/i
Temp : 370 c


A : Masalah pola istirahat tidur teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
1. Menganjurkan pasien tidur siang 1-2 jam setiap hari dan 8 jam pada malam hari
2. Memantau tanda-tanda vital
Rabu,
07 Juli 2010 08.00


09.20


10.10





12.15






13.00 3 1. Menimbang BB pasien
- BB : 60 kg

2. Memantau kadar Hb
- HB : 11,0 g/dll

3. Mempertahankan masukan cairan
- Mengganti IVFD Dex 5% 30 tts/menit + drip neurobion

4. Memberikan makanan sedikit tapi sering
- Diet MII pasien menghabiskan ½ porsi dari makanan yang disediakan

5. Memberikan terapy injeksi bolus
- Tomit 1 amp/8 jam
- Ranitidine 1 amp/8 jam Tanggal 07-07-2010
Pukul 14.30 wib
S : Pasien mengatakan mual muntahnya sedikit berkurang

O : - K/U : lemah
- Pasien tampak pucat
- Hb : 11,0 g/dl
- Mual muntah berkurang
- Pasien menghabiskan ½ porsi makanan yang disediakan

A : Masalah resiko tinggi nutrisi belum terjadi.
P : Intervensi dilanjutkan
1. Memberikan diet pada pasien
2. Mempertahankan masukan cairan
3. Menimbang BB pasien
4. Memberikan terapy
Kamis,
08 Juli 2010 10.00





12.00





13.15



13.30 1 1. Menganjurkan pasien tidur siang 1-2 jam setiap hari dan 8 jam pada malam hari
- Pasien tidur siang 1-2 jam dan tidur malam 8 jam

2. Memantau tanda-tanda vital
- TD : 100/80 mmHg
- RR : 20 x/i
- Puls : 84 x/i
- Temp : 36,80 c

3. Mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dengan jujur

4. Memberikan lingkungan tenang untuk istirahat
Tanggal 08-07-2010
Pukul 13.00 wib
S : - Pasien mengatakan tidurnya nyenyak
- Pasien mengatakan istirahat tidurnya terpenuhi

O : - Istirahat tidur pasien terpenuhi
- Hb : 11,0 g/dl
- Pasien tampak segar

A : Masalah pola istirahat tidur teratasi
P : Intervensi dihentikan
- Pasien ACC pulang
Kamis,
08 Juli 2010 08.00


08.50





12.15




13.00




13.15 1 1. Menimbang BB pasien
- BB : 60 kg

2. Mempertahankan masukan cairan
- Mengganti infus RL 20 tts/i + drip neurobion


3. Memberikan diet pada
- Diet MB, pasien menghabiskan semua makanannya

4. Memberikan terapy injeksi bolus
- Tomit 1 amp/8 jam
- Ranitidine 1 amp/8 jam

5. Mengaff infus Tanggal 08-07-2010
Pukul 14.00 wib
S : Pasien mengatakan mual muntahnya tidak ada lagi

O : - Pasien tampak segar
- Pasien menghabiskan semua makanan yang disediakan
- Hb : 11,0 g/dl

A : Masalah nutrisi tidak terjadi
P : Intervensi dihentikan
- Pasien ACC pulang


BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam bab ini penulis akan membahas lebih rinci tentang pembahasan pada bab II dan bab III mengenai kesenjangan pada persamaan Asuhan Keperawatan yang penulis laksanakan pada Ny. W dengan hiperemesis gravidarum di Ruang Rawat Inap Kebidanan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan. Mulai tanggal 06 Juli 2010 sampai 08 Juli 2010 penulis sesuaikan dengan tahap-tahap proses keperawatan yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, implementasi dan evaluasi.
A. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan pasien (Nursalam, 2001).
Adapun pengkajian kasus pada Ny. W dengan hiperemesis gravidarum didapatkan data pada pengkajian sirkulasi : didapatkan data TD : 100/70 mmHg, pada integritas ego : didapatkan data kecemasan dan ketakutan, pada makanan/ cairan : didapatkan data adanya gangguan pada makan dan mual muntah pada keamanan : didapatkan data adanya kekurangan nutrisi pascanatal dan temp 370c., pada seksulitas : tidak terdapat adanya gangguan, pada interaksi sosial : didapatkan data adanya rasa bersalah. Pada penyuluhan/pembelajaran : didapatkan data ketidaktahuan tentang penyakit.
Sedangkan pada landasan teoritis pada pasien hiperemesis gravidarum, data pada sirkulasi : didapatkan adanya hipertensi dan perdarahan, pada integritas ego : dapat mengekpresikan perasaan tidak adekuat, pada makanan/cairan : didapatkan penambahan berat badan mungkin tidak sesuai dengan masa gestasi dan adanya gangguan pola makan, pada keamanan : adanya infeksi, adanya gangguan kejang dan kekurangan stimulasi/nutrisi pascanatal, pada seksualitas : didapatkan adanya aborsi, kematian janin dan abnormalitas kromosom, pada interaksi sosial : adanya pernikahan antar keluarga dan rasa bersalah, pada penyuluhan/pembelajaran : didapatkan data adanya penyimpangan genetik, latar belakang etnik pada resiko penyimpangan khusus dan penggunaan obat (Doengoes, 2001).
Dari uraian pengkajian didapatkan persamaan data pada pengkajian intehritas ego : dapat mengekpresikan perasaan kecemasan dan ketakutan, pada makanan : didapatkan adanya kekurangan nutrisi pascanatal, temp 370c, pada interaksi sosial : didapatkan data adanya rasa bersalah sedangkan kesenjangan yang penulis dapatkan pada sirkulasi : dimana di tinjauan teoritis didapatkan adanya hipertensi dan perdarahan, sedangkan pada pengkajian sirkulasi TD : 100/70 mmHg, pada seksualitas : di tinjauan teoritis didapatkan adanya aborsi. Kematian janin dan abnormalitas kromosom sedangkan pada pengkajian tidak terdapat adanya gangguan, pada penyuluhan/pembelajaran didapatkan data adanya penyimpangan genetik, latar belakang etnik pada resiko penyimpangan khusus pada penggunaan obat sedangkan di pengkajian didapatkan data ketidaktahuan penyakit.
Dari pengkajian yang penulis lakukan tidak semua yang terdapat pada landasan teoritis terdapat juga dilandasan kasus karena penulis menyesuaikan dengan prioritas masalah yang dijumpai pada Ny. W dengan hiperemesis gravidarum.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial (Hidayat, 2001).
Adapun diagnosa keperawatan yang ditemukan pada tinjauan kasus pada pasien hiperemesis gravidarum adalah :
1. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan ditandai dengan pasien mengatakan takut kehilangan bayinya, pasien tampak cemas, pasien tampak gelisah, pasien menangis jika mual muntah, pasien tampak kurang istirahat.
2. Gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan pasien mengatakan tidak bisa istirahat tidur, pasien tampak mengantuk, Hb : 09,0 gr/dl, pasien hanya tidur 5 jam dalam sehari.
3. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah ditandai dengan pasien mengatakan mengalami mual muntah, K/U lemah, pasien tampak muntah jika makan, pasien hanya menghabiskan ¼ porsi makanan yang disediakan, Hb : 09,0 gr/dl, conjungtiva anemis.
Sedangkan diagnosa keperawatan pada tinjauan teoritis yang timbul pada hiperemesis gravidarum menurut Doengoes (2001) adalah :
1. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah.
2. Ketidaknyamanan berhubungan dengan perubahan fisik dan pengaruh hormonal.
3. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebih.
4. Keletihan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi.
5. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan malnutrisi ibu.
6. Kurang pengetahuan mengenai perkembangan kehamilan yang normal berhubungan dengan perubahan fisiologi/psikologi yang normal.
Persamaan antara diagnosa keperawatan pada tinjauan teoritis dan tinjauan kasus adalah resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah, hal ini disebabkan karena pasien mengalami mual muntah, K/U lemah, muntah jika makan, menghabiskan ¼ porsi makanan yang disediakan, Hb : 09,0 gr/dl, conjungtiva anemis.
Sedangkan kesenjangan yang penulis dapatkan antara diagnosa keperawatan pada landasan teoritis dan tinjauan kasus adalah ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan disebabkan karena pasien takut kehilangan bayinya, pasien cemas, gelisah, menangis jika muntah, kurang istirahat, gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan proses penyakit, disebabkan karena pasien tidak bisa istirahat tidur, mengantuk, Hb : 09,0 gr/dl, tidur hanya 5 jam dalam sehari.
Diagnosa keperawatan yang penulis dapatkan pada tinjauan teoritis dan tinjauan kasus adalah diagnosa keperawatan ketidaknyamanan berhubungan dengan perubahan fisik dan pengaruh hormonal dan diagnosa keperawatan keletihan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energi. Kedua diagnosa keperawatan tersebut tidak penulis angkat disebabkan oleh penulis hanya membatasi 3 diagnosa keperawatan prioritas.
Masalah keperawatan yang penulis dapatkan pada tinjauan teoritis tetapi tidak penulis dapatkan pada tinjauan kasus adalah resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebih tidak penulis temukan pada tinjauan kasus karena pada saat penulis melakukan pengkajian penulis mendapatkan bahwa mata pasien tidak cekung, turgor kulit baik yang menandakan bahwa resiko kekurangan volume cairan tidak terjadi pada pasien. Pada diagnosa resiko tinggi terhadap cedera janin berhubungan dengan malnutrisi ibu tidak penulis temukan pada tinjauan kasus karena pada saat penulis melakukan pengkajian penulis mendapatkan bahwa tidak ada ditemukannya pada tinjauan kasus adanya tanda-tanda cedera janin pada ibu seperti abortus dan keadaan janin terlihat baik. Pada diagnosa kurang pengetahuan mengenai perkembangan kehamilan yang normal berhubungan dengan kurang pemahaman tentang perubahan fisiologi/psikologi yang normal tidak penulis temukan karena pada saat penulis melakukan pengkajian penulis mendapatkan bahwa pasien mampu mengungkapkan permasalahan yang terjadi pada dirinya dan adanya perubahan pada dirinya.
C. Perencanaan
Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan yang meliputi tujuan perawatan, menetapkan pemecahan masalah, dan menentukan tujuan perencanaan untuk mengatasi masalah pasien (Hidayat, 2001).
Setelah penulis menemukan diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus, maka penulis menemukan rencana asuhan keperawatan sesuai prioritas masalah yang dialami pasien.
Pada diagnosa resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah yang bertujuan agar kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi dengan kriteria hasil mual muntah berkurang/hilang, pasien tampak segar, menghabiskan semua makanan yang disediakan, konjungtiva tidak anemis, Hb kembali normal. Rencana tindakan keperawatan adalah timbang berat badan pasien dan pantau tanda-tanda vital, untuk memantau ketidakadekuatan penambahan berat badan pranatl dimasa kehamilan. Berikan makanan sedikt tapi sering dan makanan kecil tambahan yang tepat, bertujuan untuk mengurangi mual muntah. Pantau kadar Hb, untuk mengidentifikasi adanya anemia dan potensial penurunan kapasitas pembawa oksigen ibu. Pertahankan masukan cairan, bertujuan untuk membantu dalam menentukan pengeluaran yang seimbang. Konsultasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet, bermanfaat dalam pemberian diet yang tepat. Beri terapi mual muntah sesuai indikasi, agar mual muntah dapat teratasi.
Pada diagnosa keperawatan yang kedua ansietas berhubungan dengan status kesehatan yang bertujuan agar cemas pasien dapat teratasi dengan kriteria hasil pasien mengatakan bayinya dapat baik-baik saja, tampak rileks, mual muntah hilang, pasien tidak menangis lagi, pasien istirahat dengan tenang. Rencana asuhan keperawatan adalah awasi respon fisiologi, dapat menjadi indikatif derajat takut yang dialami. Catat petunjuk perilaku pasien dalam mengekpresikan cemas, untuk mengetahui derajat takut yang dialami pasien. Berikan lingkungan tenang dan keterampilan koping. Berikan informasi yang akurat dan jawab dengan jujur, bertujuan untuk membuat keputusan yang didasarkan atas pengetahuan pasien. Dorong orang terdekat tinggal dengan pasien, untuk membantu menurunkan takut melalui pengalaman menakutkan menjadi seorang diri. Jelaskan prosedur dan arti gejala-gejala hiperemesis gravidarum, bertujuan untuk membantu menurunkan rasa takut dan meningkatkan rasa kontrol terhadap situasi.
Pada diagnosa keperawatan yang ketiga gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan proses penyakit yang bertujuan agar pola istirahat tidur terpenuhi dengan kriteria hasil istirahat tidur pasien terpenuhi, Hb dalam batas normal, pasien tidur dengan cukup. Rencana asuhan keperawatan adalah tentukan siklus tidur bangun yang normal, untuk membantu menyusun prioritas yang realistik. Anjurkan tidur siang 1-2 jam setiap hari dan 8 jam setiap tidur macam, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan metabolik berkenaan dengan pertumbuhan jaringan ibu/janin. Pantau kadar Hb, karena kadar Hb rendah mengakibatkan kelelahan lebih besar. Rencanakan periode istirahat adekuat, bertujua untuk mencegah kelelahan berlebih. Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari, bertujuan untuk memungkinkan berlanjutnya aktivitas yang dibutuhkan. Pantau tanda-tanda vital, untuk mencegah kolapsnya sirkulasi sebagai akibat dari stres.
D. Implementasi
Pelaksanaan/implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (iyer et al, 1996 dalam buku Hidayat, 2001).
Adapun implementasi yang diberikan adalah sebagai berikut :
Pada diagnosa keperawatan resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah, penulis melakukan tindakan keperawatan yang sudah direncanakan pada intervensi keperawatan. Diantaranya adalah menimbang berat badan pasien, BB ibu = 60 kg. Mempertahankan masukan cairan, memasang infus RL 30 tetes/menit + drip neurobion. Memantau kadar Hb, Hb = 09,0 gr/dl. Konsultasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet, diet yang diberikan MII. Memberikan makanan sedikit tapi sering. Pasien makan diet MII dan menghabiskan ¼ porsi yang disediakan. Melakukan kolaborasi dalam memberikan terapy, dengan injeksi bolus tomit 1 ampul/8 jam dan ranitidine 1 ampul/8 jam.
Pada diagnosa keperawatan ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan, penulis melakukan tindakan keperawatan mengatasi respon fisiologi, mencatat petunjuk perilaku pasien dalam mengekpresikan cemas, menjelaskan penyebab dan arti gejala-gejala dari hiperemesis gravidarum, berikan lingkungan yang tenang untuk istirahat, mendorong orang terdekat untuk tinggal dengan pasien, memberikan informasi yang akurat dan tanggung jawab dengan jujur.
Pada diagnosa keperawatan gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan proses penyakit, penulis melakukan tindakan keperawatan menentukan siklus tidur yang normal, yaitu menganjurkan pasien tidur 8 jam pada malam hari dan 1-2 jam pada siang hari. Memantau kadar Hb, Hb : 09,0 gr/dl. Merencanakan periode istirahat adekuat, dengan menganjurkan pasien istirahat selama di rumah sakit, memantau tanda-tanda vital TD : 100/70 mmHg, RR : 20 tetes/i, Puls : 80x/i, Temp : 370c.
E. Evaluasi
Evaluasi adalah tahapan terakhir akhir dari proses keperawatan. Evaluasi menyediakan nilai informasi mengenai pengaruh intervensi yang telah direncanakan dan merupakan perbandingan dari hasil yang telah dibuat pada tahap perencanaan (Hidayat, 2001).
Setelah penulis melakukan tindakan keperawatan maka langkah terakhir dari proses keperawatan adalah mengevaluasi sejauhmana tindakan-tindakan yang telah diberikan pada pasien berhasil atau tidak. Hal ini ditunjang oleh adanya kerjasama yang efektif antara tenaga kesehatan dan keluarga dalam fasilitas dan sarana kesehatan. Adanya keberhasilan tersebut dapat dilihat dari evaluasi yang telah dicapai antara lain hasil evaluasi masalah resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah teratasi, ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan proses penyakit juga teratasi dan selama 3 (tiga) hari perawatan tidak dijumpai masalah lain atau yang baru pada pasien, pasien acc pulang.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah penulis melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan hiperemesis gravidarum di Ruang Rawat Inap Kebidanan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan, maka dapat diambil kesimpulan :
1. Hiperemesis gravidarum adalah morning sickness dengan gejala muntah terus menerus, makan sangat kurang sehingga menyebabkan gangguan suasana kehidupan sehari-hari.
2. Pengkajian pada Ny. W dengan hiperemesis gravidarum dilakukan secara komprehensif dengan cara wawancara (interview), pengamatan (observasi), pemeriksaan fisik dan study dokumentasi dengan mempelajari status-status pasien dan data lain seperti rekam medik.
3. Dari hasil pengkajian pada Ny. W dengan hiperemesis gravidarum didapatkan data pasien mengatakan mengalami mual muntah, muntah jika makan, menghabiskan ¼ porsi makanan yang disediakan, Hb : 09,0 gr/dl, conjungtiva anemis, pasien mengatakan takut kehilangan bayinya, cemas, gelisah, menangis jika mual muntah, kurang istirahat, pasien mengatakan tidak bisa tidur, mengantuk, Hb : 09,0 gr/dl, tidur hanya 5 jam dalam sehari.
4. Diagnosa yang didapatkan pada Ny. W adalah resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah, ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan, perubahan pola istirahat tidur berhubungan dengan proses penyakit.
5. Tujuan intervensi resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah, ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan, gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan proses penyakit adalah agar kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi, cemas dapat teratasi dan pola istirahat tidur terpenuhi.
6. Pelaksanaan yang telah diberikan pada NY. W dengan hiperemesis gravidarum dilakukjan secara dependent, independent dan kolaboratif, untuk mencapai hasil yang optimal.
7. Berdasarkan hasil evaluasi yang penulis lakukan selama pelaksanaan asuhan keperawatan pada Ny. W dengan hiperemesis gravidarum dapat dilihat keberhasilan seperti nutrisi pasien terpenuhi, tanda-tanda vital dalam batas normal, pasien kelihatan tenang, istirahat terpenuhi.
8. Semua tindakan keperawatan yang dilakukan, didokumentasikan pada status pasien.
B. Saran
1. Diharapkan kepada pasien dan keluarga setelah dilakukan tindakan keperawatan dan pendidikan kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan lebih mengerti tentang hiperemesis gravidarum yang telah menyebabkan mual muntah.
2. Diharapkan kepada pembaca dengan adanya karya tulis ilmiah ini dapat meningkatkan minat baca sehingga dapat meningkatkan pengetahuan khususnya tentang hiperemesis gravidarum.
3. Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan pada institusi untuk dapat memberikan waktu semaksimal mungkin serta menambah referensi buku-buku terbaru yang memadai agar hasil yang diharapkan sesuai yang diharapkan.
4. Diharapkan kepada pihak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan agar lebih meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada pasien baik bio, psikososial dan spiritual tanpa membedakan derajat dan tingkat ekonominya.
DAFTAR PUSTAKA


Doengoes, Marilynn. E, (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC.

Doengoes, Marilynn. E, (2001). Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Edisi 2. Jakarta : EGC.

Effendy, Nasrul, (1998). Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Edisi 2. Jakarta : EGC.

Hidayat, A. Aziz Alimul, (2001). Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan. Jakarta : EGC.

Mansjoer, Arif, (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius.

Maimunah, Siti, (2005). Kamus Istilah Kebidanan. Jakarta : EGC.

Nursalam, (2001). Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 1. Jakarta : EGC.

Nugroho, Taufan, (2001). Buku Ajar Obstetri. Yogyakarta : Nuha Medika.

Tiran, Denise, (2008). Mual dan muntah kehamilan. Jakarta : EGC.

Varney, Helen, (2006). Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4. Jakarta : EGC.

Wiknjosastro, Hanifa, (2007). Ilmu Kebidanan. Edisi 3. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Yeyeh, Rukiyah Al, (2009). Asuhan Kebidanan I (Kehamilan). Jakarta : TIM.

________, (2009), ebdosama.blogspoy.com. Dikutip tanggal 16 Juli 2010.

________, (2009), www.id.answer.yahoo.com. Dikutip tanggal 16 Juli 2010.

________, (2008), www.repository.usu.ac.id. Dikutip tanggal 4 Agustus 2010.

Asuhan Keperawatan Pada Ny. M dengan Hipertensi di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam di Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu keperawatan adalah suatu ilmu yang mempelajari pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Pemenuhan dasar tersebut diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan dalam praktik keperawatan profesional. Untuk tercapainya suatu asuhan keperawatan profesional diperlukan suatu pendekatan yang disebut ”proses keperawatan dan dokumentasi” keperawatan sebagai data tertulis yang menjelaskan tentang penyampaian informasi, penerapan sesuai standar praktek dan pelaksanaan proses keperawatan (Nursalam, 2001).
Konsep keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang bersifat profesional dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia (Biologis, Psikologis, Sosial dan Spritual) yang dapat ditunjukkan pada individu, keluarga atau masyarakat dalam rentang sehat sakit (Hidayat, 2004).
Proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang sistematis dalam melakukan asuhan keperawatan pada individu, kelompok dan masyarakat yang berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah dari respon pasien terhadap penyakitnya. Proses keperawatan digunakan untuk membantu perawat melakukan praktek keperawatan secara sistematis dalam memecahkan masalah keperawatan dengan menggunakan metode ini, perawat dapat mendemontrasikan tanggung gugat dan tanggung jawab pada klien, sehingga kualitas praktek keperawatan dapat meningkat (Wartonah, 2006).
Hipertensi dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian di Amerika Serikat (AS) sekitar seperempat jumlah penduduk dewasa menderita hipertensi dan insidennya lebih tinggi dikalangan afro-Amerika setelah usia remaja. Penderita hipertensi tidak hanya beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi juga menderita penyakit lain seperti penyakit saraf, ginjal, dan pembuluh darah, makin tinggi tekanan darah maka makin besar resikonya (Sylvia, 2005).
Hipertensi merupakan peningkatan yang persisten dari tekanan pembuluh darah arteri, yaitu tekanan diastolik diatas 95 mmHg. Tekanan darah normal biasanya tekanan sistolik tidak melebihi 140 mmHg dan diastolik tidak melebihi 90 mmHg. Namun patokan tekanan darah normal tersebut individual sifatnya. Sebanyak 90% kasus penyebab hipertensi tidak diketahui namun juga sekunder akibat penyakit jantung/ginjal, diabetes, dan tumor di kelenjar adrenal, obat-obatan maupun kehamilan (Health, 2009).
Hipertensi dapat didevinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada posisi manula hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer, 2001). Hipertensi menyebabkan beberapa kelainan serius, apabila resisten terhadap ventrikel kiri yang harus memompa darah meningkat untuk jangka waktu yang lama, maka otot jantung mengalami hipertropi (Ganong, 2002).
Berdasarkan survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 kelemahan akibat penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia sebesar 26,3%. Sedangkan data kematian dirumah sakit tahun 2005 sebesar 16,7%. Faktor resiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah adalah hipertensi disamping hiperkolesterollemia dan diabetesmilitus (Madina, 2001).
Di Indonesia hipertensi merupakan penyebab kematian nomor dua dengan prevalensi 6,4%, setelah jantung koroner, faktor sosial dan gaya hidup yang tinggi yang mempengaruhi tingginya angka kematian. Insiden hipertensi cenderung meningkat tajam angka kematiannya, baik di negara berkembang maupun tidak (Kalbe, 2009).
Menurut data yang diperoleh dari Rekam Medik Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan, jumlah penderita hipertensi pada tahun 2009 sebanyak 140 orang (6,6%) dari jumlah pasien 2852 orang, dan tahun 2010 dari bulan Januari s/d Maret 2010, 42 orang (4,01%) pasien hipertensi yang dirawat diruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
Atas dasar data ilmiah ini maka sangat dibutuhkan peran dan fungsi perawat secara maksimal dan komperehensif untuk penanganan masalah hipertensi. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengambil kasus ini yang penulis tuangkan dalam bentuk study kasus diruang penyakit dalam dengan kasus hipertensi study kasus ini penulis laksanakan selama 3 (tiga) hari, dengan menetapkan proses-proses keperawatan dan membuatnya dalam bentuk karya tulis ilmiah dengan judul ”ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. M Dengan HIPERTENSI DI RUANG RAWAT INAP PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. H. YULIDDIN AWAY TAPAKTUAN”.
B. Batasan Penulisan
Dalam Karya Tulis Ilmiah ini penulis mendapat kasus di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan. Penulis memberikan asuhan keperawatan mulai 15-17 Juli 2010 pada Ny. M, umur 58 tahun, alamat Meukek, pekerjaan Ibu Rumah Tangga.
Adapun diagnosa yang timbul pada pasien hipertensi menurut Doenges (1999):
1. Peningkatan curah hujan berhubungan dengan vasokontriksi
2. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ditandai dengan anoreksia
4. Koping individu infrektif berhubungan dengan metode koping tidak efektif
5. Kurang pengetahuan mengenai pengobatan berhubungan dengan informasi terbatas
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
Pada saat penulis melaksanakan praktek klinik keperawatan penulis mendapatkan 3 masalah /diagnosa keperawatan pada Ny. M dengan hipertensi.
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (Nursalam, 2000).
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Agar mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata serta menambah pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi diruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan (Hidayat, 2003).
2. Tujuan Khusus
Menurut Wartonah (2004) diharapkan penulis mampu :
a. Melakukan pengkajian keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi diruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
b. Menganalisa data pada Ny. M dengan hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
c. Merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
d. Menyusun rencana keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
e. Melaksanakan tindakan-tindakan keperawatan keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
f. Mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah diberikan pada Ny.M dengan hipertensi keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
g. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr.H.Yuliddin Away Tapaktuan.
D. Metode Penulisan
Metode yang penulis gunakan dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode deskriptif, yaitu rancangan yang bertujuan menerangkan masalah keperawatan yang terjadi pada suatu penyakit yang berdasarkan distibutif tempat waktu, jenis kelamin dan lain-lain (Hidayat, 2003).
Metode penyusunan ini penulis lakukan melalui :
1. Study kepustakaan
Dilakukan sebagai bahan referensi untuk menjelaskan gambaran teoritis hipertensi dengan cara penerapan asuhan keperawatan.
2. Study kasus
Penelitian langsung terhadap kasus untuk mengetahui suatu masalah secara nyata yang penulis laksanakan di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan selama 3 (tiga) hari dari tanggal 15 Juli 2010 dengan teknik pendekatan berupa :
a. Wawancara
Komunikasi secara langsung dengan pasien sehubung dengan masalah yang timbul pada hipertensi
b. Pemeriksaan fisik
Memeriksa keadaan fisik pasien sehubungan dengan masalah yang timbul pada hipertensi.
c. Observasi
Mengamati dan mengevaluasi secara langsung mengenal perkembangan status kesehatan pasien.
d. Study dokumentasi
Mempelajari status kesehatan pasien sebelum dan selama rawatan serta mencatat catatan medis sebagai data penunjang asuhan keperawatan.
e. Pemeriksaan penunjang
Untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap tentang keadaan kesehatan pasien ataupun pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan radiologi dan lab (Nursalam, 2001).




E. Sistematika Penulisan
Karya tulis ilmiah ini disusun secara sistematika yang terdiri dari :
BAB I Pendahuluan : berisikan Latar Belakang, Batasan Penulisan, Tujuan Penulisan terdiri dari Tujuan Umum dan Tujuan Khusus, Metode Penulisan dan Sistematika Penulisan.
BAB II Landasan Teoritis : berisikan Konsep Dasar Hipertensi terdiri dari Pengertian, Etiologi, Patofisiologi, Manifestasi Klinis, Komplikasi, Penatalaksanaan, Konsep Dasar Asuhan Keperawatan terdiri dari Pengkajian, Analisa Data, Diagnosa Keperawatan, Pelaksanaan, Evaluasi.
BAB III Tinjauan Kasus : berisikan Kajian, Analisa Data, Diagnosa Keperawatan, Rencana Asuhan Keperawatan, Implementasi dan Evaluasi.
BAB IV Pembahasan : berisikan Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Intervensi, Implementasi, Evaluasi.
BAB V Penutup : berisikan Kesimpulan dan Saran
BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Hipertensi
1. Pengertian
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan darah diastolik > 90 mmHg, atau bila pasien memakai obat anti hipertensi (Mansjoer, 2000).
Hipertensi adalah merupakan tekanan darah tinggi yaitu tekanan diastolik mencapai 140 mmHg atau lebih terapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal, hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah, tekanan diastol terus meningkat sampai usia 80. Kemudian berkurang perlahan-lahan atau bahkan menurun drastis (Dingharmanto, 2009).
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, tekanan darah tinggi mempunyai rentang dari tekanan darah normal tinggi sampai hipertensi maligna. Keadaan ini dikatagorikan sebagai primer/esensial (hampir 90% dari semua kasus) atau sekunder terjadi sebagai akibat dari kondisi patologi yang dapat dikendali dan dapat diperbaiki (Doengoes, 1999).
Hipertensi merupakan gangguan nutrisi yang juga disebabkan oleh berbagai masalah pemenuhan kebutuhan nutrisi seperti penyebab dari adanya obesitas serta asupan kalsium, natrium, dan gaya hidup berlebihan (Hidayat, 2006).
2. Etiologi Hipertensi
a. Penyebab hipertensi secara pasti belum diketahui, pada sekitar 95% kasus hipertensi bentuk hipertensi idiopatik (Sylvia, 2005).
b. Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu :
1) Hipertensi esensial yaitu hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik, terdapat sekitar 95% kasus, banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpati sistem renin-agiotensin, defek dalam ekresinya. Peningkatan Na dan Ca, intraselular dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia.
2) Hipertensi sekunder atau hipertensi renal, terdapat sekitar 5% kasus, penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiper aldosteronisme, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan dan lain-lain (Mansjoer, 2000).

c. Pada lebih dari 90% pasien yang menderita hipertensi peningkatan tekanan darah, penyebab hipertensi tidak diketahui dengan jelas dan bisa dikaitkan dengan hipertensi esensial (idiopatik) (Ganong, 2002).
d. Secara umum masing-masing faktor tidak sama kuatnya untuk dapat menimbulkan hipertensi pada individu tertentu faktor-faktor tersebut antara lain keturunan, konsumsi garam, obesitas, sosial, budaya, dan lain-lain sebagainya (Smeltzer, 2000).
3. Patofisiologi
Menurut Smeltzer, 2001 patofisiologinya adalah :













4. Manifestasi klinis
a. Tanda dan gejala hipertensi adalah :
1) Sakit kepala
2) Kelelahan
3) Mual
4) Muntah
5) Sesak nafas
6) Gelisah
7) Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung, dan ginjal.
Pada penderita hipertensi berat bisa terjadi penurunan kesadaran dan bahkan koma. Karena terjadi pembengkakan otak keadaan ini disebut ensefalopati hipertensi, yang memerlukan penanganan segera (Dingharmanto, 2009).
Adapun tanda dan gejala hipertensi menurut Smeltzer (2001) adalah : pada pemeriksaan fisik mungkin hendak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang tinggi tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina. Penyempitan pembuluh darah dan kasus berat edema pupil. Individu yang menderita hipertensi kadang tidak nampak gejala sampai bertahun-tahun, gejala bisa ada biasanya menunjukkan adanya kerusakan vaskuler dan manifestasi yang khas sesuai sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan, penyakit arteri koroner dengan angina adalah gejala yang paling menyertai inpertensi, hipertrovi pentrikel kiri terjadi sebagai respon peningkatan, bukan kerja ventrikel. Saat dipaksa berkontraksi melawan tekanan sistemik yang meningkat, apabila jantung tidak mampu lagi menahan beban kerja maka dapat terjadi gagal jantung kiri. Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada makanan hari) dan ozolemia (peningkatan hidrogen urea darah, BUN dan kreatinin) keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transon yang manifestasi sebagai paralisis sementara pada suatu sisi (hemi plegi) atau gangguan tajam penglihatan pada penderita stroke, dan pada penderita hipertensi disertai serangan iskemia, insiden infakr otak mencapai 80%.
Menurut Mansjoer (2001) tanda dan gejala hipertensi adalah peningkatan tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala bila demikian gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung, gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epitaksis, marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang, dan pusing.
5. Komplikasi
Menurut Mansjoer (2010) adapun komplikasi hipertensi yang sering terjadi adalah :
a. Stroke, yaitu komplikasi lanjur daripada hipertensi yang sering terjadi
b. Serangan jantung
c. Dekompensasi jantung
d. Serta gagal ginjal
e. Gangguan kehamilan
6. Penatalaksanaan
Tujuan di deteksi dan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan, tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik dibawah 140 mmHg dan tekanan diastolik dibawah 90 mmHg dan mengontrol faktor resiko, hal ini dapat dicapai melalui memodifikasi gaya hidup saja, atau dengan obat anti hipertensi.
Kelompok resiko dikatagorikan menjadi :
a. Pasien dengan tekanan darah pembatas atau tingkat 1, 2, dan 3 tanpa gejala penyakit kardiovaskuler, kerusakan organ, atau faktor resiko lainnya, bila dengan memodifikasi gaya hidup tekanan darah belum dapat diturunkan, maka harus diberikan obat anti hipertensi.
b. Pasien tanpa penyakit kardiovaskuler atau kerusakan organ lain, tetapi memiliki satu atau lebih faktor resiko yang tertera diatas, namun bukan DM, jika terdapat beberapa faktor maka harus cepat diberikan obat anti hipertensi.
c. Pasien dengan gejala klinis penyakit kardiovaskuler atau kerusakan organ yang jelas faktor resiko, usia lebih dari 60 tahun, merokok, diabetes militus, jenis kelamin (wanita menopouse) riwayat penyakit kardiovaskuler dalam keluarga.
Penatalaksanaan hipertensi juga dapat menganjurkan pasien untuk memakai obat anti hipertensi dan turunkan jumlah dosisnya yang disediakan dengan mematuhi langkah-langkah sebagai berikut :
a. Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan (indek masa tubuh > 27 kg)
b. Membatasi alkohol
c. Meningkatkan aktivitas fisik aerobik (30-35 menit/hari)
d. Mengurangi asupan natrium (< 100 mmol Na/2.4 gr Na/6 gr Nacl/hari).
e. Mempertahankan asupan kalium yang adekuat (90 mmHg/hari)
f. Mempertahankan asupan kalium dan magnesium yang adekuat
g. Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan.
Pada beberapa pasien mungkin dapat dimulai terapi dengan lebih dari satu obat secara langsung. Pasien dengan tekanan darah 200/120 mmHg harus diberikan terapi dengan segera dan jika terdapat gejala kerusakan organ harus dirawat dirumah sakit (Mansjoer, 2000).
Penatalaksanaan hipertensi pada pasien adalah mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta mencapai dan mempertahankan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg, efektifitas setiap program ditentukan oleh derajat hipertensi komplikasi biaya perawatan dan kualitas hidup sehubungan dengan terapi.
Menurut Smeltzer 2001 beberapa penemuan menunjukkan bahwa pendekatan non farmakologis termasuk penurunan berat badan. Pembatas alkohol, natrium dan tembakau, latihan dan relaksasi merupakan intervensi wajib yang harus dilakukan pada setiap terapi-anti hipertensi, apabila penderita hipertensi ringan berada dalam resiko tinggi (pria merokok) atau bila tekanan darah diastoliknya menetap di atas 85 mmHg atau 95 mmHg dan sistolik diatas 130 sampai denghan 139 mmHg maka perlu dimulai terapi obat-obatan.
Menurut Mansjoer (2000) skema Penatalaksanaan Hipertensi adalah sebagai berikut :


























B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan pasien (Nursalam, 2001).
Pada pengkajian, data yang perlu dikaji adalah identifikasi pasien, meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, penanggung jawab, riwayat penyakit, riwayat penyakit keturunan dan kesehatan (Nursalam, 2001).
Yang perlu dikaji pada pasien dengan hipertensi menurut Doenges (1999), yaitu :
a. Aktivitas dan istirahat
Gejala : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton
Tanda : Frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung takipnea.
b. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi, arterikorosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit serebrovaskuler.
Tanda : Kenaikan TD (pengukuran serial dari kenaikan tekanan darah diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Nadi (denyut jelas dari karotis, jugularis radiasis, perbedaan denyut seperti denyut femoralis lambat sebagai kompensasi denyutan radiasis atau brakialis, denyut apikal, frekwensi irama, takikardia, berbagai disritmia.
1) Bunyi jantung terdengar S2 pada dasar S3 (CHF dini) S4 (pengerasan ventrikel kiri/hipertrovi pentrikel kiri.
2) Desiran vaskuler terdengar diatur karotis.
3) DVJ (Distensi Vena Jugularis) (konghesif vena).
4) Ekstemitas : perubahan warna kulit, suhu dingin, pengisian kapiler mungkin lambat tertunda (Vasokontriksi)
5) Kulit pucat sianosis dan diaforesis (konghesif/ impoksemia) kemerahan (Feoktomosiroma).
c. Integritas Ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, eukoria atau marah kronik (dapat mengindikasikan kerusakan serebral). Faktor-faktor stres multipel (hubungan yang berkaitan dengan pekerjaan).
Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinu pertahanan, tangisan yang meledak, gerak tangan sempit, otot muka tegang (khususnya tentang mata) gerakan fisik cepat pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.
d. Eliminasi
Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (seperti infeksi abstruktif atau riwayat penyakit masa lalu).
e. Makanan dan cairan
Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol seperti makanan yang digoreng-goreng, keju, telur, gula-gula yang berwarna hitam, mual muntah, perubahan berat badan akhir-akhir ini (meningkat turun) riwayat penggunaan diuretik.
Tanda : Berat badan normal atau obesitas, adanya edema, kongesti vena, DVJ (Distensi Vena Jugularis) glikosusia (hampir 10% pasien diabetik adalah diabetes).
f. Neurosensori
Gejala : Keluhan pening/pusing berdenyut, sakit kepala, suboksifital (terjadi saat bangun dan menghilang, skala spontan setelah beberapa jam)
1) Episode kebas dan kelemahan pada satu sisi tubuh
2) Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan, kabur).
3) Episode efitaksis
Tanda : Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, efek proses pikir atau memori (ingatan). Respon motorik, penurunan kesehatan genggaman tangan dan atau reflek tendon dalam.
g. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung) nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudikasi sakit kepala okapital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya.


h. Pernafasan
Gejala : Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas/kerja takipnea, ortopnea, dispnea nonturnal patoksismal, batuk tanpa sputum, riwayat merokok.
Tanda : Bunyi nafas tambahan, distres respirasi/penggunaan otot aksesori pernafasan, sianosis.
i. Keamanan
Keluhan/gejala : Gangguan koordinasi/cara berjalan, episode perestasia, unilateral, transen, hipotensi posrural.
j. Pembelajaran/penyuluhan
Gejala : Faktor-faktor resiko keluarga : hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM, penyakit cerebrosvaskular ginjal. Faktor-faktor resiko etnik seperti orang Afrika-Amerika, Asia Tenggara. Penggunaan PUKB atau hormon lain penggunaan obat-obatan/alkohol.
Pertimbangan/rencana pemulangan : DRG menunjukkan rata-rata
- Bantuan dengan pemantauan lamanya riwayat 4-2 hari diri TD.
- Perubahan dalam terapi obat.
2. Analisa Data
Analisa data adalah pemeriksaan dan mengkatagorikan informasi untuk mendapatkan sebuah kesimpulan tentang kebutuhan pasien (Doenges, 1999).
Ada 2 tipe data, yaitu :
a. Data subjektif, adalah data yang didapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian.
1) Mengatakan nyeri yang ada dibagian kepala
2) Mengatakan bagian kuduk terasa kaku
3) Mengatakan tidak adanya nafsu makan
4) Mengatakan muntah pada saat makan
5) Mengatakan seluruh tubuh terasa lemas
6) Mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas.
b. Data objektif, adalah data yang dapat di observasi dan diukur.
1) Aktivitas dan istirahat adanya gejala kelelahan dengan tanda frekuensi jantung meningkat
2) Sirkulasi dengan ditandai adanya riwayat hipertensi dengan gejala peningkatan tekanan darah.
3) Integritas ego dengan gejala ansietas dan depresi dengan tanda suasana hati gelisah, otot muka tegang.
4) Eliminasi adanya gejala gangguan ginjal dengan tanda infeksi dibagian perut dan ginjal.
5) Makanan dan cairan adanya gejala makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam dengan tanda berat badan normal atau obesitas.
6) Neurosensori adanya gejala keluhan pening/pusing dengan tanda penurunan kesehatan gangguan tangan dan reflek tendom dalam.
7) Pernafasan dengan gejala dipnea dengan tanda bunyi nafas tambahan seperti rongchi.
8) Nyeri ketidaknyamanan dengan gejala nyeri hilang timbul pada tungkai dan sakit kepala dengan tanda lemas dan pusing rasa tidak nyaman.
9) Keamanan dengan gejala cara berjalan dengan tanda melemasnya anggota gerakan.
10) Pembelajaran penyuluhan.
3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dan individu dan kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberi intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan pembatasan mencegah dan merobah (Carpenito, 2000).
Adapun diagnosa keperawatan pada tinjauan teoritis yang timbul pada hipertensi menurut Doengoes (1999) adalah :
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan vasokontriksi
Tujuan : Menetralkan tekanan darah (dan beban kerja jantung).
Kriteria hasil :
1) Mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat diterima.
2) Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal pasien.
No Intervensi Rasional
1.













2.







3.







4.



5.





6.




7. Pantau TD, ukur pada kedua tangan paha untuk evaluasi awal, gunakan ukuran maset yang tepat dan teknik yang akurat.










Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan ferever.






Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas.






Catat edema umum/tertentu.



Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi.




Siapkan untuk pembedahan bila ada indikasi.



Diuretik 100p mis : furosemid asam etakmik, bumeretanid. Hipertensi berat di klasifikasikan pada orang dewasa sebagai peningkatan tekanan diastolik sampai 130, hasil pengukuran diastolik diatas 130 dipertimbangkan sebagai peningkatan pertama kemudian maligna, hipertensi sistolik juga merupakan faktor resiko yang ditentukan untuk penyakit serebrosvaskuler dan penyakit iskemi jantung bila tekanan diastolik 90-115.

Denyutan karotis, jugularis dan pemoralis mungkin teramati/ terplapasi denyut pada tungkai mungkin menurun mencerminkan efektari vasokontriksi dan kongestif vena.

S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertiova atnum (peningkatan volume/tekanan atnum) perkembangan S3 menunjukkan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi.

Dapat mengidentifikasi gagal jantung kerusakan ginjal atau vaskuler.

Pembatasan ini dapat menangani retensi cairan dengan respon hipertensif, dengan demikian menurunkan beban kerja jantung.

Bila hipertensi berhubungan dengan adanya feokromosidame maka pengangkatan tumor akan memperbaiki kondisi.

Obat ini menghasilkan diusesis kuat dengan menghambat resopsi natrium dan klorida dan merupakan anti hipertensi efektif, khususnya pada pasien yang resisten terhadap diazit atau mengalami kerusakan.

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan : Memenuhi aktivitas yang dilakukan
Kriteria hasil :
1) Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan
2) Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
3) Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi
No Intervensi Rasional
1.








2.






3. Kaji respon pasien terhadap aktivitas perhatikan frekwensi nadi lebih dari 20 kali permenit diatas frekwensi istirahat, peningkatan TD yang nyata selama/sudah beraktifitas dispnea, nyeri dada, keletihan dan kelemahan yang berlebihan, diafotesis pusing dan pingsan.

Intruksi pasien tentang teknik penghematan energi mis : menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir rambut atau penyakit gigi, melakukan aktivitas dengan perlahan.

Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawat diri terhadap jika dapat ditoleransi, berikan bantuan sesuai kebutuhan. Menyebutkan parameter pembantu dalam mengkaji respon fisiologi terhadap stres aktivitas dan bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.


Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi juga membantu keseimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen.


Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba, memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.

c. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
Tujuan : Menghilangkan nyeri secara bertahap.
Kriteria hasil :
1) Melaporkan nyeri ketidaknyamanan hilang/terkontrol.
2) Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan.
No Intervensi Rasional
1.


2.






3.





4.







5.





6. Mempertahankan tirah baring selama fase akut.

Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan rasa sakit kepala, mis : kompres dingin pijat punggung dan leher, tenang dan redupkan lampu kamar.


Hilangkan/minimalkan aktivitas yang berlebihan yang dapat meningkatkan sakit kepala misal : mengejan saat BAB, batuk panjang dan membungkuk.

Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.






Berikan cairan, makanan lunak perawatan mulut yang teratur bila terjadi pendarahan hidung atau kompres hidung telah dilakukan untuk menghentikan pendarahan.

Berikan sesuai indikasi analgesik.


Meminimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi.

Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serehral dan yang memperlambat/ memblok respon sispatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasi.

Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala, pasien bisa hipotensi postural.


Meningkatkan kenyamanan umum kompres hidung dapat mengganggu menelan atau membutuhkan nafas dengan mulut, menimbulkan tagnasi sekresi oral dan mengeringkan membran mukosa.

Menurunkan dan mengontrol nyeri dan menurunkan rangsangan saraf simpatis.



Dapat mengurangi tegangan dan ketidaknyamanan yang diperberat oleh stres.

d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
Tujuan : Nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil :
1) Berat badan bertambah
2) Lipatan kulit insep lebih besar dari 15 mm pada pria dan 25 pada wanita.
3) Melaporkan atau terobservasi disfungsi pola makan.
No Intervensi Rasional
1.





2.











3.





4.





5.






6. Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan.



Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam dan gula sesuai indikasi.








Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan.




Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diit.




Instruksikan dan bantu memilih makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur, es krim, daging) dan kolesterol (daging berlemak, kuning telur, produk kalengan, jeroan)

Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi. Kegemukan adalah resiko tambahan pada tekanan darah tinggi karena di proporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan peningkatan masa tubuh.

Kesalahan biasa makan menunjang terjadinya ateloroklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk hipertensi dan komplikasi misalnya, stroke, penyakit ginjal, gagal ginjal, kelebihan masukan garam memperbanyak volume cairan intravaskuler dan dapat merusak ginjal, yang lebih memperburuk hipertensi.

Motivasi untuk penurunan berat badan adalah internal, individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan, bila tidak maka program sama sekali tidak berhasil.

Mengidentifikasi kekuatan/ kelemahan dalam program diit terakhir membantu dalam menentukan kebutuhan individu untuk penyesuaian/ penyuluhan.

Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis.



Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit individual.

e. Koping individu in efektif berhubungan dengan harapan yang tak terpenuhi.
Tujuan : Memenuhi harapan yang belum terpenuhi.
Kriteria hasil :
1) Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekwensi.
2) Menyatakan kesadaran kemampuan koping, kekuatan pribadi.
3) Mendemontrasikan penggunaan keterampilan/metode koping efektif.
No Intervensi Rasional
1.






2.






3.




4.






5. Kaji efektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku, mis : kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpastisivasi dalam rencana pengobatan.

Catat laporan penggunaan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala ketidakmampuan untuk mengatasi menyelesaikan masalah.

Bantu pasien untuk mengidentifikasi stresor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasi.

Libatkan pasien dalam perencanaan keperawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan.



Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu, bantu untuk menyesuaikan ketimbang membatalkan tujuan dari/keluarga. Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang, mengatasi hipertensi kronik dan mengintegrasi terapi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari.

Manifestasi mekanisme kopinh mal adaptif mungkin merupakan malkator marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentuan utama TD mastol.


Pengenalan terhadap stresor adalah langkah pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap stesor.


Keterlibatan memberikan pasien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan, memberikan keterampilan koping, dan dapat meningkatkan kerjasama dalam regimen terapeutik.

Perubahan yang perlu dipnositaskan secara kaustik untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya.



f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi
Tujuan : informasi terpenuhi
Kriteria hasil :
1) Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan.
2) Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan.
3) Mempertahankan TD dalam parameter normal.
No Intervensi Rasional
1.











2.









3.






4. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat.










Tetapkan dan nyatakan batas TD normal, jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal dan otak.






Hindari mengatakan TD ”normal” dan gunakan istilah ”terkontrol dengan baik” saat menggambar TD pasien dalam batas yang diinginkan.


Bahas pentingnya menghentikan merokok dan bantu pasien dalam membuat rencana untuk berhenti merokok. Kesalahan konsep dan menyangkut diagnosa karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minat pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan prognosis, bila pasien tidak menerima realitas bahwa membutuhkan pengobatan kontinu, maka perubahan perilaku tidak akan dipertahankan.

Membenarkan dasar untuk pemahaman tentang peningkatan TD dalam mengklasifikasi istilah medis yang sering digunakan. Pemahaman bahwa TD tinggi dapat terjadi tanpa gejala adalah ini untuk memungkinkan pasien melanjutkan pengobatan meskipun ketika merasa sehat.

Karena pengobatan untuk hipertensi adalah sepanjang kehidupan, maka dengan penyampaian ide ”terkontrol” akan membantu pasien untuk memahami kebutuhan untuk melanjutkan pengobatan/medikasi.
Nikotin meningkatkan pelepasan katekolamin, mengakibatkan peningkatan frekwensi jantung, TD dan vasokontriksi, mengurangi oksigenasi jaringan dan meningkatkan bahan kerja miokardium.

4. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana disusun dan ditujukan pada masing-masing order untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan, tujuan dan pelaksanaan adalah membantu klien mencapai tujuan yang telah diterapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping (Nursalam, 2001).
Tindakan keperawatan meliputi tindakan independen, dependen dan interdependen :
a. Independen yaitu tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya.
b. Dependen yaitu tindakan yang dilakukan oleh perawat atas petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya.
c. Interdependen yaitu tindakan keperawatan yang memerlukan suatu kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya (Nursalam, 2001).
5. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaan sudah dicapai.
Evaluasi merupakan bagian integral pada setiap tahap proses keperawatan, pengumpulan data perlu direvisi untuk menentukan apakah informasi yang telah dikumpulkan telah mencukupi dan apakah perilaku yang di observasi sudah selesai, diagnosa yang perlu di evaluasi dalam keakuratan dan kelengkapan.
Tujuan dan intervensi di evaluasi adalah menentukan apakah tujuan tersebut dapat dicapai secara efektif (Nursalam, 2001).
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
1. Biodata Pasien
a) Identitas pasien
Nama pasien : Ny. M
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 58 tahun
Status perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT
Alamat : Meukek/Sawang
Tanggal masuk : 15 Juli 2010
No. Register : 026569
Ruang/kamar : R.II / kamar melati
Tgl pengkajian hasil rawatan : 15 Juli 2010 jam 08.00 wib s/d 11.00 wib
Diagnosa medis : Hipertensi
b) Penanggung jawab
Nama : Ny. E
Hubungan dengan pasien : Anak
Pekerjaan : IRT
Alamat : Meukek
2. Keluhan Utama
Pada saat dikaji : pasien mengatakan pusing dan lemas + mual muntah + kaku kuduk.
a. Provokatif dan Paliatif
1) Apa yang menyebabkan gejala dan penyakit ?
Pasien mengatakan gejala atau penyebab penyakitnya disebabkan bila makan makanan yang tinggi garam dan yang mengandung kolesterol tinggi.
2) Apa saja yang dapat mengurangi atau memperberat ?
Pasien mengatakan hal yang dapat mengurangi dengan memakan mentimun dan obat yang tersedia di rumah dan yang memperberat bila pasien banyak melakukan aktivitas bekerja.
b. Qualitas dan Quantitas
1) Bagaimana gejala dirasakan ?
Gejala dirasakan dikepala terasa pening dan nyeri dan seluruh badan lemas, denyut jantung cepat, dan tekanan darah naik 200/100 mmHg.
2) Apakah lebih parah dari sebelumnya ?
Pasien mengatakan gejalanya timbul lebih parah dari sebelumnya.


c. Regional/Area radiasi
1) Dimana gejala dirasakan ?
Pasien mengatakan gejala dirasakan diseluruh tubuh dan yang paling berat di bagian kepala karena terasa pusing.
2) Apakah merambat kebagian lain ?
Pasien mengatakan iya, gejala dirasakan merambat kebagian kuduk dan tengkuk.
d. Skala
Berapa skala keparahannya : berat 7-9.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Normal Ringan Sedang Berat Hebat
e. Timing
1) Jenis (tiba-tiba/bertahap)
Pasien mengatakan gejala dirasakan tiba-tiba.
2) Frekwensi
Pasien mengatakan nyeri dikepalanya 3 sampai 5x sehari kadang lebih.
3) Durasi
Pasien mengatakan lamanya nyeri dan pusing yang dirasakannya sampai 1 ½ jam bahkan lebih.


3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
a. Alasan masuk dan dirawat
Pasien masuk ke rumah sakit dan dirawat karena tekanan darahnya naik di atas abnormal dan menyebabkan nyeri dan pusing kepala.
b. Penyakit yang pernah dialami
Pasien menyatakan penyakit yang pernah dialaminya adalah hipertensi dan asam lambung dan sempit dirawat di Rumah Sakit selama 1 minggu di kamar yang sama.
c. Pernah dirawat
Pasien mengatakan pernah dirawat di rumah sakit karena hipertensi dan asam lambung
d. Riwayat alergi
Pasien mengatakan tidak ada alergi obat dan makanan.
e. Status imunisasi
Pasien mengatakan tidak ada imunisasi.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
a. Penyakit keturunan yang ada
Pasien mengatakan ada penyakit keturunan yaitu hipertensi.
b. Anggota keluarga yang meninggal
Pasien mengatakan anggota yang meninggal satu orang yaitu kakak dari suaminya.

c. Penyebab meninggal
Pasien mengatakan kakak suaminya meninggal karena melahirkan anak pertamanya dirumah.
d. Genogram keluarga







Keterangan :
: laki-laki
: perempuan
: laki-laki meninggal
: perempuan meninggal
: pasien
: yang tinggal serumah
5. Riwayat Psikososial
a. Bahasa yang digunakan : bahasa Indonesia/Aceh.
b. Persepsi pasien terhadap penyakit : pasien mengatakan penyakitnya dapat disembuhkan dan dapat dicegah.
c. Konsep diri
1) Body image
Pasien mengatakan merasa terganggu dengan penyakitnya sekarang ini.
2) Ideal diri
Pasien ingin cepat sembuh dari penyakit yang dialami sekarang.
3) Harga diri
Pasien mengatakan masih merasa disayangi dan diperhatikan oleh keluarganya.
4) Peran diri
Pasien mengatakan sebagai seorang ibu dari empat orang anak-anaknya.
5) Personal identy
Pasien seorang ibu bagi anak dan istri bagi suaminya.
d. Keadaan emosionalnya :
Emosional pasien labil atau sedang karena emosinya tidak terlalu ditekan.
e. Hubungan dengan saudara
Pasien mengatakan hubungan dengan keluarganya baik-baik saja.



f. Hubungan dengan orang lain :
Dari yang dilihat dengan kedatangan saudara yang menjenguk dan menjaga pasien, jadi hubungan pasien dengan orang lain terjalin sangat baik.
6. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda-tanda vital
1) TD : 200/100 mmHg
2) R/R : 25 x/i
3) Puls : 95 x/i
4) Temp : 370c
5) TB : 150 cm
6) BBsebelum : 60 kg
BB sesudah : 55 kg
b. Keadaan umum
1) Kesan umum : (√) cukup
2) Wajah : (√) ekpresi datar
3) Bentuk badan : (√) sedang
c. Pemeriksaan kepala dan leher
1) Kepala dan rambut
Bentuk kepala : simetris
Keadaan ubun-ubun : menutup dan tidak ada benjolan
Luka peradangan : tidak ada peradangan
Kebersihan kulit kepala : kurang bersih
Kelainan : tidak ada kelainan
Penyebaran rambut : merata
Warna : agak putih
Kebersihan : kurang bersih
2) Mata
Inspeksi
Bentuk bola mata : simetris kiri dan kanan
Kelopak : tidak ada edema atau memar
Konjungtiva : tidak anemis
Sklera : tidak ada ikterik
Kornea : jernih
Iris : hitam
Pupil kanan : isokor
Pupil kiri : isokor
Lensa : jernih
Penggunaan alat bantu : tidak ada alat bantu
Kelainan : tidak ada edema dan memar
3) Hidung dan sinus
Inspeksi Palpasi
Ingus : tidak ada Septumnasal : medial

Perdarahan : tidak ada Sinus : tidak ada nyeri tekan
Penyumbatan : tidak ada
4) Telinga
Inspeksi
Daun telinga : simetris kiri dan kanan
Kebersihan : bersih
Kelainan : tidak ada kelainan
Uji pendengaran : tidak ada gangguan pendengaran
5) Mulut dan farink
Inspeksi
Bibir : simetris atas bawah/warna merah gelap
Gusi : normal dan tidak ada pendarahan
Gigi : tidak lengkap
Lidah : pergerakan normal/merah pudar
Membran mukosa : kering
Pendarahan : tidak ada pendarahan.
6) Leher
Posisi trakea : medial
Pembesaran tiroid : tidak ada
Pembesaran vena jogularis : tidak ada


d. Pemeriksaan toraks
1) Pemeriksaan dada
Infeksi
Bentuk : simetris kiri dan kanan
Retraksi : tidak ada retraksi
Kulit : tidak ada kelainan
Payudara : tidak ada benjolan/suhu normal
Fraktur : tidak ada fraktur
2) Jantung
Inspeksi : tidak dikaji
Palpasi : tidak ada pembesaran jantung
Perkusi : tidak ada kelainan
Auskultasi : bunyi jantung lab dap-dup
3) Paru-paru
Infeksi
Kiri : tidak ada retraksi kanan : tidak ada retraksi
Palpasi
Kiri : tidak ada kelainan kanan : tidak ada kelainan
Perkusi
Kiri : resonan kanan : resonan
Auskultasi
Kiri : mengi kanan : mengi
e. Abdomen
1) Inspeksi
Bentuk : simetris kiri dan kanan
Retraksi : tidak ada retraksi
Simetris : simetris
Kontur permukaan : tidak ada penonjolan
2) Auskultasi
Bising usus : 15 x/i
Bunyi arteri : cepat
Lain-lain : -
3) Perkusi
4) Palpasi
Hepar : tidak teraba
Ginjal : tidak teraba
Limfa : tidak teraba
Kandung kemih : dipasang kateter
f. Anus dan rektum
Inspeksi : tidak dikaji
Palpasi : tidak dikaji
g. Alat kelamin
Inspeksi : terpasang kateter
Palpasi : tidak dikaji
h. Muskulosketetal
Tulang
Infeksi
Kekuatan otot :
Pembengkakan : tidak terjadi pembengkakan
i. Neurologi
1) Kesadaran : compos mentis
2) GCS : E : 4 V : 5 M : 6 GCS : 15
3) Mentasi : ingatan pasien agak berkurang
4) Pergerakan : pasien membuka mata dengan spontan
5) Regulasi : perubahan ttv pada TD
6) Sensasi : tidak terjadi penurunan fungsi pada penggerakan anggota tubuh lain
7) Pola pemecahan masalah penyesuaian diri baik dengan lingkungan tempat dirawat.
7. Pola Kebiasaan setiap hari
a. Pola kebiasaan sehari-hari
Sebelum dirawat Sesudah dirawat
Frekwensi makan 3x sehari jenis makanan MB.
Makanan yang disukai mie dan kue kering.

BB 60 Frekwensi makan : 1x 1/hari dalam ¼ porsi.
Jenis makanan MI
Makanan yang disukai : tidak ada
Bila makan selalu ada reaksi mual dan muntah
BB menurun 55 kg.
b. Pola eliminasi
Sebelum dirawat Sesudah dirawat
BAK : 7-9 x/hari
BAB : 1-2 x/hari
Konsisten : padan, dan tidak ada kelainan. BAK terpasang kateter
BAB selama pasien 3 hari rawatan tidak pernah BAK.

c. Pola istirahat
Sebelum dirawat Sesudah dirawat
Waktu tidur : 21.00-05.00

Lamanya : 7 jam Waktu tidur 2 jam kadang-kadang terbangun dan gelisah.

d. Personal hygiene
Sebelum dirawat Sesudah dirawat
Pemeliharaan badan seperti mandi 1-2 x/hari.
Pemeliharaan mulut seperti gosok gigi 1-2 x/hari.
Pemeliharaan kuku : pasien memotong kuku 1 kali dalam seminggu. Pemeliharaan badan seperti mandi tidak ada.
Pemeliharaan mulut seperti gosok gigi hanya 1 selama dirawat 3 hari.
Pemeliharaan kuku, tidak ada.

e. Pola aktivitas
Sebelum dirawat Sesudah dirawat
Pasien mengatakan sebelum dirawat pasien bekerja dan beraktivitas dengan baik. Setelah di rawat pasien tidak bisa melakukan aktivitas dan aktivitas di bantu keluarga dan perawat.

8. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan penunjang lainnya
Rontgen : Bagian dada dan kepala hasilnya tidak menunjukkan kelainan di dada dan kepala.
b. Hasil lab
Jenis pemeriksaan Satuan Hasil Angka normal
HB
Caestrol total
Leukosit
Eritrosit
Hematokrit
Trombosit
Gula darah ad-random
Ureum
Kratini
mg/dl

mm/3
%
mm/3
mg/dl
mg/dl
mg/dl 13.0
280.4
6500
5.280.000
41.2
228.000
90.0
27.0
0.6
150-299



150.000-400.000
100-140
20-40
06-1.0

9. Pengobatan dan Terapi
No. Nama Obat Dosis/cara Fungsi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7. IFVD R/L
Ranitidin
Ceftriaxon
Nipidipin
Captropil
Norages
Piracetam 20 tts/m
1/8 jm
10/12 jm
10 gram
25 gram
1/8 jm
3/8 jm Mengganti cairan tubuh
Menetralkan asam lambung antibiotik.
Anti hipertensi
Obat untuk jantung
Penurun panas analgesik

B. Analisa Data
No Analisa Data Etiologi Masalah
1. Data subjektif
a. Pasien mengatakan nyeri dibagian kepala.
b. Pasien mengatakan bagian kuduknya terasa kaku.
Data objektif
a. Wajah pasien tampak meringis.
b. Kesadaran kompos mentis
c. Keadaan umum lemah
d. TD : 200/100mmHg
e. R/R : 25 x/i
f. N : 95 x/i
g. T : 370c
h. Skala nyeri 7-9 Peningkatan tekanan serebral


Aliran darah ke otak berkurang


Anoksia




Nyeri nyeri
2. Data subjektif
a. Pasien mengatakan tidak ada selera makan.
b. Pasien mengatakan kalau makan selalu muntah.

Data objektif
a. Keadaan umum lemah
b. Mukosa kering
c. Makanan yang disediakan ¼ porsi yang dihabiskan
d. BB menurun dari 60 menjadi 55 kg
e. TTV :
TD : 200/100 mmHg
R/R : 25 x/i
N : 95 x/i
T : 370c Anoreksia


Intek makan tidak adekuat


Peningkatan Hcl


Reaksi mual, muntah


Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3. Data subjektif
a. Pasien mengatakan seluruh tubuhnya lemas dan susah digerakkan.

b. Pasien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas yang berlebih

Data objektif :
a. Keadaan umum lemas
b. Aktivitas dibantu keluarga dan perawat
c. Kekuatan otot


d. Kelemahan dan keletihan
e. TTV :
TD : 200/100 mmHg
R/R : 25 x/i
N : 95 x/i
T : 370c Kelemahan fisik


Ketidakmampuan beraktifitas


Lemah


Intoleransi aktifitas Intoleransi aktivitas

C. Diagnosa Keperawatan
Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral ditandai dengan pasien mengatakan nyeri dibagian kepala, pasien mengatakan bagian kuduknya terasa kaku, wajah pasien tampak meringis, kesadaran compos mentis, keadaan umum lemah, TTV: TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, N : 95 x/i, T : 370c, skala nyeri 7-9.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan pasien mengatakan tidak ada selera makan, pasien mengatakan kalau makan selalu muntah, keadaan umum lemah, mukosa kering, makanan yang dihabiskan ¼ porsi yang disediakan, BB menurun dari 60 kg s/d 55 kg, TTV : TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, N : 95 x/i, T : 370c.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan pasien mengatakan seluruh tubuhnya lemas dan susah digerakkan, pasien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas yang berlebih, keadaan umum lemah, aktivitas di bantu keluarga dan perawat, kekuatan otot , kelemahan dan keletihan, TTV : TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, N : 95 x/i, T : 370c.




D. Rencana Asuhan Keperawatan
Nama : Ny. M
Ruang : Rindu II Kamar Melati Diagnosa Medis : Hipertensi
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan/Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1. Nyeri berhubungan dengan tekanan vaskuler cerebral ditandai dengan :
Data subjektif
a. Pasien mengatakan nyeri di bagian kepala.
b. Pasien mengatakan bagian kuduknya terasa kaku.

Data objektif
a. Wajah pasien tampak meringis
b. Keadaan umum lemah
c. TTV :
TD : 200/100 mmHg
R/R : 25 x/i
N : 95 x/i
T : 370c
d. Skala nyeri 7-9 Tujuan :
Nyeri hilang

Kriteria hasil :
a. Keadaan umum baik
b. Tanda-tanda vital normal :
TD : 120/90 mmHg
R/R : 25 x/i
N : 95 x/i
T : 370c
c. Pasien tampak tidak meringis lagi
d. Skala nyeri 4-6 (sedang)
1. Mempertahankan tirah baring selama fase akut.
2. Berikan tindakan farmakologi untuk menghilangkan sakit kepala.




3. Hilangkan, minimalkan aktivitas yang berlebih yang dapat meningkatkan sakit kepala.


4. Instruksi untuk menghindari aktivitas yang berlebih.


5. Berikan lingkungan aman dan nyaman bagi pasien.

6. Batasi pengunjung yang ingin melihatnya.


7. Kolaborasi dalam memberikan analgesik sesuai indikasi. 1. Meminimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi.
2. Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang memperlambat/ memblok respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasi.
3. Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi yang menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskuler serebral.
4. Menurunkan dan mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang sistem saraf simpatis.
5. Aktivitas yang berlebih dapat memacu pompa jantung yang berlebihan.
6. Lingkungan yang aman nyaman bisa menghilangkan tekanan stres pada pasien dan rasa nyeri.
7. Pengunjung yang berlebihan bisa membuat rasa tekanan nyeri yang berlebihan.
2 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan :
Data subjektif :
a. Pasien mengatakan tidak ada selera makan.
b. Pasien mengatakan bila makan selalu muntah.

Data objektif :
a. Mukosa bibir kering
b. Makanan yang disediakan ¼ porsi yang dihabiskan
c. BB menurun sebelum 60 kg sesudah 55 kg
d. Tanda-tanda vital
TD : 200/100 mmHg
R/R : 25 x/i
N : 95 x/i
T : 370c
Tujuan :
a. Inteknutrisi bisa terpenuhi secara maksimal.
Kriteria hasil :
a. Pasien kembali nafsu makan.
b. Pasien tidak kelihatan pucat lagi.
c. Makanan yang disediakan dapat di habiskan.
d. Makanan yang disediakan dapat di habiskan. 1. Kaji penyebab tidak adanya nafsu makan.

2. Berikan makanan kesukaan pasien.




3. Berikan makanan porsi sedikit tapi sering.


4. Hindari makanan yang sangat panas atau sangat dingin.


5. Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.





6. Kolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung untuk memberikan makanan yang mudah dicerna, secara nutrisi seimbang.
7. Timbang berat badan sesuai indikasi setiap hari.


8. Kolaborasi pemberian tablet atau suplemen makanan yang dapat meningkatkan status gizi. 1. Mengetahui faktor penyebab tidak ada nafsu makan dan dapat mencari solusinya.
2. Dengan memberikan makanan kesukaan pasien yang disesuaikan dengan nilai gizi dapat meningkatkan selera makan pasien.
3. Makanan dalam porsi sedikit tapi sering akan ditoleransi lebih untuk memenuhi kebutuhan gizi.
4. Suhu eksterem dapat menentukan dapat meningkatkan spasme batuk.
5. Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal pasien penggunaan energi.
6. Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu nafas abdomen dan gerakan diafragma dan dapat meningkatkan dispnea.
7. Berguna untuk menentukan kebutuhan berat badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.
8. Berguna untuk meningkatkan berat badan
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan :
Data subjektif :
a. Pasien mengatakan seluruh tubuhnya lemas dan tak bisa di gerakkan dengan biasanya.
b. Pasien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas yang berlebih.

Data objektif :
a. Aktivitas di bantu keluarga dan perawat
b. K/U lemah
c. TTV
TD : 200/100 mmHg
R/R : 25 x/i
N : 95 x/i
T : 370c Tujuan :
Dapat menjalankan aktivitas seperti biasanya.
Kriteria/hasil :
a. Pasien tidak lemas
b. Aktivitas dapat kembali seperti biasanya. 1. Kaji respon pasien terhadap aktivitas.






2. Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energi.



3. Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri bertahap jika dapat di toleransi.



4. Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas khususnya bila pasien pergunakan vasodilator, diuretik penyekat beta.

5. Kaji presipitator/penyebab kelemahan otot contoh, pengobatan, nyeri otot.




6. Evaluasi peningkatan intoleransi aktvitas.


7. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi selingi priode aktivitas dengan periode istirahat. 1. Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respon fisiologi terhadap stres aktivitas, dan bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
2. Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
3. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.
4. Hipertensi ostostatik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (savodilasi) perpindahan cairan (diuretik) atau pengaruh fungsi jantung.
5. Kelemahan adalah efek samping beberapa obat (beta bloker) traguilizer dan sedatif) nyeri dan program penuh stres juga memerlukan energi dan menyebabkan kelemahan.
6. Dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas.
7. Pemenuhan kelebihan perawatan diri pasien tanpa mempengaruhi stres miokard/kebutuhan oksigen berlebihan.

E. Catatan Perkembangan
No. Hari/Tanggal No
DX Jam Implementasi Evaluasi
1. Kamis,
15-07-2010 I 08.00 wib Mandiri
1. Mempertahankan tirah baring selama fase akut.
2. Mengintruksikan untuk menghindari aktivitas yang berlebih.
3. Menghilangkan, meminimalkan aktivitas yang berlebih yang dapat meningkatkan sakit kepala.
4. Berkolaborasi dalam memberikan analgesik sesuai indikasi. Jam 12.00 wib

S : Pasien mengatakan nyeri di kepala dan kaku kuduk.

O :
1. Wajah pasien meringis.
2. Keadaan umum lemah.
3. Tanda-tanda vital
TD : 200/100 mmHg
R/R : 25 x/i
Puls : 95 x/i
Temp : 370c
4. Skala nyeri 7-9

A : Masalah nyeri belum teratasi.

P : Intervensi dilanjutkan

1. Menginstruksikan untuk menghindari aktivitas yang berlebih.
2. Menghilangkan, minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan saki kepala.
3. Memberikan lingkungan aman dan nyaman bagi pasien.
4. Berkolaborasi dalam memberikan analgesik sesuai indikasi.
Kamis,
15-07-2010 II 11.00 wib 1. Mengkaji penyebab tidak adanya nafsu makan.
2. Memberikan makanan kesukaan pasien.
3. Berikan makanan sedikit tapi sering.
4. Berkolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung untuk memberikan makanan yang mudah dicerna secara nutrisi seimbang. Jam 13.00 wib
S :
1. Pasien mengatakan tidak ada selera makan.
2. Pasien mengatakan bila makan selalu muntah.

O :
1. Mukosa bibir kering
2. Makan yang disediakan ¼ porsi yang dihabiskan
3. Berat badan menurun.
BB sebelum : 60 kg
BB sesudah : 55 kg

A : Masalah pemenuhan nutrisi belum terpenuhi.

P : Intervensi dilanjutkan.
1. Memberikan makanan sedikit tapi sering.
2. Memberikan makanan yang disukai pasien.
3. Hindari makanan pedas dan dingin.
4. Kolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung untuk memberikan makanan yang mudah dicerna secara nutrisi seimbang.
Kamis,
15-07-2010 III 10.00 wib Mandiri
1. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas.
2. Memberikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi.
3. Periksa tanda-tanda vital sebelum dan setelah aktivitas.
4. Memberikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi selingi periode aktivitas dan istirahat. Jam 11.30 wib
S :
1. Pasien mengatakan seluruh tubuhnya lemas dan tak bisa digerakkan dengan biasanya.
2. Pasien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas yang berlebih.
O :
1. Aktivitas di bantu keluarga dan perawat.
2. Keadaan umum lemah.
3. TTV
TD : 20/100
R/R : 25 x/i
Puls : 95 x/i
Temp : 370c

A : Masalah intoleransi aktivitas belum teratasi.

P : Intervensi dilanjutkan
1. Memberikan dorongan untuk melakukan aktivitas.
2. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas
3. Mengkaji presipator penyebab kelemahan otot contoh penggunaan obat nyeri otot.
4. Periksa tanda-tanda vital sebelum dan setelah aktivitas
2. Jum’at
16-07-2010 I 14.20 wib Mandiri
1. Mengintruksikan untuk menghindari aktivitas yang berlebih.
2. Menghilangkan, meminimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala.
3. Memberikan lingkungan aman nyaman bagi pasien.
4. Kolaborasi dalam penimbunan analgesik sesuai indikasi.
Jam 19.00 wib
S : Pasien mengatakan nyeri di bagian kepala dan kaku kuduk berkurang.

O :
1. Wajah pasien tidak tampak meringis lagi.
2. Keadaan umum sedang.
3. Tanda-tanda vital
TD : 120/90 mmHg
R/R : 20 x/i
Puls : 95 x/i
Temp : 370c
4. Skala nyeri 4-6

A : Masalah belum teratasi.

P : Intervensi dianjurkan
1. Mengkaji skala nyeri 4-6 (sedang)
2. Memberikan lingkungan nyaman bagi pasien.
3. Membatasi pengunjung yang datang melihat.
4. Kolaborasi dalam pemberian alagesik sesuai indikasi.
Jum’at,
16-05-2010 II 16.00 wib Mandiri
1. Memberi makanan sedikit tapi sering.
2. Memberikan makanan yang disukai pasien.
3. Hindari makanan yang sangat panas dan dingin.
4. Berkolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung untuk memberikan makanan mudah dicerna secara nutrisi seimbang. Jam 19.30 wib
S :
1. Pasien mengatakan sudah ada selera makan.
2. Pasien mengatakan sudah tidak lagi muntah.

O : Keadaan umum sedang.

A : Masalah pemenuhan nutrisi teratasi sebagian.

P : Intervensi dilanjutkan
1. Hindari makanan yang sangat panas dan dingin.
2. Memberikan makanan yang disukai pasien.
3. Menimbang berat pasien setiap hari.
4. Berkolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung untuk memberikan makanan mudah dicerna secara seimbang.
Jum’at,
16-05-2010 III 16.00 wib Mandiri
1. Memberikan dorongan untuk melakukan aktivitas.
2. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas.
3. Mengkaji presipitator penyebab kelemahan otot contoh pengobatan nyeri otot.
4. Periksa tanda-tanda vital sebelum dan setelah aktivitas. Jam 19.30 wib
S :
1. Pasien mengatakan seluruh tubuhnya sudah bisa digerakkan dengan sedikit-sedikit.
2. Pasien mengatakan sudah bisa beraktivitas sedikit-sedikit.

O :
1. Keadaan umum sedang.
2. Aktivitas mandi masih dibantu keluarga.
3. Tanda-tanda vital
TD : 120/90 mmHg
R/R : 20 x/i
Puls : 90 x/i
Temp : 370c
4. Skala nyeri 4-6

A : Masalah intoleransi aktivitas teratasi sebagian.

P : Intervensi dilanjutkan.
1. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas.
2. Mengkaji presipator penyebab kelemahan otot contoh pengobatan nyeri otot.
3. Mengintruksikan pasien tentang teknik penghematan energi.
4. Pemeriksaan TTV sebelum dan sesudah aktivitas.
3. Sabtu,
17-05-2010 I 14.30 wib Mandiri
1. Mengkaji skala nyeri 4-6 sedang.
2. Memberikan lingkungan aman nyaman bagi pasien.
3. Membatasi pengunjung yang datang melihat.
4. Berkolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai indikasi. Jam 19.00 wib
S : Pasien mengatakan nyeri di bagian kepala dan kaku kuduk sudah berkurang.
O :
1. Wajah pasien tidak tampak meringis lagi.
2. Keadaan umum sedang.
3. Tanda-tanda vital :
4. Skala nyeri 4-6

A : Masalah belum teratasi.

P : Intervensi dilanjutkan oleh perawat ruangan.
Sabtu,
17-07-2010 II 10.00 wib Mandiri
1. Menghindari makanan yang panas dan dingin.
2. Memberi makanan yang disukai pasien.
3. Menimbang berat badan sesuai indikasi setiap hari.
4. Berkolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung untuk memberikan makanan mudah dicerna secara nutrisi seimbang. Jam 19.30 wib
S : Pasien mengatakan sudah ada selera makan.

O : Keadaan umum sedang.

A : Masalah teratasi sebagian.

P : Intervensi dilanjutkan perawat ruangan.
Sabtu,
17-05-2010 III 14.00 wib Mandiri
1. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas.
2. Mengkaji presipator penyebab kelemahan otot contoh penggunaan obat nyeri otot.
3. Intruksikan pasien tentang teknik penghematan energi
4. Memeriksa tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas. Jam 16.00 wib
S : Pasien mengatakan sudah bisa melakukan aktivitas.

O : Keadaan umum sedang.

A : Masalah teratasi sebagian.

P : Intervensi dilanjutkan oleh perawat ruangan.

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membahas mengenai kesenjangan dan persamaan antara apa yang penulis dapatkan secara teoritis dengan tinjauan kasus dilapangan melalui asuhan keperawatan yang penulis laksanakan pada Ny. M dengan Hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan selama 3 (tiga) hari rawatan terhitung mulai tanggal 15 s/d 17 Juli 2010, supaya mendapatkan suatu pembahasan hal terperinci dan sistematis maka pembahasan ini penulis bahas sesuai dengan tahap-tahap proses keperawatan yaitu : pengkajian, rencana keperawatan, implementasi dan evaluasi, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pembahasannya sebagai berikut :
A. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan pasien (Nursalam, 2001).
Pada tinjauan teoritis penulis memperoleh data pengkajian antara lain : aktivitas dan istirahat seperti : keletihan/kelelahan, nafas pendek, gaya hidup monoton, frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea, sirkulasi : riwayat hipertensi arterioskelosis, penyakit jantung koroner dan penyakit cerebrovaskuler, kenaikan tekanan darah, bunyi jantung S2. Pada dasar S3 CHF dini : kulit pucat, sianosis, dan diaforesis. Integritas ego : riwayat perubahan kepribadian, asientas, depresi euforia, atau marah kronik. Faktor-faktor stres multipel, letupan suasana hati, gelisah, penyempitan continu, tangisan yang meledak, gerak tangan simpatis, otot muka tegang, eliminasi : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu. Makanan dan cairan : makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol : riwayat penggunaan diuretik, berat badan normal, atau obesitas adanya edema. Neurosensori : keluhan dan pening, sakit kepala, kebas dan kelemahan pada sisi tubuh, gangguan penglihatan, status mental, perubahan keterjagaan, orientasi pola/isi bicara. Nyeri ketidaknyamanan : angina (penyakit arteri coroner) nyeri hilang timbul pada tungkai, klasudikasi sakit kepala okcipital berat. Pernafasan : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas kerja, takipnea, ortopnea, dispnea, nokturia, poroksimal, batuk tanpa sputum, bunyi nafas tambahan. Distres respirasi, penggunaan otot aksori pernafasan, kelemahan : gangguan koordinasi/ cara berjalan, episode perestasia unilateral, hipertensi postural, pembelajaran/ penyuluhan : faktor-faktor resiko keluarga, hipertensi, arteroklorosis, penyakit jantung, diabetes militus, penyakit cerebrovaskuler.
Pada pengkajian kasus Ny. M dengan hipertensi didapatkan data pengkajian seperti berikut : pasien mengatakan pusing, lemas, mual muntah, kaku kuduk dan pernafasan cepat disebabkan oleh stres, skala nyeri 7-9, tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c, berat badan 60 kg, tinggi badan 150 cm, membran mukosa kering, anemis, adanya retraksi, bunyi nafas mengi, pemeriksaan rongen, bagian kepala dan dada tidak menunjukkan kelainan : pola makan hanya menghabiskan ¼ porsi rendah garam.
Dari hasil pengkajian tersebut terdapat persamaan antara pengkajian yang penulis dapatkan secara teoritis dengan yang ditemukan pada tinjauan kasus, adapun persamaannya yaitu : adanya gejala seperti : tanda-tanda vitalnya meningkat TD : 200/100 mmHg (kenaikan tekanan darah) adanya perubahan pola nafas pada saat dikaji dari jam 08.00 wib sampai jam 10.00 wib kemudian berubah kembali setelah 3 jam, adanya riwayat hipertensi, nadi : 95 x/i, aktivitas istirahat kelemahan, letih dan kepala terasa pusing, makanan dan cairan : mual muntah, perubahan berat badan sebelum 60 kg sesudah 55 kg. Neurosensori : keluhan pening, kepala terasa berdenyut, denyut, nyeri atau ketidaknyamanan : sakit kepala, pernafasan takipnea kelemahan : gangguan kordinasi cara berjalan.
Sedangkan kesenjangan yang terjadi antara landasan teoritis dan tinjauan kasus yaitu pada pengkajian :
1) Sirkulasi : penyakit jantung koroner dan penyakit cerebrovaskular, bunyi jantung S2¬ pada dasar S3 CHF dini tidak dijumpai pada pasien dikarenakan hipertensi yang dialami belum begitu parah dan belum bersifat fatal yang mengajukan pada komplikasi berat.
2) Integritas ego : riwayat perubahan kepribadian, asientas depresi, euforia atau marah kronik juga tidak dijumpai pada pasien dikarenakan keluarga telah bisa membuat pasien pengertian dengan apa yang terjadi saat sekarang ini sehingga ketakutan dan perubahan kepribadian bisa diatasi.
3) Eliminasi : gangguan ginjal saat ini dan yang lalu tidak dijumpai pada pasien hipertensi karena tidak ada terjadi kelainan ginjal pada pasien hipertensi.
4) Neurosensori : kelemahan pada sisi tubuh, gangguan penglihatan, status mental, disorentasi juga tidak dijumpai pada pasien hipertensi dikarenakan cepatnya penanganan dirumah sakit dan ketepatan keluarga dalam membawa pasien kerumah sakit.
5) Nyeri ketidaknyamanan : angina tidak terjadi pada hipertensi dikarenakan hipertensi masih dapat dicegah karena hipertensi belum begitu parah sampai menimbulkan komplikasi.
6) Pernafasan : dispnea, batuk tanpa sputum, bunyi nafas tambahan, distres respirasi, penggunan otot aksesori pernafasan, tidak terjadi pada hipertensi dikarenakan adanya penanganan bantuan oksigen daripada tim medis rumah sakit.
7) Kelemahan fisik : episode perestasia unilateral, hipertensi postural, tidak terjadi pada hipertensi dan tidak dijumpai pada saat penulis melakukan pengkajian dikarenakan hipertensi yang dialami pasien belum terjadi komplikasi berat.
8) Pembelajaran/penyuluhan : faktor resiko keluarga, arteriosklerosis, diabetes militus, dan penyakit cerebrovaskular tidak dijumpai pada anggota keluarga dikarenakan tingkat pemahaman keluarga tentang hipertensi sangat luas dan berkembang.

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia, individu dan kelompok, dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito, 2000).
Adapun diagnosa keperawatan pada tinjauan teoritis yang timbul pada hipertensi menurut Doengoes (1999) adalah penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan vasocontriksi, intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan frekwensi jantung abnormal, rasa tidak nyaman saat bergerak atau dispnea, nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral ditandai dengan susah untuk menggerakkan kepala, menghindari sinar terang dan keributan, pusing, mual muntah. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan perubahan berat badan, koping individu infektif berhubungan dengan harapan tak terpenuhi, kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/penyakit.
Sedangkan diagnosa keperawatan yang timbul pada tinjauan kasus adalah nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral ditandai dengan pasien mengatakan nyeri dibagian kepala, pasien mengatakan bagian kuduknya terasa kaku, wajah pasien tampak meringis, kesadaran composmentis, kelemahan umum, tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan pasien mengatakan tidak adanya selera makan, pasien mengatakan kalau makan selalu muntah, keadaan umum lemah, mukosa kering, makanan yang dihabiskan ¼ porsi dari yang disediakan, berat badan menurun dari 60 kg menjadi 55 kg tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan pasien mengatakan seluruh tubuhnya lemas dan susah digerakkan, pasien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas berlebih, keadaan umum lemah, aktivitas dibantu keluarga dan perawat, tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c.
Adapun persamaan antara diagnosa keperawatan yang muncul pada tinjauan teoritis dan tinjauan kasus adalah sebagai berikut :
1) Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler hal ini disebabkan karena pasien mengeluh pusing, nyeri kepala, bagian kuduknya terasa kaku, wajah tampak meringis, keadaan lemah, perubahan tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c.
2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, hal ini disebabkan kurangnya selera makan, adanya mual muntah, keadaan umum lemah, mukosa kering, makanan yang dihabiskan ¼ porsi dari yang disediakan, berat badan menurun tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c.
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan seluruh tubuhnya lemas susah digerakkan, aktivitas terbatas, aktivitas dibantu keluarga dan perawat, kelemahan dan keletihan kekuatan otot normal tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c.
Sedangkan perbedaan/kesenjangan yang didapat dari diagnosa keperawatan pada teori dan kasus adalah :
Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan vasokontriksi. Diagnosa ini tidak diambil pada kasus dan dibuat di teori dikarenakan pada saat darah tinggi naik belum sampai ke taraf keparahan diatasi dengan ketepatan pembenaran obat anti hipertensi oleh keluarga.
1) Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi. Diagnosa ini tidak dimuat di kasus dan ditulis di teori dikarenakan pengetahuan pasien dan keluarga sangat baik terhadap penyakit hipertensi sehingga dengan cepat keluarga dan pasien tahu bila darah tinggi naik dan kambuh segera diberikan pencegahan sedini mungkin.
2) Koping individu in efektif berhubungan dengan harapan tak terpenuhi. Diagnosa ini juga tidak diangkat di kasus dan diangkat di teori dikarenakan keluarga dan pasien mengerti sekali dengan bagaimana bila seseorang di serang hipertensi itu berat dan bikin nyeri di kepala, dengan begitu keluarga dan pasien bisa menghadapinya dengan hati terbuka.




C. Intervensi/Perencanaan
Perencanaan merupakan katagori dari perilaku keperawatan dimana tinjauan kasus berpusat pada pasien dari hasil yang diperkirakan dan intervensi keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut (Potter, 2005).
Setelah penulis menemukan diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus, maka penulis menemukan rencana asuhan keperawatan sesuai prioritas masalah yang dialami pasien.
Pada diagnosa nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler rencana tindakan keperawatannya adalah mempertahankan tirah baring selama fase akut, tindakan non farmakologi, untuk menghilangkan sakit kepala, hilangkan minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, intruksikan untuk menghindari aktivitas yang berlebih, berikan lingkungan aman nyaman bagi pasien, batasi pengunjung yang ingin melihatnya, kolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai indikasi.
Pada diagnosa perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, rencana tindakan keperawatannya adalah : kaji penyebab tidak adanya nafsu makan, berikan makanan kesukaan pasien, berikan makanan porsi sedikit tapi sering, hindari makanan yang sangat panas dan sangat dingin, hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat, timbang berat badan setiap hari. Kolaborasi dalam pemberian suplemen makanan untuk meningkatkan status gizi. Kolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung tim untuk memberikan makanan yang mudah dicerna secara nutrisi seimbang.
Pada diagnosa intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Rencana tindakan keperawatannya adalah : kaji respon pasien terhadap aktivitas, intruksikan pasien tentang teknik penghematan energi. Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi, periksa tanda-tanda vital, sebelum dan sesudah aktivitas, kaji presipator/penyebab kelemahan otot, evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas, berikan bantuan dalam aktivitas perawatan dini sesuai indikasi
D. Implementasi
Implementasi adalah merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana perawat (Wartonah, 2004).
Adapun implementasi diberikan adalah sebagai berikut :
Pada diagnosa keperawatan nyeri berhubungan dengan perubahan tekanan serebral. Penulis melakukan tindakan keperawatan yang sudah direncanakan pada intervensi keperawatan diantaranya adalah menghilangkan rasa nyeri pada pasien dan sirkulasi volume darah TD : 120/90 mmHg, R/R : 20 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c menghilangkan rasa sakit kepala, mengindruksikan untuk menghindari aktivitas yang berlebih, kolaborasi dengan tim dokter/tim medis lainnya dalam pemberian obat untuk menghilangkan sakit kepala dan rasa nyeri.
Pada diagnosa keperawatan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexsia penulis melakukan tindakan keperawatan mencatat masukan makanan dan cairan sebanyak ¼ porsi dari yang disediakan, mencatat, penyebab tidak adanya nafsu makan, ikut serta dalam pemberian makanan yang disukai oleh pasien, memberikan suplemen makanan kepada pasien untuk meningkatkan berat badan, dan mencatat berat badan pasien setiap hari selama rawatan melakukan kolaborasi dengan dokter dan tim medis dalam pemberian diit seimbang untuk pasien.
Pada diagnosa keperawatan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, penulis melakukan tindakan keperawatan memantau aktivitas aktif dan pasif yang dilakukan oleh pasien. melakukan/menganjurkan untuk melakukan aktivitas yang dapat di toleransi dan penulis juga mengukur tanda-tanda vital pada pasien setiap sehabis aktivitas setiap hari dengan tanda-tanda vital TD : 120/90 mmHg, R/R : 20 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c dan mengajak pasien dalam berpartisipasi untuk melakukan aktivitas setiap hari.
E. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi perawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, karena tindakan dan pelaksanaan sudah dicapai (Nursalam, 2001).
Setelah penulis melakukan tindakan keperawatan maka langkah terakhir dari proses keperawatan adalah mengevaluasi sejauhmana tindakan-tindakan yang telah diberikan pada pasien berhasil atau tidak, hal ini ditunjang oleh adanya kerjasama yang efektif antara tenaga kesehatan dan keluarga dalam fasilitas dan sarana kesehatan adanya keberhasilan tersebut dapat dilihat dari evaluasi yang telah tercapai antara lain hasil evaluasi masalah nyeri berhubungan dengan tekanan vaskuler serebral sudah teratasi, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia teratasi dan kelemahan fisiknya juga teratasi selama 3 hari rawatan, perawat tidak menjumpai masalah lain atau yang baru pada pasien, pasien ACC pulang.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah penulis melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan kasus hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan maka dapat diambil kesimpulan :
1) Hipertensi adalah tingginya tekanan darah secara menetap dimana tekanan diastolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada populasi pasien lansic hipertensi diterapkan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.
2) Pengkajian pada Ny. M dengan hipertensi dilakukan secara komprehensif dengan cara wawancara, (interview) pengamatan (observasi) pemeriksaan fisik dan study dokumentasi dengan mempelajari status pasien dan data penunjang lain seperti rekam medik.
3) Dari hasil pengkajian pada Ny. M dengan hipertensi didapatkan data pasien mengatakan pusing dan lemas ditambah mual muntah dan kaku kuduk. Konjungtiva anemis keadaan umum lemah, tekanan darah meningkat, nadi cepat, pasien tampak cemas.
4) Diagnosa darah ditetapkan pada Ny. M adalah nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, dan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
5) Tujuan intervensi nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular, nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan kelamahan fisik bisa teratasi dengan baik selama perawatan.
6) Pelaksanaan yang telah diberikan pada Ny. M dengan hipertensi dilakukan secara dependen, independen dan kolaboratif untuk mencapai hasil yang optimal.
7) Berdasarkan hasil evaluasi yang penulis lakukan selama pelaksanaan asuhan keperawatan pada Ny. M dengan hipertensi dapat dilihat keberhasilan seperti mengurangi rasa nyeri tidak terjadi lagi, dan pemenuhan nutrisi yang adekuat, tanda-tanda vital batas normal pasien kelihatan tenang.
8) Semua tindakan keperawatan yang dilakukan didokumentasikan pada status pasien setelah dilakukan.
B. Saran
1) Diharapkan kepada pasien dan keluarga setelah dilakukan tindakan keperawatan dan pendidikan kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan lebih mengerti tentang hipertensi yang telah menyebabkan kematian.
2) Diharapkan pada pembaca dengan adanya Karya Tulis Ilmiah ini dapat meningkatkan minat baca sehingga dapat meningkatkan pengetahuan khususnya tentang hipertensi.
3) Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan pada institusi pendidikan untuk dapat memberikan waktu semaksimal mungkin serta menambah referensi buku-buku terbaru yang memadai agar hasil yang diharapkan sesuai seperti yang diinginkan.
4) Diharapkan kepada pihak Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan agar lebih meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada pasien baik bio, psikososial dan spritual tanpa membedakan derajat dan tingkat ekonominya.
DAFTAR PUSTAKA


Arif, Mansjoer, (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Edisi 3. Jakarta Media Aeskolopius.

Aziz Halimul Hidayat, (2006), Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba.

Carpenito, Lynda Juall, (1998), Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Edisi 6. Jakarta : EGC.

Doengoes, Marilynn. E, (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC.

Ganong Willyam F, (2002), Buku Ajar Fisiologis Kedokteran. Edisi 20. Jakarta : EGC.

Niluh.Gede Yasmin Asih, (2003), Keperawatan Medical Bedah. Jakarta : EGC.

Nursalam, (2001), Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 1. Jakarta : EGC.

Suzanne C. Smetzer, (2001), Keperawatan Medical Bedah, Brunner & Suddart. Edisi 8. Jakarta : EGC.

Sylvia, A.Price, Lorrence, (2005), Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta.

Tarwoto, Wartonah, (2004), Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Edisi I. Jakarta : Salemba Medika.

Anonim.(2009) hipertensi.com. Dibuka pada tanggal 23 Juli 2010. http/www. dingharmanto.com.

Anonim, (2009) hipertensi.com. Dibuka pada tanggal 25 Juli 2010, http/www.health,detik com.

Anonim, (2003), hipertensi.com. Dibuka pada tanggal 25 Juli 2010, http/www.kalbe co.id.