BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu keperawatan adalah suatu ilmu yang mempelajari pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Pemenuhan dasar tersebut diterapkan dalam pemberian asuhan keperawatan dalam praktik keperawatan profesional. Untuk tercapainya suatu asuhan keperawatan profesional diperlukan suatu pendekatan yang disebut ”proses keperawatan dan dokumentasi” keperawatan sebagai data tertulis yang menjelaskan tentang penyampaian informasi, penerapan sesuai standar praktek dan pelaksanaan proses keperawatan (Nursalam, 2001).
Konsep keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang bersifat profesional dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia (Biologis, Psikologis, Sosial dan Spritual) yang dapat ditunjukkan pada individu, keluarga atau masyarakat dalam rentang sehat sakit (Hidayat, 2004).
Proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang sistematis dalam melakukan asuhan keperawatan pada individu, kelompok dan masyarakat yang berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah dari respon pasien terhadap penyakitnya. Proses keperawatan digunakan untuk membantu perawat melakukan praktek keperawatan secara sistematis dalam memecahkan masalah keperawatan dengan menggunakan metode ini, perawat dapat mendemontrasikan tanggung gugat dan tanggung jawab pada klien, sehingga kualitas praktek keperawatan dapat meningkat (Wartonah, 2006).
Hipertensi dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian di Amerika Serikat (AS) sekitar seperempat jumlah penduduk dewasa menderita hipertensi dan insidennya lebih tinggi dikalangan afro-Amerika setelah usia remaja. Penderita hipertensi tidak hanya beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi juga menderita penyakit lain seperti penyakit saraf, ginjal, dan pembuluh darah, makin tinggi tekanan darah maka makin besar resikonya (Sylvia, 2005).
Hipertensi merupakan peningkatan yang persisten dari tekanan pembuluh darah arteri, yaitu tekanan diastolik diatas 95 mmHg. Tekanan darah normal biasanya tekanan sistolik tidak melebihi 140 mmHg dan diastolik tidak melebihi 90 mmHg. Namun patokan tekanan darah normal tersebut individual sifatnya. Sebanyak 90% kasus penyebab hipertensi tidak diketahui namun juga sekunder akibat penyakit jantung/ginjal, diabetes, dan tumor di kelenjar adrenal, obat-obatan maupun kehamilan (Health, 2009).
Hipertensi dapat didevinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada posisi manula hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer, 2001). Hipertensi menyebabkan beberapa kelainan serius, apabila resisten terhadap ventrikel kiri yang harus memompa darah meningkat untuk jangka waktu yang lama, maka otot jantung mengalami hipertropi (Ganong, 2002).
Berdasarkan survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 kelemahan akibat penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia sebesar 26,3%. Sedangkan data kematian dirumah sakit tahun 2005 sebesar 16,7%. Faktor resiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah adalah hipertensi disamping hiperkolesterollemia dan diabetesmilitus (Madina, 2001).
Di Indonesia hipertensi merupakan penyebab kematian nomor dua dengan prevalensi 6,4%, setelah jantung koroner, faktor sosial dan gaya hidup yang tinggi yang mempengaruhi tingginya angka kematian. Insiden hipertensi cenderung meningkat tajam angka kematiannya, baik di negara berkembang maupun tidak (Kalbe, 2009).
Menurut data yang diperoleh dari Rekam Medik Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan, jumlah penderita hipertensi pada tahun 2009 sebanyak 140 orang (6,6%) dari jumlah pasien 2852 orang, dan tahun 2010 dari bulan Januari s/d Maret 2010, 42 orang (4,01%) pasien hipertensi yang dirawat diruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
Atas dasar data ilmiah ini maka sangat dibutuhkan peran dan fungsi perawat secara maksimal dan komperehensif untuk penanganan masalah hipertensi. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengambil kasus ini yang penulis tuangkan dalam bentuk study kasus diruang penyakit dalam dengan kasus hipertensi study kasus ini penulis laksanakan selama 3 (tiga) hari, dengan menetapkan proses-proses keperawatan dan membuatnya dalam bentuk karya tulis ilmiah dengan judul ”ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. M Dengan HIPERTENSI DI RUANG RAWAT INAP PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. H. YULIDDIN AWAY TAPAKTUAN”.
B. Batasan Penulisan
Dalam Karya Tulis Ilmiah ini penulis mendapat kasus di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan. Penulis memberikan asuhan keperawatan mulai 15-17 Juli 2010 pada Ny. M, umur 58 tahun, alamat Meukek, pekerjaan Ibu Rumah Tangga.
Adapun diagnosa yang timbul pada pasien hipertensi menurut Doenges (1999):
1. Peningkatan curah hujan berhubungan dengan vasokontriksi
2. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ditandai dengan anoreksia
4. Koping individu infrektif berhubungan dengan metode koping tidak efektif
5. Kurang pengetahuan mengenai pengobatan berhubungan dengan informasi terbatas
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
Pada saat penulis melaksanakan praktek klinik keperawatan penulis mendapatkan 3 masalah /diagnosa keperawatan pada Ny. M dengan hipertensi.
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (Nursalam, 2000).
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Agar mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata serta menambah pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi diruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan (Hidayat, 2003).
2. Tujuan Khusus
Menurut Wartonah (2004) diharapkan penulis mampu :
a. Melakukan pengkajian keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi diruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
b. Menganalisa data pada Ny. M dengan hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
c. Merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
d. Menyusun rencana keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
e. Melaksanakan tindakan-tindakan keperawatan keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
f. Mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah diberikan pada Ny.M dengan hipertensi keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
g. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada Ny.M dengan hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr.H.Yuliddin Away Tapaktuan.
D. Metode Penulisan
Metode yang penulis gunakan dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode deskriptif, yaitu rancangan yang bertujuan menerangkan masalah keperawatan yang terjadi pada suatu penyakit yang berdasarkan distibutif tempat waktu, jenis kelamin dan lain-lain (Hidayat, 2003).
Metode penyusunan ini penulis lakukan melalui :
1. Study kepustakaan
Dilakukan sebagai bahan referensi untuk menjelaskan gambaran teoritis hipertensi dengan cara penerapan asuhan keperawatan.
2. Study kasus
Penelitian langsung terhadap kasus untuk mengetahui suatu masalah secara nyata yang penulis laksanakan di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan selama 3 (tiga) hari dari tanggal 15 Juli 2010 dengan teknik pendekatan berupa :
a. Wawancara
Komunikasi secara langsung dengan pasien sehubung dengan masalah yang timbul pada hipertensi
b. Pemeriksaan fisik
Memeriksa keadaan fisik pasien sehubungan dengan masalah yang timbul pada hipertensi.
c. Observasi
Mengamati dan mengevaluasi secara langsung mengenal perkembangan status kesehatan pasien.
d. Study dokumentasi
Mempelajari status kesehatan pasien sebelum dan selama rawatan serta mencatat catatan medis sebagai data penunjang asuhan keperawatan.
e. Pemeriksaan penunjang
Untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap tentang keadaan kesehatan pasien ataupun pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan radiologi dan lab (Nursalam, 2001).
E. Sistematika Penulisan
Karya tulis ilmiah ini disusun secara sistematika yang terdiri dari :
BAB I Pendahuluan : berisikan Latar Belakang, Batasan Penulisan, Tujuan Penulisan terdiri dari Tujuan Umum dan Tujuan Khusus, Metode Penulisan dan Sistematika Penulisan.
BAB II Landasan Teoritis : berisikan Konsep Dasar Hipertensi terdiri dari Pengertian, Etiologi, Patofisiologi, Manifestasi Klinis, Komplikasi, Penatalaksanaan, Konsep Dasar Asuhan Keperawatan terdiri dari Pengkajian, Analisa Data, Diagnosa Keperawatan, Pelaksanaan, Evaluasi.
BAB III Tinjauan Kasus : berisikan Kajian, Analisa Data, Diagnosa Keperawatan, Rencana Asuhan Keperawatan, Implementasi dan Evaluasi.
BAB IV Pembahasan : berisikan Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Intervensi, Implementasi, Evaluasi.
BAB V Penutup : berisikan Kesimpulan dan Saran
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Konsep Dasar Hipertensi
1. Pengertian
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan darah diastolik > 90 mmHg, atau bila pasien memakai obat anti hipertensi (Mansjoer, 2000).
Hipertensi adalah merupakan tekanan darah tinggi yaitu tekanan diastolik mencapai 140 mmHg atau lebih terapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal, hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah, tekanan diastol terus meningkat sampai usia 80. Kemudian berkurang perlahan-lahan atau bahkan menurun drastis (Dingharmanto, 2009).
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, tekanan darah tinggi mempunyai rentang dari tekanan darah normal tinggi sampai hipertensi maligna. Keadaan ini dikatagorikan sebagai primer/esensial (hampir 90% dari semua kasus) atau sekunder terjadi sebagai akibat dari kondisi patologi yang dapat dikendali dan dapat diperbaiki (Doengoes, 1999).
Hipertensi merupakan gangguan nutrisi yang juga disebabkan oleh berbagai masalah pemenuhan kebutuhan nutrisi seperti penyebab dari adanya obesitas serta asupan kalsium, natrium, dan gaya hidup berlebihan (Hidayat, 2006).
2. Etiologi Hipertensi
a. Penyebab hipertensi secara pasti belum diketahui, pada sekitar 95% kasus hipertensi bentuk hipertensi idiopatik (Sylvia, 2005).
b. Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu :
1) Hipertensi esensial yaitu hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik, terdapat sekitar 95% kasus, banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpati sistem renin-agiotensin, defek dalam ekresinya. Peningkatan Na dan Ca, intraselular dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia.
2) Hipertensi sekunder atau hipertensi renal, terdapat sekitar 5% kasus, penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiper aldosteronisme, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan dan lain-lain (Mansjoer, 2000).
c. Pada lebih dari 90% pasien yang menderita hipertensi peningkatan tekanan darah, penyebab hipertensi tidak diketahui dengan jelas dan bisa dikaitkan dengan hipertensi esensial (idiopatik) (Ganong, 2002).
d. Secara umum masing-masing faktor tidak sama kuatnya untuk dapat menimbulkan hipertensi pada individu tertentu faktor-faktor tersebut antara lain keturunan, konsumsi garam, obesitas, sosial, budaya, dan lain-lain sebagainya (Smeltzer, 2000).
3. Patofisiologi
Menurut Smeltzer, 2001 patofisiologinya adalah :
4. Manifestasi klinis
a. Tanda dan gejala hipertensi adalah :
1) Sakit kepala
2) Kelelahan
3) Mual
4) Muntah
5) Sesak nafas
6) Gelisah
7) Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung, dan ginjal.
Pada penderita hipertensi berat bisa terjadi penurunan kesadaran dan bahkan koma. Karena terjadi pembengkakan otak keadaan ini disebut ensefalopati hipertensi, yang memerlukan penanganan segera (Dingharmanto, 2009).
Adapun tanda dan gejala hipertensi menurut Smeltzer (2001) adalah : pada pemeriksaan fisik mungkin hendak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang tinggi tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina. Penyempitan pembuluh darah dan kasus berat edema pupil. Individu yang menderita hipertensi kadang tidak nampak gejala sampai bertahun-tahun, gejala bisa ada biasanya menunjukkan adanya kerusakan vaskuler dan manifestasi yang khas sesuai sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan, penyakit arteri koroner dengan angina adalah gejala yang paling menyertai inpertensi, hipertrovi pentrikel kiri terjadi sebagai respon peningkatan, bukan kerja ventrikel. Saat dipaksa berkontraksi melawan tekanan sistemik yang meningkat, apabila jantung tidak mampu lagi menahan beban kerja maka dapat terjadi gagal jantung kiri. Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada makanan hari) dan ozolemia (peningkatan hidrogen urea darah, BUN dan kreatinin) keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transon yang manifestasi sebagai paralisis sementara pada suatu sisi (hemi plegi) atau gangguan tajam penglihatan pada penderita stroke, dan pada penderita hipertensi disertai serangan iskemia, insiden infakr otak mencapai 80%.
Menurut Mansjoer (2001) tanda dan gejala hipertensi adalah peningkatan tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala bila demikian gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung, gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epitaksis, marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang, dan pusing.
5. Komplikasi
Menurut Mansjoer (2010) adapun komplikasi hipertensi yang sering terjadi adalah :
a. Stroke, yaitu komplikasi lanjur daripada hipertensi yang sering terjadi
b. Serangan jantung
c. Dekompensasi jantung
d. Serta gagal ginjal
e. Gangguan kehamilan
6. Penatalaksanaan
Tujuan di deteksi dan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan, tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik dibawah 140 mmHg dan tekanan diastolik dibawah 90 mmHg dan mengontrol faktor resiko, hal ini dapat dicapai melalui memodifikasi gaya hidup saja, atau dengan obat anti hipertensi.
Kelompok resiko dikatagorikan menjadi :
a. Pasien dengan tekanan darah pembatas atau tingkat 1, 2, dan 3 tanpa gejala penyakit kardiovaskuler, kerusakan organ, atau faktor resiko lainnya, bila dengan memodifikasi gaya hidup tekanan darah belum dapat diturunkan, maka harus diberikan obat anti hipertensi.
b. Pasien tanpa penyakit kardiovaskuler atau kerusakan organ lain, tetapi memiliki satu atau lebih faktor resiko yang tertera diatas, namun bukan DM, jika terdapat beberapa faktor maka harus cepat diberikan obat anti hipertensi.
c. Pasien dengan gejala klinis penyakit kardiovaskuler atau kerusakan organ yang jelas faktor resiko, usia lebih dari 60 tahun, merokok, diabetes militus, jenis kelamin (wanita menopouse) riwayat penyakit kardiovaskuler dalam keluarga.
Penatalaksanaan hipertensi juga dapat menganjurkan pasien untuk memakai obat anti hipertensi dan turunkan jumlah dosisnya yang disediakan dengan mematuhi langkah-langkah sebagai berikut :
a. Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan (indek masa tubuh > 27 kg)
b. Membatasi alkohol
c. Meningkatkan aktivitas fisik aerobik (30-35 menit/hari)
d. Mengurangi asupan natrium (< 100 mmol Na/2.4 gr Na/6 gr Nacl/hari).
e. Mempertahankan asupan kalium yang adekuat (90 mmHg/hari)
f. Mempertahankan asupan kalium dan magnesium yang adekuat
g. Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan.
Pada beberapa pasien mungkin dapat dimulai terapi dengan lebih dari satu obat secara langsung. Pasien dengan tekanan darah 200/120 mmHg harus diberikan terapi dengan segera dan jika terdapat gejala kerusakan organ harus dirawat dirumah sakit (Mansjoer, 2000).
Penatalaksanaan hipertensi pada pasien adalah mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta mencapai dan mempertahankan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg, efektifitas setiap program ditentukan oleh derajat hipertensi komplikasi biaya perawatan dan kualitas hidup sehubungan dengan terapi.
Menurut Smeltzer 2001 beberapa penemuan menunjukkan bahwa pendekatan non farmakologis termasuk penurunan berat badan. Pembatas alkohol, natrium dan tembakau, latihan dan relaksasi merupakan intervensi wajib yang harus dilakukan pada setiap terapi-anti hipertensi, apabila penderita hipertensi ringan berada dalam resiko tinggi (pria merokok) atau bila tekanan darah diastoliknya menetap di atas 85 mmHg atau 95 mmHg dan sistolik diatas 130 sampai denghan 139 mmHg maka perlu dimulai terapi obat-obatan.
Menurut Mansjoer (2000) skema Penatalaksanaan Hipertensi adalah sebagai berikut :
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan pasien (Nursalam, 2001).
Pada pengkajian, data yang perlu dikaji adalah identifikasi pasien, meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, penanggung jawab, riwayat penyakit, riwayat penyakit keturunan dan kesehatan (Nursalam, 2001).
Yang perlu dikaji pada pasien dengan hipertensi menurut Doenges (1999), yaitu :
a. Aktivitas dan istirahat
Gejala : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton
Tanda : Frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung takipnea.
b. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi, arterikorosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit serebrovaskuler.
Tanda : Kenaikan TD (pengukuran serial dari kenaikan tekanan darah diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Nadi (denyut jelas dari karotis, jugularis radiasis, perbedaan denyut seperti denyut femoralis lambat sebagai kompensasi denyutan radiasis atau brakialis, denyut apikal, frekwensi irama, takikardia, berbagai disritmia.
1) Bunyi jantung terdengar S2 pada dasar S3 (CHF dini) S4 (pengerasan ventrikel kiri/hipertrovi pentrikel kiri.
2) Desiran vaskuler terdengar diatur karotis.
3) DVJ (Distensi Vena Jugularis) (konghesif vena).
4) Ekstemitas : perubahan warna kulit, suhu dingin, pengisian kapiler mungkin lambat tertunda (Vasokontriksi)
5) Kulit pucat sianosis dan diaforesis (konghesif/ impoksemia) kemerahan (Feoktomosiroma).
c. Integritas Ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, eukoria atau marah kronik (dapat mengindikasikan kerusakan serebral). Faktor-faktor stres multipel (hubungan yang berkaitan dengan pekerjaan).
Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinu pertahanan, tangisan yang meledak, gerak tangan sempit, otot muka tegang (khususnya tentang mata) gerakan fisik cepat pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.
d. Eliminasi
Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (seperti infeksi abstruktif atau riwayat penyakit masa lalu).
e. Makanan dan cairan
Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol seperti makanan yang digoreng-goreng, keju, telur, gula-gula yang berwarna hitam, mual muntah, perubahan berat badan akhir-akhir ini (meningkat turun) riwayat penggunaan diuretik.
Tanda : Berat badan normal atau obesitas, adanya edema, kongesti vena, DVJ (Distensi Vena Jugularis) glikosusia (hampir 10% pasien diabetik adalah diabetes).
f. Neurosensori
Gejala : Keluhan pening/pusing berdenyut, sakit kepala, suboksifital (terjadi saat bangun dan menghilang, skala spontan setelah beberapa jam)
1) Episode kebas dan kelemahan pada satu sisi tubuh
2) Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan, kabur).
3) Episode efitaksis
Tanda : Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, efek proses pikir atau memori (ingatan). Respon motorik, penurunan kesehatan genggaman tangan dan atau reflek tendon dalam.
g. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung) nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudikasi sakit kepala okapital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
h. Pernafasan
Gejala : Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas/kerja takipnea, ortopnea, dispnea nonturnal patoksismal, batuk tanpa sputum, riwayat merokok.
Tanda : Bunyi nafas tambahan, distres respirasi/penggunaan otot aksesori pernafasan, sianosis.
i. Keamanan
Keluhan/gejala : Gangguan koordinasi/cara berjalan, episode perestasia, unilateral, transen, hipotensi posrural.
j. Pembelajaran/penyuluhan
Gejala : Faktor-faktor resiko keluarga : hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM, penyakit cerebrosvaskular ginjal. Faktor-faktor resiko etnik seperti orang Afrika-Amerika, Asia Tenggara. Penggunaan PUKB atau hormon lain penggunaan obat-obatan/alkohol.
Pertimbangan/rencana pemulangan : DRG menunjukkan rata-rata
- Bantuan dengan pemantauan lamanya riwayat 4-2 hari diri TD.
- Perubahan dalam terapi obat.
2. Analisa Data
Analisa data adalah pemeriksaan dan mengkatagorikan informasi untuk mendapatkan sebuah kesimpulan tentang kebutuhan pasien (Doenges, 1999).
Ada 2 tipe data, yaitu :
a. Data subjektif, adalah data yang didapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian.
1) Mengatakan nyeri yang ada dibagian kepala
2) Mengatakan bagian kuduk terasa kaku
3) Mengatakan tidak adanya nafsu makan
4) Mengatakan muntah pada saat makan
5) Mengatakan seluruh tubuh terasa lemas
6) Mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas.
b. Data objektif, adalah data yang dapat di observasi dan diukur.
1) Aktivitas dan istirahat adanya gejala kelelahan dengan tanda frekuensi jantung meningkat
2) Sirkulasi dengan ditandai adanya riwayat hipertensi dengan gejala peningkatan tekanan darah.
3) Integritas ego dengan gejala ansietas dan depresi dengan tanda suasana hati gelisah, otot muka tegang.
4) Eliminasi adanya gejala gangguan ginjal dengan tanda infeksi dibagian perut dan ginjal.
5) Makanan dan cairan adanya gejala makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam dengan tanda berat badan normal atau obesitas.
6) Neurosensori adanya gejala keluhan pening/pusing dengan tanda penurunan kesehatan gangguan tangan dan reflek tendom dalam.
7) Pernafasan dengan gejala dipnea dengan tanda bunyi nafas tambahan seperti rongchi.
8) Nyeri ketidaknyamanan dengan gejala nyeri hilang timbul pada tungkai dan sakit kepala dengan tanda lemas dan pusing rasa tidak nyaman.
9) Keamanan dengan gejala cara berjalan dengan tanda melemasnya anggota gerakan.
10) Pembelajaran penyuluhan.
3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dan individu dan kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberi intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan pembatasan mencegah dan merobah (Carpenito, 2000).
Adapun diagnosa keperawatan pada tinjauan teoritis yang timbul pada hipertensi menurut Doengoes (1999) adalah :
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan vasokontriksi
Tujuan : Menetralkan tekanan darah (dan beban kerja jantung).
Kriteria hasil :
1) Mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat diterima.
2) Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal pasien.
No Intervensi Rasional
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7. Pantau TD, ukur pada kedua tangan paha untuk evaluasi awal, gunakan ukuran maset yang tepat dan teknik yang akurat.
Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan ferever.
Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas.
Catat edema umum/tertentu.
Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi.
Siapkan untuk pembedahan bila ada indikasi.
Diuretik 100p mis : furosemid asam etakmik, bumeretanid. Hipertensi berat di klasifikasikan pada orang dewasa sebagai peningkatan tekanan diastolik sampai 130, hasil pengukuran diastolik diatas 130 dipertimbangkan sebagai peningkatan pertama kemudian maligna, hipertensi sistolik juga merupakan faktor resiko yang ditentukan untuk penyakit serebrosvaskuler dan penyakit iskemi jantung bila tekanan diastolik 90-115.
Denyutan karotis, jugularis dan pemoralis mungkin teramati/ terplapasi denyut pada tungkai mungkin menurun mencerminkan efektari vasokontriksi dan kongestif vena.
S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertiova atnum (peningkatan volume/tekanan atnum) perkembangan S3 menunjukkan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi.
Dapat mengidentifikasi gagal jantung kerusakan ginjal atau vaskuler.
Pembatasan ini dapat menangani retensi cairan dengan respon hipertensif, dengan demikian menurunkan beban kerja jantung.
Bila hipertensi berhubungan dengan adanya feokromosidame maka pengangkatan tumor akan memperbaiki kondisi.
Obat ini menghasilkan diusesis kuat dengan menghambat resopsi natrium dan klorida dan merupakan anti hipertensi efektif, khususnya pada pasien yang resisten terhadap diazit atau mengalami kerusakan.
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan : Memenuhi aktivitas yang dilakukan
Kriteria hasil :
1) Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan
2) Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
3) Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi
No Intervensi Rasional
1.
2.
3. Kaji respon pasien terhadap aktivitas perhatikan frekwensi nadi lebih dari 20 kali permenit diatas frekwensi istirahat, peningkatan TD yang nyata selama/sudah beraktifitas dispnea, nyeri dada, keletihan dan kelemahan yang berlebihan, diafotesis pusing dan pingsan.
Intruksi pasien tentang teknik penghematan energi mis : menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir rambut atau penyakit gigi, melakukan aktivitas dengan perlahan.
Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawat diri terhadap jika dapat ditoleransi, berikan bantuan sesuai kebutuhan. Menyebutkan parameter pembantu dalam mengkaji respon fisiologi terhadap stres aktivitas dan bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi juga membantu keseimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen.
Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba, memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.
c. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
Tujuan : Menghilangkan nyeri secara bertahap.
Kriteria hasil :
1) Melaporkan nyeri ketidaknyamanan hilang/terkontrol.
2) Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan.
No Intervensi Rasional
1.
2.
3.
4.
5.
6. Mempertahankan tirah baring selama fase akut.
Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan rasa sakit kepala, mis : kompres dingin pijat punggung dan leher, tenang dan redupkan lampu kamar.
Hilangkan/minimalkan aktivitas yang berlebihan yang dapat meningkatkan sakit kepala misal : mengejan saat BAB, batuk panjang dan membungkuk.
Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
Berikan cairan, makanan lunak perawatan mulut yang teratur bila terjadi pendarahan hidung atau kompres hidung telah dilakukan untuk menghentikan pendarahan.
Berikan sesuai indikasi analgesik.
Meminimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi.
Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serehral dan yang memperlambat/ memblok respon sispatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasi.
Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala, pasien bisa hipotensi postural.
Meningkatkan kenyamanan umum kompres hidung dapat mengganggu menelan atau membutuhkan nafas dengan mulut, menimbulkan tagnasi sekresi oral dan mengeringkan membran mukosa.
Menurunkan dan mengontrol nyeri dan menurunkan rangsangan saraf simpatis.
Dapat mengurangi tegangan dan ketidaknyamanan yang diperberat oleh stres.
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
Tujuan : Nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil :
1) Berat badan bertambah
2) Lipatan kulit insep lebih besar dari 15 mm pada pria dan 25 pada wanita.
3) Melaporkan atau terobservasi disfungsi pola makan.
No Intervensi Rasional
1.
2.
3.
4.
5.
6. Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan.
Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam dan gula sesuai indikasi.
Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan.
Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diit.
Instruksikan dan bantu memilih makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur, es krim, daging) dan kolesterol (daging berlemak, kuning telur, produk kalengan, jeroan)
Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi. Kegemukan adalah resiko tambahan pada tekanan darah tinggi karena di proporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan peningkatan masa tubuh.
Kesalahan biasa makan menunjang terjadinya ateloroklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk hipertensi dan komplikasi misalnya, stroke, penyakit ginjal, gagal ginjal, kelebihan masukan garam memperbanyak volume cairan intravaskuler dan dapat merusak ginjal, yang lebih memperburuk hipertensi.
Motivasi untuk penurunan berat badan adalah internal, individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan, bila tidak maka program sama sekali tidak berhasil.
Mengidentifikasi kekuatan/ kelemahan dalam program diit terakhir membantu dalam menentukan kebutuhan individu untuk penyesuaian/ penyuluhan.
Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis.
Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit individual.
e. Koping individu in efektif berhubungan dengan harapan yang tak terpenuhi.
Tujuan : Memenuhi harapan yang belum terpenuhi.
Kriteria hasil :
1) Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekwensi.
2) Menyatakan kesadaran kemampuan koping, kekuatan pribadi.
3) Mendemontrasikan penggunaan keterampilan/metode koping efektif.
No Intervensi Rasional
1.
2.
3.
4.
5. Kaji efektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku, mis : kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpastisivasi dalam rencana pengobatan.
Catat laporan penggunaan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala ketidakmampuan untuk mengatasi menyelesaikan masalah.
Bantu pasien untuk mengidentifikasi stresor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasi.
Libatkan pasien dalam perencanaan keperawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan.
Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu, bantu untuk menyesuaikan ketimbang membatalkan tujuan dari/keluarga. Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang, mengatasi hipertensi kronik dan mengintegrasi terapi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari.
Manifestasi mekanisme kopinh mal adaptif mungkin merupakan malkator marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentuan utama TD mastol.
Pengenalan terhadap stresor adalah langkah pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap stesor.
Keterlibatan memberikan pasien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan, memberikan keterampilan koping, dan dapat meningkatkan kerjasama dalam regimen terapeutik.
Perubahan yang perlu dipnositaskan secara kaustik untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya.
f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi
Tujuan : informasi terpenuhi
Kriteria hasil :
1) Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan.
2) Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan.
3) Mempertahankan TD dalam parameter normal.
No Intervensi Rasional
1.
2.
3.
4. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat.
Tetapkan dan nyatakan batas TD normal, jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal dan otak.
Hindari mengatakan TD ”normal” dan gunakan istilah ”terkontrol dengan baik” saat menggambar TD pasien dalam batas yang diinginkan.
Bahas pentingnya menghentikan merokok dan bantu pasien dalam membuat rencana untuk berhenti merokok. Kesalahan konsep dan menyangkut diagnosa karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minat pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan prognosis, bila pasien tidak menerima realitas bahwa membutuhkan pengobatan kontinu, maka perubahan perilaku tidak akan dipertahankan.
Membenarkan dasar untuk pemahaman tentang peningkatan TD dalam mengklasifikasi istilah medis yang sering digunakan. Pemahaman bahwa TD tinggi dapat terjadi tanpa gejala adalah ini untuk memungkinkan pasien melanjutkan pengobatan meskipun ketika merasa sehat.
Karena pengobatan untuk hipertensi adalah sepanjang kehidupan, maka dengan penyampaian ide ”terkontrol” akan membantu pasien untuk memahami kebutuhan untuk melanjutkan pengobatan/medikasi.
Nikotin meningkatkan pelepasan katekolamin, mengakibatkan peningkatan frekwensi jantung, TD dan vasokontriksi, mengurangi oksigenasi jaringan dan meningkatkan bahan kerja miokardium.
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana disusun dan ditujukan pada masing-masing order untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan, tujuan dan pelaksanaan adalah membantu klien mencapai tujuan yang telah diterapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping (Nursalam, 2001).
Tindakan keperawatan meliputi tindakan independen, dependen dan interdependen :
a. Independen yaitu tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya.
b. Dependen yaitu tindakan yang dilakukan oleh perawat atas petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya.
c. Interdependen yaitu tindakan keperawatan yang memerlukan suatu kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya (Nursalam, 2001).
5. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaan sudah dicapai.
Evaluasi merupakan bagian integral pada setiap tahap proses keperawatan, pengumpulan data perlu direvisi untuk menentukan apakah informasi yang telah dikumpulkan telah mencukupi dan apakah perilaku yang di observasi sudah selesai, diagnosa yang perlu di evaluasi dalam keakuratan dan kelengkapan.
Tujuan dan intervensi di evaluasi adalah menentukan apakah tujuan tersebut dapat dicapai secara efektif (Nursalam, 2001).
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
1. Biodata Pasien
a) Identitas pasien
Nama pasien : Ny. M
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 58 tahun
Status perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT
Alamat : Meukek/Sawang
Tanggal masuk : 15 Juli 2010
No. Register : 026569
Ruang/kamar : R.II / kamar melati
Tgl pengkajian hasil rawatan : 15 Juli 2010 jam 08.00 wib s/d 11.00 wib
Diagnosa medis : Hipertensi
b) Penanggung jawab
Nama : Ny. E
Hubungan dengan pasien : Anak
Pekerjaan : IRT
Alamat : Meukek
2. Keluhan Utama
Pada saat dikaji : pasien mengatakan pusing dan lemas + mual muntah + kaku kuduk.
a. Provokatif dan Paliatif
1) Apa yang menyebabkan gejala dan penyakit ?
Pasien mengatakan gejala atau penyebab penyakitnya disebabkan bila makan makanan yang tinggi garam dan yang mengandung kolesterol tinggi.
2) Apa saja yang dapat mengurangi atau memperberat ?
Pasien mengatakan hal yang dapat mengurangi dengan memakan mentimun dan obat yang tersedia di rumah dan yang memperberat bila pasien banyak melakukan aktivitas bekerja.
b. Qualitas dan Quantitas
1) Bagaimana gejala dirasakan ?
Gejala dirasakan dikepala terasa pening dan nyeri dan seluruh badan lemas, denyut jantung cepat, dan tekanan darah naik 200/100 mmHg.
2) Apakah lebih parah dari sebelumnya ?
Pasien mengatakan gejalanya timbul lebih parah dari sebelumnya.
c. Regional/Area radiasi
1) Dimana gejala dirasakan ?
Pasien mengatakan gejala dirasakan diseluruh tubuh dan yang paling berat di bagian kepala karena terasa pusing.
2) Apakah merambat kebagian lain ?
Pasien mengatakan iya, gejala dirasakan merambat kebagian kuduk dan tengkuk.
d. Skala
Berapa skala keparahannya : berat 7-9.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Normal Ringan Sedang Berat Hebat
e. Timing
1) Jenis (tiba-tiba/bertahap)
Pasien mengatakan gejala dirasakan tiba-tiba.
2) Frekwensi
Pasien mengatakan nyeri dikepalanya 3 sampai 5x sehari kadang lebih.
3) Durasi
Pasien mengatakan lamanya nyeri dan pusing yang dirasakannya sampai 1 ½ jam bahkan lebih.
3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
a. Alasan masuk dan dirawat
Pasien masuk ke rumah sakit dan dirawat karena tekanan darahnya naik di atas abnormal dan menyebabkan nyeri dan pusing kepala.
b. Penyakit yang pernah dialami
Pasien menyatakan penyakit yang pernah dialaminya adalah hipertensi dan asam lambung dan sempit dirawat di Rumah Sakit selama 1 minggu di kamar yang sama.
c. Pernah dirawat
Pasien mengatakan pernah dirawat di rumah sakit karena hipertensi dan asam lambung
d. Riwayat alergi
Pasien mengatakan tidak ada alergi obat dan makanan.
e. Status imunisasi
Pasien mengatakan tidak ada imunisasi.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
a. Penyakit keturunan yang ada
Pasien mengatakan ada penyakit keturunan yaitu hipertensi.
b. Anggota keluarga yang meninggal
Pasien mengatakan anggota yang meninggal satu orang yaitu kakak dari suaminya.
c. Penyebab meninggal
Pasien mengatakan kakak suaminya meninggal karena melahirkan anak pertamanya dirumah.
d. Genogram keluarga
Keterangan :
: laki-laki
: perempuan
: laki-laki meninggal
: perempuan meninggal
: pasien
: yang tinggal serumah
5. Riwayat Psikososial
a. Bahasa yang digunakan : bahasa Indonesia/Aceh.
b. Persepsi pasien terhadap penyakit : pasien mengatakan penyakitnya dapat disembuhkan dan dapat dicegah.
c. Konsep diri
1) Body image
Pasien mengatakan merasa terganggu dengan penyakitnya sekarang ini.
2) Ideal diri
Pasien ingin cepat sembuh dari penyakit yang dialami sekarang.
3) Harga diri
Pasien mengatakan masih merasa disayangi dan diperhatikan oleh keluarganya.
4) Peran diri
Pasien mengatakan sebagai seorang ibu dari empat orang anak-anaknya.
5) Personal identy
Pasien seorang ibu bagi anak dan istri bagi suaminya.
d. Keadaan emosionalnya :
Emosional pasien labil atau sedang karena emosinya tidak terlalu ditekan.
e. Hubungan dengan saudara
Pasien mengatakan hubungan dengan keluarganya baik-baik saja.
f. Hubungan dengan orang lain :
Dari yang dilihat dengan kedatangan saudara yang menjenguk dan menjaga pasien, jadi hubungan pasien dengan orang lain terjalin sangat baik.
6. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda-tanda vital
1) TD : 200/100 mmHg
2) R/R : 25 x/i
3) Puls : 95 x/i
4) Temp : 370c
5) TB : 150 cm
6) BBsebelum : 60 kg
BB sesudah : 55 kg
b. Keadaan umum
1) Kesan umum : (√) cukup
2) Wajah : (√) ekpresi datar
3) Bentuk badan : (√) sedang
c. Pemeriksaan kepala dan leher
1) Kepala dan rambut
Bentuk kepala : simetris
Keadaan ubun-ubun : menutup dan tidak ada benjolan
Luka peradangan : tidak ada peradangan
Kebersihan kulit kepala : kurang bersih
Kelainan : tidak ada kelainan
Penyebaran rambut : merata
Warna : agak putih
Kebersihan : kurang bersih
2) Mata
Inspeksi
Bentuk bola mata : simetris kiri dan kanan
Kelopak : tidak ada edema atau memar
Konjungtiva : tidak anemis
Sklera : tidak ada ikterik
Kornea : jernih
Iris : hitam
Pupil kanan : isokor
Pupil kiri : isokor
Lensa : jernih
Penggunaan alat bantu : tidak ada alat bantu
Kelainan : tidak ada edema dan memar
3) Hidung dan sinus
Inspeksi Palpasi
Ingus : tidak ada Septumnasal : medial
Perdarahan : tidak ada Sinus : tidak ada nyeri tekan
Penyumbatan : tidak ada
4) Telinga
Inspeksi
Daun telinga : simetris kiri dan kanan
Kebersihan : bersih
Kelainan : tidak ada kelainan
Uji pendengaran : tidak ada gangguan pendengaran
5) Mulut dan farink
Inspeksi
Bibir : simetris atas bawah/warna merah gelap
Gusi : normal dan tidak ada pendarahan
Gigi : tidak lengkap
Lidah : pergerakan normal/merah pudar
Membran mukosa : kering
Pendarahan : tidak ada pendarahan.
6) Leher
Posisi trakea : medial
Pembesaran tiroid : tidak ada
Pembesaran vena jogularis : tidak ada
d. Pemeriksaan toraks
1) Pemeriksaan dada
Infeksi
Bentuk : simetris kiri dan kanan
Retraksi : tidak ada retraksi
Kulit : tidak ada kelainan
Payudara : tidak ada benjolan/suhu normal
Fraktur : tidak ada fraktur
2) Jantung
Inspeksi : tidak dikaji
Palpasi : tidak ada pembesaran jantung
Perkusi : tidak ada kelainan
Auskultasi : bunyi jantung lab dap-dup
3) Paru-paru
Infeksi
Kiri : tidak ada retraksi kanan : tidak ada retraksi
Palpasi
Kiri : tidak ada kelainan kanan : tidak ada kelainan
Perkusi
Kiri : resonan kanan : resonan
Auskultasi
Kiri : mengi kanan : mengi
e. Abdomen
1) Inspeksi
Bentuk : simetris kiri dan kanan
Retraksi : tidak ada retraksi
Simetris : simetris
Kontur permukaan : tidak ada penonjolan
2) Auskultasi
Bising usus : 15 x/i
Bunyi arteri : cepat
Lain-lain : -
3) Perkusi
4) Palpasi
Hepar : tidak teraba
Ginjal : tidak teraba
Limfa : tidak teraba
Kandung kemih : dipasang kateter
f. Anus dan rektum
Inspeksi : tidak dikaji
Palpasi : tidak dikaji
g. Alat kelamin
Inspeksi : terpasang kateter
Palpasi : tidak dikaji
h. Muskulosketetal
Tulang
Infeksi
Kekuatan otot :
Pembengkakan : tidak terjadi pembengkakan
i. Neurologi
1) Kesadaran : compos mentis
2) GCS : E : 4 V : 5 M : 6 GCS : 15
3) Mentasi : ingatan pasien agak berkurang
4) Pergerakan : pasien membuka mata dengan spontan
5) Regulasi : perubahan ttv pada TD
6) Sensasi : tidak terjadi penurunan fungsi pada penggerakan anggota tubuh lain
7) Pola pemecahan masalah penyesuaian diri baik dengan lingkungan tempat dirawat.
7. Pola Kebiasaan setiap hari
a. Pola kebiasaan sehari-hari
Sebelum dirawat Sesudah dirawat
Frekwensi makan 3x sehari jenis makanan MB.
Makanan yang disukai mie dan kue kering.
BB 60 Frekwensi makan : 1x 1/hari dalam ¼ porsi.
Jenis makanan MI
Makanan yang disukai : tidak ada
Bila makan selalu ada reaksi mual dan muntah
BB menurun 55 kg.
b. Pola eliminasi
Sebelum dirawat Sesudah dirawat
BAK : 7-9 x/hari
BAB : 1-2 x/hari
Konsisten : padan, dan tidak ada kelainan. BAK terpasang kateter
BAB selama pasien 3 hari rawatan tidak pernah BAK.
c. Pola istirahat
Sebelum dirawat Sesudah dirawat
Waktu tidur : 21.00-05.00
Lamanya : 7 jam Waktu tidur 2 jam kadang-kadang terbangun dan gelisah.
d. Personal hygiene
Sebelum dirawat Sesudah dirawat
Pemeliharaan badan seperti mandi 1-2 x/hari.
Pemeliharaan mulut seperti gosok gigi 1-2 x/hari.
Pemeliharaan kuku : pasien memotong kuku 1 kali dalam seminggu. Pemeliharaan badan seperti mandi tidak ada.
Pemeliharaan mulut seperti gosok gigi hanya 1 selama dirawat 3 hari.
Pemeliharaan kuku, tidak ada.
e. Pola aktivitas
Sebelum dirawat Sesudah dirawat
Pasien mengatakan sebelum dirawat pasien bekerja dan beraktivitas dengan baik. Setelah di rawat pasien tidak bisa melakukan aktivitas dan aktivitas di bantu keluarga dan perawat.
8. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan penunjang lainnya
Rontgen : Bagian dada dan kepala hasilnya tidak menunjukkan kelainan di dada dan kepala.
b. Hasil lab
Jenis pemeriksaan Satuan Hasil Angka normal
HB
Caestrol total
Leukosit
Eritrosit
Hematokrit
Trombosit
Gula darah ad-random
Ureum
Kratini
mg/dl
mm/3
%
mm/3
mg/dl
mg/dl
mg/dl 13.0
280.4
6500
5.280.000
41.2
228.000
90.0
27.0
0.6
150-299
150.000-400.000
100-140
20-40
06-1.0
9. Pengobatan dan Terapi
No. Nama Obat Dosis/cara Fungsi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7. IFVD R/L
Ranitidin
Ceftriaxon
Nipidipin
Captropil
Norages
Piracetam 20 tts/m
1/8 jm
10/12 jm
10 gram
25 gram
1/8 jm
3/8 jm Mengganti cairan tubuh
Menetralkan asam lambung antibiotik.
Anti hipertensi
Obat untuk jantung
Penurun panas analgesik
B. Analisa Data
No Analisa Data Etiologi Masalah
1. Data subjektif
a. Pasien mengatakan nyeri dibagian kepala.
b. Pasien mengatakan bagian kuduknya terasa kaku.
Data objektif
a. Wajah pasien tampak meringis.
b. Kesadaran kompos mentis
c. Keadaan umum lemah
d. TD : 200/100mmHg
e. R/R : 25 x/i
f. N : 95 x/i
g. T : 370c
h. Skala nyeri 7-9 Peningkatan tekanan serebral
Aliran darah ke otak berkurang
Anoksia
Nyeri nyeri
2. Data subjektif
a. Pasien mengatakan tidak ada selera makan.
b. Pasien mengatakan kalau makan selalu muntah.
Data objektif
a. Keadaan umum lemah
b. Mukosa kering
c. Makanan yang disediakan ¼ porsi yang dihabiskan
d. BB menurun dari 60 menjadi 55 kg
e. TTV :
TD : 200/100 mmHg
R/R : 25 x/i
N : 95 x/i
T : 370c Anoreksia
Intek makan tidak adekuat
Peningkatan Hcl
Reaksi mual, muntah
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3. Data subjektif
a. Pasien mengatakan seluruh tubuhnya lemas dan susah digerakkan.
b. Pasien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas yang berlebih
Data objektif :
a. Keadaan umum lemas
b. Aktivitas dibantu keluarga dan perawat
c. Kekuatan otot
d. Kelemahan dan keletihan
e. TTV :
TD : 200/100 mmHg
R/R : 25 x/i
N : 95 x/i
T : 370c Kelemahan fisik
Ketidakmampuan beraktifitas
Lemah
Intoleransi aktifitas Intoleransi aktivitas
C. Diagnosa Keperawatan
Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral ditandai dengan pasien mengatakan nyeri dibagian kepala, pasien mengatakan bagian kuduknya terasa kaku, wajah pasien tampak meringis, kesadaran compos mentis, keadaan umum lemah, TTV: TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, N : 95 x/i, T : 370c, skala nyeri 7-9.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan pasien mengatakan tidak ada selera makan, pasien mengatakan kalau makan selalu muntah, keadaan umum lemah, mukosa kering, makanan yang dihabiskan ¼ porsi yang disediakan, BB menurun dari 60 kg s/d 55 kg, TTV : TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, N : 95 x/i, T : 370c.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan pasien mengatakan seluruh tubuhnya lemas dan susah digerakkan, pasien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas yang berlebih, keadaan umum lemah, aktivitas di bantu keluarga dan perawat, kekuatan otot , kelemahan dan keletihan, TTV : TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, N : 95 x/i, T : 370c.
D. Rencana Asuhan Keperawatan
Nama : Ny. M
Ruang : Rindu II Kamar Melati Diagnosa Medis : Hipertensi
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan/Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1. Nyeri berhubungan dengan tekanan vaskuler cerebral ditandai dengan :
Data subjektif
a. Pasien mengatakan nyeri di bagian kepala.
b. Pasien mengatakan bagian kuduknya terasa kaku.
Data objektif
a. Wajah pasien tampak meringis
b. Keadaan umum lemah
c. TTV :
TD : 200/100 mmHg
R/R : 25 x/i
N : 95 x/i
T : 370c
d. Skala nyeri 7-9 Tujuan :
Nyeri hilang
Kriteria hasil :
a. Keadaan umum baik
b. Tanda-tanda vital normal :
TD : 120/90 mmHg
R/R : 25 x/i
N : 95 x/i
T : 370c
c. Pasien tampak tidak meringis lagi
d. Skala nyeri 4-6 (sedang)
1. Mempertahankan tirah baring selama fase akut.
2. Berikan tindakan farmakologi untuk menghilangkan sakit kepala.
3. Hilangkan, minimalkan aktivitas yang berlebih yang dapat meningkatkan sakit kepala.
4. Instruksi untuk menghindari aktivitas yang berlebih.
5. Berikan lingkungan aman dan nyaman bagi pasien.
6. Batasi pengunjung yang ingin melihatnya.
7. Kolaborasi dalam memberikan analgesik sesuai indikasi. 1. Meminimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi.
2. Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang memperlambat/ memblok respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasi.
3. Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi yang menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskuler serebral.
4. Menurunkan dan mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang sistem saraf simpatis.
5. Aktivitas yang berlebih dapat memacu pompa jantung yang berlebihan.
6. Lingkungan yang aman nyaman bisa menghilangkan tekanan stres pada pasien dan rasa nyeri.
7. Pengunjung yang berlebihan bisa membuat rasa tekanan nyeri yang berlebihan.
2 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan :
Data subjektif :
a. Pasien mengatakan tidak ada selera makan.
b. Pasien mengatakan bila makan selalu muntah.
Data objektif :
a. Mukosa bibir kering
b. Makanan yang disediakan ¼ porsi yang dihabiskan
c. BB menurun sebelum 60 kg sesudah 55 kg
d. Tanda-tanda vital
TD : 200/100 mmHg
R/R : 25 x/i
N : 95 x/i
T : 370c
Tujuan :
a. Inteknutrisi bisa terpenuhi secara maksimal.
Kriteria hasil :
a. Pasien kembali nafsu makan.
b. Pasien tidak kelihatan pucat lagi.
c. Makanan yang disediakan dapat di habiskan.
d. Makanan yang disediakan dapat di habiskan. 1. Kaji penyebab tidak adanya nafsu makan.
2. Berikan makanan kesukaan pasien.
3. Berikan makanan porsi sedikit tapi sering.
4. Hindari makanan yang sangat panas atau sangat dingin.
5. Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.
6. Kolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung untuk memberikan makanan yang mudah dicerna, secara nutrisi seimbang.
7. Timbang berat badan sesuai indikasi setiap hari.
8. Kolaborasi pemberian tablet atau suplemen makanan yang dapat meningkatkan status gizi. 1. Mengetahui faktor penyebab tidak ada nafsu makan dan dapat mencari solusinya.
2. Dengan memberikan makanan kesukaan pasien yang disesuaikan dengan nilai gizi dapat meningkatkan selera makan pasien.
3. Makanan dalam porsi sedikit tapi sering akan ditoleransi lebih untuk memenuhi kebutuhan gizi.
4. Suhu eksterem dapat menentukan dapat meningkatkan spasme batuk.
5. Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal pasien penggunaan energi.
6. Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu nafas abdomen dan gerakan diafragma dan dapat meningkatkan dispnea.
7. Berguna untuk menentukan kebutuhan berat badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.
8. Berguna untuk meningkatkan berat badan
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan :
Data subjektif :
a. Pasien mengatakan seluruh tubuhnya lemas dan tak bisa di gerakkan dengan biasanya.
b. Pasien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas yang berlebih.
Data objektif :
a. Aktivitas di bantu keluarga dan perawat
b. K/U lemah
c. TTV
TD : 200/100 mmHg
R/R : 25 x/i
N : 95 x/i
T : 370c Tujuan :
Dapat menjalankan aktivitas seperti biasanya.
Kriteria/hasil :
a. Pasien tidak lemas
b. Aktivitas dapat kembali seperti biasanya. 1. Kaji respon pasien terhadap aktivitas.
2. Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energi.
3. Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri bertahap jika dapat di toleransi.
4. Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas khususnya bila pasien pergunakan vasodilator, diuretik penyekat beta.
5. Kaji presipitator/penyebab kelemahan otot contoh, pengobatan, nyeri otot.
6. Evaluasi peningkatan intoleransi aktvitas.
7. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi selingi priode aktivitas dengan periode istirahat. 1. Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respon fisiologi terhadap stres aktivitas, dan bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
2. Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
3. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.
4. Hipertensi ostostatik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (savodilasi) perpindahan cairan (diuretik) atau pengaruh fungsi jantung.
5. Kelemahan adalah efek samping beberapa obat (beta bloker) traguilizer dan sedatif) nyeri dan program penuh stres juga memerlukan energi dan menyebabkan kelemahan.
6. Dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas.
7. Pemenuhan kelebihan perawatan diri pasien tanpa mempengaruhi stres miokard/kebutuhan oksigen berlebihan.
E. Catatan Perkembangan
No. Hari/Tanggal No
DX Jam Implementasi Evaluasi
1. Kamis,
15-07-2010 I 08.00 wib Mandiri
1. Mempertahankan tirah baring selama fase akut.
2. Mengintruksikan untuk menghindari aktivitas yang berlebih.
3. Menghilangkan, meminimalkan aktivitas yang berlebih yang dapat meningkatkan sakit kepala.
4. Berkolaborasi dalam memberikan analgesik sesuai indikasi. Jam 12.00 wib
S : Pasien mengatakan nyeri di kepala dan kaku kuduk.
O :
1. Wajah pasien meringis.
2. Keadaan umum lemah.
3. Tanda-tanda vital
TD : 200/100 mmHg
R/R : 25 x/i
Puls : 95 x/i
Temp : 370c
4. Skala nyeri 7-9
A : Masalah nyeri belum teratasi.
P : Intervensi dilanjutkan
1. Menginstruksikan untuk menghindari aktivitas yang berlebih.
2. Menghilangkan, minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan saki kepala.
3. Memberikan lingkungan aman dan nyaman bagi pasien.
4. Berkolaborasi dalam memberikan analgesik sesuai indikasi.
Kamis,
15-07-2010 II 11.00 wib 1. Mengkaji penyebab tidak adanya nafsu makan.
2. Memberikan makanan kesukaan pasien.
3. Berikan makanan sedikit tapi sering.
4. Berkolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung untuk memberikan makanan yang mudah dicerna secara nutrisi seimbang. Jam 13.00 wib
S :
1. Pasien mengatakan tidak ada selera makan.
2. Pasien mengatakan bila makan selalu muntah.
O :
1. Mukosa bibir kering
2. Makan yang disediakan ¼ porsi yang dihabiskan
3. Berat badan menurun.
BB sebelum : 60 kg
BB sesudah : 55 kg
A : Masalah pemenuhan nutrisi belum terpenuhi.
P : Intervensi dilanjutkan.
1. Memberikan makanan sedikit tapi sering.
2. Memberikan makanan yang disukai pasien.
3. Hindari makanan pedas dan dingin.
4. Kolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung untuk memberikan makanan yang mudah dicerna secara nutrisi seimbang.
Kamis,
15-07-2010 III 10.00 wib Mandiri
1. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas.
2. Memberikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi.
3. Periksa tanda-tanda vital sebelum dan setelah aktivitas.
4. Memberikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi selingi periode aktivitas dan istirahat. Jam 11.30 wib
S :
1. Pasien mengatakan seluruh tubuhnya lemas dan tak bisa digerakkan dengan biasanya.
2. Pasien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas yang berlebih.
O :
1. Aktivitas di bantu keluarga dan perawat.
2. Keadaan umum lemah.
3. TTV
TD : 20/100
R/R : 25 x/i
Puls : 95 x/i
Temp : 370c
A : Masalah intoleransi aktivitas belum teratasi.
P : Intervensi dilanjutkan
1. Memberikan dorongan untuk melakukan aktivitas.
2. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas
3. Mengkaji presipator penyebab kelemahan otot contoh penggunaan obat nyeri otot.
4. Periksa tanda-tanda vital sebelum dan setelah aktivitas
2. Jum’at
16-07-2010 I 14.20 wib Mandiri
1. Mengintruksikan untuk menghindari aktivitas yang berlebih.
2. Menghilangkan, meminimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala.
3. Memberikan lingkungan aman nyaman bagi pasien.
4. Kolaborasi dalam penimbunan analgesik sesuai indikasi.
Jam 19.00 wib
S : Pasien mengatakan nyeri di bagian kepala dan kaku kuduk berkurang.
O :
1. Wajah pasien tidak tampak meringis lagi.
2. Keadaan umum sedang.
3. Tanda-tanda vital
TD : 120/90 mmHg
R/R : 20 x/i
Puls : 95 x/i
Temp : 370c
4. Skala nyeri 4-6
A : Masalah belum teratasi.
P : Intervensi dianjurkan
1. Mengkaji skala nyeri 4-6 (sedang)
2. Memberikan lingkungan nyaman bagi pasien.
3. Membatasi pengunjung yang datang melihat.
4. Kolaborasi dalam pemberian alagesik sesuai indikasi.
Jum’at,
16-05-2010 II 16.00 wib Mandiri
1. Memberi makanan sedikit tapi sering.
2. Memberikan makanan yang disukai pasien.
3. Hindari makanan yang sangat panas dan dingin.
4. Berkolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung untuk memberikan makanan mudah dicerna secara nutrisi seimbang. Jam 19.30 wib
S :
1. Pasien mengatakan sudah ada selera makan.
2. Pasien mengatakan sudah tidak lagi muntah.
O : Keadaan umum sedang.
A : Masalah pemenuhan nutrisi teratasi sebagian.
P : Intervensi dilanjutkan
1. Hindari makanan yang sangat panas dan dingin.
2. Memberikan makanan yang disukai pasien.
3. Menimbang berat pasien setiap hari.
4. Berkolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung untuk memberikan makanan mudah dicerna secara seimbang.
Jum’at,
16-05-2010 III 16.00 wib Mandiri
1. Memberikan dorongan untuk melakukan aktivitas.
2. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas.
3. Mengkaji presipitator penyebab kelemahan otot contoh pengobatan nyeri otot.
4. Periksa tanda-tanda vital sebelum dan setelah aktivitas. Jam 19.30 wib
S :
1. Pasien mengatakan seluruh tubuhnya sudah bisa digerakkan dengan sedikit-sedikit.
2. Pasien mengatakan sudah bisa beraktivitas sedikit-sedikit.
O :
1. Keadaan umum sedang.
2. Aktivitas mandi masih dibantu keluarga.
3. Tanda-tanda vital
TD : 120/90 mmHg
R/R : 20 x/i
Puls : 90 x/i
Temp : 370c
4. Skala nyeri 4-6
A : Masalah intoleransi aktivitas teratasi sebagian.
P : Intervensi dilanjutkan.
1. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas.
2. Mengkaji presipator penyebab kelemahan otot contoh pengobatan nyeri otot.
3. Mengintruksikan pasien tentang teknik penghematan energi.
4. Pemeriksaan TTV sebelum dan sesudah aktivitas.
3. Sabtu,
17-05-2010 I 14.30 wib Mandiri
1. Mengkaji skala nyeri 4-6 sedang.
2. Memberikan lingkungan aman nyaman bagi pasien.
3. Membatasi pengunjung yang datang melihat.
4. Berkolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai indikasi. Jam 19.00 wib
S : Pasien mengatakan nyeri di bagian kepala dan kaku kuduk sudah berkurang.
O :
1. Wajah pasien tidak tampak meringis lagi.
2. Keadaan umum sedang.
3. Tanda-tanda vital :
4. Skala nyeri 4-6
A : Masalah belum teratasi.
P : Intervensi dilanjutkan oleh perawat ruangan.
Sabtu,
17-07-2010 II 10.00 wib Mandiri
1. Menghindari makanan yang panas dan dingin.
2. Memberi makanan yang disukai pasien.
3. Menimbang berat badan sesuai indikasi setiap hari.
4. Berkolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung untuk memberikan makanan mudah dicerna secara nutrisi seimbang. Jam 19.30 wib
S : Pasien mengatakan sudah ada selera makan.
O : Keadaan umum sedang.
A : Masalah teratasi sebagian.
P : Intervensi dilanjutkan perawat ruangan.
Sabtu,
17-05-2010 III 14.00 wib Mandiri
1. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas.
2. Mengkaji presipator penyebab kelemahan otot contoh penggunaan obat nyeri otot.
3. Intruksikan pasien tentang teknik penghematan energi
4. Memeriksa tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas. Jam 16.00 wib
S : Pasien mengatakan sudah bisa melakukan aktivitas.
O : Keadaan umum sedang.
A : Masalah teratasi sebagian.
P : Intervensi dilanjutkan oleh perawat ruangan.
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan membahas mengenai kesenjangan dan persamaan antara apa yang penulis dapatkan secara teoritis dengan tinjauan kasus dilapangan melalui asuhan keperawatan yang penulis laksanakan pada Ny. M dengan Hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan selama 3 (tiga) hari rawatan terhitung mulai tanggal 15 s/d 17 Juli 2010, supaya mendapatkan suatu pembahasan hal terperinci dan sistematis maka pembahasan ini penulis bahas sesuai dengan tahap-tahap proses keperawatan yaitu : pengkajian, rencana keperawatan, implementasi dan evaluasi, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pembahasannya sebagai berikut :
A. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan pasien (Nursalam, 2001).
Pada tinjauan teoritis penulis memperoleh data pengkajian antara lain : aktivitas dan istirahat seperti : keletihan/kelelahan, nafas pendek, gaya hidup monoton, frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea, sirkulasi : riwayat hipertensi arterioskelosis, penyakit jantung koroner dan penyakit cerebrovaskuler, kenaikan tekanan darah, bunyi jantung S2. Pada dasar S3 CHF dini : kulit pucat, sianosis, dan diaforesis. Integritas ego : riwayat perubahan kepribadian, asientas, depresi euforia, atau marah kronik. Faktor-faktor stres multipel, letupan suasana hati, gelisah, penyempitan continu, tangisan yang meledak, gerak tangan simpatis, otot muka tegang, eliminasi : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu. Makanan dan cairan : makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol : riwayat penggunaan diuretik, berat badan normal, atau obesitas adanya edema. Neurosensori : keluhan dan pening, sakit kepala, kebas dan kelemahan pada sisi tubuh, gangguan penglihatan, status mental, perubahan keterjagaan, orientasi pola/isi bicara. Nyeri ketidaknyamanan : angina (penyakit arteri coroner) nyeri hilang timbul pada tungkai, klasudikasi sakit kepala okcipital berat. Pernafasan : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas kerja, takipnea, ortopnea, dispnea, nokturia, poroksimal, batuk tanpa sputum, bunyi nafas tambahan. Distres respirasi, penggunaan otot aksori pernafasan, kelemahan : gangguan koordinasi/ cara berjalan, episode perestasia unilateral, hipertensi postural, pembelajaran/ penyuluhan : faktor-faktor resiko keluarga, hipertensi, arteroklorosis, penyakit jantung, diabetes militus, penyakit cerebrovaskuler.
Pada pengkajian kasus Ny. M dengan hipertensi didapatkan data pengkajian seperti berikut : pasien mengatakan pusing, lemas, mual muntah, kaku kuduk dan pernafasan cepat disebabkan oleh stres, skala nyeri 7-9, tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c, berat badan 60 kg, tinggi badan 150 cm, membran mukosa kering, anemis, adanya retraksi, bunyi nafas mengi, pemeriksaan rongen, bagian kepala dan dada tidak menunjukkan kelainan : pola makan hanya menghabiskan ¼ porsi rendah garam.
Dari hasil pengkajian tersebut terdapat persamaan antara pengkajian yang penulis dapatkan secara teoritis dengan yang ditemukan pada tinjauan kasus, adapun persamaannya yaitu : adanya gejala seperti : tanda-tanda vitalnya meningkat TD : 200/100 mmHg (kenaikan tekanan darah) adanya perubahan pola nafas pada saat dikaji dari jam 08.00 wib sampai jam 10.00 wib kemudian berubah kembali setelah 3 jam, adanya riwayat hipertensi, nadi : 95 x/i, aktivitas istirahat kelemahan, letih dan kepala terasa pusing, makanan dan cairan : mual muntah, perubahan berat badan sebelum 60 kg sesudah 55 kg. Neurosensori : keluhan pening, kepala terasa berdenyut, denyut, nyeri atau ketidaknyamanan : sakit kepala, pernafasan takipnea kelemahan : gangguan kordinasi cara berjalan.
Sedangkan kesenjangan yang terjadi antara landasan teoritis dan tinjauan kasus yaitu pada pengkajian :
1) Sirkulasi : penyakit jantung koroner dan penyakit cerebrovaskular, bunyi jantung S2¬ pada dasar S3 CHF dini tidak dijumpai pada pasien dikarenakan hipertensi yang dialami belum begitu parah dan belum bersifat fatal yang mengajukan pada komplikasi berat.
2) Integritas ego : riwayat perubahan kepribadian, asientas depresi, euforia atau marah kronik juga tidak dijumpai pada pasien dikarenakan keluarga telah bisa membuat pasien pengertian dengan apa yang terjadi saat sekarang ini sehingga ketakutan dan perubahan kepribadian bisa diatasi.
3) Eliminasi : gangguan ginjal saat ini dan yang lalu tidak dijumpai pada pasien hipertensi karena tidak ada terjadi kelainan ginjal pada pasien hipertensi.
4) Neurosensori : kelemahan pada sisi tubuh, gangguan penglihatan, status mental, disorentasi juga tidak dijumpai pada pasien hipertensi dikarenakan cepatnya penanganan dirumah sakit dan ketepatan keluarga dalam membawa pasien kerumah sakit.
5) Nyeri ketidaknyamanan : angina tidak terjadi pada hipertensi dikarenakan hipertensi masih dapat dicegah karena hipertensi belum begitu parah sampai menimbulkan komplikasi.
6) Pernafasan : dispnea, batuk tanpa sputum, bunyi nafas tambahan, distres respirasi, penggunan otot aksesori pernafasan, tidak terjadi pada hipertensi dikarenakan adanya penanganan bantuan oksigen daripada tim medis rumah sakit.
7) Kelemahan fisik : episode perestasia unilateral, hipertensi postural, tidak terjadi pada hipertensi dan tidak dijumpai pada saat penulis melakukan pengkajian dikarenakan hipertensi yang dialami pasien belum terjadi komplikasi berat.
8) Pembelajaran/penyuluhan : faktor resiko keluarga, arteriosklerosis, diabetes militus, dan penyakit cerebrovaskular tidak dijumpai pada anggota keluarga dikarenakan tingkat pemahaman keluarga tentang hipertensi sangat luas dan berkembang.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia, individu dan kelompok, dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito, 2000).
Adapun diagnosa keperawatan pada tinjauan teoritis yang timbul pada hipertensi menurut Doengoes (1999) adalah penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan vasocontriksi, intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan frekwensi jantung abnormal, rasa tidak nyaman saat bergerak atau dispnea, nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral ditandai dengan susah untuk menggerakkan kepala, menghindari sinar terang dan keributan, pusing, mual muntah. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan perubahan berat badan, koping individu infektif berhubungan dengan harapan tak terpenuhi, kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/penyakit.
Sedangkan diagnosa keperawatan yang timbul pada tinjauan kasus adalah nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral ditandai dengan pasien mengatakan nyeri dibagian kepala, pasien mengatakan bagian kuduknya terasa kaku, wajah pasien tampak meringis, kesadaran composmentis, kelemahan umum, tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan pasien mengatakan tidak adanya selera makan, pasien mengatakan kalau makan selalu muntah, keadaan umum lemah, mukosa kering, makanan yang dihabiskan ¼ porsi dari yang disediakan, berat badan menurun dari 60 kg menjadi 55 kg tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan pasien mengatakan seluruh tubuhnya lemas dan susah digerakkan, pasien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas berlebih, keadaan umum lemah, aktivitas dibantu keluarga dan perawat, tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c.
Adapun persamaan antara diagnosa keperawatan yang muncul pada tinjauan teoritis dan tinjauan kasus adalah sebagai berikut :
1) Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler hal ini disebabkan karena pasien mengeluh pusing, nyeri kepala, bagian kuduknya terasa kaku, wajah tampak meringis, keadaan lemah, perubahan tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c.
2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, hal ini disebabkan kurangnya selera makan, adanya mual muntah, keadaan umum lemah, mukosa kering, makanan yang dihabiskan ¼ porsi dari yang disediakan, berat badan menurun tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c.
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai dengan seluruh tubuhnya lemas susah digerakkan, aktivitas terbatas, aktivitas dibantu keluarga dan perawat, kelemahan dan keletihan kekuatan otot normal tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, R/R : 25 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c.
Sedangkan perbedaan/kesenjangan yang didapat dari diagnosa keperawatan pada teori dan kasus adalah :
Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan vasokontriksi. Diagnosa ini tidak diambil pada kasus dan dibuat di teori dikarenakan pada saat darah tinggi naik belum sampai ke taraf keparahan diatasi dengan ketepatan pembenaran obat anti hipertensi oleh keluarga.
1) Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi. Diagnosa ini tidak dimuat di kasus dan ditulis di teori dikarenakan pengetahuan pasien dan keluarga sangat baik terhadap penyakit hipertensi sehingga dengan cepat keluarga dan pasien tahu bila darah tinggi naik dan kambuh segera diberikan pencegahan sedini mungkin.
2) Koping individu in efektif berhubungan dengan harapan tak terpenuhi. Diagnosa ini juga tidak diangkat di kasus dan diangkat di teori dikarenakan keluarga dan pasien mengerti sekali dengan bagaimana bila seseorang di serang hipertensi itu berat dan bikin nyeri di kepala, dengan begitu keluarga dan pasien bisa menghadapinya dengan hati terbuka.
C. Intervensi/Perencanaan
Perencanaan merupakan katagori dari perilaku keperawatan dimana tinjauan kasus berpusat pada pasien dari hasil yang diperkirakan dan intervensi keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut (Potter, 2005).
Setelah penulis menemukan diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus, maka penulis menemukan rencana asuhan keperawatan sesuai prioritas masalah yang dialami pasien.
Pada diagnosa nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler rencana tindakan keperawatannya adalah mempertahankan tirah baring selama fase akut, tindakan non farmakologi, untuk menghilangkan sakit kepala, hilangkan minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, intruksikan untuk menghindari aktivitas yang berlebih, berikan lingkungan aman nyaman bagi pasien, batasi pengunjung yang ingin melihatnya, kolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai indikasi.
Pada diagnosa perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, rencana tindakan keperawatannya adalah : kaji penyebab tidak adanya nafsu makan, berikan makanan kesukaan pasien, berikan makanan porsi sedikit tapi sering, hindari makanan yang sangat panas dan sangat dingin, hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat, timbang berat badan setiap hari. Kolaborasi dalam pemberian suplemen makanan untuk meningkatkan status gizi. Kolaborasi dengan ahli gizi nutrisi pendukung tim untuk memberikan makanan yang mudah dicerna secara nutrisi seimbang.
Pada diagnosa intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Rencana tindakan keperawatannya adalah : kaji respon pasien terhadap aktivitas, intruksikan pasien tentang teknik penghematan energi. Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi, periksa tanda-tanda vital, sebelum dan sesudah aktivitas, kaji presipator/penyebab kelemahan otot, evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas, berikan bantuan dalam aktivitas perawatan dini sesuai indikasi
D. Implementasi
Implementasi adalah merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana perawat (Wartonah, 2004).
Adapun implementasi diberikan adalah sebagai berikut :
Pada diagnosa keperawatan nyeri berhubungan dengan perubahan tekanan serebral. Penulis melakukan tindakan keperawatan yang sudah direncanakan pada intervensi keperawatan diantaranya adalah menghilangkan rasa nyeri pada pasien dan sirkulasi volume darah TD : 120/90 mmHg, R/R : 20 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c menghilangkan rasa sakit kepala, mengindruksikan untuk menghindari aktivitas yang berlebih, kolaborasi dengan tim dokter/tim medis lainnya dalam pemberian obat untuk menghilangkan sakit kepala dan rasa nyeri.
Pada diagnosa keperawatan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexsia penulis melakukan tindakan keperawatan mencatat masukan makanan dan cairan sebanyak ¼ porsi dari yang disediakan, mencatat, penyebab tidak adanya nafsu makan, ikut serta dalam pemberian makanan yang disukai oleh pasien, memberikan suplemen makanan kepada pasien untuk meningkatkan berat badan, dan mencatat berat badan pasien setiap hari selama rawatan melakukan kolaborasi dengan dokter dan tim medis dalam pemberian diit seimbang untuk pasien.
Pada diagnosa keperawatan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, penulis melakukan tindakan keperawatan memantau aktivitas aktif dan pasif yang dilakukan oleh pasien. melakukan/menganjurkan untuk melakukan aktivitas yang dapat di toleransi dan penulis juga mengukur tanda-tanda vital pada pasien setiap sehabis aktivitas setiap hari dengan tanda-tanda vital TD : 120/90 mmHg, R/R : 20 x/i, Puls : 95 x/i, Temp : 370c dan mengajak pasien dalam berpartisipasi untuk melakukan aktivitas setiap hari.
E. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi perawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, karena tindakan dan pelaksanaan sudah dicapai (Nursalam, 2001).
Setelah penulis melakukan tindakan keperawatan maka langkah terakhir dari proses keperawatan adalah mengevaluasi sejauhmana tindakan-tindakan yang telah diberikan pada pasien berhasil atau tidak, hal ini ditunjang oleh adanya kerjasama yang efektif antara tenaga kesehatan dan keluarga dalam fasilitas dan sarana kesehatan adanya keberhasilan tersebut dapat dilihat dari evaluasi yang telah tercapai antara lain hasil evaluasi masalah nyeri berhubungan dengan tekanan vaskuler serebral sudah teratasi, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia teratasi dan kelemahan fisiknya juga teratasi selama 3 hari rawatan, perawat tidak menjumpai masalah lain atau yang baru pada pasien, pasien ACC pulang.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penulis melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan kasus hipertensi di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan maka dapat diambil kesimpulan :
1) Hipertensi adalah tingginya tekanan darah secara menetap dimana tekanan diastolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada populasi pasien lansic hipertensi diterapkan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.
2) Pengkajian pada Ny. M dengan hipertensi dilakukan secara komprehensif dengan cara wawancara, (interview) pengamatan (observasi) pemeriksaan fisik dan study dokumentasi dengan mempelajari status pasien dan data penunjang lain seperti rekam medik.
3) Dari hasil pengkajian pada Ny. M dengan hipertensi didapatkan data pasien mengatakan pusing dan lemas ditambah mual muntah dan kaku kuduk. Konjungtiva anemis keadaan umum lemah, tekanan darah meningkat, nadi cepat, pasien tampak cemas.
4) Diagnosa darah ditetapkan pada Ny. M adalah nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, dan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
5) Tujuan intervensi nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular, nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan kelamahan fisik bisa teratasi dengan baik selama perawatan.
6) Pelaksanaan yang telah diberikan pada Ny. M dengan hipertensi dilakukan secara dependen, independen dan kolaboratif untuk mencapai hasil yang optimal.
7) Berdasarkan hasil evaluasi yang penulis lakukan selama pelaksanaan asuhan keperawatan pada Ny. M dengan hipertensi dapat dilihat keberhasilan seperti mengurangi rasa nyeri tidak terjadi lagi, dan pemenuhan nutrisi yang adekuat, tanda-tanda vital batas normal pasien kelihatan tenang.
8) Semua tindakan keperawatan yang dilakukan didokumentasikan pada status pasien setelah dilakukan.
B. Saran
1) Diharapkan kepada pasien dan keluarga setelah dilakukan tindakan keperawatan dan pendidikan kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan lebih mengerti tentang hipertensi yang telah menyebabkan kematian.
2) Diharapkan pada pembaca dengan adanya Karya Tulis Ilmiah ini dapat meningkatkan minat baca sehingga dapat meningkatkan pengetahuan khususnya tentang hipertensi.
3) Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan pada institusi pendidikan untuk dapat memberikan waktu semaksimal mungkin serta menambah referensi buku-buku terbaru yang memadai agar hasil yang diharapkan sesuai seperti yang diinginkan.
4) Diharapkan kepada pihak Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan agar lebih meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada pasien baik bio, psikososial dan spritual tanpa membedakan derajat dan tingkat ekonominya.
DAFTAR PUSTAKA
Arif, Mansjoer, (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Edisi 3. Jakarta Media Aeskolopius.
Aziz Halimul Hidayat, (2006), Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba.
Carpenito, Lynda Juall, (1998), Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Edisi 6. Jakarta : EGC.
Doengoes, Marilynn. E, (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC.
Ganong Willyam F, (2002), Buku Ajar Fisiologis Kedokteran. Edisi 20. Jakarta : EGC.
Niluh.Gede Yasmin Asih, (2003), Keperawatan Medical Bedah. Jakarta : EGC.
Nursalam, (2001), Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 1. Jakarta : EGC.
Suzanne C. Smetzer, (2001), Keperawatan Medical Bedah, Brunner & Suddart. Edisi 8. Jakarta : EGC.
Sylvia, A.Price, Lorrence, (2005), Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta.
Tarwoto, Wartonah, (2004), Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Edisi I. Jakarta : Salemba Medika.
Anonim.(2009) hipertensi.com. Dibuka pada tanggal 23 Juli 2010. http/www. dingharmanto.com.
Anonim, (2009) hipertensi.com. Dibuka pada tanggal 25 Juli 2010, http/www.health,detik com.
Anonim, (2003), hipertensi.com. Dibuka pada tanggal 25 Juli 2010, http/www.kalbe co.id.
Minggu, 05 Desember 2010
TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYAN KEPERAWATAN
Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan kebutuhan pelanggan dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila pelayanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan. Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisien dan lebih efektif. Apabila pelanggan merasa tidak puas terhadap suatu pelayanan yang disediakan, maka pelayanan tersebut dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. Hal ini terutama sangat penting bagi pelayanan publik.
Tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan merupakan faktor yang penting dalam mengembangkan suatu sistim penyediaan pelayanan yang tanggap terhadap kebutuhan pelanggan, meminimalkan biaya dan waktu serta memaksimalkan dampak pelayanan terhadap populasi sasaran.
Terdapat beberapa cara untuk mengukur kepuasan pelanggan, tetapi makalah ini menguraikan satu cara sederhana yang telah digunakan di subsektor peternakan, perdasarkan penilaian petani terhadap dua isu penting yaitu: (1) tingkat kepentingan pelayanan yang diberikan, and (2) kinerja pemberi pelayanan didalam memberikan pelayanannya.
Makalah ini menggali suatu metodologi yang pernah digunakan untuk menjajagi tingkat kepuasan pelanggan (yaitu petani peternak) terhadap pelayanan yang diberikan terutama oleh petugas pemerintah. Metodologi yang dirancang ini juga dapat dipergunakan bagi sektor pertanian lainnya maupun sektor non-pertanian.
Oleh karena pendekatan partisipatif diperlukan didalam mengumpulkan data, maka sangat direkomendasikan agar enumerator yang akan mengumpulkan data dibekali terlebih dahulu dengan alat-alat PRA (Pemahaman Pedesaan secara Partisipatif).
Pendahuluan
Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisien dan lebih efektif. Apabila pelanggan merasa tidak puas terhadap suatu pelayanan yang disediakan, maka pelayanan tersebut dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. Hal ini terutama sangat penting bagi pelayanan publik. Pada kondisi persaingan sempurna, dimana pelanggan mampu untuk memilih di antara beberapa alternatif pelayanan dan memiliki informasi yang memadai, kepuasan pelanggan merupakan satu determinan kunci dari tingkat permintaan pelayanan dan fungsi/operasionalisasi pemasok. Namun bila hanya satu agen, baik pemerintah maupun sektor swasta, yang merupakan penyedia tunggal pelayanan, maka penggunaan kepuasan pelanggan untuk mengukur efektifitas dan efisiensi pelayanan sering tidak kelihatan. Makalah ini menggali suatu metodologi yang pernah digunakan untuk menjajagi tingkat kepuasan pelanggan (petani peternak) terhadap pelayanan yang diberikan terutama oleh petugas pemerintah. Metodologi yang dirancang ini juga dapat dipergunakan bagi sektor pertanian lainnya maupun sektor non-pertanian
Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan keperluan pelanggan dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila ia dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggannya. Ada beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan oleh pelanggan dalam menilai suatu pelayanan, yaitu: ketepatan waktu, dapat dipercaya, kemampuan teknis, diharapkan, berkualitas dan harga yang sepadan.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, pelanggan sendiri yang menilai tingkat kepuasan yang mereka terima dari barang atau jasa spesifik yang diberikan, serta tingkat kepercayaan mereka terhadap kemampuan pemberi pelayanan
Mengapa kita mengukur kepuasan pelanggan?
Tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan merupakan faktor yang penting dalam mengembangkan suatu sistim penyediaan pelayanan yang tanggap terhadap kebutuhan pelanggan, meminimalkan biaya dan waktu serta memaksimalkan dampak pelayanan terhadap populasi sasaran.
Dalam rangka mengembangkan suatu mekanisme pemberian pelayanan yang memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan, perlu mengetahui hal-hal berikut
1. Mengetahui apa yang pelanggan pikirkan tentang anda, pelayanan anda, dan pesaing anda.
2. Mengukur dan meningkatkan kinerja anda.
3. Mempergunakan kelebihan anda kedalam pemilahan pasar.
4. Memanfaatkan kelemahan anda ke dalam peluang pengembangan – sebelum orang lain memulainya.
5. Membangun wahana komunikasi internal sehingga setiap orang tahu apa yang mereka kerjakan.
6. Menunjukkan komitmen anda terhadap kualitas dan pelanggan anda
Umpan balik dan informasi merupakan elemen yang penting dalam membangun sistem pemberian pelayanan yang efektif, termasuk:
• Tingkat kepuasan pelanggan
• Kualitas pelayanan
Bagaimana mengukur kepuasan pelanggan?
Berikut ini adalah langkah-langkah yang telah dilakukan oleh konsultan program DELIVERI didalam mengukur tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan peternakan di lokasi proyek.
1. Data yang dikumpulkan
• Jenis Pelayanan. Tanyakan kepada Pemberi pelayanan (baca: Petugas Dinas), yang akan diukur tingkat kepuasan pemberian pelayanannya, tentang jenis-jenis pelayanan yang biasa diberikan, siapa yang memberikan pelayanan dan kepada siapa pelayanan tersebut diberikan.
• Tuliskan setiap jenis pelayanan tersebut karena pelayanan inilah yang akan diukur kinerjanya di dalam memberikan kepuasan terhadap pelanggan
• Kinerja Pelayan dan Tingkat Kepentingan Pelayanan. Diskusikan dengan pelanggan tentang:
o faktor-faktor yang akan dipergunakan di dalam mengukur kinerja pelayanan, misalnya: tingkat keahlian, ketepatan waktu, kemudahan dihubungi, kemampuan menyelesaikan masalah dan fasilitas yang dimiliki di dalam memberikan pelayanan.
o tingkat kepentingan pelayanan.
• Minta Pelanggan agar memberikan nilai terhadap kinerja dan tingkat kepentingan pelayanan
2. Bagaimana mengumpulkan data
a. Responden
• Respondent dipilih secara acak.
• Identifikasi pelanggan yang akan menjadi responden
• Lakukan wawancara perorangan menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat kepentingan pelayanan dan kinerja pemberi pelayanan (lihat Lampiran 1).
b. Waktu
• Pilih waktu yang tepat bagi pelanggan. Ketahui saat saat sibuk kegiatan usaha tani (saat tanam atau saat panen), sibuk adat dan agama.
• Jangan menentukan waktu sendiri, tetapi rundingkan dengan pelanggan kapan waktu luang mereka, sehingga ada kesepakatan. Apakah siang atau malam hari?
• Jawaban yang akurat hanya dapat diperoleh bila pelanggan dengan senang hati memberikan informasi.
c. Lokasi
• Penentuan lokasi pengukuran kepuasan pelanggan sangat tergantung dari cakupan kajian. Bisa di tingkat kelompok tani, atau desa atau kabupaten.
• Untuk cakupan lokasi yang luas lakukan sampling pemilihan lokasi. Pilih lokasi yang representatif. Banyak cara untuk melakukan sampling ini, tetapi itu bukan maksud dari penyusunan manual ini.
3. Metoda analisis
• Kompilasikan angka-angka penilaian kepuasan pelanggan terhadap: (a) tingkat kepentingan pelayanan menurut petani, dan (b) kinerja Pelayan di dalam memberikan pelayanan, menurut faktor-faktor yang disepakati untuk diukur, ke dalam sel-sel di dalam Matriks Kepuasan Pelanggan (lihat Lampiran 2).
• Baris di dalam matriks menunjukkan tingkat kepentingan, sementara kolom menunjukkan tingkat kinerja Pelayan. Contoh: bila tingkat kepentingan di nilai 4 atau 5, dan kinerja juga dinilai 4 atau 5 maka penilaian ini ditempatkan pada sel-sel berwarna merah (sel-sel pertemuan antara kolom dan baris) di dalam matriks, dan selanjutnya.
• Lakukan analisis deskriptif dari setiap jawaban yang terkumpul di masing-masing area pada matriks. Misal: persentase jawaban yang terkumpul pada masing-masing area.
• Kumpulan data di setiap sel dapat pula disajikan dalam grafik tiga dimensi seperti diperlihatkan pada Lampiran 3.
4. Survey Baseline dan Survey Lanjutan
• Apabila dibutuhkan untuk membandingkan data sebelum dan sesudah proyek – untuk mengukur perubahan di dalam tingkat kepuasan p[elanggan – lakukan beberapa kali survey yang sama. Biasanya, lakukan survey dasar dan survey lanjutan.
• Selang waktu antara dua survey tergantung dari tujuan survey dan juga masa proyek. Ini dapat dilakukan terus menerus, secara periodik, atau pada awai dan akhir proyek.
5. Interpretasi
Tingkat kepuasan pelangan didefinisikan dengan parameter-parameter sebagai berikut:
• KEPUASAN PELANGGAN TINGGI: persentase responden yang melaporkan tingkat kepentingan pelayanan lebih besar dari 3 (4 atau 5) dan menilai tingkat kinerja pelayanan lebih besar dari 3 (4 atau 5). Pada kondisi ini pelanggan menemukan bahwa kinerja pemberi pelayanan adalah baik didalam memberikan pelayanan yang penting bagi keputusan mereka didalam menentukan produksi.
• KEPUASAN PELANGGAN SEDANG: persentase responden yang menilai kepentingan pelayanan adalah sedang sampai tinggi (3, 4 atau 5) tetapi menilai kinerja pemberi pelayanan hanya sedang (3); atau sebaliknya menilai kinerja pelayanan sedang sampai tinggi (3,4 atau 5) tetapi menilai kepentingan hanya sedang (3).
• KEPUASAN PELANGGAN RENDAH: persentase responden yang menilai kepentingan pelayanan sedang sampai tinggi (3, 4 or 5) tetapi kinerja pelayanan rendah dan sangat rendah (2 or 1).
• PELAYANAN TIDAK EFISIEN: area kunci dari matriks kepuasan pelanggan dari responden yang menilai pelayanan tidak penting (2 atau 1) tetapi kinerja pemberi pelayanannya dinilai sedang sampai sangat baik (3, 4 atau 5). Kategori ini menunjukkan dua kemungkinan skenario yaitu sumberdaya pemerintah dibuang-buang (karena pelayanan yang tidak penting diberikan secara baik) atau program dimana terjadi eksternaliti positif yang tidak dikenal petani.
• PELAYANAN ‘TIDAK BERGUNA’: persentase responden yang melaporkan tingkat kepentingan pelayanan rendah atau sangat rendah (2 atau 1) dan kinerja pemberi pelayanannya juga rendah dan sangat rendah (2 atau 1). Pada kondisi seperti ini, lupakan dan tinggalkan saja pelayanan tersebut
6. Analisa Perbandingan
• Data kepuasan pelanggan dapat dianalisa berdasarkan setiap pelayanan atau lokasi geografis (kabupaten atau propinsi) atau tingkat kesejahteraan, tergantung dari tingkat kepentingan dan keinginan tim evaluasi.
• Matriks dapat diaplikasikan untuk data dari pelayanan khusus, misalnya pelayanan khusus lintas area geografis atau antar tingkat kesejahteraan. Juga data dapat diagregasi untuk mengindikasikan keseluruhan kepuasan dari kelompok yang diberikan pelayanan.
• Dengan demikian analisis dapat dilakukan untuk membandingkan tingkat kepuasan pelanggan berdasarkan:
- Pelayanan ke pelayanan;
- Baseline dan kajian lanjutan;
- Sebelum dan sesudah proyek;
- Kabupaten dengan kabupaten lain;
- Tahun pertama agregasi dengan tahun berikutnya agregasi
Kesimpulan dan rekomendasi
Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisisen dan lebih efektif. Hal ini sangat esensial terutama dalam penyedianan pelayanan publik. Dengan menggunakan metode yang sederhana –dikembangkan oleh DELIVERI- tingkat kepuasan pelanggan di subsektor peternakan, berdasarkan penilaian petani terhadap dua isu penting: (1) Tingkat kepentingan pelayanan yang disediakan, dan (2) Kinerja pemberi pelayanan, telah berhasil dianalisis.
Metodologi yang dikembangkan ini dapat juga dipergunakan pada pelayanan sektor pertanian lainnya dan juga untuk sektor-sektor di luar pertanian. Oleh karena pendekatan partisipatif diperlukan didalam mengumpulkan data, maka sangat direkomendasikan agar enumerator yang akan mengumpulkan data dibekali terlebih dahulu dengan alat-alat PRA (Pemahaman Pedesaan secara Partisipatif).
Tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan merupakan faktor yang penting dalam mengembangkan suatu sistim penyediaan pelayanan yang tanggap terhadap kebutuhan pelanggan, meminimalkan biaya dan waktu serta memaksimalkan dampak pelayanan terhadap populasi sasaran.
Terdapat beberapa cara untuk mengukur kepuasan pelanggan, tetapi makalah ini menguraikan satu cara sederhana yang telah digunakan di subsektor peternakan, perdasarkan penilaian petani terhadap dua isu penting yaitu: (1) tingkat kepentingan pelayanan yang diberikan, and (2) kinerja pemberi pelayanan didalam memberikan pelayanannya.
Makalah ini menggali suatu metodologi yang pernah digunakan untuk menjajagi tingkat kepuasan pelanggan (yaitu petani peternak) terhadap pelayanan yang diberikan terutama oleh petugas pemerintah. Metodologi yang dirancang ini juga dapat dipergunakan bagi sektor pertanian lainnya maupun sektor non-pertanian.
Oleh karena pendekatan partisipatif diperlukan didalam mengumpulkan data, maka sangat direkomendasikan agar enumerator yang akan mengumpulkan data dibekali terlebih dahulu dengan alat-alat PRA (Pemahaman Pedesaan secara Partisipatif).
Pendahuluan
Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisien dan lebih efektif. Apabila pelanggan merasa tidak puas terhadap suatu pelayanan yang disediakan, maka pelayanan tersebut dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. Hal ini terutama sangat penting bagi pelayanan publik. Pada kondisi persaingan sempurna, dimana pelanggan mampu untuk memilih di antara beberapa alternatif pelayanan dan memiliki informasi yang memadai, kepuasan pelanggan merupakan satu determinan kunci dari tingkat permintaan pelayanan dan fungsi/operasionalisasi pemasok. Namun bila hanya satu agen, baik pemerintah maupun sektor swasta, yang merupakan penyedia tunggal pelayanan, maka penggunaan kepuasan pelanggan untuk mengukur efektifitas dan efisiensi pelayanan sering tidak kelihatan. Makalah ini menggali suatu metodologi yang pernah digunakan untuk menjajagi tingkat kepuasan pelanggan (petani peternak) terhadap pelayanan yang diberikan terutama oleh petugas pemerintah. Metodologi yang dirancang ini juga dapat dipergunakan bagi sektor pertanian lainnya maupun sektor non-pertanian
Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan keperluan pelanggan dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila ia dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggannya. Ada beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan oleh pelanggan dalam menilai suatu pelayanan, yaitu: ketepatan waktu, dapat dipercaya, kemampuan teknis, diharapkan, berkualitas dan harga yang sepadan.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, pelanggan sendiri yang menilai tingkat kepuasan yang mereka terima dari barang atau jasa spesifik yang diberikan, serta tingkat kepercayaan mereka terhadap kemampuan pemberi pelayanan
Mengapa kita mengukur kepuasan pelanggan?
Tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan merupakan faktor yang penting dalam mengembangkan suatu sistim penyediaan pelayanan yang tanggap terhadap kebutuhan pelanggan, meminimalkan biaya dan waktu serta memaksimalkan dampak pelayanan terhadap populasi sasaran.
Dalam rangka mengembangkan suatu mekanisme pemberian pelayanan yang memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan, perlu mengetahui hal-hal berikut
1. Mengetahui apa yang pelanggan pikirkan tentang anda, pelayanan anda, dan pesaing anda.
2. Mengukur dan meningkatkan kinerja anda.
3. Mempergunakan kelebihan anda kedalam pemilahan pasar.
4. Memanfaatkan kelemahan anda ke dalam peluang pengembangan – sebelum orang lain memulainya.
5. Membangun wahana komunikasi internal sehingga setiap orang tahu apa yang mereka kerjakan.
6. Menunjukkan komitmen anda terhadap kualitas dan pelanggan anda
Umpan balik dan informasi merupakan elemen yang penting dalam membangun sistem pemberian pelayanan yang efektif, termasuk:
• Tingkat kepuasan pelanggan
• Kualitas pelayanan
Bagaimana mengukur kepuasan pelanggan?
Berikut ini adalah langkah-langkah yang telah dilakukan oleh konsultan program DELIVERI didalam mengukur tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan peternakan di lokasi proyek.
1. Data yang dikumpulkan
• Jenis Pelayanan. Tanyakan kepada Pemberi pelayanan (baca: Petugas Dinas), yang akan diukur tingkat kepuasan pemberian pelayanannya, tentang jenis-jenis pelayanan yang biasa diberikan, siapa yang memberikan pelayanan dan kepada siapa pelayanan tersebut diberikan.
• Tuliskan setiap jenis pelayanan tersebut karena pelayanan inilah yang akan diukur kinerjanya di dalam memberikan kepuasan terhadap pelanggan
• Kinerja Pelayan dan Tingkat Kepentingan Pelayanan. Diskusikan dengan pelanggan tentang:
o faktor-faktor yang akan dipergunakan di dalam mengukur kinerja pelayanan, misalnya: tingkat keahlian, ketepatan waktu, kemudahan dihubungi, kemampuan menyelesaikan masalah dan fasilitas yang dimiliki di dalam memberikan pelayanan.
o tingkat kepentingan pelayanan.
• Minta Pelanggan agar memberikan nilai terhadap kinerja dan tingkat kepentingan pelayanan
2. Bagaimana mengumpulkan data
a. Responden
• Respondent dipilih secara acak.
• Identifikasi pelanggan yang akan menjadi responden
• Lakukan wawancara perorangan menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat kepentingan pelayanan dan kinerja pemberi pelayanan (lihat Lampiran 1).
b. Waktu
• Pilih waktu yang tepat bagi pelanggan. Ketahui saat saat sibuk kegiatan usaha tani (saat tanam atau saat panen), sibuk adat dan agama.
• Jangan menentukan waktu sendiri, tetapi rundingkan dengan pelanggan kapan waktu luang mereka, sehingga ada kesepakatan. Apakah siang atau malam hari?
• Jawaban yang akurat hanya dapat diperoleh bila pelanggan dengan senang hati memberikan informasi.
c. Lokasi
• Penentuan lokasi pengukuran kepuasan pelanggan sangat tergantung dari cakupan kajian. Bisa di tingkat kelompok tani, atau desa atau kabupaten.
• Untuk cakupan lokasi yang luas lakukan sampling pemilihan lokasi. Pilih lokasi yang representatif. Banyak cara untuk melakukan sampling ini, tetapi itu bukan maksud dari penyusunan manual ini.
3. Metoda analisis
• Kompilasikan angka-angka penilaian kepuasan pelanggan terhadap: (a) tingkat kepentingan pelayanan menurut petani, dan (b) kinerja Pelayan di dalam memberikan pelayanan, menurut faktor-faktor yang disepakati untuk diukur, ke dalam sel-sel di dalam Matriks Kepuasan Pelanggan (lihat Lampiran 2).
• Baris di dalam matriks menunjukkan tingkat kepentingan, sementara kolom menunjukkan tingkat kinerja Pelayan. Contoh: bila tingkat kepentingan di nilai 4 atau 5, dan kinerja juga dinilai 4 atau 5 maka penilaian ini ditempatkan pada sel-sel berwarna merah (sel-sel pertemuan antara kolom dan baris) di dalam matriks, dan selanjutnya.
• Lakukan analisis deskriptif dari setiap jawaban yang terkumpul di masing-masing area pada matriks. Misal: persentase jawaban yang terkumpul pada masing-masing area.
• Kumpulan data di setiap sel dapat pula disajikan dalam grafik tiga dimensi seperti diperlihatkan pada Lampiran 3.
4. Survey Baseline dan Survey Lanjutan
• Apabila dibutuhkan untuk membandingkan data sebelum dan sesudah proyek – untuk mengukur perubahan di dalam tingkat kepuasan p[elanggan – lakukan beberapa kali survey yang sama. Biasanya, lakukan survey dasar dan survey lanjutan.
• Selang waktu antara dua survey tergantung dari tujuan survey dan juga masa proyek. Ini dapat dilakukan terus menerus, secara periodik, atau pada awai dan akhir proyek.
5. Interpretasi
Tingkat kepuasan pelangan didefinisikan dengan parameter-parameter sebagai berikut:
• KEPUASAN PELANGGAN TINGGI: persentase responden yang melaporkan tingkat kepentingan pelayanan lebih besar dari 3 (4 atau 5) dan menilai tingkat kinerja pelayanan lebih besar dari 3 (4 atau 5). Pada kondisi ini pelanggan menemukan bahwa kinerja pemberi pelayanan adalah baik didalam memberikan pelayanan yang penting bagi keputusan mereka didalam menentukan produksi.
• KEPUASAN PELANGGAN SEDANG: persentase responden yang menilai kepentingan pelayanan adalah sedang sampai tinggi (3, 4 atau 5) tetapi menilai kinerja pemberi pelayanan hanya sedang (3); atau sebaliknya menilai kinerja pelayanan sedang sampai tinggi (3,4 atau 5) tetapi menilai kepentingan hanya sedang (3).
• KEPUASAN PELANGGAN RENDAH: persentase responden yang menilai kepentingan pelayanan sedang sampai tinggi (3, 4 or 5) tetapi kinerja pelayanan rendah dan sangat rendah (2 or 1).
• PELAYANAN TIDAK EFISIEN: area kunci dari matriks kepuasan pelanggan dari responden yang menilai pelayanan tidak penting (2 atau 1) tetapi kinerja pemberi pelayanannya dinilai sedang sampai sangat baik (3, 4 atau 5). Kategori ini menunjukkan dua kemungkinan skenario yaitu sumberdaya pemerintah dibuang-buang (karena pelayanan yang tidak penting diberikan secara baik) atau program dimana terjadi eksternaliti positif yang tidak dikenal petani.
• PELAYANAN ‘TIDAK BERGUNA’: persentase responden yang melaporkan tingkat kepentingan pelayanan rendah atau sangat rendah (2 atau 1) dan kinerja pemberi pelayanannya juga rendah dan sangat rendah (2 atau 1). Pada kondisi seperti ini, lupakan dan tinggalkan saja pelayanan tersebut
6. Analisa Perbandingan
• Data kepuasan pelanggan dapat dianalisa berdasarkan setiap pelayanan atau lokasi geografis (kabupaten atau propinsi) atau tingkat kesejahteraan, tergantung dari tingkat kepentingan dan keinginan tim evaluasi.
• Matriks dapat diaplikasikan untuk data dari pelayanan khusus, misalnya pelayanan khusus lintas area geografis atau antar tingkat kesejahteraan. Juga data dapat diagregasi untuk mengindikasikan keseluruhan kepuasan dari kelompok yang diberikan pelayanan.
• Dengan demikian analisis dapat dilakukan untuk membandingkan tingkat kepuasan pelanggan berdasarkan:
- Pelayanan ke pelayanan;
- Baseline dan kajian lanjutan;
- Sebelum dan sesudah proyek;
- Kabupaten dengan kabupaten lain;
- Tahun pertama agregasi dengan tahun berikutnya agregasi
Kesimpulan dan rekomendasi
Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisisen dan lebih efektif. Hal ini sangat esensial terutama dalam penyedianan pelayanan publik. Dengan menggunakan metode yang sederhana –dikembangkan oleh DELIVERI- tingkat kepuasan pelanggan di subsektor peternakan, berdasarkan penilaian petani terhadap dua isu penting: (1) Tingkat kepentingan pelayanan yang disediakan, dan (2) Kinerja pemberi pelayanan, telah berhasil dianalisis.
Metodologi yang dikembangkan ini dapat juga dipergunakan pada pelayanan sektor pertanian lainnya dan juga untuk sektor-sektor di luar pertanian. Oleh karena pendekatan partisipatif diperlukan didalam mengumpulkan data, maka sangat direkomendasikan agar enumerator yang akan mengumpulkan data dibekali terlebih dahulu dengan alat-alat PRA (Pemahaman Pedesaan secara Partisipatif).
TINGKAT PENGETAHUAN ANAK REMAJA TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa reproduksi adalah masa yang penting bagi seluruh organisme di permukaan bumi untuk meneruskan keturunannya. Seperti halnya makhluk lain, manusia juga menjalankan perannya dalam meneruskan keturunan, dan wanita memiliki peranan yang cukup besar. Sebelum seorang wanita siap menjalani masa reproduksi, terdapat masa pubertas.
Pubertas atau masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Tidak ada batas yang tajam antara akhir masa kanak-kanak dan awal masa pubertas, akan tetapi dapat dikatakan bahwa pubertas mulai dengan awal berfungsinya ovarium dan berakhir pada saat ovarium sudah berfungsi dengan mantap dan teratur. Secara klinis pubertas mulai dengan timbulnya ciri-ciri kelamin sekunder (Manuaba,1998).
Sejak memasuki masa pubertas, hormon yang ada dalam tubuh telah mencukupi untuk memulai mengalirkan darah menstruasi. Hal ini tentu saja sebagai pertanda bahwa sudah memasuki tahap kematangan organ seksual dalam tubuhnya, sehingga sudah dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Datangnya menstruasi pertama ini disebut dengan menarche, biasanya akan terjadi pada usia sekitar 10 tahun. Setiap perempuan tidaklah selalu sama siklus menstruasinya. Siklus menstruasi adalah suatu rangkaian peristiwa sejak mulainya satu menstruasi ke menstruasi bulan berikutnya, dapat terjadi setiap 26-30 hari, bahkan kemungkinan ada yang sampai 40 hari. Siklus ini dapat dikendalikan oleh siapapun dan pada saat kapanpun. Seorang perempuan hanya dapat meramalkan kapan menstruasinya datang, tapi tidak secara umum. Seperti diketahui, siklus menstruasi seseorang dalam setiap bulannya tidaklah sama, bisa terlambat atau agak cepat. Semuanya normal, masa menstruasi seseorang pada umumnya terjadi sekitar 4-7 hari (Dianawati, 2003).
Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang berulang setiap bulan tersebut akhirnya membentuk siklus menstruasi. Siklus menstruasi dihitung dari hari pertama haid sampai tepat satu hari pertama haid bulan berikutnya. Siklus menstruasi berkisar antara 21-40 hari hanya sekitar 10-15 persen wanita yang memiliki siklus 28 hari.
Banyak perempuan yang pada waktu menjelang atau selama menstruasi mengalami stres. Hal ini disebabkan oleh ketegangan mental dan fisik yang dialaminya dan merasa sangat menyulitkan segala aktifitasnya. (Dianawati, 2003)
Gejala yang sering ditemukan pada waktu menjelang atau selama menstruasi seperti iritabilitas (mudah tersinggung) dan disforia (perasaan sedih). Banyak juga diantaranya yang kemudian terlihat pucat, lemas, atau tidak bergairah, serta kehilangan nafsu makan, yang kesemuanya itu berhubungan dengan perubahan hormon yang memicu terjadinya ketidakstabilan dalam diri masing-masing wanita. Karena sifatnya yang hormonal dan temporer maka gejala yang ditimbulkannya pun sangat beragam. (http://www.Keluargasehat.com : 2009)
Di Tasikmalaya berdasarkan data yang diperoleh dari Mitra Citra Remaja (Salah satu konsultasi permasalahan remaja di Tasikmalaya) pada tahun 2008 remaja yang mengalami masalah menstruasi diantaranya dapat mengganggu aktivitas khususnya bagi seorang pelajar. Salah seorang siswi mengakui bahwa setiap menjelang atau selama menstruasi dirinya merasa terganggu, kadang sampai tidak sadarkan diri.
Hampir setiap remaja terutama siswi SLTP di Jawa Barat aktivitas belajarnya merasa terganggu ketika menjelang atau selama menstruasi. Diperkirakan 50% usia remaja 14-20 tahun mengalami hal tersebut. (http://www.Keluargasehat.com : 2007). Selain itu, remaja yang merasa terganggu ketika menjelang atau selama menstruasi juga dialami oleh siswi SLTPN II Taraju. Mereka mengeluh merasa takut dan stres ketika akan menjelang haid yang disertai rasa sakit dan kadang sampai tidak sadarkan diri. Selain itu juga, kadang siswi malas untuk pergi sekolah atau sampai tidak mengikuti jam pelajaran. Salah satu faktor tingginya angka kejadian tersebut yaitu kurangnya pengetahuan siswi dalam menghadapi menstruasi. Oleh karena itu, kemampuan intelektual siswi tentang menstruasi sangat penting misalnya tahu akan pengertian menstruasi, gangguan menstruasi, siklus dan tahu cara penanganan ketika akan menghadapi menstruasi.
Hal ini mungkin tidak akan terjadi jika pengetahuan siswi tentang menstruasi atau cara menghadapinya baik sehingga dapat mengurangi tingkat emosi atau stres saat menstruasi terjadi dan aktifitas belajarpun tidak akan terganggu. Misalkan, bagaimana cara menghadapi menstruasi yang tenang, sedikitnya tahu obat untuk mengurangi rasa nyeri ataupun tindakan lainnya.
Pengetahuan tentang menstruasi ini perlu dimiliki sejak dini, karena dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam bertindak. Menurut Green (1980, dalam Notoatmodjo, 2003), perilaku ditentukan atau terbentuk dari faktor predisposisi, yaitu: pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai; faktor pendukung, yaitu: lingkungan, fisik, fasilitas atau sarana dan faktor pendorong, yaitu: sikap atau perilaku yang mendukung. Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa pengetahuan merupakan domain penting untuk terbentuknya perilaku seseorang karena tindakan yang didasari dengan pengetahuan akan lebih langgeng daripada tindakan atau perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Dengan demikian siswi yang memiliki pengetahuan tentang menstruasi ini diharapkan dapat merealisasikan dalam kegiatan sehari-hari.
Berdasarkan hasil survei awal melalui wawancara mendalam kepada 10 orang siswi SLTPN II Taraju pada bulan April tahun 2009 mengenai masalah tentang menstruasi, ternyata 8 dari 10 orang menyatakan bahwa responden kurang mengetahui tindakan apa yang mesti dilakukan pada saat menstruasi misalnya menghilangkan atau mengurangi rasa sakit pada saat menjelang atau selama menstruasi. Berbeda dengan hasil survei wawancara kepada 10 orang siswi SLTPN I Taraju mengenai masalah tentang menstruasi, ternyata 9 dari 10 orang menyatakan bahwa responden sedikitnya tahu dan mengerti tindakan yang selalu dilakukan pada saat menstruasi. Misalnya, cara mengurangi rasa sakit pada saat menjelang atau selama menstruasi.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Tingkat Pengetahuan Siswi SLTPN II Taraju Tentang Menstruasi”.
B. Rumusan Masalah
Dilihat dari latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan suatu masalah dalam penelitian ini adalah “Sejauhmana Tingkat Pengetahuan Siswi SLTPN II Taraju tentang menstruasi?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan yang dimiliki siswi SLTPN II Taraju tentang menstruasi.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang pengertian menstruasi.
b. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang gangguan menstruasi.
c. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang siklus haid.
d. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang cara menghadapi menstruasi.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti.
Penelitian ini bermanfaat sebagai sarana untuk menerapkan teori dan ilmu yang telah diperoleh di tempat kuliah serta untuk menambah wawasan mengenai pengetahuan tentang menstruasi.
2. Bagi STIKES Muhammadiyah Tasikmalaya
Sebagai bahan untuk memahami mahasiswa yang sedang mengalami menstruasi terhadap perilaku dalam proses pembelajaran.
3. Bagi SLTPN II Taraju
Sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam penyusunan kurikulum guna meningkatkan pengetahuan siswi mengenai pembelajaran Pendidikan Kesehatan Reproduksi.
4. Bagi Profesi Keperawatan
Menambah pengetahuan dan pengembangan ilmu keperawatan tentang permasalahan dan penanganan menstruasi dan dapat dijadikan sebagai bahan untuk pendidikan kesehatan terutama pada wanita.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian tentang “Pengetahuan siswi SLTPN II Taraju tentang menstruasi” dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, adapun penelitian lain yang mirip dengan penelitian ini yaitu pada tahun 2007, penelitian tentang “Tingkat pengetahuan tentang Pre Menstruasi Syndrom (PMS) pada siswi SMA Pasundan Tasikmalaya”. Tetapi penelitian ini, sebagian besar diarahkan pada masalah yang muncul terjadi sebelum menstruasi (Pre Menstruasi Syndrom). Sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti sekarang ingin mengetahui tingkat pengetahuan siswi tentang menstruasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
1. Pengetahuan
a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek-objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
b. Ragam Pengetahuan.
Ditinjau dari sifat dan cara penerapannya, pengetahuan terdiri atas dua macam, yaitu:
1) Declarative propositional knowledge, yakni pengetahuan mengenai informasi faktual yang umumnya bersifat statis-normatif dan dapat sijelaskan secara verbal atau lisan. Isi pengetahuan berupa konsep dan fakta yang dapat ditularkan kepada orang lain melalui ekspresi tulisan dan lisan. Pengetahuan ini lazim disebut “mengetahui bahwa”.
2) Procedural knowledge, yakni pengetahuan yang mendasari kecakapan atau keterampilan perbuatan jasmaniah yang cenderung bersifat dinamis. Namun, pengetahuan ini sangat sulit diuraikan secara lisan, meskipun susah didemonstrasikan dengan perbuatan nyata. Pengetahuan ini lazim disebut “mengetahui cara” .
c. Tingkat Pengetahuan Dalam Domain Kognitif.
1) Know (tahu) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Tahap ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2) Comprehension (memahami), diartikan sebagai suatu kemampuan menjalaskan secara benar tentang apa yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3) Application (aplikasi), diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
4) Analysis (analisis), diartikan suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu, material atau objek kedalam komponen-komponen, tapi masih dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5) Syntesis (sintesis), menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6) Evaluation (evaluasi), kemampuan unutk melakuakn justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang sudah ada. (Notoatmodjo,2003).
d. Faktor-faktor Pengetahuan menurut teori Lawrence Green, yaitu:
1) Faktor predisposisi (disposing factors), yaitu faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku sesorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi.
2) Faktor pemungkin (enobling factors), yaitu faktor-faktor yang memungkinan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan, faktor pemungkin adalah sarana prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan, misalnya Puskesmas, Posyandu, Rumah Sakit, Tempat olahraga.
3) Faktor penguat (reinforcing factors), yaitu faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku. Kadang-kadang, meskipun seseorang tahu dan mampu untuk berperilaku sehat, tetapi tidak melakukannya.
e. Pengukuran Pengetahuan.
Pengukuran pengetahuan dapat menggunakan pertanyaan yang bersifat objektif dan subjektif. Pertanyaan objektif merupakan pertanyaan tertutup misalnya pertanyaan pilihan ganda, benar-salah atau menjodohkan. Pertanyaan subjektif berupa pertanyaan terbuka atau essay. Pertanyaan objektif lebih banyak disukai dalam penelitian karena dapat lebih mudah disesuaikan dengan pengetahuan yang akan diukur dan lebih cepat dinilai.
f. Dasar-Dasar Pengetahuan
1) Tradisi
2) Otoriter
3) Meminjam dari disiplin orang lain
4) Pengalaman trial dan error
5) Alasan yang logis
6) Metode ilmiah
g. Tujuan Pengetahuan
Adapun tujuan dari pengetahuan adalah untuk mendapatkan kepastian serta menghilangkan prasangka sebagai akibat ketidak pastian tersebut.
h. Unsur-Unsur Pengetahuan
1) Pengetahuan
2) Tersusun secara sistematis
3) Menggunakan pemikiran
4) Dapat di kontrol secara krotis oleh orang lain atau umum (objek) Pembagian pengetahuan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang antara lain:
a) Dari segi objek
(1) Ilmu Matematika
(2) Ilmu Pengetahuan
(3) Ilmu Perilaku
(4) Ilmu Pengetahuan Kerohanian
b) Dari sifatnya
(1) Pengetahuan Eksa
(2) Pengetahuan non Eksa
c) Dari sudut penerapan
(1) Pengetahuan murni
Membentuk dan mengembangkan pengetahuan secara abstrak yakni untuk mempertinggi mutunya
(2) Pengetahuan Terapan
Untuk membantu masyarakat didalam mengatasi masalah yang dihadapi.
Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku meupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skiner ini disebut “S-O-R” atau Stimulus-Organisme-respon.
2. Menstruasi
a. Pengertian Menstruasi
Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan.
Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium. (Hanafi, 1999)
Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. (http://www.repository.ui.com :2009)
Masa subur adalah masa dimana tersedia sel telur yang siap untuk dibuahi. Masa subur berkaitan erat dengan menstruasi dan siklus menstruasi. Masa subur ditandai oleh kenaikan Luteinizing Hormone (LH), Follicle Stimulating (FSH) dan estrogen. Selain itu siklus juga dipengaruhi ole kondisi psikis si wanita jadi,bisa maju atau mundur, untuk itu pemahaman mengenai bagaimana terjadinya menstruasi dan bagaimana siklus menstruasi itu perlu dipahami kaum hawa secara rinci.
b. Gangguan Menstuasi
Ada beberapa istilah medis yang sering di jumpai untuk menyebutkan adanya gangguan pendarahan pada siklus menstruasi, diantaranya :
1) Hipermenoria
Pendarahan haid yang lebih banyak dari normal.Biasanya berlangsung lebih dari 8 hari, ini karena terdapat gangguan pada uterus atau rahim.
2) Polimenorea
Pendrahan haid yang tidak begitu banyak dan siklus menstruasi kurang dari 21 hari. Biasanya diakibatkan dari gangguan ovulasi atau karena adanya penyakit sistemik yang berhubungan dengan sistem hormonal.
3) Metroregia
Pendarahan yang terjadi antara 2 siklus haid dan darah yang keluar kebanyakan sedikit atau bahkan banyak
4) Oligomenorea
Siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari. Perdarahan pada oligomenorea biasanya berkurang.
5) Amenorea
Keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut.(Simanjuntak:1999)
c. Siklus Menstruasi
Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus, karena jam mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus mengandung kesalahan kurang lebih satu hari. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap siklus haid yang klasik ialah 28 hari,tetapi variasinya cukup luas ,bukan saja anatara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama (Hanafi, 1999)
d. Gangguan lain pada awal haid (Dismenorea)
Dismenorea atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan (Simanjuntak, 1999).
Dismenorea di bagi atas :
1) Dismenorea Primer (esensial, intrinsik, idiopatik), tidak terdapat hubungan kelainan ginekologik.
2) Dismenorea Sekunder (salpingitis, yang diperoleh, acquired), disebabkan oleh kelainan ginekologik (salpingitis kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis servisis uteri, dan lain-lain).
Etiologi beberapa faktor memegang peranan :
1) Faktor Kejiwaan
2) Faktor Konstitusi
3) Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis
4) Faktor Endokrin
5) Faktor Alergi.
Penanganan :
1) Penerangan dan nasehat
2) Pemberian obat analgesik
3) Terapi Hormonal
4) Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin
5) Dilatasi kanalis servikali.
B. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimilki atau didapatkan oleh sesuatu penelitian tentang suatu konsep penelitian tertentu.Variabel penelitian disini adalah “Tingkat Pengetahuan siswi SLTPN II Taraju Tentang Menstruasi”.
C. Kerangka Penelitian
Berdasarkan kerangka teori dan tujuan yang ingin diperoleh melalui penelitian ini, maka kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1
Kerangka Konsep
Sumber: Buku Pendidikan Dan Prilaku Kesehatan
(Soekidjo Notoatmodjo, 2003:15)
D. Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Skala Ukur Alat
Ukur Hasil Ukur
1. Pengetahuan Kemampuan intelektual siswi untuk mengungkapkan kembali apa yang diketahui tentang Menstruasi yang meliputi:
pengertian Menstruasi, -Gangguan menstruasi, Siklus haid,
Cara
menghadapi saat atau menjelang menstruasi.
Benar diberi nilai 1
Salah diberi nilai 0 Ordinal
Kuesioner
Dengan menggunakan soal pilihan ganda (Multiple choice) 1. Baik (76%-100%)
2. Cukup (60%-75%)
3. Kurang (<60%)
(Sugiono, 2005)
1.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian dan Pendekatan
Metode penelitian bersifat deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang suatu keadaan secara objektif yang digunakan untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang (Notoatmodjo, 2002).
B. Populasi, Sampel dan Sampling
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek peneliti. (Arikunto, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas 2-3 SLTPN II Taraju yang berjumlah 270 siswi, 190 siswi yang sudah menstruasi.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari polulasi yang diteliti. (Arikunto, 2003). Ukuran sampel yang diambil agar mewakili seluruh populasi ditentukan dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Soekidjo Notoatmodjo (2002 ), sebagai berikut :
Keterangan :
n= Jumlah sampel
N= Besar populasi
d=Tingkat kepercayaan (10%)
Perhitungan jumlah sampelnya adalah sebagai berikut:
= 66
Dari hasil perhitungan maka diperoleh sampel sebanyak 66 orang.
Dengan karakteristik sampel :
a. Siswi usia 13-15
b. Siswi yang sudah menstruasi 190 orang
c. Siswi kelas 2-3
3. Sampling
Sampling merupakan sutu proses dalam menyeleksi sampel yang digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, dengan menggunakan tehnik sampling.
Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak sederhana (Sample Random Sampling ) yaitu pengambilan sampel dilakukan secara acak sehingga subjek dianggap sama untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel tanpa perasaan ingin mengistimewakan satu atau beberapa subjek untuk dijadikan sampel. Metode pengambilan sampel acak sederhana yang dilakukan menggunakan tehknik undian.
C. Tempat Penelitian
Rencana penelitian akan ini dilaksanakan di SLTPN II Taraju Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya.
D. Waktu Penelitian
Penelitian telah dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan dari tanggal 20 Juli sampai dengan 21 Agustus 2009.
E. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini hanya menggunakan satu variabel, yaitu pengetahuan siswi tentang menstruasi.
F. Instrumen Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dibantu dengan menggunakan instrumen sebagai berikut :
1. Kuesioner berisi pertanyaan pengetahuan mengenai menstruasi, yang terdiri dari 35 item pertanyaan. Pengertian menstruasi 8 item, gangguan menstruasi 14 item, Siklus haid 4 item, cara penanganan dalam menghadapi menstruasi 9 item.
2. Alat tulis untuk mencatat dan lembaran soal yang di buat sendiri.
G. Jenis dan cara Pengumpulan Data
1. Jenis data
Data yang diambil adalah data primer dengan instrumen kuesioner. Sebelum digunakan, kuesioner dilakukan uji validitas dan relibilitas untuk menguji butir-butir pertanyaan yang ada dalam kuesioner, apakah isi dari butir pertanyaan tersebut sudah valid dan reliable atau belum.
a. Uji Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur. (Notoatmodjo, 2002). Untuk mengetahui valid atau tidaknya alat ukur ini, maka sebelum disebarkan ke responden, terlebih dahulu diujicobakan instrumen ini kepada 20 orang responden yang mempunyai karakteristik yang sama dengan kriteria sampel di SLTPN II Puspahiang untuk selanjutnya dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan formulasi “ Product moment” dari Pearson. Langkah-langkah yang dilakukan untuk uji validitas ini adalah dengan menghitung koefisien dengan menggunakan rumus :
R= N ( ∑ XY ) – ( ∑ X ∑ Y ) ooooo
√{ N∑X2 – ( ∑X )2 }{ N∑Y2 – ( ∑Y )2}
Dimana : N = Jumlah Responden.
X = Nomor pertanyaan.
Y = Skor total.
XY = Skor pertanyaan x Skor total
Setelah diperoleh harga r1 hitung, selanjutnya untuk dapat diputuskan instrumen tersebut valid atau tidak, harga tersebut dikonsultasikan dengan harga r tabel. Dengan n = 20 taraf kesalahan 5% diperoleh 0,444 dan taraf kesalahan 1% = 0,561. jumlah seluruh pertanyaan yang digunakan sebanyak 35 butir dengan nilai validitas 0,980 – 0,994.
b. Uji Reliabilitas
Reliabilitas menunjukkan pada suatu penelitian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang dapat dipercaya juga (Arikunto, 2002). Dalam penelitian ini untuk menguji reliabilitas variabel pengetahuan digunakan metode koefisian reliabilitas K-R 20.
r11 =
Keterangan :
r11 = reliabilitas instrument
K = banyaknya butir pertanyaan
Vt = varian total
p = proporsi subjek yang menjawab betul pada suatu butir
pertanyaan (proporsi subjek yang mendapat skor 1)
q = proporsi subjek yang mendapat skor 0.
Berdasarkan hasil analisis uji coba tersebut, maka instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan reliabel atau sangat kuat karena menghasilkan koefisien reliabelitas yang diperoleh 0,999 lebih besar dari 0,8.
H. Cara Pengumpulan Data
Pengolahan data menggunakan komputer melalui proses dengan tahapan sebagai berikut :
1. Editing Data
Tahapan ini dimaksudkan untuk menyunting data yang telah terkumpul, dilakukan dengan memeriksa kelengkapan, kesalahan pengisian, dan konsistensi dari setiap jawaban pertanyaan (Santoso, 2001).
2. Coding Data
Melakukan pengkodean guna memudahkan dalam pengolahan data, langkah yang digunakan adalah dengan memberi kode angka atau huruf yang telah ditetapkan seperti untuk item pengetahuan untuk jawaban benar = Nilai 1, Untuk jawaban salah = 0.
2. Tabulating Data
Memasukan data sedemikian rupa sehingga mudah dijumlah, disusun, dan disajikan dalam bentuk tabel, gambar atau grafik.
3. Entry Data
Memasukan data kedalam program pengolah data melalui program SPSS.
4. Cleaning Data
Data yang telah di entry kemudian dilakukan pengecekan dan koreksi apabila ada kesalahan pada tahap entry.
I. Rencana Analisis Data
1. Pengetahuan
Dalam analisis ini digunakan rumus (Arikunto, 2002) sebagai berikut :
P =
Keterangan :
P = Persentase
n = Jumlah pertanyaan yang dijawab
N = Jumlah seluruh pertanyaan.
Adapun bentuk analisa dan interpretasi data dari hasil penelitian mengacu pada teori Sugiono (2005) sebagai berikut :
a. Kategori baik apabila pertanyaan dijawab benar oleh responden 76 -100 %.
b. Kategori cukup apabila pertanyaan dijawab benar oleh responden 60 – 75 %.
c. Kategori kurang apabila pertanyaan dijawab benar oleh responden < 60%.
J. Etika Penelitian
1. Self determination (menentukan sendiri)
Subjek berhak untuk menentukan keputusannya sendiri yang terbaik menurut subjek.
2. Privacy (keleluasaan pribadi)
Subjek diberikan keleluasaan dalam mengambil keputusan, tidak menyinggung hal-hal yang paling pribadi.
3. Anonimity (Tanpa nama) dan Confidentiality (kerahasiaan)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden maka peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar angket. Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti.
4. Fair Tratment
Lebih dikenal dengan lembar persetujuan (Informed Consent) penelitian diberikan kepada responden dengan tujuan agar subjek mengetahui maksud dan tujuan peneliti. Jika subjek tidak bersedia untuk diteliti maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati haknya.
5. Protect from discomfort and harm (dilindungi dari rasa tidak nyaman dan dirugikan)
Subjek ditanyakan tentang rasa nyamannya dan jangan sampai merasa dirugikan, tugas peneliti untuk melindungi subjek dari rasa tidak nyaman dan perasaan dirugikan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang menstruasi di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya telah dilaksanakan pada tanggal 20 Juli sampai dengan 21 Agustus 2009.
A. Hasil Penelitian
1. Karakteristik responden
Tabel 4.1
Nilai Rata-rata Usia Siswi SLTP Negeri II Taraju di
Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya
Tahun 2009
Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Pengertian Menstruasi 14,09 0,83 13-15 13,88-14,29
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.1 di atas, diperoleh nilai mean 14,09, standar deviasi 0,83, min-max 13-15 dan nilai 95% CI 13,88-14,29 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata usia siswi SLTP Negeri II Taraju adalah 14 tahun dengan usia termuda 13 tahun dan usia paling tua 15 tahun.
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Siswi
SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju
Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Usia Frekuensi %
13 tahun
14 tahun
15 tahun 20
20
26 30,3
30,3
39,4
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS
Tabel 4.2 di atas, menunjukkan siswi SLTP Negeri II Taraju yang berusia 13 tahun sebanyak 20 orang (30,3%), dan usia 14 tahun sebanyak 20 orang (30,3%), sedangkan yang berusia 15 tahun sebanyak 25 orang (39,4%).
2. Tingkat pengetahuan siswi SLTP tentang menstruasi
a. Pengertian menstruasi
Tabel 4.3
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Pengertian Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Pengertian Menstruasi 67,99 19,25 37,50-100 63,25-72,72
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.3 di atas, diperoleh nilai mean 67,99, standar deviasi 19,25, min-max 37,50-100 dan nilai 95% CI 63,25-72,72 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang pengertian menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 67,99%.
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Pengertian Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Pengertian Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 26
13
27 39,4
19,7
36,4
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang pengertian menstruasi dalam kategori baik sebanyak 26 orang (39,4%), kategori cukup 13 orang (19,7%), dan kategori kurang sebanyak 27 orang (36,4%). Dari data di atas menggambarkan bahwa sebagian siswa sudah mengetahui tentang pengertian menstruasi.
b. Gangguan menstruasi
Tabel 4.5
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Gangguan Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Gangguan Menstruasi
70,53 16,49 42,80-92,80 66,47-74,58
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.5 di atas, diperoleh nilai mean 70,53, standar deviasi 16,49, min-max 42,80-92,80 dan nilai 95% CI 66,47-74,58 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang gangguan menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 70,53%.
Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Gangguan Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Gangguan Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 33
12
21 50,0
18,2
31,8
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang gangguan menstruasi dalam kategori baik sebanyak 33 orang (50,0%), kategori cukup sebanyak 12 orang (18,2%), dan kategori kurang sebanyak 21 orang (31,8%). Dari data di atas menggambarkan hampir setengahnya siswi mengetahui tentang gangguan menstruasi.
c. Siklus menstruasi
Tabel 4.7
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Siklus Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Siklus Menstruasi
71,96 26,49 25-100 65,45-78,48
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.7 di atas, diperoleh nilai mean 71,96, standar deviasi 26,49, min-max 25-100 dan nilai 95% CI 65,45-78,48 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang siklus menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 71,96%.
Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Siklus Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Siklus Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 27
10
29 40,9
15,2
43,9
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.8 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang siklus menstruasi dalam kategori baik sebanyak 27 orang (40,9%), kategori cukup sebanyak 10 orang (15,2%), dan kategori kurang sebanyak 29 orang (43,9%). Hal ini menggambarkan bahwa sebagian siswi mengetahui tentang siklus menstruasi.
d. Cara menghadapi menstruasi
Tabel 4.9
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Cara Menghadapi Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Cara menghadapi menstruasi 68,00 15,53 44,44-88,88 64,18-71,82
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.8 di atas, diperoleh nilai mean 68,00, standar deviasi 15,53, min-max 44,44-88,88 dan nilai 95% CI 64,18-71,82 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 68,00%.
Tabel 4.10
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Cara Menghadapi Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Cara Menghadapi Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 26
13
27 39,4
19,7
40,9
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.10 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi dalam kategori baik sebanyak 26 orang (39,4%), kategori cukup sebanyak 13 orang (19,7%), dan kategori kurang sebanyak 27 orang (40,9%). Dari data tersebut menggambarkan bahwa sebagian siswa sudah mengetahui tentang cara menghadapi menstruasi.
Untuk lebih jelasnya peneliti membuat diagram tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang menstruasi dan dapat di lihat pada diagram 4.1 di bawah ini :
Diagram 4.1
Tingkat Pengetahuan Siswi SLTP tentang Menstruasi di
Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya
Sumber: Hasil Uji Graph dengan SPSS
B. Pembahasan
1. Tingkat pengetahuan tentang pengertian menstruasi
Tampak pada tabel 4.4 menunjukkan prosentase tingkat pengetahuan tentang pengertian menstruasi dalam kategori baik sebanyak 39,4%. Dari data tersebut menggambarkan bahwa sebagian siswi sudah mengetahui tentang pengertian menstruasi. Pengetahuan siswa tentang pengertian menstruasi dapat diperoleh melalui pendidikan kesehatan, penyuluhan, pengalaman, membaca materi tentang menstruasi melalui media cetak seperti majalah, leaflet, buku tentang kesehatan atau media elektronik. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium (Hanafi, 1999).
2. Tingkat pengetahuan tentang gangguan menstruasi
Tampak pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar siswi mempunyai pengetahuan baik tentang gangguan menstruasi yaitu sebesar 50%, hal ini menggambarkan setengahnya siswi sudah mengetahui tentang gangguan menstruasi. Pengetahuan siswi tentang gangguan menstruasi dapat diperoleh melalui pengalaman atau membaca materi tentang menstruasi seperti majalah, leaflet, buku tentang kesehatan, karena pengetahuan adalah dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek-objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo, 2003).
Gangguan menstruasi diantaranya: 1) Hipermenoria, yaitu pendarahan haid yang lebih banyak dari normal. Biasanya berlangsung lebih dari 8 hari, ini karena terdapat gangguan pada uterus atau rahim. 2) Polimenorea, yaitu pendrahan haid yang tidak begitu banyak dan siklus menstruasi kurang dari 21 hari. Biasanya diakibatkan dari gangguan ovulasi atau karena adanya penyakit sistemik yang berhubungan dengan sistem hormonal. 3) Metroregia, yaitu pendarahan yang terjadi antara 2 siklus haid dan darah yang keluar kebanyakan sedikit atau bahkan banyak. 4) Oligomenorea, yaitu siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari.Perdarahn pada oligomenorea biasanya berkurang. 5) Amenorea, yaitu keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut (Simanjuntak, 1999).
3. Tingkat pengetahuan tentang siklus menstruasi
Pada tabel 4.8 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang siklus menstruasi dalam kategori baik sebanyak 40,9%. Hal ini menggambarkan bahwa hampir setengahnya siswi mengetahui tentang siklus menstruasi. Pengetahuan siswa tentang siklus menstruasi dapat diperoleh melalui pendidikan kesehatan, penyuluhan, pengalaman, membaca materi tentang menstruasi melalui media cetak seperti majalah, leaflet, buku tentang menstruasi atau media elektronik. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Masa subur adalah masa dimana tersedia sel telur yang siap untuk dibuahi. Masa subur berkaitan erat dengan menstruasi dan siklus menstruasi. Masa subur ditandai oleh kenaikan Luteinizing Hormone (LH), Follicle Stimulating (FSH) dan estrogen. Selain itu siklus juga dipengaruhi oleh kondisi psikis si wanita, jadi bisa maju atau mundur, untuk itu pemahaman mengenai bagaimana terjadinya menstruasi dan bagaimana siklus menstruasi itu perlu dipahami kaum hawa secara rinci.
Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus, karena jam mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus mengandung kesalahan kurang lebih satu hari. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap siklus haid yang klasik ialah 28 hari,tetapi variasinya cukup luas ,bukan saja anatara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama (Hanafi, 1999).
4. Tingkat pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi
Tampak pada tabel 4.10 bahwa tingkat pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi dalam kategori baik sebanyak 39,4%, hal ini menggambarkan bahwa sebagian siswi sudah mengetahui tentang cara menghadapi menstruasi. Pengetahuan siswa tentang cara menghadapi menstruasi dapat diperoleh melalui pendidikan kesehatan, penyuluhan, pengalaman, membaca materi tentang menstruasi melalui media cetak seperti majalah, leaflet, buku tentang menstruasi atau media elektronik. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Nyeri pada saat menstruasi mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan (Simanjuntak, 1999).
Dismenorea/nyeri pada saat menstruasi di bagi atas :
a. Dismenorea Primer (esensial, intrinsik, idiopatik), tidak terdapat hubungan kelainan ginekologik.
b. Dismenorea Sekunder (salpingitis, yang diperoleh, acquired), disebabkan oleh kelainan ginekologik (salpingitis kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis servisis uteri, dan lain-lain).
Etiologi beberapa faktor memegang peranan :
1) Faktor Kejiwaan
2) Faktor Konstitusi
3) Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis
4) Faktor Endokrin
5) Faktor Alergi
Penanganan :
1) Penerangan dan nasehat
2) Pemberian obat analgesik
3) Terapi Hormonal
4) Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin
5) Dilatasi kanalis servikali
Tingkat pengetahuan siswi yang kurang ini mungkin disebabkan karena para siswi kurang mendapat informasi tentang menstruasi, khususnya tentang pengertian, siklus dan cara menghadapi menstruasi. Kebanyakan para siswi hanya mendapatkan informasi dari teman, orang tua, persepsi mereka sendiri yang belum tentu kebenarannya. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan upaya meningkatkan pengetahuan khususnya tentang pengertian, siklus dan cara menanggulangi menstruasi, seperti membaca buku-buku kesehatan, mengikuti penyuluhan-penyuluhan dan lain-lain. Peningkatan pengetahuan ini dapat melalui jalur formal dengan non formal yang diperoleh melalui membaca, mendengarkan penyuluhan, media massa atau informasi dari orang tua, saudara dan teman (Notoatmodjo, 2003). Dengan meningkatkan pengetahuan diharapkan seseorang lebih rasional dalam menyikapi suatu peristiwa.
C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran/deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif. Kerangka penelitian ini hanya mencari gambaran, sehingga besar kemungkinan ada variabel lain yang belum termasuk dalam kerangka penelitian karena keterbatasan peneliti. Pengambilan data primer diambil dari hasil jawaban responden melalui kuesioner yang telah dibagikan oleh peneliti.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang menstruasi di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya mencapai kategori baik, dangan persentase 47,0% (31 orang), cukup 16,7% (11 orang) dan kurang 36,4% (24 orang).
Dari kesimpulan umum di atas, dapat dirinci kesimpulan khusus sebagai berikut :
1. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang pengertian menstruasi hampir yang termasuk kategori baik sebanyak 39,4% (26 orang), kategori cukup sebanyak 19,7% (13 orang), dan kategori kurang sebanyak 36,4% (27 orang).
2. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang gangguan menstruasi termasuk kategori baik sebanyak 50,0% (33 orang), kategori cukup sebanyak 18,2% (12 orang), dan kategori kurang sebanyak 31,8% (21 orang) .
3. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang siklus menstruasi yang termasuk kategori baik sebanyak 40,9% (27 orang), kategori cukup sebanyak 15,2% (10 orang), dan kategori kurang sebanyak 43,9% (29 orang).
4. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang cara menghadapi menstruasi yang mempunyai tingkat pengetahuan baik sebanyak 39,4% (26 orang), kategori cukup sebanyak 19,7% (13 orang), dan kategori kurang sebanyak 40,9% (27 orang).
B. Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan dan pengamatan selama penelitian, peneliti menyadari bahwa hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu peneliti menganggap perlu untuk memberikan saran, antara lain:
1. Bagi peneliti
Diharapkan bagi peneliti dapat lebih mengembangkan teori dan ilmu yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
2. Bagi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Tasikmalaya
Diharpakan dapat memberikan masukan melalui penambahan pembendaharaan referensi khususnya tentang kesehatan reproduksi sehingga mampu memberikan tambahan wawasan pengetahuan untuk diaplikasikan dalam bermasyarakat.
3. Bagi SLTP Negeri II Taraju
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam penyusunan kurikulum guna meningkatkan siswi mengenai pembelajaran pendidikan kesehatan reproduksi.
4. Bagi peneliti selanjutnya
Karena perilaku terbentuk dari pengetahuan dan sikap, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai sikap siswi SLTP terhadap menstruasi.
5. Bagi profesi keperawatan
Bagi profesi keperawatan perlu lebih aktif lagi memberikan penyuluhan dan konseling kepada siswi SLTP, melalui perawat-perawat yang terlatih dan profesional.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa reproduksi adalah masa yang penting bagi seluruh organisme di permukaan bumi untuk meneruskan keturunannya. Seperti halnya makhluk lain, manusia juga menjalankan perannya dalam meneruskan keturunan, dan wanita memiliki peranan yang cukup besar. Sebelum seorang wanita siap menjalani masa reproduksi, terdapat masa pubertas.
Pubertas atau masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Tidak ada batas yang tajam antara akhir masa kanak-kanak dan awal masa pubertas, akan tetapi dapat dikatakan bahwa pubertas mulai dengan awal berfungsinya ovarium dan berakhir pada saat ovarium sudah berfungsi dengan mantap dan teratur. Secara klinis pubertas mulai dengan timbulnya ciri-ciri kelamin sekunder (Manuaba,1998).
Sejak memasuki masa pubertas, hormon yang ada dalam tubuh telah mencukupi untuk memulai mengalirkan darah menstruasi. Hal ini tentu saja sebagai pertanda bahwa sudah memasuki tahap kematangan organ seksual dalam tubuhnya, sehingga sudah dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Datangnya menstruasi pertama ini disebut dengan menarche, biasanya akan terjadi pada usia sekitar 10 tahun. Setiap perempuan tidaklah selalu sama siklus menstruasinya. Siklus menstruasi adalah suatu rangkaian peristiwa sejak mulainya satu menstruasi ke menstruasi bulan berikutnya, dapat terjadi setiap 26-30 hari, bahkan kemungkinan ada yang sampai 40 hari. Siklus ini dapat dikendalikan oleh siapapun dan pada saat kapanpun. Seorang perempuan hanya dapat meramalkan kapan menstruasinya datang, tapi tidak secara umum. Seperti diketahui, siklus menstruasi seseorang dalam setiap bulannya tidaklah sama, bisa terlambat atau agak cepat. Semuanya normal, masa menstruasi seseorang pada umumnya terjadi sekitar 4-7 hari (Dianawati, 2003).
Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang berulang setiap bulan tersebut akhirnya membentuk siklus menstruasi. Siklus menstruasi dihitung dari hari pertama haid sampai tepat satu hari pertama haid bulan berikutnya. Siklus menstruasi berkisar antara 21-40 hari hanya sekitar 10-15 persen wanita yang memiliki siklus 28 hari.
Banyak perempuan yang pada waktu menjelang atau selama menstruasi mengalami stres. Hal ini disebabkan oleh ketegangan mental dan fisik yang dialaminya dan merasa sangat menyulitkan segala aktifitasnya. (Dianawati, 2003)
Gejala yang sering ditemukan pada waktu menjelang atau selama menstruasi seperti iritabilitas (mudah tersinggung) dan disforia (perasaan sedih). Banyak juga diantaranya yang kemudian terlihat pucat, lemas, atau tidak bergairah, serta kehilangan nafsu makan, yang kesemuanya itu berhubungan dengan perubahan hormon yang memicu terjadinya ketidakstabilan dalam diri masing-masing wanita. Karena sifatnya yang hormonal dan temporer maka gejala yang ditimbulkannya pun sangat beragam. (http://www.Keluargasehat.com : 2009)
Di Tasikmalaya berdasarkan data yang diperoleh dari Mitra Citra Remaja (Salah satu konsultasi permasalahan remaja di Tasikmalaya) pada tahun 2008 remaja yang mengalami masalah menstruasi diantaranya dapat mengganggu aktivitas khususnya bagi seorang pelajar. Salah seorang siswi mengakui bahwa setiap menjelang atau selama menstruasi dirinya merasa terganggu, kadang sampai tidak sadarkan diri.
Hampir setiap remaja terutama siswi SLTP di Jawa Barat aktivitas belajarnya merasa terganggu ketika menjelang atau selama menstruasi. Diperkirakan 50% usia remaja 14-20 tahun mengalami hal tersebut. (http://www.Keluargasehat.com : 2007). Selain itu, remaja yang merasa terganggu ketika menjelang atau selama menstruasi juga dialami oleh siswi SLTPN II Taraju. Mereka mengeluh merasa takut dan stres ketika akan menjelang haid yang disertai rasa sakit dan kadang sampai tidak sadarkan diri. Selain itu juga, kadang siswi malas untuk pergi sekolah atau sampai tidak mengikuti jam pelajaran. Salah satu faktor tingginya angka kejadian tersebut yaitu kurangnya pengetahuan siswi dalam menghadapi menstruasi. Oleh karena itu, kemampuan intelektual siswi tentang menstruasi sangat penting misalnya tahu akan pengertian menstruasi, gangguan menstruasi, siklus dan tahu cara penanganan ketika akan menghadapi menstruasi.
Hal ini mungkin tidak akan terjadi jika pengetahuan siswi tentang menstruasi atau cara menghadapinya baik sehingga dapat mengurangi tingkat emosi atau stres saat menstruasi terjadi dan aktifitas belajarpun tidak akan terganggu. Misalkan, bagaimana cara menghadapi menstruasi yang tenang, sedikitnya tahu obat untuk mengurangi rasa nyeri ataupun tindakan lainnya.
Pengetahuan tentang menstruasi ini perlu dimiliki sejak dini, karena dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam bertindak. Menurut Green (1980, dalam Notoatmodjo, 2003), perilaku ditentukan atau terbentuk dari faktor predisposisi, yaitu: pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai; faktor pendukung, yaitu: lingkungan, fisik, fasilitas atau sarana dan faktor pendorong, yaitu: sikap atau perilaku yang mendukung. Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa pengetahuan merupakan domain penting untuk terbentuknya perilaku seseorang karena tindakan yang didasari dengan pengetahuan akan lebih langgeng daripada tindakan atau perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Dengan demikian siswi yang memiliki pengetahuan tentang menstruasi ini diharapkan dapat merealisasikan dalam kegiatan sehari-hari.
Berdasarkan hasil survei awal melalui wawancara mendalam kepada 10 orang siswi SLTPN II Taraju pada bulan April tahun 2009 mengenai masalah tentang menstruasi, ternyata 8 dari 10 orang menyatakan bahwa responden kurang mengetahui tindakan apa yang mesti dilakukan pada saat menstruasi misalnya menghilangkan atau mengurangi rasa sakit pada saat menjelang atau selama menstruasi. Berbeda dengan hasil survei wawancara kepada 10 orang siswi SLTPN I Taraju mengenai masalah tentang menstruasi, ternyata 9 dari 10 orang menyatakan bahwa responden sedikitnya tahu dan mengerti tindakan yang selalu dilakukan pada saat menstruasi. Misalnya, cara mengurangi rasa sakit pada saat menjelang atau selama menstruasi.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Tingkat Pengetahuan Siswi SLTPN II Taraju Tentang Menstruasi”.
B. Rumusan Masalah
Dilihat dari latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan suatu masalah dalam penelitian ini adalah “Sejauhmana Tingkat Pengetahuan Siswi SLTPN II Taraju tentang menstruasi?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan yang dimiliki siswi SLTPN II Taraju tentang menstruasi.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang pengertian menstruasi.
b. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang gangguan menstruasi.
c. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang siklus haid.
d. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang cara menghadapi menstruasi.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti.
Penelitian ini bermanfaat sebagai sarana untuk menerapkan teori dan ilmu yang telah diperoleh di tempat kuliah serta untuk menambah wawasan mengenai pengetahuan tentang menstruasi.
2. Bagi STIKES Muhammadiyah Tasikmalaya
Sebagai bahan untuk memahami mahasiswa yang sedang mengalami menstruasi terhadap perilaku dalam proses pembelajaran.
3. Bagi SLTPN II Taraju
Sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam penyusunan kurikulum guna meningkatkan pengetahuan siswi mengenai pembelajaran Pendidikan Kesehatan Reproduksi.
4. Bagi Profesi Keperawatan
Menambah pengetahuan dan pengembangan ilmu keperawatan tentang permasalahan dan penanganan menstruasi dan dapat dijadikan sebagai bahan untuk pendidikan kesehatan terutama pada wanita.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian tentang “Pengetahuan siswi SLTPN II Taraju tentang menstruasi” dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, adapun penelitian lain yang mirip dengan penelitian ini yaitu pada tahun 2007, penelitian tentang “Tingkat pengetahuan tentang Pre Menstruasi Syndrom (PMS) pada siswi SMA Pasundan Tasikmalaya”. Tetapi penelitian ini, sebagian besar diarahkan pada masalah yang muncul terjadi sebelum menstruasi (Pre Menstruasi Syndrom). Sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti sekarang ingin mengetahui tingkat pengetahuan siswi tentang menstruasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
1. Pengetahuan
a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek-objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
b. Ragam Pengetahuan.
Ditinjau dari sifat dan cara penerapannya, pengetahuan terdiri atas dua macam, yaitu:
1) Declarative propositional knowledge, yakni pengetahuan mengenai informasi faktual yang umumnya bersifat statis-normatif dan dapat sijelaskan secara verbal atau lisan. Isi pengetahuan berupa konsep dan fakta yang dapat ditularkan kepada orang lain melalui ekspresi tulisan dan lisan. Pengetahuan ini lazim disebut “mengetahui bahwa”.
2) Procedural knowledge, yakni pengetahuan yang mendasari kecakapan atau keterampilan perbuatan jasmaniah yang cenderung bersifat dinamis. Namun, pengetahuan ini sangat sulit diuraikan secara lisan, meskipun susah didemonstrasikan dengan perbuatan nyata. Pengetahuan ini lazim disebut “mengetahui cara” .
c. Tingkat Pengetahuan Dalam Domain Kognitif.
1) Know (tahu) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Tahap ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2) Comprehension (memahami), diartikan sebagai suatu kemampuan menjalaskan secara benar tentang apa yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3) Application (aplikasi), diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
4) Analysis (analisis), diartikan suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu, material atau objek kedalam komponen-komponen, tapi masih dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5) Syntesis (sintesis), menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6) Evaluation (evaluasi), kemampuan unutk melakuakn justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang sudah ada. (Notoatmodjo,2003).
d. Faktor-faktor Pengetahuan menurut teori Lawrence Green, yaitu:
1) Faktor predisposisi (disposing factors), yaitu faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku sesorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi.
2) Faktor pemungkin (enobling factors), yaitu faktor-faktor yang memungkinan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan, faktor pemungkin adalah sarana prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan, misalnya Puskesmas, Posyandu, Rumah Sakit, Tempat olahraga.
3) Faktor penguat (reinforcing factors), yaitu faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku. Kadang-kadang, meskipun seseorang tahu dan mampu untuk berperilaku sehat, tetapi tidak melakukannya.
e. Pengukuran Pengetahuan.
Pengukuran pengetahuan dapat menggunakan pertanyaan yang bersifat objektif dan subjektif. Pertanyaan objektif merupakan pertanyaan tertutup misalnya pertanyaan pilihan ganda, benar-salah atau menjodohkan. Pertanyaan subjektif berupa pertanyaan terbuka atau essay. Pertanyaan objektif lebih banyak disukai dalam penelitian karena dapat lebih mudah disesuaikan dengan pengetahuan yang akan diukur dan lebih cepat dinilai.
f. Dasar-Dasar Pengetahuan
1) Tradisi
2) Otoriter
3) Meminjam dari disiplin orang lain
4) Pengalaman trial dan error
5) Alasan yang logis
6) Metode ilmiah
g. Tujuan Pengetahuan
Adapun tujuan dari pengetahuan adalah untuk mendapatkan kepastian serta menghilangkan prasangka sebagai akibat ketidak pastian tersebut.
h. Unsur-Unsur Pengetahuan
1) Pengetahuan
2) Tersusun secara sistematis
3) Menggunakan pemikiran
4) Dapat di kontrol secara krotis oleh orang lain atau umum (objek) Pembagian pengetahuan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang antara lain:
a) Dari segi objek
(1) Ilmu Matematika
(2) Ilmu Pengetahuan
(3) Ilmu Perilaku
(4) Ilmu Pengetahuan Kerohanian
b) Dari sifatnya
(1) Pengetahuan Eksa
(2) Pengetahuan non Eksa
c) Dari sudut penerapan
(1) Pengetahuan murni
Membentuk dan mengembangkan pengetahuan secara abstrak yakni untuk mempertinggi mutunya
(2) Pengetahuan Terapan
Untuk membantu masyarakat didalam mengatasi masalah yang dihadapi.
Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku meupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skiner ini disebut “S-O-R” atau Stimulus-Organisme-respon.
2. Menstruasi
a. Pengertian Menstruasi
Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan.
Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium. (Hanafi, 1999)
Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. (http://www.repository.ui.com :2009)
Masa subur adalah masa dimana tersedia sel telur yang siap untuk dibuahi. Masa subur berkaitan erat dengan menstruasi dan siklus menstruasi. Masa subur ditandai oleh kenaikan Luteinizing Hormone (LH), Follicle Stimulating (FSH) dan estrogen. Selain itu siklus juga dipengaruhi ole kondisi psikis si wanita jadi,bisa maju atau mundur, untuk itu pemahaman mengenai bagaimana terjadinya menstruasi dan bagaimana siklus menstruasi itu perlu dipahami kaum hawa secara rinci.
b. Gangguan Menstuasi
Ada beberapa istilah medis yang sering di jumpai untuk menyebutkan adanya gangguan pendarahan pada siklus menstruasi, diantaranya :
1) Hipermenoria
Pendarahan haid yang lebih banyak dari normal.Biasanya berlangsung lebih dari 8 hari, ini karena terdapat gangguan pada uterus atau rahim.
2) Polimenorea
Pendrahan haid yang tidak begitu banyak dan siklus menstruasi kurang dari 21 hari. Biasanya diakibatkan dari gangguan ovulasi atau karena adanya penyakit sistemik yang berhubungan dengan sistem hormonal.
3) Metroregia
Pendarahan yang terjadi antara 2 siklus haid dan darah yang keluar kebanyakan sedikit atau bahkan banyak
4) Oligomenorea
Siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari. Perdarahan pada oligomenorea biasanya berkurang.
5) Amenorea
Keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut.(Simanjuntak:1999)
c. Siklus Menstruasi
Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus, karena jam mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus mengandung kesalahan kurang lebih satu hari. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap siklus haid yang klasik ialah 28 hari,tetapi variasinya cukup luas ,bukan saja anatara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama (Hanafi, 1999)
d. Gangguan lain pada awal haid (Dismenorea)
Dismenorea atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan (Simanjuntak, 1999).
Dismenorea di bagi atas :
1) Dismenorea Primer (esensial, intrinsik, idiopatik), tidak terdapat hubungan kelainan ginekologik.
2) Dismenorea Sekunder (salpingitis, yang diperoleh, acquired), disebabkan oleh kelainan ginekologik (salpingitis kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis servisis uteri, dan lain-lain).
Etiologi beberapa faktor memegang peranan :
1) Faktor Kejiwaan
2) Faktor Konstitusi
3) Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis
4) Faktor Endokrin
5) Faktor Alergi.
Penanganan :
1) Penerangan dan nasehat
2) Pemberian obat analgesik
3) Terapi Hormonal
4) Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin
5) Dilatasi kanalis servikali.
B. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimilki atau didapatkan oleh sesuatu penelitian tentang suatu konsep penelitian tertentu.Variabel penelitian disini adalah “Tingkat Pengetahuan siswi SLTPN II Taraju Tentang Menstruasi”.
C. Kerangka Penelitian
Berdasarkan kerangka teori dan tujuan yang ingin diperoleh melalui penelitian ini, maka kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1
Kerangka Konsep
Sumber: Buku Pendidikan Dan Prilaku Kesehatan
(Soekidjo Notoatmodjo, 2003:15)
D. Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Skala Ukur Alat
Ukur Hasil Ukur
1. Pengetahuan Kemampuan intelektual siswi untuk mengungkapkan kembali apa yang diketahui tentang Menstruasi yang meliputi:
pengertian Menstruasi, -Gangguan menstruasi, Siklus haid,
Cara
menghadapi saat atau menjelang menstruasi.
Benar diberi nilai 1
Salah diberi nilai 0 Ordinal
Kuesioner
Dengan menggunakan soal pilihan ganda (Multiple choice) 1. Baik (76%-100%)
2. Cukup (60%-75%)
3. Kurang (<60%)
(Sugiono, 2005)
1.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian dan Pendekatan
Metode penelitian bersifat deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang suatu keadaan secara objektif yang digunakan untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang (Notoatmodjo, 2002).
B. Populasi, Sampel dan Sampling
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek peneliti. (Arikunto, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas 2-3 SLTPN II Taraju yang berjumlah 270 siswi, 190 siswi yang sudah menstruasi.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari polulasi yang diteliti. (Arikunto, 2003). Ukuran sampel yang diambil agar mewakili seluruh populasi ditentukan dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Soekidjo Notoatmodjo (2002 ), sebagai berikut :
Keterangan :
n= Jumlah sampel
N= Besar populasi
d=Tingkat kepercayaan (10%)
Perhitungan jumlah sampelnya adalah sebagai berikut:
= 66
Dari hasil perhitungan maka diperoleh sampel sebanyak 66 orang.
Dengan karakteristik sampel :
a. Siswi usia 13-15
b. Siswi yang sudah menstruasi 190 orang
c. Siswi kelas 2-3
3. Sampling
Sampling merupakan sutu proses dalam menyeleksi sampel yang digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, dengan menggunakan tehnik sampling.
Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak sederhana (Sample Random Sampling ) yaitu pengambilan sampel dilakukan secara acak sehingga subjek dianggap sama untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel tanpa perasaan ingin mengistimewakan satu atau beberapa subjek untuk dijadikan sampel. Metode pengambilan sampel acak sederhana yang dilakukan menggunakan tehknik undian.
C. Tempat Penelitian
Rencana penelitian akan ini dilaksanakan di SLTPN II Taraju Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya.
D. Waktu Penelitian
Penelitian telah dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan dari tanggal 20 Juli sampai dengan 21 Agustus 2009.
E. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini hanya menggunakan satu variabel, yaitu pengetahuan siswi tentang menstruasi.
F. Instrumen Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dibantu dengan menggunakan instrumen sebagai berikut :
1. Kuesioner berisi pertanyaan pengetahuan mengenai menstruasi, yang terdiri dari 35 item pertanyaan. Pengertian menstruasi 8 item, gangguan menstruasi 14 item, Siklus haid 4 item, cara penanganan dalam menghadapi menstruasi 9 item.
2. Alat tulis untuk mencatat dan lembaran soal yang di buat sendiri.
G. Jenis dan cara Pengumpulan Data
1. Jenis data
Data yang diambil adalah data primer dengan instrumen kuesioner. Sebelum digunakan, kuesioner dilakukan uji validitas dan relibilitas untuk menguji butir-butir pertanyaan yang ada dalam kuesioner, apakah isi dari butir pertanyaan tersebut sudah valid dan reliable atau belum.
a. Uji Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur. (Notoatmodjo, 2002). Untuk mengetahui valid atau tidaknya alat ukur ini, maka sebelum disebarkan ke responden, terlebih dahulu diujicobakan instrumen ini kepada 20 orang responden yang mempunyai karakteristik yang sama dengan kriteria sampel di SLTPN II Puspahiang untuk selanjutnya dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan formulasi “ Product moment” dari Pearson. Langkah-langkah yang dilakukan untuk uji validitas ini adalah dengan menghitung koefisien dengan menggunakan rumus :
R= N ( ∑ XY ) – ( ∑ X ∑ Y ) ooooo
√{ N∑X2 – ( ∑X )2 }{ N∑Y2 – ( ∑Y )2}
Dimana : N = Jumlah Responden.
X = Nomor pertanyaan.
Y = Skor total.
XY = Skor pertanyaan x Skor total
Setelah diperoleh harga r1 hitung, selanjutnya untuk dapat diputuskan instrumen tersebut valid atau tidak, harga tersebut dikonsultasikan dengan harga r tabel. Dengan n = 20 taraf kesalahan 5% diperoleh 0,444 dan taraf kesalahan 1% = 0,561. jumlah seluruh pertanyaan yang digunakan sebanyak 35 butir dengan nilai validitas 0,980 – 0,994.
b. Uji Reliabilitas
Reliabilitas menunjukkan pada suatu penelitian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang dapat dipercaya juga (Arikunto, 2002). Dalam penelitian ini untuk menguji reliabilitas variabel pengetahuan digunakan metode koefisian reliabilitas K-R 20.
r11 =
Keterangan :
r11 = reliabilitas instrument
K = banyaknya butir pertanyaan
Vt = varian total
p = proporsi subjek yang menjawab betul pada suatu butir
pertanyaan (proporsi subjek yang mendapat skor 1)
q = proporsi subjek yang mendapat skor 0.
Berdasarkan hasil analisis uji coba tersebut, maka instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan reliabel atau sangat kuat karena menghasilkan koefisien reliabelitas yang diperoleh 0,999 lebih besar dari 0,8.
H. Cara Pengumpulan Data
Pengolahan data menggunakan komputer melalui proses dengan tahapan sebagai berikut :
1. Editing Data
Tahapan ini dimaksudkan untuk menyunting data yang telah terkumpul, dilakukan dengan memeriksa kelengkapan, kesalahan pengisian, dan konsistensi dari setiap jawaban pertanyaan (Santoso, 2001).
2. Coding Data
Melakukan pengkodean guna memudahkan dalam pengolahan data, langkah yang digunakan adalah dengan memberi kode angka atau huruf yang telah ditetapkan seperti untuk item pengetahuan untuk jawaban benar = Nilai 1, Untuk jawaban salah = 0.
2. Tabulating Data
Memasukan data sedemikian rupa sehingga mudah dijumlah, disusun, dan disajikan dalam bentuk tabel, gambar atau grafik.
3. Entry Data
Memasukan data kedalam program pengolah data melalui program SPSS.
4. Cleaning Data
Data yang telah di entry kemudian dilakukan pengecekan dan koreksi apabila ada kesalahan pada tahap entry.
I. Rencana Analisis Data
1. Pengetahuan
Dalam analisis ini digunakan rumus (Arikunto, 2002) sebagai berikut :
P =
Keterangan :
P = Persentase
n = Jumlah pertanyaan yang dijawab
N = Jumlah seluruh pertanyaan.
Adapun bentuk analisa dan interpretasi data dari hasil penelitian mengacu pada teori Sugiono (2005) sebagai berikut :
a. Kategori baik apabila pertanyaan dijawab benar oleh responden 76 -100 %.
b. Kategori cukup apabila pertanyaan dijawab benar oleh responden 60 – 75 %.
c. Kategori kurang apabila pertanyaan dijawab benar oleh responden < 60%.
J. Etika Penelitian
1. Self determination (menentukan sendiri)
Subjek berhak untuk menentukan keputusannya sendiri yang terbaik menurut subjek.
2. Privacy (keleluasaan pribadi)
Subjek diberikan keleluasaan dalam mengambil keputusan, tidak menyinggung hal-hal yang paling pribadi.
3. Anonimity (Tanpa nama) dan Confidentiality (kerahasiaan)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden maka peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar angket. Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti.
4. Fair Tratment
Lebih dikenal dengan lembar persetujuan (Informed Consent) penelitian diberikan kepada responden dengan tujuan agar subjek mengetahui maksud dan tujuan peneliti. Jika subjek tidak bersedia untuk diteliti maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati haknya.
5. Protect from discomfort and harm (dilindungi dari rasa tidak nyaman dan dirugikan)
Subjek ditanyakan tentang rasa nyamannya dan jangan sampai merasa dirugikan, tugas peneliti untuk melindungi subjek dari rasa tidak nyaman dan perasaan dirugikan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang menstruasi di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya telah dilaksanakan pada tanggal 20 Juli sampai dengan 21 Agustus 2009.
A. Hasil Penelitian
1. Karakteristik responden
Tabel 4.1
Nilai Rata-rata Usia Siswi SLTP Negeri II Taraju di
Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya
Tahun 2009
Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Pengertian Menstruasi 14,09 0,83 13-15 13,88-14,29
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.1 di atas, diperoleh nilai mean 14,09, standar deviasi 0,83, min-max 13-15 dan nilai 95% CI 13,88-14,29 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata usia siswi SLTP Negeri II Taraju adalah 14 tahun dengan usia termuda 13 tahun dan usia paling tua 15 tahun.
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Siswi
SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju
Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Usia Frekuensi %
13 tahun
14 tahun
15 tahun 20
20
26 30,3
30,3
39,4
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS
Tabel 4.2 di atas, menunjukkan siswi SLTP Negeri II Taraju yang berusia 13 tahun sebanyak 20 orang (30,3%), dan usia 14 tahun sebanyak 20 orang (30,3%), sedangkan yang berusia 15 tahun sebanyak 25 orang (39,4%).
2. Tingkat pengetahuan siswi SLTP tentang menstruasi
a. Pengertian menstruasi
Tabel 4.3
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Pengertian Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Pengertian Menstruasi 67,99 19,25 37,50-100 63,25-72,72
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.3 di atas, diperoleh nilai mean 67,99, standar deviasi 19,25, min-max 37,50-100 dan nilai 95% CI 63,25-72,72 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang pengertian menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 67,99%.
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Pengertian Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Pengertian Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 26
13
27 39,4
19,7
36,4
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang pengertian menstruasi dalam kategori baik sebanyak 26 orang (39,4%), kategori cukup 13 orang (19,7%), dan kategori kurang sebanyak 27 orang (36,4%). Dari data di atas menggambarkan bahwa sebagian siswa sudah mengetahui tentang pengertian menstruasi.
b. Gangguan menstruasi
Tabel 4.5
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Gangguan Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Gangguan Menstruasi
70,53 16,49 42,80-92,80 66,47-74,58
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.5 di atas, diperoleh nilai mean 70,53, standar deviasi 16,49, min-max 42,80-92,80 dan nilai 95% CI 66,47-74,58 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang gangguan menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 70,53%.
Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Gangguan Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Gangguan Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 33
12
21 50,0
18,2
31,8
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang gangguan menstruasi dalam kategori baik sebanyak 33 orang (50,0%), kategori cukup sebanyak 12 orang (18,2%), dan kategori kurang sebanyak 21 orang (31,8%). Dari data di atas menggambarkan hampir setengahnya siswi mengetahui tentang gangguan menstruasi.
c. Siklus menstruasi
Tabel 4.7
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Siklus Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Siklus Menstruasi
71,96 26,49 25-100 65,45-78,48
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.7 di atas, diperoleh nilai mean 71,96, standar deviasi 26,49, min-max 25-100 dan nilai 95% CI 65,45-78,48 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang siklus menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 71,96%.
Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Siklus Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Siklus Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 27
10
29 40,9
15,2
43,9
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.8 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang siklus menstruasi dalam kategori baik sebanyak 27 orang (40,9%), kategori cukup sebanyak 10 orang (15,2%), dan kategori kurang sebanyak 29 orang (43,9%). Hal ini menggambarkan bahwa sebagian siswi mengetahui tentang siklus menstruasi.
d. Cara menghadapi menstruasi
Tabel 4.9
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Cara Menghadapi Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Cara menghadapi menstruasi 68,00 15,53 44,44-88,88 64,18-71,82
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.8 di atas, diperoleh nilai mean 68,00, standar deviasi 15,53, min-max 44,44-88,88 dan nilai 95% CI 64,18-71,82 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 68,00%.
Tabel 4.10
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Cara Menghadapi Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Cara Menghadapi Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 26
13
27 39,4
19,7
40,9
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS
Berdasarkan tabel 4.10 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi dalam kategori baik sebanyak 26 orang (39,4%), kategori cukup sebanyak 13 orang (19,7%), dan kategori kurang sebanyak 27 orang (40,9%). Dari data tersebut menggambarkan bahwa sebagian siswa sudah mengetahui tentang cara menghadapi menstruasi.
Untuk lebih jelasnya peneliti membuat diagram tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang menstruasi dan dapat di lihat pada diagram 4.1 di bawah ini :
Diagram 4.1
Tingkat Pengetahuan Siswi SLTP tentang Menstruasi di
Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya
Sumber: Hasil Uji Graph dengan SPSS
B. Pembahasan
1. Tingkat pengetahuan tentang pengertian menstruasi
Tampak pada tabel 4.4 menunjukkan prosentase tingkat pengetahuan tentang pengertian menstruasi dalam kategori baik sebanyak 39,4%. Dari data tersebut menggambarkan bahwa sebagian siswi sudah mengetahui tentang pengertian menstruasi. Pengetahuan siswa tentang pengertian menstruasi dapat diperoleh melalui pendidikan kesehatan, penyuluhan, pengalaman, membaca materi tentang menstruasi melalui media cetak seperti majalah, leaflet, buku tentang kesehatan atau media elektronik. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium (Hanafi, 1999).
2. Tingkat pengetahuan tentang gangguan menstruasi
Tampak pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar siswi mempunyai pengetahuan baik tentang gangguan menstruasi yaitu sebesar 50%, hal ini menggambarkan setengahnya siswi sudah mengetahui tentang gangguan menstruasi. Pengetahuan siswi tentang gangguan menstruasi dapat diperoleh melalui pengalaman atau membaca materi tentang menstruasi seperti majalah, leaflet, buku tentang kesehatan, karena pengetahuan adalah dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek-objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo, 2003).
Gangguan menstruasi diantaranya: 1) Hipermenoria, yaitu pendarahan haid yang lebih banyak dari normal. Biasanya berlangsung lebih dari 8 hari, ini karena terdapat gangguan pada uterus atau rahim. 2) Polimenorea, yaitu pendrahan haid yang tidak begitu banyak dan siklus menstruasi kurang dari 21 hari. Biasanya diakibatkan dari gangguan ovulasi atau karena adanya penyakit sistemik yang berhubungan dengan sistem hormonal. 3) Metroregia, yaitu pendarahan yang terjadi antara 2 siklus haid dan darah yang keluar kebanyakan sedikit atau bahkan banyak. 4) Oligomenorea, yaitu siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari.Perdarahn pada oligomenorea biasanya berkurang. 5) Amenorea, yaitu keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut (Simanjuntak, 1999).
3. Tingkat pengetahuan tentang siklus menstruasi
Pada tabel 4.8 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang siklus menstruasi dalam kategori baik sebanyak 40,9%. Hal ini menggambarkan bahwa hampir setengahnya siswi mengetahui tentang siklus menstruasi. Pengetahuan siswa tentang siklus menstruasi dapat diperoleh melalui pendidikan kesehatan, penyuluhan, pengalaman, membaca materi tentang menstruasi melalui media cetak seperti majalah, leaflet, buku tentang menstruasi atau media elektronik. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Masa subur adalah masa dimana tersedia sel telur yang siap untuk dibuahi. Masa subur berkaitan erat dengan menstruasi dan siklus menstruasi. Masa subur ditandai oleh kenaikan Luteinizing Hormone (LH), Follicle Stimulating (FSH) dan estrogen. Selain itu siklus juga dipengaruhi oleh kondisi psikis si wanita, jadi bisa maju atau mundur, untuk itu pemahaman mengenai bagaimana terjadinya menstruasi dan bagaimana siklus menstruasi itu perlu dipahami kaum hawa secara rinci.
Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus, karena jam mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus mengandung kesalahan kurang lebih satu hari. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap siklus haid yang klasik ialah 28 hari,tetapi variasinya cukup luas ,bukan saja anatara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama (Hanafi, 1999).
4. Tingkat pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi
Tampak pada tabel 4.10 bahwa tingkat pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi dalam kategori baik sebanyak 39,4%, hal ini menggambarkan bahwa sebagian siswi sudah mengetahui tentang cara menghadapi menstruasi. Pengetahuan siswa tentang cara menghadapi menstruasi dapat diperoleh melalui pendidikan kesehatan, penyuluhan, pengalaman, membaca materi tentang menstruasi melalui media cetak seperti majalah, leaflet, buku tentang menstruasi atau media elektronik. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Nyeri pada saat menstruasi mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan (Simanjuntak, 1999).
Dismenorea/nyeri pada saat menstruasi di bagi atas :
a. Dismenorea Primer (esensial, intrinsik, idiopatik), tidak terdapat hubungan kelainan ginekologik.
b. Dismenorea Sekunder (salpingitis, yang diperoleh, acquired), disebabkan oleh kelainan ginekologik (salpingitis kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis servisis uteri, dan lain-lain).
Etiologi beberapa faktor memegang peranan :
1) Faktor Kejiwaan
2) Faktor Konstitusi
3) Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis
4) Faktor Endokrin
5) Faktor Alergi
Penanganan :
1) Penerangan dan nasehat
2) Pemberian obat analgesik
3) Terapi Hormonal
4) Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin
5) Dilatasi kanalis servikali
Tingkat pengetahuan siswi yang kurang ini mungkin disebabkan karena para siswi kurang mendapat informasi tentang menstruasi, khususnya tentang pengertian, siklus dan cara menghadapi menstruasi. Kebanyakan para siswi hanya mendapatkan informasi dari teman, orang tua, persepsi mereka sendiri yang belum tentu kebenarannya. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan upaya meningkatkan pengetahuan khususnya tentang pengertian, siklus dan cara menanggulangi menstruasi, seperti membaca buku-buku kesehatan, mengikuti penyuluhan-penyuluhan dan lain-lain. Peningkatan pengetahuan ini dapat melalui jalur formal dengan non formal yang diperoleh melalui membaca, mendengarkan penyuluhan, media massa atau informasi dari orang tua, saudara dan teman (Notoatmodjo, 2003). Dengan meningkatkan pengetahuan diharapkan seseorang lebih rasional dalam menyikapi suatu peristiwa.
C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran/deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif. Kerangka penelitian ini hanya mencari gambaran, sehingga besar kemungkinan ada variabel lain yang belum termasuk dalam kerangka penelitian karena keterbatasan peneliti. Pengambilan data primer diambil dari hasil jawaban responden melalui kuesioner yang telah dibagikan oleh peneliti.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang menstruasi di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya mencapai kategori baik, dangan persentase 47,0% (31 orang), cukup 16,7% (11 orang) dan kurang 36,4% (24 orang).
Dari kesimpulan umum di atas, dapat dirinci kesimpulan khusus sebagai berikut :
1. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang pengertian menstruasi hampir yang termasuk kategori baik sebanyak 39,4% (26 orang), kategori cukup sebanyak 19,7% (13 orang), dan kategori kurang sebanyak 36,4% (27 orang).
2. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang gangguan menstruasi termasuk kategori baik sebanyak 50,0% (33 orang), kategori cukup sebanyak 18,2% (12 orang), dan kategori kurang sebanyak 31,8% (21 orang) .
3. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang siklus menstruasi yang termasuk kategori baik sebanyak 40,9% (27 orang), kategori cukup sebanyak 15,2% (10 orang), dan kategori kurang sebanyak 43,9% (29 orang).
4. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang cara menghadapi menstruasi yang mempunyai tingkat pengetahuan baik sebanyak 39,4% (26 orang), kategori cukup sebanyak 19,7% (13 orang), dan kategori kurang sebanyak 40,9% (27 orang).
B. Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan dan pengamatan selama penelitian, peneliti menyadari bahwa hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu peneliti menganggap perlu untuk memberikan saran, antara lain:
1. Bagi peneliti
Diharapkan bagi peneliti dapat lebih mengembangkan teori dan ilmu yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
2. Bagi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Tasikmalaya
Diharpakan dapat memberikan masukan melalui penambahan pembendaharaan referensi khususnya tentang kesehatan reproduksi sehingga mampu memberikan tambahan wawasan pengetahuan untuk diaplikasikan dalam bermasyarakat.
3. Bagi SLTP Negeri II Taraju
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam penyusunan kurikulum guna meningkatkan siswi mengenai pembelajaran pendidikan kesehatan reproduksi.
4. Bagi peneliti selanjutnya
Karena perilaku terbentuk dari pengetahuan dan sikap, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai sikap siswi SLTP terhadap menstruasi.
5. Bagi profesi keperawatan
Bagi profesi keperawatan perlu lebih aktif lagi memberikan penyuluhan dan konseling kepada siswi SLTP, melalui perawat-perawat yang terlatih dan profesional.
SENAM HAMIL (KEGEL'S EXERCISE)
Senam Hamil
Jenis olah tubuh yang paling sesuai untuk ibu hamil adalah senam hamil. Gerakan senam hamil sesuai dengan banyaknya perubahan fisik seperti pada organ genital, perut yang tambah besar dsb. Dengan melakukan senam hamil secara teratur dan intensif, ibu hamil dapat menjaga kesehatan tubuh dan janin yang dikandung secara optimal.
Senam hamil adalah terapi latihan gerak untuk mempersiapkan ibu hamil, secara fisik ataupun mental, untuk menghadapi persalinan yang cepat, aman dan spontan.
Di bawah ini adalah gambar senam hamil. Dengan mengikuti gerakan-gerakan yang ada dalam gambar, niscaya bayi yang ada dalam kandungan dapat terlahir lebih baik. Gerakan senam hamil ini dapat dilakukan di rumah atau di mana saja, usahakan dengan alas yang empuk.
Jenis olah tubuh yang paling sesuai untuk ibu hamil adalah senam hamil. Gerakan senam hamil sesuai dengan banyaknya perubahan fisik seperti pada organ genital, perut yang tambah besar dsb. Dengan melakukan senam hamil secara teratur dan intensif, ibu hamil dapat menjaga kesehatan tubuh dan janin yang dikandung secara optimal.
Senam hamil adalah terapi latihan gerak untuk mempersiapkan ibu hamil, secara fisik ataupun mental, untuk menghadapi persalinan yang cepat, aman dan spontan.
Di bawah ini adalah gambar senam hamil. Dengan mengikuti gerakan-gerakan yang ada dalam gambar, niscaya bayi yang ada dalam kandungan dapat terlahir lebih baik. Gerakan senam hamil ini dapat dilakukan di rumah atau di mana saja, usahakan dengan alas yang empuk.
Langganan:
Postingan (Atom)