Minggu, 05 Desember 2010

TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYAN KEPERAWATAN

Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan kebutuhan pelanggan dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila pelayanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan. Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisien dan lebih efektif. Apabila pelanggan merasa tidak puas terhadap suatu pelayanan yang disediakan, maka pelayanan tersebut dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. Hal ini terutama sangat penting bagi pelayanan publik.
Tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan merupakan faktor yang penting dalam mengembangkan suatu sistim penyediaan pelayanan yang tanggap terhadap kebutuhan pelanggan, meminimalkan biaya dan waktu serta memaksimalkan dampak pelayanan terhadap populasi sasaran.
Terdapat beberapa cara untuk mengukur kepuasan pelanggan, tetapi makalah ini menguraikan satu cara sederhana yang telah digunakan di subsektor peternakan, perdasarkan penilaian petani terhadap dua isu penting yaitu: (1) tingkat kepentingan pelayanan yang diberikan, and (2) kinerja pemberi pelayanan didalam memberikan pelayanannya.
Makalah ini menggali suatu metodologi yang pernah digunakan untuk menjajagi tingkat kepuasan pelanggan (yaitu petani peternak) terhadap pelayanan yang diberikan terutama oleh petugas pemerintah. Metodologi yang dirancang ini juga dapat dipergunakan bagi sektor pertanian lainnya maupun sektor non-pertanian.
Oleh karena pendekatan partisipatif diperlukan didalam mengumpulkan data, maka sangat direkomendasikan agar enumerator yang akan mengumpulkan data dibekali terlebih dahulu dengan alat-alat PRA (Pemahaman Pedesaan secara Partisipatif).
Pendahuluan
Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisien dan lebih efektif. Apabila pelanggan merasa tidak puas terhadap suatu pelayanan yang disediakan, maka pelayanan tersebut dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. Hal ini terutama sangat penting bagi pelayanan publik. Pada kondisi persaingan sempurna, dimana pelanggan mampu untuk memilih di antara beberapa alternatif pelayanan dan memiliki informasi yang memadai, kepuasan pelanggan merupakan satu determinan kunci dari tingkat permintaan pelayanan dan fungsi/operasionalisasi pemasok. Namun bila hanya satu agen, baik pemerintah maupun sektor swasta, yang merupakan penyedia tunggal pelayanan, maka penggunaan kepuasan pelanggan untuk mengukur efektifitas dan efisiensi pelayanan sering tidak kelihatan. Makalah ini menggali suatu metodologi yang pernah digunakan untuk menjajagi tingkat kepuasan pelanggan (petani peternak) terhadap pelayanan yang diberikan terutama oleh petugas pemerintah. Metodologi yang dirancang ini juga dapat dipergunakan bagi sektor pertanian lainnya maupun sektor non-pertanian
Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan keperluan pelanggan dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila ia dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggannya. Ada beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan oleh pelanggan dalam menilai suatu pelayanan, yaitu: ketepatan waktu, dapat dipercaya, kemampuan teknis, diharapkan, berkualitas dan harga yang sepadan.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, pelanggan sendiri yang menilai tingkat kepuasan yang mereka terima dari barang atau jasa spesifik yang diberikan, serta tingkat kepercayaan mereka terhadap kemampuan pemberi pelayanan
Mengapa kita mengukur kepuasan pelanggan?
Tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan merupakan faktor yang penting dalam mengembangkan suatu sistim penyediaan pelayanan yang tanggap terhadap kebutuhan pelanggan, meminimalkan biaya dan waktu serta memaksimalkan dampak pelayanan terhadap populasi sasaran.
Dalam rangka mengembangkan suatu mekanisme pemberian pelayanan yang memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan, perlu mengetahui hal-hal berikut
1. Mengetahui apa yang pelanggan pikirkan tentang anda, pelayanan anda, dan pesaing anda.
2. Mengukur dan meningkatkan kinerja anda.
3. Mempergunakan kelebihan anda kedalam pemilahan pasar.
4. Memanfaatkan kelemahan anda ke dalam peluang pengembangan – sebelum orang lain memulainya.
5. Membangun wahana komunikasi internal sehingga setiap orang tahu apa yang mereka kerjakan.
6. Menunjukkan komitmen anda terhadap kualitas dan pelanggan anda
Umpan balik dan informasi merupakan elemen yang penting dalam membangun sistem pemberian pelayanan yang efektif, termasuk:
• Tingkat kepuasan pelanggan
• Kualitas pelayanan
Bagaimana mengukur kepuasan pelanggan?
Berikut ini adalah langkah-langkah yang telah dilakukan oleh konsultan program DELIVERI didalam mengukur tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan peternakan di lokasi proyek.
1. Data yang dikumpulkan
• Jenis Pelayanan. Tanyakan kepada Pemberi pelayanan (baca: Petugas Dinas), yang akan diukur tingkat kepuasan pemberian pelayanannya, tentang jenis-jenis pelayanan yang biasa diberikan, siapa yang memberikan pelayanan dan kepada siapa pelayanan tersebut diberikan.
• Tuliskan setiap jenis pelayanan tersebut karena pelayanan inilah yang akan diukur kinerjanya di dalam memberikan kepuasan terhadap pelanggan
• Kinerja Pelayan dan Tingkat Kepentingan Pelayanan. Diskusikan dengan pelanggan tentang:
o faktor-faktor yang akan dipergunakan di dalam mengukur kinerja pelayanan, misalnya: tingkat keahlian, ketepatan waktu, kemudahan dihubungi, kemampuan menyelesaikan masalah dan fasilitas yang dimiliki di dalam memberikan pelayanan.
o tingkat kepentingan pelayanan.
• Minta Pelanggan agar memberikan nilai terhadap kinerja dan tingkat kepentingan pelayanan
2. Bagaimana mengumpulkan data
a. Responden
• Respondent dipilih secara acak.
• Identifikasi pelanggan yang akan menjadi responden
• Lakukan wawancara perorangan menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat kepentingan pelayanan dan kinerja pemberi pelayanan (lihat Lampiran 1).
b. Waktu
• Pilih waktu yang tepat bagi pelanggan. Ketahui saat saat sibuk kegiatan usaha tani (saat tanam atau saat panen), sibuk adat dan agama.
• Jangan menentukan waktu sendiri, tetapi rundingkan dengan pelanggan kapan waktu luang mereka, sehingga ada kesepakatan. Apakah siang atau malam hari?
• Jawaban yang akurat hanya dapat diperoleh bila pelanggan dengan senang hati memberikan informasi.
c. Lokasi
• Penentuan lokasi pengukuran kepuasan pelanggan sangat tergantung dari cakupan kajian. Bisa di tingkat kelompok tani, atau desa atau kabupaten.
• Untuk cakupan lokasi yang luas lakukan sampling pemilihan lokasi. Pilih lokasi yang representatif. Banyak cara untuk melakukan sampling ini, tetapi itu bukan maksud dari penyusunan manual ini.
3. Metoda analisis
• Kompilasikan angka-angka penilaian kepuasan pelanggan terhadap: (a) tingkat kepentingan pelayanan menurut petani, dan (b) kinerja Pelayan di dalam memberikan pelayanan, menurut faktor-faktor yang disepakati untuk diukur, ke dalam sel-sel di dalam Matriks Kepuasan Pelanggan (lihat Lampiran 2).
• Baris di dalam matriks menunjukkan tingkat kepentingan, sementara kolom menunjukkan tingkat kinerja Pelayan. Contoh: bila tingkat kepentingan di nilai 4 atau 5, dan kinerja juga dinilai 4 atau 5 maka penilaian ini ditempatkan pada sel-sel berwarna merah (sel-sel pertemuan antara kolom dan baris) di dalam matriks, dan selanjutnya.
• Lakukan analisis deskriptif dari setiap jawaban yang terkumpul di masing-masing area pada matriks. Misal: persentase jawaban yang terkumpul pada masing-masing area.
• Kumpulan data di setiap sel dapat pula disajikan dalam grafik tiga dimensi seperti diperlihatkan pada Lampiran 3.
4. Survey Baseline dan Survey Lanjutan
• Apabila dibutuhkan untuk membandingkan data sebelum dan sesudah proyek – untuk mengukur perubahan di dalam tingkat kepuasan p[elanggan – lakukan beberapa kali survey yang sama. Biasanya, lakukan survey dasar dan survey lanjutan.
• Selang waktu antara dua survey tergantung dari tujuan survey dan juga masa proyek. Ini dapat dilakukan terus menerus, secara periodik, atau pada awai dan akhir proyek.
5. Interpretasi
Tingkat kepuasan pelangan didefinisikan dengan parameter-parameter sebagai berikut:
• KEPUASAN PELANGGAN TINGGI: persentase responden yang melaporkan tingkat kepentingan pelayanan lebih besar dari 3 (4 atau 5) dan menilai tingkat kinerja pelayanan lebih besar dari 3 (4 atau 5). Pada kondisi ini pelanggan menemukan bahwa kinerja pemberi pelayanan adalah baik didalam memberikan pelayanan yang penting bagi keputusan mereka didalam menentukan produksi.
• KEPUASAN PELANGGAN SEDANG: persentase responden yang menilai kepentingan pelayanan adalah sedang sampai tinggi (3, 4 atau 5) tetapi menilai kinerja pemberi pelayanan hanya sedang (3); atau sebaliknya menilai kinerja pelayanan sedang sampai tinggi (3,4 atau 5) tetapi menilai kepentingan hanya sedang (3).
• KEPUASAN PELANGGAN RENDAH: persentase responden yang menilai kepentingan pelayanan sedang sampai tinggi (3, 4 or 5) tetapi kinerja pelayanan rendah dan sangat rendah (2 or 1).
• PELAYANAN TIDAK EFISIEN: area kunci dari matriks kepuasan pelanggan dari responden yang menilai pelayanan tidak penting (2 atau 1) tetapi kinerja pemberi pelayanannya dinilai sedang sampai sangat baik (3, 4 atau 5). Kategori ini menunjukkan dua kemungkinan skenario yaitu sumberdaya pemerintah dibuang-buang (karena pelayanan yang tidak penting diberikan secara baik) atau program dimana terjadi eksternaliti positif yang tidak dikenal petani.
• PELAYANAN ‘TIDAK BERGUNA’: persentase responden yang melaporkan tingkat kepentingan pelayanan rendah atau sangat rendah (2 atau 1) dan kinerja pemberi pelayanannya juga rendah dan sangat rendah (2 atau 1). Pada kondisi seperti ini, lupakan dan tinggalkan saja pelayanan tersebut
6. Analisa Perbandingan
• Data kepuasan pelanggan dapat dianalisa berdasarkan setiap pelayanan atau lokasi geografis (kabupaten atau propinsi) atau tingkat kesejahteraan, tergantung dari tingkat kepentingan dan keinginan tim evaluasi.
• Matriks dapat diaplikasikan untuk data dari pelayanan khusus, misalnya pelayanan khusus lintas area geografis atau antar tingkat kesejahteraan. Juga data dapat diagregasi untuk mengindikasikan keseluruhan kepuasan dari kelompok yang diberikan pelayanan.
• Dengan demikian analisis dapat dilakukan untuk membandingkan tingkat kepuasan pelanggan berdasarkan:
- Pelayanan ke pelayanan;
- Baseline dan kajian lanjutan;
- Sebelum dan sesudah proyek;
- Kabupaten dengan kabupaten lain;
- Tahun pertama agregasi dengan tahun berikutnya agregasi
Kesimpulan dan rekomendasi
Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisisen dan lebih efektif. Hal ini sangat esensial terutama dalam penyedianan pelayanan publik. Dengan menggunakan metode yang sederhana –dikembangkan oleh DELIVERI- tingkat kepuasan pelanggan di subsektor peternakan, berdasarkan penilaian petani terhadap dua isu penting: (1) Tingkat kepentingan pelayanan yang disediakan, dan (2) Kinerja pemberi pelayanan, telah berhasil dianalisis.
Metodologi yang dikembangkan ini dapat juga dipergunakan pada pelayanan sektor pertanian lainnya dan juga untuk sektor-sektor di luar pertanian. Oleh karena pendekatan partisipatif diperlukan didalam mengumpulkan data, maka sangat direkomendasikan agar enumerator yang akan mengumpulkan data dibekali terlebih dahulu dengan alat-alat PRA (Pemahaman Pedesaan secara Partisipatif).

TINGKAT PENGETAHUAN ANAK REMAJA TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa reproduksi adalah masa yang penting bagi seluruh organisme di permukaan bumi untuk meneruskan keturunannya. Seperti halnya makhluk lain, manusia juga menjalankan perannya dalam meneruskan keturunan, dan wanita memiliki peranan yang cukup besar. Sebelum seorang wanita siap menjalani masa reproduksi, terdapat masa pubertas.
Pubertas atau masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Tidak ada batas yang tajam antara akhir masa kanak-kanak dan awal masa pubertas, akan tetapi dapat dikatakan bahwa pubertas mulai dengan awal berfungsinya ovarium dan berakhir pada saat ovarium sudah berfungsi dengan mantap dan teratur. Secara klinis pubertas mulai dengan timbulnya ciri-ciri kelamin sekunder (Manuaba,1998).
Sejak memasuki masa pubertas, hormon yang ada dalam tubuh telah mencukupi untuk memulai mengalirkan darah menstruasi. Hal ini tentu saja sebagai pertanda bahwa sudah memasuki tahap kematangan organ seksual dalam tubuhnya, sehingga sudah dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Datangnya menstruasi pertama ini disebut dengan menarche, biasanya akan terjadi pada usia sekitar 10 tahun. Setiap perempuan tidaklah selalu sama siklus menstruasinya. Siklus menstruasi adalah suatu rangkaian peristiwa sejak mulainya satu menstruasi ke menstruasi bulan berikutnya, dapat terjadi setiap 26-30 hari, bahkan kemungkinan ada yang sampai 40 hari. Siklus ini dapat dikendalikan oleh siapapun dan pada saat kapanpun. Seorang perempuan hanya dapat meramalkan kapan menstruasinya datang, tapi tidak secara umum. Seperti diketahui, siklus menstruasi seseorang dalam setiap bulannya tidaklah sama, bisa terlambat atau agak cepat. Semuanya normal, masa menstruasi seseorang pada umumnya terjadi sekitar 4-7 hari (Dianawati, 2003).
Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang berulang setiap bulan tersebut akhirnya membentuk siklus menstruasi. Siklus menstruasi dihitung dari hari pertama haid sampai tepat satu hari pertama haid bulan berikutnya. Siklus menstruasi berkisar antara 21-40 hari hanya sekitar 10-15 persen wanita yang memiliki siklus 28 hari.
Banyak perempuan yang pada waktu menjelang atau selama menstruasi mengalami stres. Hal ini disebabkan oleh ketegangan mental dan fisik yang dialaminya dan merasa sangat menyulitkan segala aktifitasnya. (Dianawati, 2003)
Gejala yang sering ditemukan pada waktu menjelang atau selama menstruasi seperti iritabilitas (mudah tersinggung) dan disforia (perasaan sedih). Banyak juga diantaranya yang kemudian terlihat pucat, lemas, atau tidak bergairah, serta kehilangan nafsu makan, yang kesemuanya itu berhubungan dengan perubahan hormon yang memicu terjadinya ketidakstabilan dalam diri masing-masing wanita. Karena sifatnya yang hormonal dan temporer maka gejala yang ditimbulkannya pun sangat beragam. (http://www.Keluargasehat.com : 2009)
Di Tasikmalaya berdasarkan data yang diperoleh dari Mitra Citra Remaja (Salah satu konsultasi permasalahan remaja di Tasikmalaya) pada tahun 2008 remaja yang mengalami masalah menstruasi diantaranya dapat mengganggu aktivitas khususnya bagi seorang pelajar. Salah seorang siswi mengakui bahwa setiap menjelang atau selama menstruasi dirinya merasa terganggu, kadang sampai tidak sadarkan diri.
Hampir setiap remaja terutama siswi SLTP di Jawa Barat aktivitas belajarnya merasa terganggu ketika menjelang atau selama menstruasi. Diperkirakan 50% usia remaja 14-20 tahun mengalami hal tersebut. (http://www.Keluargasehat.com : 2007). Selain itu, remaja yang merasa terganggu ketika menjelang atau selama menstruasi juga dialami oleh siswi SLTPN II Taraju. Mereka mengeluh merasa takut dan stres ketika akan menjelang haid yang disertai rasa sakit dan kadang sampai tidak sadarkan diri. Selain itu juga, kadang siswi malas untuk pergi sekolah atau sampai tidak mengikuti jam pelajaran. Salah satu faktor tingginya angka kejadian tersebut yaitu kurangnya pengetahuan siswi dalam menghadapi menstruasi. Oleh karena itu, kemampuan intelektual siswi tentang menstruasi sangat penting misalnya tahu akan pengertian menstruasi, gangguan menstruasi, siklus dan tahu cara penanganan ketika akan menghadapi menstruasi.
Hal ini mungkin tidak akan terjadi jika pengetahuan siswi tentang menstruasi atau cara menghadapinya baik sehingga dapat mengurangi tingkat emosi atau stres saat menstruasi terjadi dan aktifitas belajarpun tidak akan terganggu. Misalkan, bagaimana cara menghadapi menstruasi yang tenang, sedikitnya tahu obat untuk mengurangi rasa nyeri ataupun tindakan lainnya.
Pengetahuan tentang menstruasi ini perlu dimiliki sejak dini, karena dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam bertindak. Menurut Green (1980, dalam Notoatmodjo, 2003), perilaku ditentukan atau terbentuk dari faktor predisposisi, yaitu: pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai; faktor pendukung, yaitu: lingkungan, fisik, fasilitas atau sarana dan faktor pendorong, yaitu: sikap atau perilaku yang mendukung. Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa pengetahuan merupakan domain penting untuk terbentuknya perilaku seseorang karena tindakan yang didasari dengan pengetahuan akan lebih langgeng daripada tindakan atau perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Dengan demikian siswi yang memiliki pengetahuan tentang menstruasi ini diharapkan dapat merealisasikan dalam kegiatan sehari-hari.
Berdasarkan hasil survei awal melalui wawancara mendalam kepada 10 orang siswi SLTPN II Taraju pada bulan April tahun 2009 mengenai masalah tentang menstruasi, ternyata 8 dari 10 orang menyatakan bahwa responden kurang mengetahui tindakan apa yang mesti dilakukan pada saat menstruasi misalnya menghilangkan atau mengurangi rasa sakit pada saat menjelang atau selama menstruasi. Berbeda dengan hasil survei wawancara kepada 10 orang siswi SLTPN I Taraju mengenai masalah tentang menstruasi, ternyata 9 dari 10 orang menyatakan bahwa responden sedikitnya tahu dan mengerti tindakan yang selalu dilakukan pada saat menstruasi. Misalnya, cara mengurangi rasa sakit pada saat menjelang atau selama menstruasi.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Tingkat Pengetahuan Siswi SLTPN II Taraju Tentang Menstruasi”.

B. Rumusan Masalah
Dilihat dari latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan suatu masalah dalam penelitian ini adalah “Sejauhmana Tingkat Pengetahuan Siswi SLTPN II Taraju tentang menstruasi?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan yang dimiliki siswi SLTPN II Taraju tentang menstruasi.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang pengertian menstruasi.
b. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang gangguan menstruasi.
c. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang siklus haid.
d. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan siswi tentang cara menghadapi menstruasi.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti.
Penelitian ini bermanfaat sebagai sarana untuk menerapkan teori dan ilmu yang telah diperoleh di tempat kuliah serta untuk menambah wawasan mengenai pengetahuan tentang menstruasi.
2. Bagi STIKES Muhammadiyah Tasikmalaya
Sebagai bahan untuk memahami mahasiswa yang sedang mengalami menstruasi terhadap perilaku dalam proses pembelajaran.
3. Bagi SLTPN II Taraju
Sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam penyusunan kurikulum guna meningkatkan pengetahuan siswi mengenai pembelajaran Pendidikan Kesehatan Reproduksi.
4. Bagi Profesi Keperawatan
Menambah pengetahuan dan pengembangan ilmu keperawatan tentang permasalahan dan penanganan menstruasi dan dapat dijadikan sebagai bahan untuk pendidikan kesehatan terutama pada wanita.

E. Keaslian Penelitian
Penelitian tentang “Pengetahuan siswi SLTPN II Taraju tentang menstruasi” dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, adapun penelitian lain yang mirip dengan penelitian ini yaitu pada tahun 2007, penelitian tentang “Tingkat pengetahuan tentang Pre Menstruasi Syndrom (PMS) pada siswi SMA Pasundan Tasikmalaya”. Tetapi penelitian ini, sebagian besar diarahkan pada masalah yang muncul terjadi sebelum menstruasi (Pre Menstruasi Syndrom). Sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti sekarang ingin mengetahui tingkat pengetahuan siswi tentang menstruasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
1. Pengetahuan
a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek-objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
b. Ragam Pengetahuan.
Ditinjau dari sifat dan cara penerapannya, pengetahuan terdiri atas dua macam, yaitu:
1) Declarative propositional knowledge, yakni pengetahuan mengenai informasi faktual yang umumnya bersifat statis-normatif dan dapat sijelaskan secara verbal atau lisan. Isi pengetahuan berupa konsep dan fakta yang dapat ditularkan kepada orang lain melalui ekspresi tulisan dan lisan. Pengetahuan ini lazim disebut “mengetahui bahwa”.
2) Procedural knowledge, yakni pengetahuan yang mendasari kecakapan atau keterampilan perbuatan jasmaniah yang cenderung bersifat dinamis. Namun, pengetahuan ini sangat sulit diuraikan secara lisan, meskipun susah didemonstrasikan dengan perbuatan nyata. Pengetahuan ini lazim disebut “mengetahui cara” .
c. Tingkat Pengetahuan Dalam Domain Kognitif.
1) Know (tahu) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Tahap ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2) Comprehension (memahami), diartikan sebagai suatu kemampuan menjalaskan secara benar tentang apa yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3) Application (aplikasi), diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
4) Analysis (analisis), diartikan suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu, material atau objek kedalam komponen-komponen, tapi masih dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5) Syntesis (sintesis), menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6) Evaluation (evaluasi), kemampuan unutk melakuakn justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang sudah ada. (Notoatmodjo,2003).
d. Faktor-faktor Pengetahuan menurut teori Lawrence Green, yaitu:
1) Faktor predisposisi (disposing factors), yaitu faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku sesorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi.
2) Faktor pemungkin (enobling factors), yaitu faktor-faktor yang memungkinan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan, faktor pemungkin adalah sarana prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan, misalnya Puskesmas, Posyandu, Rumah Sakit, Tempat olahraga.
3) Faktor penguat (reinforcing factors), yaitu faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku. Kadang-kadang, meskipun seseorang tahu dan mampu untuk berperilaku sehat, tetapi tidak melakukannya.
e. Pengukuran Pengetahuan.
Pengukuran pengetahuan dapat menggunakan pertanyaan yang bersifat objektif dan subjektif. Pertanyaan objektif merupakan pertanyaan tertutup misalnya pertanyaan pilihan ganda, benar-salah atau menjodohkan. Pertanyaan subjektif berupa pertanyaan terbuka atau essay. Pertanyaan objektif lebih banyak disukai dalam penelitian karena dapat lebih mudah disesuaikan dengan pengetahuan yang akan diukur dan lebih cepat dinilai.
f. Dasar-Dasar Pengetahuan
1) Tradisi
2) Otoriter
3) Meminjam dari disiplin orang lain
4) Pengalaman trial dan error
5) Alasan yang logis
6) Metode ilmiah
g. Tujuan Pengetahuan
Adapun tujuan dari pengetahuan adalah untuk mendapatkan kepastian serta menghilangkan prasangka sebagai akibat ketidak pastian tersebut.
h. Unsur-Unsur Pengetahuan
1) Pengetahuan
2) Tersusun secara sistematis
3) Menggunakan pemikiran
4) Dapat di kontrol secara krotis oleh orang lain atau umum (objek) Pembagian pengetahuan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang antara lain:
a) Dari segi objek
(1) Ilmu Matematika
(2) Ilmu Pengetahuan
(3) Ilmu Perilaku
(4) Ilmu Pengetahuan Kerohanian
b) Dari sifatnya
(1) Pengetahuan Eksa
(2) Pengetahuan non Eksa
c) Dari sudut penerapan
(1) Pengetahuan murni
Membentuk dan mengembangkan pengetahuan secara abstrak yakni untuk mempertinggi mutunya
(2) Pengetahuan Terapan
Untuk membantu masyarakat didalam mengatasi masalah yang dihadapi.
Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku meupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skiner ini disebut “S-O-R” atau Stimulus-Organisme-respon.


2. Menstruasi
a. Pengertian Menstruasi

Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan.
Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium. (Hanafi, 1999)
Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. (http://www.repository.ui.com :2009)
Masa subur adalah masa dimana tersedia sel telur yang siap untuk dibuahi. Masa subur berkaitan erat dengan menstruasi dan siklus menstruasi. Masa subur ditandai oleh kenaikan Luteinizing Hormone (LH), Follicle Stimulating (FSH) dan estrogen. Selain itu siklus juga dipengaruhi ole kondisi psikis si wanita jadi,bisa maju atau mundur, untuk itu pemahaman mengenai bagaimana terjadinya menstruasi dan bagaimana siklus menstruasi itu perlu dipahami kaum hawa secara rinci.
b. Gangguan Menstuasi
Ada beberapa istilah medis yang sering di jumpai untuk menyebutkan adanya gangguan pendarahan pada siklus menstruasi, diantaranya :

1) Hipermenoria
Pendarahan haid yang lebih banyak dari normal.Biasanya berlangsung lebih dari 8 hari, ini karena terdapat gangguan pada uterus atau rahim.
2) Polimenorea
Pendrahan haid yang tidak begitu banyak dan siklus menstruasi kurang dari 21 hari. Biasanya diakibatkan dari gangguan ovulasi atau karena adanya penyakit sistemik yang berhubungan dengan sistem hormonal.
3) Metroregia
Pendarahan yang terjadi antara 2 siklus haid dan darah yang keluar kebanyakan sedikit atau bahkan banyak
4) Oligomenorea
Siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari. Perdarahan pada oligomenorea biasanya berkurang.
5) Amenorea
Keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut.(Simanjuntak:1999)
c. Siklus Menstruasi
Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus, karena jam mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus mengandung kesalahan kurang lebih satu hari. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap siklus haid yang klasik ialah 28 hari,tetapi variasinya cukup luas ,bukan saja anatara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama (Hanafi, 1999)
d. Gangguan lain pada awal haid (Dismenorea)
Dismenorea atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan (Simanjuntak, 1999).
Dismenorea di bagi atas :
1) Dismenorea Primer (esensial, intrinsik, idiopatik), tidak terdapat hubungan kelainan ginekologik.
2) Dismenorea Sekunder (salpingitis, yang diperoleh, acquired), disebabkan oleh kelainan ginekologik (salpingitis kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis servisis uteri, dan lain-lain).
Etiologi beberapa faktor memegang peranan :
1) Faktor Kejiwaan
2) Faktor Konstitusi
3) Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis
4) Faktor Endokrin
5) Faktor Alergi.

Penanganan :
1) Penerangan dan nasehat
2) Pemberian obat analgesik
3) Terapi Hormonal
4) Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin
5) Dilatasi kanalis servikali.

B. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimilki atau didapatkan oleh sesuatu penelitian tentang suatu konsep penelitian tertentu.Variabel penelitian disini adalah “Tingkat Pengetahuan siswi SLTPN II Taraju Tentang Menstruasi”.

C. Kerangka Penelitian
Berdasarkan kerangka teori dan tujuan yang ingin diperoleh melalui penelitian ini, maka kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1
Kerangka Konsep




Sumber: Buku Pendidikan Dan Prilaku Kesehatan
(Soekidjo Notoatmodjo, 2003:15)
D. Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Skala Ukur Alat
Ukur Hasil Ukur
1. Pengetahuan Kemampuan intelektual siswi untuk mengungkapkan kembali apa yang diketahui tentang Menstruasi yang meliputi:
pengertian Menstruasi, -Gangguan menstruasi, Siklus haid,
Cara
menghadapi saat atau menjelang menstruasi.
Benar diberi nilai 1

Salah diberi nilai 0 Ordinal


Kuesioner
Dengan menggunakan soal pilihan ganda (Multiple choice) 1. Baik (76%-100%)
2. Cukup (60%-75%)
3. Kurang (<60%)



(Sugiono, 2005)

1.


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian dan Pendekatan
Metode penelitian bersifat deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang suatu keadaan secara objektif yang digunakan untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang (Notoatmodjo, 2002).

B. Populasi, Sampel dan Sampling
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek peneliti. (Arikunto, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas 2-3 SLTPN II Taraju yang berjumlah 270 siswi, 190 siswi yang sudah menstruasi.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari polulasi yang diteliti. (Arikunto, 2003). Ukuran sampel yang diambil agar mewakili seluruh populasi ditentukan dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Soekidjo Notoatmodjo (2002 ), sebagai berikut :

Keterangan :
n= Jumlah sampel
N= Besar populasi
d=Tingkat kepercayaan (10%)
Perhitungan jumlah sampelnya adalah sebagai berikut:





= 66
Dari hasil perhitungan maka diperoleh sampel sebanyak 66 orang.
Dengan karakteristik sampel :
a. Siswi usia 13-15
b. Siswi yang sudah menstruasi 190 orang
c. Siswi kelas 2-3
3. Sampling
Sampling merupakan sutu proses dalam menyeleksi sampel yang digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, dengan menggunakan tehnik sampling.
Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak sederhana (Sample Random Sampling ) yaitu pengambilan sampel dilakukan secara acak sehingga subjek dianggap sama untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel tanpa perasaan ingin mengistimewakan satu atau beberapa subjek untuk dijadikan sampel. Metode pengambilan sampel acak sederhana yang dilakukan menggunakan tehknik undian.

C. Tempat Penelitian
Rencana penelitian akan ini dilaksanakan di SLTPN II Taraju Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya.

D. Waktu Penelitian
Penelitian telah dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan dari tanggal 20 Juli sampai dengan 21 Agustus 2009.

E. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini hanya menggunakan satu variabel, yaitu pengetahuan siswi tentang menstruasi.

F. Instrumen Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dibantu dengan menggunakan instrumen sebagai berikut :
1. Kuesioner berisi pertanyaan pengetahuan mengenai menstruasi, yang terdiri dari 35 item pertanyaan. Pengertian menstruasi 8 item, gangguan menstruasi 14 item, Siklus haid 4 item, cara penanganan dalam menghadapi menstruasi 9 item.
2. Alat tulis untuk mencatat dan lembaran soal yang di buat sendiri.

G. Jenis dan cara Pengumpulan Data
1. Jenis data
Data yang diambil adalah data primer dengan instrumen kuesioner. Sebelum digunakan, kuesioner dilakukan uji validitas dan relibilitas untuk menguji butir-butir pertanyaan yang ada dalam kuesioner, apakah isi dari butir pertanyaan tersebut sudah valid dan reliable atau belum.
a. Uji Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur. (Notoatmodjo, 2002). Untuk mengetahui valid atau tidaknya alat ukur ini, maka sebelum disebarkan ke responden, terlebih dahulu diujicobakan instrumen ini kepada 20 orang responden yang mempunyai karakteristik yang sama dengan kriteria sampel di SLTPN II Puspahiang untuk selanjutnya dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan formulasi “ Product moment” dari Pearson. Langkah-langkah yang dilakukan untuk uji validitas ini adalah dengan menghitung koefisien dengan menggunakan rumus :
R= N ( ∑ XY ) – ( ∑ X ∑ Y ) ooooo
√{ N∑X2 – ( ∑X )2 }{ N∑Y2 – ( ∑Y )2}

Dimana : N = Jumlah Responden.
X = Nomor pertanyaan.
Y = Skor total.
XY = Skor pertanyaan x Skor total
Setelah diperoleh harga r1 hitung, selanjutnya untuk dapat diputuskan instrumen tersebut valid atau tidak, harga tersebut dikonsultasikan dengan harga r tabel. Dengan n = 20 taraf kesalahan 5% diperoleh 0,444 dan taraf kesalahan 1% = 0,561. jumlah seluruh pertanyaan yang digunakan sebanyak 35 butir dengan nilai validitas 0,980 – 0,994.
b. Uji Reliabilitas
Reliabilitas menunjukkan pada suatu penelitian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang dapat dipercaya juga (Arikunto, 2002). Dalam penelitian ini untuk menguji reliabilitas variabel pengetahuan digunakan metode koefisian reliabilitas K-R 20.
r11 =


Keterangan :
r11 = reliabilitas instrument
K = banyaknya butir pertanyaan
Vt = varian total
p = proporsi subjek yang menjawab betul pada suatu butir
pertanyaan (proporsi subjek yang mendapat skor 1)
q = proporsi subjek yang mendapat skor 0.
Berdasarkan hasil analisis uji coba tersebut, maka instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan reliabel atau sangat kuat karena menghasilkan koefisien reliabelitas yang diperoleh 0,999 lebih besar dari 0,8.

H. Cara Pengumpulan Data
Pengolahan data menggunakan komputer melalui proses dengan tahapan sebagai berikut :
1. Editing Data
Tahapan ini dimaksudkan untuk menyunting data yang telah terkumpul, dilakukan dengan memeriksa kelengkapan, kesalahan pengisian, dan konsistensi dari setiap jawaban pertanyaan (Santoso, 2001).
2. Coding Data
Melakukan pengkodean guna memudahkan dalam pengolahan data, langkah yang digunakan adalah dengan memberi kode angka atau huruf yang telah ditetapkan seperti untuk item pengetahuan untuk jawaban benar = Nilai 1, Untuk jawaban salah = 0.
2. Tabulating Data
Memasukan data sedemikian rupa sehingga mudah dijumlah, disusun, dan disajikan dalam bentuk tabel, gambar atau grafik.
3. Entry Data
Memasukan data kedalam program pengolah data melalui program SPSS.
4. Cleaning Data
Data yang telah di entry kemudian dilakukan pengecekan dan koreksi apabila ada kesalahan pada tahap entry.

I. Rencana Analisis Data
1. Pengetahuan
Dalam analisis ini digunakan rumus (Arikunto, 2002) sebagai berikut :
P =
Keterangan :
P = Persentase
n = Jumlah pertanyaan yang dijawab
N = Jumlah seluruh pertanyaan.
Adapun bentuk analisa dan interpretasi data dari hasil penelitian mengacu pada teori Sugiono (2005) sebagai berikut :
a. Kategori baik apabila pertanyaan dijawab benar oleh responden 76 -100 %.
b. Kategori cukup apabila pertanyaan dijawab benar oleh responden 60 – 75 %.
c. Kategori kurang apabila pertanyaan dijawab benar oleh responden < 60%.

J. Etika Penelitian
1. Self determination (menentukan sendiri)
Subjek berhak untuk menentukan keputusannya sendiri yang terbaik menurut subjek.
2. Privacy (keleluasaan pribadi)
Subjek diberikan keleluasaan dalam mengambil keputusan, tidak menyinggung hal-hal yang paling pribadi.
3. Anonimity (Tanpa nama) dan Confidentiality (kerahasiaan)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden maka peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar angket. Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti.
4. Fair Tratment
Lebih dikenal dengan lembar persetujuan (Informed Consent) penelitian diberikan kepada responden dengan tujuan agar subjek mengetahui maksud dan tujuan peneliti. Jika subjek tidak bersedia untuk diteliti maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati haknya.
5. Protect from discomfort and harm (dilindungi dari rasa tidak nyaman dan dirugikan)
Subjek ditanyakan tentang rasa nyamannya dan jangan sampai merasa dirugikan, tugas peneliti untuk melindungi subjek dari rasa tidak nyaman dan perasaan dirugikan.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang menstruasi di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya telah dilaksanakan pada tanggal 20 Juli sampai dengan 21 Agustus 2009.
A. Hasil Penelitian
1. Karakteristik responden
Tabel 4.1
Nilai Rata-rata Usia Siswi SLTP Negeri II Taraju di
Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya
Tahun 2009

Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Pengertian Menstruasi 14,09 0,83 13-15 13,88-14,29
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.1 di atas, diperoleh nilai mean 14,09, standar deviasi 0,83, min-max 13-15 dan nilai 95% CI 13,88-14,29 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata usia siswi SLTP Negeri II Taraju adalah 14 tahun dengan usia termuda 13 tahun dan usia paling tua 15 tahun.





Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Siswi
SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju
Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Usia Frekuensi %
13 tahun
14 tahun
15 tahun 20
20
26 30,3
30,3
39,4
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS
Tabel 4.2 di atas, menunjukkan siswi SLTP Negeri II Taraju yang berusia 13 tahun sebanyak 20 orang (30,3%), dan usia 14 tahun sebanyak 20 orang (30,3%), sedangkan yang berusia 15 tahun sebanyak 25 orang (39,4%).
2. Tingkat pengetahuan siswi SLTP tentang menstruasi
a. Pengertian menstruasi
Tabel 4.3
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Pengertian Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Pengertian Menstruasi 67,99 19,25 37,50-100 63,25-72,72
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.3 di atas, diperoleh nilai mean 67,99, standar deviasi 19,25, min-max 37,50-100 dan nilai 95% CI 63,25-72,72 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang pengertian menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 67,99%.
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Pengertian Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Pengertian Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 26
13
27 39,4
19,7
36,4
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang pengertian menstruasi dalam kategori baik sebanyak 26 orang (39,4%), kategori cukup 13 orang (19,7%), dan kategori kurang sebanyak 27 orang (36,4%). Dari data di atas menggambarkan bahwa sebagian siswa sudah mengetahui tentang pengertian menstruasi.
b. Gangguan menstruasi
Tabel 4.5
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Gangguan Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Variabel Mean SD Min-Max 95% CI

Gangguan Menstruasi
70,53 16,49 42,80-92,80 66,47-74,58
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.5 di atas, diperoleh nilai mean 70,53, standar deviasi 16,49, min-max 42,80-92,80 dan nilai 95% CI 66,47-74,58 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang gangguan menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 70,53%.
Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Gangguan Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Gangguan Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 33
12
21 50,0
18,2
31,8
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang gangguan menstruasi dalam kategori baik sebanyak 33 orang (50,0%), kategori cukup sebanyak 12 orang (18,2%), dan kategori kurang sebanyak 21 orang (31,8%). Dari data di atas menggambarkan hampir setengahnya siswi mengetahui tentang gangguan menstruasi.
c. Siklus menstruasi
Tabel 4.7
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Siklus Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Variabel Mean SD Min-Max 95% CI

Siklus Menstruasi
71,96 26,49 25-100 65,45-78,48
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.7 di atas, diperoleh nilai mean 71,96, standar deviasi 26,49, min-max 25-100 dan nilai 95% CI 65,45-78,48 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang siklus menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 71,96%.
Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Siklus Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Siklus Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 27
10
29 40,9
15,2
43,9
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS


Berdasarkan tabel 4.8 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang siklus menstruasi dalam kategori baik sebanyak 27 orang (40,9%), kategori cukup sebanyak 10 orang (15,2%), dan kategori kurang sebanyak 29 orang (43,9%). Hal ini menggambarkan bahwa sebagian siswi mengetahui tentang siklus menstruasi.
d. Cara menghadapi menstruasi
Tabel 4.9
Nilai Rata-rata Pengetahuan tentang Cara Menghadapi Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Variabel Mean SD Min-Max 95% CI
Cara menghadapi menstruasi 68,00 15,53 44,44-88,88 64,18-71,82
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.8 di atas, diperoleh nilai mean 68,00, standar deviasi 15,53, min-max 44,44-88,88 dan nilai 95% CI 64,18-71,82 dengan jumlah responden 66 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi termasuk kategori cukup dengan skor rata-rata 68,00%.
Tabel 4.10
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Cara Menghadapi Menstruasi Siswi SLTP Negeri II Taraju
di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Cara Menghadapi Menstruasi Frekuensi %
Baik
Cukup
Kurang 26
13
27 39,4
19,7
40,9
Jumlah 66 100
Sumber: Hasil Uji Frekuensi dengan SPSS

Berdasarkan tabel 4.10 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi dalam kategori baik sebanyak 26 orang (39,4%), kategori cukup sebanyak 13 orang (19,7%), dan kategori kurang sebanyak 27 orang (40,9%). Dari data tersebut menggambarkan bahwa sebagian siswa sudah mengetahui tentang cara menghadapi menstruasi.
Untuk lebih jelasnya peneliti membuat diagram tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang menstruasi dan dapat di lihat pada diagram 4.1 di bawah ini :


Diagram 4.1
Tingkat Pengetahuan Siswi SLTP tentang Menstruasi di
Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya

Sumber: Hasil Uji Graph dengan SPSS

B. Pembahasan
1. Tingkat pengetahuan tentang pengertian menstruasi
Tampak pada tabel 4.4 menunjukkan prosentase tingkat pengetahuan tentang pengertian menstruasi dalam kategori baik sebanyak 39,4%. Dari data tersebut menggambarkan bahwa sebagian siswi sudah mengetahui tentang pengertian menstruasi. Pengetahuan siswa tentang pengertian menstruasi dapat diperoleh melalui pendidikan kesehatan, penyuluhan, pengalaman, membaca materi tentang menstruasi melalui media cetak seperti majalah, leaflet, buku tentang kesehatan atau media elektronik. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium (Hanafi, 1999).
2. Tingkat pengetahuan tentang gangguan menstruasi
Tampak pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar siswi mempunyai pengetahuan baik tentang gangguan menstruasi yaitu sebesar 50%, hal ini menggambarkan setengahnya siswi sudah mengetahui tentang gangguan menstruasi. Pengetahuan siswi tentang gangguan menstruasi dapat diperoleh melalui pengalaman atau membaca materi tentang menstruasi seperti majalah, leaflet, buku tentang kesehatan, karena pengetahuan adalah dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek-objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo, 2003).
Gangguan menstruasi diantaranya: 1) Hipermenoria, yaitu pendarahan haid yang lebih banyak dari normal. Biasanya berlangsung lebih dari 8 hari, ini karena terdapat gangguan pada uterus atau rahim. 2) Polimenorea, yaitu pendrahan haid yang tidak begitu banyak dan siklus menstruasi kurang dari 21 hari. Biasanya diakibatkan dari gangguan ovulasi atau karena adanya penyakit sistemik yang berhubungan dengan sistem hormonal. 3) Metroregia, yaitu pendarahan yang terjadi antara 2 siklus haid dan darah yang keluar kebanyakan sedikit atau bahkan banyak. 4) Oligomenorea, yaitu siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari.Perdarahn pada oligomenorea biasanya berkurang. 5) Amenorea, yaitu keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut (Simanjuntak, 1999).
3. Tingkat pengetahuan tentang siklus menstruasi
Pada tabel 4.8 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang siklus menstruasi dalam kategori baik sebanyak 40,9%. Hal ini menggambarkan bahwa hampir setengahnya siswi mengetahui tentang siklus menstruasi. Pengetahuan siswa tentang siklus menstruasi dapat diperoleh melalui pendidikan kesehatan, penyuluhan, pengalaman, membaca materi tentang menstruasi melalui media cetak seperti majalah, leaflet, buku tentang menstruasi atau media elektronik. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Masa subur adalah masa dimana tersedia sel telur yang siap untuk dibuahi. Masa subur berkaitan erat dengan menstruasi dan siklus menstruasi. Masa subur ditandai oleh kenaikan Luteinizing Hormone (LH), Follicle Stimulating (FSH) dan estrogen. Selain itu siklus juga dipengaruhi oleh kondisi psikis si wanita, jadi bisa maju atau mundur, untuk itu pemahaman mengenai bagaimana terjadinya menstruasi dan bagaimana siklus menstruasi itu perlu dipahami kaum hawa secara rinci.
Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus, karena jam mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus mengandung kesalahan kurang lebih satu hari. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap siklus haid yang klasik ialah 28 hari,tetapi variasinya cukup luas ,bukan saja anatara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama (Hanafi, 1999).
4. Tingkat pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi
Tampak pada tabel 4.10 bahwa tingkat pengetahuan tentang cara menghadapi menstruasi dalam kategori baik sebanyak 39,4%, hal ini menggambarkan bahwa sebagian siswi sudah mengetahui tentang cara menghadapi menstruasi. Pengetahuan siswa tentang cara menghadapi menstruasi dapat diperoleh melalui pendidikan kesehatan, penyuluhan, pengalaman, membaca materi tentang menstruasi melalui media cetak seperti majalah, leaflet, buku tentang menstruasi atau media elektronik. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Nyeri pada saat menstruasi mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan (Simanjuntak, 1999).
Dismenorea/nyeri pada saat menstruasi di bagi atas :
a. Dismenorea Primer (esensial, intrinsik, idiopatik), tidak terdapat hubungan kelainan ginekologik.
b. Dismenorea Sekunder (salpingitis, yang diperoleh, acquired), disebabkan oleh kelainan ginekologik (salpingitis kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis servisis uteri, dan lain-lain).
Etiologi beberapa faktor memegang peranan :
1) Faktor Kejiwaan
2) Faktor Konstitusi
3) Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis
4) Faktor Endokrin
5) Faktor Alergi
Penanganan :
1) Penerangan dan nasehat
2) Pemberian obat analgesik
3) Terapi Hormonal
4) Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin
5) Dilatasi kanalis servikali
Tingkat pengetahuan siswi yang kurang ini mungkin disebabkan karena para siswi kurang mendapat informasi tentang menstruasi, khususnya tentang pengertian, siklus dan cara menghadapi menstruasi. Kebanyakan para siswi hanya mendapatkan informasi dari teman, orang tua, persepsi mereka sendiri yang belum tentu kebenarannya. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan upaya meningkatkan pengetahuan khususnya tentang pengertian, siklus dan cara menanggulangi menstruasi, seperti membaca buku-buku kesehatan, mengikuti penyuluhan-penyuluhan dan lain-lain. Peningkatan pengetahuan ini dapat melalui jalur formal dengan non formal yang diperoleh melalui membaca, mendengarkan penyuluhan, media massa atau informasi dari orang tua, saudara dan teman (Notoatmodjo, 2003). Dengan meningkatkan pengetahuan diharapkan seseorang lebih rasional dalam menyikapi suatu peristiwa.

C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran/deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif. Kerangka penelitian ini hanya mencari gambaran, sehingga besar kemungkinan ada variabel lain yang belum termasuk dalam kerangka penelitian karena keterbatasan peneliti. Pengambilan data primer diambil dari hasil jawaban responden melalui kuesioner yang telah dibagikan oleh peneliti.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang menstruasi di Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya mencapai kategori baik, dangan persentase 47,0% (31 orang), cukup 16,7% (11 orang) dan kurang 36,4% (24 orang).
Dari kesimpulan umum di atas, dapat dirinci kesimpulan khusus sebagai berikut :
1. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang pengertian menstruasi hampir yang termasuk kategori baik sebanyak 39,4% (26 orang), kategori cukup sebanyak 19,7% (13 orang), dan kategori kurang sebanyak 36,4% (27 orang).
2. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang gangguan menstruasi termasuk kategori baik sebanyak 50,0% (33 orang), kategori cukup sebanyak 18,2% (12 orang), dan kategori kurang sebanyak 31,8% (21 orang) .
3. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang siklus menstruasi yang termasuk kategori baik sebanyak 40,9% (27 orang), kategori cukup sebanyak 15,2% (10 orang), dan kategori kurang sebanyak 43,9% (29 orang).
4. Tingkat pengetahuan siswi SLTP Negeri II Taraju tentang cara menghadapi menstruasi yang mempunyai tingkat pengetahuan baik sebanyak 39,4% (26 orang), kategori cukup sebanyak 19,7% (13 orang), dan kategori kurang sebanyak 40,9% (27 orang).

B. Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan dan pengamatan selama penelitian, peneliti menyadari bahwa hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu peneliti menganggap perlu untuk memberikan saran, antara lain:
1. Bagi peneliti
Diharapkan bagi peneliti dapat lebih mengembangkan teori dan ilmu yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
2. Bagi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Tasikmalaya
Diharpakan dapat memberikan masukan melalui penambahan pembendaharaan referensi khususnya tentang kesehatan reproduksi sehingga mampu memberikan tambahan wawasan pengetahuan untuk diaplikasikan dalam bermasyarakat.
3. Bagi SLTP Negeri II Taraju
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam penyusunan kurikulum guna meningkatkan siswi mengenai pembelajaran pendidikan kesehatan reproduksi.


4. Bagi peneliti selanjutnya
Karena perilaku terbentuk dari pengetahuan dan sikap, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai sikap siswi SLTP terhadap menstruasi.
5. Bagi profesi keperawatan
Bagi profesi keperawatan perlu lebih aktif lagi memberikan penyuluhan dan konseling kepada siswi SLTP, melalui perawat-perawat yang terlatih dan profesional.

SENAM HAMIL (KEGEL'S EXERCISE)

Senam Hamil
Jenis olah tubuh yang paling sesuai untuk ibu hamil adalah senam hamil. Gerakan senam hamil sesuai dengan banyaknya perubahan fisik seperti pada organ genital, perut yang tambah besar dsb. Dengan melakukan senam hamil secara teratur dan intensif, ibu hamil dapat menjaga kesehatan tubuh dan janin yang dikandung secara optimal.

Senam hamil adalah terapi latihan gerak untuk mempersiapkan ibu hamil, secara fisik ataupun mental, untuk menghadapi persalinan yang cepat, aman dan spontan.
Di bawah ini adalah gambar senam hamil. Dengan mengikuti gerakan-gerakan yang ada dalam gambar, niscaya bayi yang ada dalam kandungan dapat terlahir lebih baik. Gerakan senam hamil ini dapat dilakukan di rumah atau di mana saja, usahakan dengan alas yang empuk.

Selasa, 30 November 2010

ASKEP PERNAFASAN

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Anatomi yang di berikan
oleh Dosen pengajar. dalam makalah ini penulis membahas tentang Sistem Pernafasan dengan pertimbangan materi di atas merupakan bahan Ujian Semester sehingga dapat membantu untuk lebih memahami materi Anatomi fisiologi.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari adanya berbagai kekurangan,
baik dalam isi materi maupun penyusunan kalimat. Namun demikian, perbaikan
merupakan hal yang berlanjut sehingga kritik dan saran untuk penyempurnaan makalah
ini sangat penulis harapkan.
Akhirnya penulis menyampaikan terima kasih kepada Dr.
dan teman-teman
sekalian yang telah membaca dan mempelajari makalah ini.




BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pengertian pernafasan atau respirasi adalah suatu proses mulai dari pengambilan oksigen, pengeluaran karbohidrat hingga penggunaan energi di dalam tubuh. Menusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang karbondioksida ke lingkungan.
1.Sistem pernafasan terdiri daripada hidung , trakea , peparu , tulang rusuk , otot interkosta ,
bronkus , bronkiol , alveolus dan diafragma .
2.Udara disedot ke dalam paru-paru melalui hidung dan trakea .
3.Dinding trakea disokong oleh gelang rawan supaya menjadi kuat dan sentiasa terbuka
4.Trakea bercabang kepada bronkus kanan dan bronkus kiri yang disambungkan kepada
peparu .
5.Kedua-dua bronkus bercabang lagi kepada bronkiol dan alveolus pada hujung bronkiol .
6.Alveolus mempunyai penyesuaian berikut untuk memudahkan pertukaran gas :
( a ) diliputi kapilari darah yang banyak
( b ) dinding sel yang setebal satu sel ( dinding sel yang nipis ) .
( c ) permukaan yang luas dan lembap .
Mekanisma pernafasan
A.Mekanisma ini terbahagi kepada tarikan nafas dan hembusan nafas .
B.Ia melibatkan perubahan kepada :
Otot interkosta
Tulang rusuk
Diafragma
Isipadu rongga toraks
Tekanan udara di peparu
C.Semasa tarik nafas ,
Otot interkosta luar mengecut( =Tulang rusuk dinaikkan ke atas ) ; otot diafragma
mengecut ( =diafragma menjadikannya leper ), isipadu rongga toraks bertambah dan tekanan
udara peparu menjadi rendah , tekanan udara di luar yang lebih tinggi menolak udara kedalam
peparu .
D.Semasa hembus nafas ,
Otot interkosta luar mengendur ( =Tulang rusuk dmenurun ke bawah ) ; otot diafragma
mengendur ( =diafragma melengkung ke atas ), isipadu rongga toraks berkurang dan tekanan
udara peparu menjadi tinggi , tekanan udara dalam peparu yang lebih tinggi menolak udara
keluar .
B. TUJUAN
- Untuk memahami struktur organ pernafasan
- Untuk memahami fungsi organ pernafasan dan dapat menjelaskan fungsi organ
pernafasan

BAB II
Anatomi Dasar Sistem Pernafasan
Sistem pernafasan pada dasarnya dibentuk oleh jalan atau saluran nafas dan paru- paru beserta pembungkusnya (pleura) dan rongga dada yang melindunginya. Di dalam rongga dada terdapat juga jantung di dalamnya. Rongga dada dipisahkan dengan rongga perut olehdiafragma.
Saluran nafas yang dilalui udara adalah hidung, faring, laring, trakea, bronkus,
bronkiolus dan alveoli. Di dalamnya terdapat suatu sistem yang sedemikian rupa dapat
menghangatkan udara sebelum sampai ke alveoli. Terdapat juga suatu sistem pertahanan yang memungkinkan kotoran atau benda asing yang masuk dapat dikeluarkan baik melalui batuk ataupun bersin.
Paru-paru dibungkus olehpleura. Pleura ada yang menempel langsung ke paru, disebut sebagai pleura visceral. Sedangkan pleura parietal menempel pada dinding rongga dada dalam. Diantara pleura visceral dan pleura parietal terdapat cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas sehingga memungkinkan pergerakan dan pengembangan paru secara bebas tanpa ada gesekan dengan dinding dada.
Sistem Pernafasan
Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport Document
This is a private document.
Info and Rating
Biologi
Health-Martial-Arts
wikipedia cara
karya
peradangan pada
belakang masalah
jurnal proses
(more tags)
Follow

muhammad990

BAHAYA AIDS DAN HIV

http://intl.feedfury.com/content/16689387-bahaya-aids-atau-hiv.html

Bahaya AIDS atau HIV
May 31st, 2008
AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan suatu penyakit yang cara kerjanya menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS disebabkan karena virus yang bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus) masuk ke dalam tubuh manusia. HIV dengan cepat akan melumpuhkan sistem kekebalan manusia. Setelah sistem kekebalan tubuh lumpuh, seseorang penderita AIDS biasanya akan meninggal karena suatu penyakit (disebut penyakit sekunder) yang biasanya akan dapat dibasmi oleh tubuh seandainya sistem kekebalan itu masih baik.

AIDS adalah penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. Virus HIV yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.



Dari survey orang dalam 20 tahun terakhir terinfeksi lebih dari 60 juta Virus HIV. Dari jumlah itu, 20 juta orang meninggal karena Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Tahun 2001, UNAIDS (United Nations Joint Program on HIV atau AIDS) memperkirakan, jumlah Orang Hidup Dengan HIV atau AIDS (ODHA) 40 juta.

Kasus AIDS pertama kali ditemukan di Amerika Serikat, pada 1981, tetapi kasus tersebut hanya sedikit memberi informasi tentang sumber penyakit ini. Sekarang ada bukti jelas bahwa AIDS disebabkan oleh virus yang dikenal dengan HIV.

HIV merupakan bagian dari kelompok virus yang disebut Lentivirus yang ditemukan pada primata nonmanusia. Secara kolektif, Lentivirus diketahui sebagai virus monyet yang dikenal dengan nama Simian Immunodeficiency Virus (SIV). HIV merupakan keturunan dari SIV. Jenis SIV tertentu mirip dengan dua tipe HIV, yakni HIV- 1 dan HIV-2, yang menyerang salah satu sel dari darah putih yaitu sel limfosit.

Di Indonesia , kasus AIDS pertama kali ditemukan pada tahun 1987. Seorang wisatawan berusia 44 tahun asal Belanda meninggal di Rumah Sakit Sanglah, Bali . Kematian lelaki asing itu disebabkan AIDS.

Hingga akhir tahun 1987, ada enam orang yang didiagnosis HIV positif, dua di antara mereka mengidap AIDS. Sejak 1987 hingga Desember 2001, dari 671 pengidap AIDS, sebanyak 280 orang meninggal. HIV begitu cepat menyebar ke seluruh dunia. Ibarat fenomena gunung es di lautan, penderita HIV atau AIDS hanya terlihat sedikit di permukaan.

Penularan HIV atau AIDS
AIDS adalah salah satu penyakit yang menular. Namun penularannya tak semudah seperti virus influenza atau virus-virus lainnya. Virus HIV dapat hidup di seluruh cairan tubuh manusia, akan tetapi yang mempunyai kemampuan untuk menularkan kepada orang lain hanya HIV yang berada dalam: darah, cairan vagina dan sperma.

penularan HIV atau AIDS yang diketahui adalah melalui:
* Transfusi darah dari pengidap HIV.
* Berhubungan seks dengan pengidap HIV.
* Sebagian kecil (25-30%) ibu hamil pengidap HIV kepada janinnya.
* Alat suntik atau jarum suntik/alat tatoo/tindik yang dipakai bersama dengan penderita HIV atau AIDS; serta
* Air susu ibu pengidap AIDS kepada anak susuannya.

Tindakan untuk mencegah HIV atau AIDS
Cara mencegah masuknya suatu penyakit secara umum di antaranya dengan membiasakan hidup sehat, yaitu mengkonsumsi makanan sehat, berolah raga, dan melakukan pergaulan yang sehat. Beberapa tindakan untuk menghindari dari HIV atau AIDS antara lain:
* Hindarkan hubungan seksual diluar nikah dan usahakan hanya berhubungan dengan satu pasangan seksual.
* Pergunakan selalu kondom, terutama bagi kelompok perilaku resiko tinggi.
* Seorang ibu yang darahnya telah diperiksa dan ternyata positif HIV sebaiknya jangan hamil, karena bisa memindahkan virusnya kepada janin yang dikandungnya. Akan bila berkeinginan hamil hendaknya selalu berkonsultasi dengan dokter.
* Orang-orang yang tergolong pada kelompok perilaku resiko tinggi hendaknya tidak menjadi donor darah.
* Penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya seperti; akupunktur, jarum tatto, jarum tindik, hendaknya hanya sekali pakai dan harus terjamin sterilitasnya.
* Jauhi narkoba, karena sudah terbukti bahwa penyebaran HIV atau AIDS di kalangan panasun (pengguna narkoba suntik) 3-5 kali lebih cepat dibanding perilaku risiko lainnya. Di Kampung Bali Jakarta 9 dari 10 penasun positif HIV.

Persepsi Salah Tentang HIV atau AIDS
AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV yang sampai sekarang belum ditemukan obat dan vaksinnya yang benar-benar bermanfaat untuk mengatasi AIDS. Itulah sebabnya AIDS merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. Munculnya anggapan yang salah terhadap tindakan dan prilaku sehubungan dengan HIV atau AIDS semakin mengukuhkan penyakit ini untuk ditakuti.

Oleh sebab itu perlu diketahui bahwa HIV atau AIDS tidak menular melalui:
* Bekerja bersama orang yang terkena infeksi HIV.
* Gigitan nyamuk atau serangga lain.
* Sentuhan tangan atau saling pelukan.
* Hubungan Seks dengan menggunakan kondom.
* Penggunaan alat makan bersama.
* Penggunaan toilet bersama.
* Semprotan bersin atau batuk.



NEW FILES
http://gokielz.blogspot.com/2007/09/bahaya-aids.html
Bahaya AIDS
g AIDS adalah singkatan dari ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME.
AIDS adalah penyakit menular yang disebablan oleh virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus).
Penderita penyakit itu meniggal tidak semata-mata karena virus tersebut, tetapi juga karena terkana penyakit lain yang dapat diatasi seandainya virus tersebut tidak merusak system kekebalan tubuh.

Cara penularan AIDS antara lain:
1. Hubungan seks
2. Alat suntik (jarum suntik yang tercemar)
3. Melalui transfuse darah yang tercemar
4. Infeksi dari ibu yang mengidap penyakit tersebut kepada anak yang dikandungnya
5. Bayi yang dilahirkan akan mengidap penyakit teersebut dari lahir

Gejala:
• Rasa lelah yang berkepanjangan
• Sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan
• Berat badan yang turun secara menyolok
• Pembesaran kelenjar (di leher, ketiak, lipatan paha) tanpa sebab jelas
• Bercak merah kebiruan yang ada pada kulit (kanker kulit)
• Sering demam (lebih dari 38 °C) yang disertai keringat malam tanpa sebab yang jelas
• Diare lebih dari satu bulan tanpa sebab jelas

Kelompok yang beresiko tinggi terjangkit penyakit tersebut adalah: Semua kelompok orang yang suka berganti pasangan seks.

Cara pencegahan:
1. Tidak berganti-ganti pasangan seks
2. Hindari penggunaan jarum suntik yang berulang-ulan

PERTANYAAN

sekarang ini banyak sekali orang membicarakan HIV/AIDS. Sebenarnya, apa yang dimaksud penyakit AIDS itu dan penularannya melalui apa saja ?


REMAJA

Pengertian Remaja Menurut Para Ahli

http://ilmupsikologi.wordpress.com/2009/12/11/pengertian-remaja/
• March 11, 2010
• Psikologi Remaja
• 27 comments
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990: 23) remaja adalah:
masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.
Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun = masa remaja awal, 15 – 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remaja akhir. Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21 tahun (Deswita, 2006: 192)
Definisi yang dipaparkan oleh Sri Rumini & Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan Santrock tersebut menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis

Pengertian Remaja

http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/27/pengertian-remaja/

Posted on November 27th, 2008 in Psikologi Remaja by Admin Blog
Pengertian Remaja
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1990) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.
Borring E.G. ( dalam Hurlock, 1990 ) mengatakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode atau masa tumbuhnya seseorang dalam masa transisi dari anak-anak kemasa dewasa, yang meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Sedangkan Monks, dkk ( dalam Hurlock, 1990 ) menyatakan bahwa masa remaja suatu masa disaat individu berkembang dari pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual, mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari anak menjadi dewasa, serta terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh pada keadaan yang mandiri.
Neidahart (dalam Hurlock, 1990 ) menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan dan ketergantungan pada masa anak-anak kemasa dewasa, dan pada masa ini remaja dituntut untuk mandiri. Pendapat ini hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Ottorank (dalam Hurlock, 1990 ) bahwa masa remaja merupakan masa perubahan yang drastis dari keadaan tergantung menjadi keadaan mandiri, bahkan Daradjat (dalam Hurlock, 1990 ) mengatakan masa remaja adalah masa dimana munculnya berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang lebih jelas dan daya fikir yang matang.
Erikson (dalam Hurlock, 1990 ) menyatakan bahwa masa remaja adalah masa kritis identitas atau masalah identitas – ego remaja. Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat, serta usaha mencari perasaan kesinambungan dan kesamaan baru para remaja harus memperjuangkan kembali dan seseorang akan siap menempatkan idola dan ideal seseorang sebagai pembimbing dalam mencapai identitas akhir.
Berdasarkan beberapa pengertian remaja yang telah dikemukakan para ahli, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja adalah individu yang sedang berada pada masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dan ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat dari aspek fisik, psikis dan sosial

DAMPAK DAN BAHAYA PENYAKIT AIDS

AIDS
http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Wikipedia Indonesia tidak dapat bertanggung jawab dan tidak bisa menjamin bahwa informasi kedokteran yang diberikan di halaman ini adalah benar.
Mintalah pendapat dari tenaga medis yang profesional sebelum melakukan pengobatan.
Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Klasifikasi dan bahan-bahan eksternal


Pita Merah terlipat adalah simbol solidaritas orang-orang yang positif terinfeksi virus HIV dan AIDS.

ICD-10
B24.

ICD-9
042

DiseasesDB
5938

MedlinePlus
000594

eMedicine
emerg/253

MeSH
D000163

Daftar singkatan dalam artikel ini :
AIDS: Acquired immune deficiency syndrome
HIV: Human immunodeficiency virus
CD4+: Sel T pembantu
CCR5: Chemokine (C-C motif) receptor 5
CDC: Centers for Disease Control and Prevention
WHO: World Health Organization
PCP: Pneumocystis pneumonia
TB: Tuberkulosis
MTCT: Mother-to-child transmission
HAART: Highly active antiretroviral therapy
STI/STD: Sexually transmitted infection/disease

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).
Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu.[2][3] Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara.[4] Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia.[5] Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.[5] Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.[6]
Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Terkadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
•
Gejala dan komplikasi


Gejala-gejala utama AIDS.
Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS.[7] HIV mempengaruhi hampir semua organ tubuh. Penderita AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.
Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan.[8][9] Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien.





Penyakit paru-paru utama


Foto sinar-X pneumonia pada paru-paru, disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii.
Pneumonia pneumocystis (PCP)[10] jarang dijumpai pada orang sehat yang memiliki kekebalan tubuh yang baik, tetapi umumnya dijumpai pada orang yang terinfeksi HIV.
Penyebab penyakit ini adalah fungi Pneumocystis jirovecii. Sebelum adanya diagnosis, perawatan, dan tindakan pencegahan rutin yang efektif di negara-negara Barat, penyakit ini umumnya segera menyebabkan kematian. Di negara-negara berkembang, penyakit ini masih merupakan indikasi pertama AIDS pada orang-orang yang belum dites, walaupun umumnya indikasi tersebut tidak muncul kecuali jika jumlah CD4 kurang dari 200 per µL.[11]
Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi unik di antara infeksi-infeksi lainnya yang terkait HIV, karena dapat ditularkan kepada orang yang sehat (imunokompeten) melalui rute pernapasan (respirasi). Ia dapat dengan mudah ditangani bila telah diidentifikasi, dapat muncul pada stadium awal HIV, serta dapat dicegah melalui terapi pengobatan. Namun demikian, resistensi TBC terhadap berbagai obat merupakan masalah potensial pada penyakit ini.
Meskipun munculnya penyakit ini di negara-negara Barat telah berkurang karena digunakannya terapi dengan pengamatan langsung dan metode terbaru lainnya, namun tidaklah demikian yang terjadi di negara-negara berkembang tempat HIV paling banyak ditemukan. Pada stadium awal infeksi HIV (jumlah CD4 >300 sel per µL), TBC muncul sebagai penyakit paru-paru. Pada stadium lanjut infeksi HIV, ia sering muncul sebagai penyakit sistemik yang menyerang bagian tubuh lainnya (tuberkulosis ekstrapulmoner). Gejala-gejalanya biasanya bersifat tidak spesifik (konstitusional) dan tidak terbatasi pada satu tempat.TBC yang menyertai infeksi HIV sering menyerang sumsum tulang, tulang, saluran kemih dan saluran pencernaan, hati, kelenjar getah bening (nodus limfa regional), dan sistem syaraf pusat.[12] Dengan demikian, gejala yang muncul mungkin lebih berkaitan dengan tempat munculnya penyakit ekstrapulmoner.


Penyakit saluran pencernaan utama
Esofagitis adalah peradangan pada kerongkongan (esofagus), yaitu jalur makanan dari mulut ke lambung. Pada individu yang terinfeksi HIV, penyakit ini terjadi karena infeksi jamur (jamur kandidiasis) atau virus (herpes simpleks-1 atau virus sitomegalo). Ia pun dapat disebabkan oleh mikobakteria, meskipun kasusnya langka.[13]
Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan pada infeksi HIV dapat terjadi karena berbagai penyebab; antara lain infeksi bakteri dan parasit yang umum (seperti Salmonella, Shigella, Listeria, Kampilobakter, dan Escherichia coli), serta infeksi oportunistik yang tidak umum dan virus (seperti kriptosporidiosis, mikrosporidiosis, Mycobacterium avium complex, dan virus sitomegalo (CMV) yang merupakan penyebab kolitis).
Pada beberapa kasus, diare terjadi sebagai efek samping dari obat-obatan yang digunakan untuk menangani HIV, atau efek samping dari infeksi utama (primer) dari HIV itu sendiri. Selain itu, diare dapat juga merupakan efek samping dari antibiotik yang digunakan untuk menangani bakteri diare (misalnya pada Clostridium difficile). Pada stadium akhir infeksi HIV, diare diperkirakan merupakan petunjuk terjadinya perubahan cara saluran pencernaan menyerap nutrisi, serta mungkin merupakan komponen penting dalam sistem pembuangan yang berhubungan dengan HIV.[14]
Penyakit syaraf dan kejiwaan utama
Infeksi HIV dapat menimbulkan beragam kelainan tingkah laku karena gangguan pada syaraf (neuropsychiatric sequelae), yang disebabkan oleh infeksi organisma atas sistem syaraf yang telah menjadi rentan, atau sebagai akibat langsung dari penyakit itu sendiri.
Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-satu, yang disebut Toxoplasma gondii. Parasit ini biasanya menginfeksi otak dan menyebabkan radang otak akut (toksoplasma ensefalitis), namun ia juga dapat menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada mata dan paru-paru.[15] Meningitis kriptokokal adalah infeksi meninges (membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) oleh jamur Cryptococcus neoformans. Hal ini dapat menyebabkan demam, sakit kepala, lelah, mual, dan muntah. Pasien juga mungkin mengalami sawan dan kebingungan, yang jika tidak ditangani dapat mematikan.
Leukoensefalopati multifokal progresif adalah penyakit demielinasi, yaitu penyakit yang menghancurkan selubung syaraf (mielin) yang menutupi serabut sel syaraf (akson), sehingga merusak penghantaran impuls syaraf. Ia disebabkan oleh virus JC, yang 70% populasinya terdapat di tubuh manusia dalam kondisi laten, dan menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan sangat lemah, sebagaimana yang terjadi pada pasien AIDS. Penyakit ini berkembang cepat (progresif) dan menyebar (multilokal), sehingga biasanya menyebabkan kematian dalam waktu sebulan setelah diagnosis.[16]
Kompleks demensia AIDS adalah penyakit penurunan kemampuan mental (demensia) yang terjadi karena menurunnya metabolisme sel otak (ensefalopati metabolik) yang disebabkan oleh infeksi HIV; dan didorong pula oleh terjadinya pengaktifan imun oleh makrofag dan mikroglia pada otak yang mengalami infeksi HIV, sehingga mengeluarkan neurotoksin.[17] Kerusakan syaraf yang spesifik, tampak dalam bentuk ketidaknormalan kognitif, perilaku, dan motorik, yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi HIV terjadi. Hal ini berhubungan dengan keadaan rendahnya jumlah sel T CD4+ dan tingginya muatan virus pada plasma darah. Angka kemunculannya (prevalensi) di negara-negara Barat adalah sekitar 10-20%,[18] namun di India hanya terjadi pada 1-2% pengidap infeksi HIV.[19][20] Perbedaan ini mungkin terjadi karena adanya perbedaan subtipe HIV di India.
Kanker dan tumor ganas (malignan)


Sarkoma Kaposi
Pasien dengan infeksi HIV pada dasarnya memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya beberapa kanker. Hal ini karena infeksi oleh virus DNA penyebab mutasi genetik; yaitu terutama virus Epstein-Barr (EBV), virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV), dan virus papiloma manusia (HPV).[21][22]
Sarkoma Kaposi adalah tumor yang paling umum menyerang pasien yang terinfeksi HIV. Kemunculan tumor ini pada sejumlah pemuda homoseksual tahun 1981 adalah salah satu pertanda pertama wabah AIDS. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari subfamili gammaherpesvirinae, yaitu virus herpes manusia-8 yang juga disebut virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). Penyakit ini sering muncul di kulit dalam bentuk bintik keungu-unguan, tetapi dapat menyerang organ lain, terutama mulut, saluran pencernaan, dan paru-paru.
Kanker getah bening tingkat tinggi (limfoma sel B) adalah kanker yang menyerang sel darah putih dan terkumpul dalam kelenjar getah bening, misalnya seperti limfoma Burkitt (Burkitt's lymphoma) atau sejenisnya (Burkitt's-like lymphoma), diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL), dan limfoma sistem syaraf pusat primer, lebih sering muncul pada pasien yang terinfeksi HIV. Kanker ini seringkali merupakan perkiraan kondisi (prognosis) yang buruk. Pada beberapa kasus, limfoma adalah tanda utama AIDS. Limfoma ini sebagian besar disebabkan oleh virus Epstein-Barr atau virus herpes Sarkoma Kaposi.
Kanker leher rahim pada wanita yang terkena HIV dianggap tanda utama AIDS. Kanker ini disebabkan oleh virus papiloma manusia.
Pasien yang terinfeksi HIV juga dapat terkena tumor lainnya, seperti limfoma Hodgkin, kanker usus besar bawah (rectum), dan kanker anus. Namun demikian, banyak tumor-tumor yang umum seperti kanker payudara dan kanker usus besar (colon), yang tidak meningkat kejadiannya pada pasien terinfeksi HIV. Di tempat-tempat dilakukannya terapi antiretrovirus yang sangat aktif (HAART) dalam menangani AIDS, kemunculan berbagai kanker yang berhubungan dengan AIDS menurun, namun pada saat yang sama kanker kemudian menjadi penyebab kematian yang paling umum pada pasien yang terinfeksi HIV.[23]
Infeksi oportunistik lainnya
Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak spesifik, terutama demam ringan dan kehilangan berat badan. Infeksi oportunistik ini termasuk infeksi Mycobacterium avium-intracellulare dan virus sitomegalo. Virus sitomegalo dapat menyebabkan gangguan radang pada usus besar (kolitis) seperti yang dijelaskan di atas, dan gangguan radang pada retina mata (retinitis sitomegalovirus), yang dapat menyebabkan kebutaan. Infeksi yang disebabkan oleh jamur Penicillium marneffei, atau disebut Penisiliosis, kini adalah infeksi oportunistik ketiga yang paling umum (setelah tuberkulosis dan kriptokokosis) pada orang yang positif HIV di daerah endemik Asia Tenggara.[24]
Penyebab
Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat HIV.


HIV yang baru memperbanyak diri tampak bermunculan sebagai bulatan-bulatan kecil (diwarnai hijau) pada permukaan limfosit setelah menyerang sel tersebut; dilihat dengan mikroskop elektron.
AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofaga, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter (µL) darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu.
Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan.[25] Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi.[26][27] Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda, sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat. Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya seperti tuberkulosis, juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ini.[25][28][29] Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan peran penting. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. [30] HIV memiliki beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda, yang akan menyebabkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula.[31][32][33] Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS, serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.
Penularan seksual
Penularan (transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Seks oral tidak berarti tak berisiko karena HIV dapat masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif.[34] Kekerasan seksual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang memudahkan transmisi HIV.[35]
Penyakit menular seksual meningkatkan risiko penularan HIV karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitel normal akibat adanya borok alat kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofaga) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian epidemiologis dari Afrika Sub-Sahara, Eropa, dan Amerika Utara menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar risiko terinfeksi AIDS akibat adanya borok alat kelamin seperti yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid. Resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah, infeksi chlamydia, dan trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofaga.[36]
Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan pasangan seksual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan antarorang. Beban virus plasma yang tidak dapat dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani atau sekresi alat kelamin. Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan laju transmisi HIV.[36][37] Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 karena perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba vaginal, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit seksual.[38][39] Orang yang terinfeksi dengan HIV masih dapat terinfeksi jenis virus lain yang lebih mematikan.
Kontaminasi patogen melalui darah

Poster CDC tahun 1989, yang mengetengahkan bahaya AIDS sehubungan dengan pemakaian narkoba.
Jalur penularan ini terutama berhubungan dengan pengguna obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik (syringe) yang mengandung darah yang terkontaminasi oleh organisme biologis penyebab penyakit (patogen), tidak hanya merupakan risiko utama atas infeksi HIV, tetapi juga hepatitis B dan hepatitis C. Berbagi penggunaan jarum suntik merupakan penyebab sepertiga dari semua infeksi baru HIV dan 50% infeksi hepatitis C di Amerika Utara, Republik Rakyat Cina, dan Eropa Timur. Resiko terinfeksi dengan HIV dari satu tusukan dengan jarum yang digunakan orang yang terinfeksi HIV diduga sekitar 1 banding 150. Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV dapat lebih jauh mengurangi risiko itu.[40] Pekerja fasilitas kesehatan (perawat, pekerja laboratorium, dokter, dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun lebih jarang. Jalur penularan ini dapat juga terjadi pada orang yang memberi dan menerima rajah dan tindik tubuh. Kewaspadaan universal sering kali tidak dipatuhi baik di Afrika Sub Sahara maupun Asia karena sedikitnya sumber daya dan pelatihan yang tidak mencukupi. WHO memperkirakan 2,5% dari semua infeksi HIV di Afrika Sub Sahara ditransmisikan melalui suntikan pada fasilitas kesehatan yang tidak aman.[41] Oleh sebab itu, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, didukung oleh opini medis umum dalam masalah ini, mendorong negara-negara di dunia menerapkan kewaspadaan universal untuk mencegah penularan HIV melalui fasilitas kesehatan.[42]
Resiko penularan HIV pada penerima transfusi darah sangat kecil di negara maju. Di negara maju, pemilihan donor bertambah baik dan pengamatan HIV dilakukan. Namun demikian, menurut WHO, mayoritas populasi dunia tidak memiliki akses terhadap darah yang aman dan "antara 5% dan 10% infeksi HIV dunia terjadi melalui transfusi darah yang terinfeksi".[43]
Penularan masa perinatal
Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah sebesar 25%. Namun demikian, jika sang ibu memiliki akses terhadap terapi antiretrovirus dan melahirkan dengan cara bedah caesar, tingkat penularannya hanya sebesar 1%.[44] Sejumlah faktor dapat memengaruhi risiko infeksi, terutama beban virus pada ibu saat persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi risikonya). Menyusui meningkatkan risiko penularan sebesar 4%.[45]
Diagnosis
Sejak tanggal 5 Juni 1981, banyak definisi yang muncul untuk pengawasan epidemiologi AIDS, seperti definisi Bangui dan definisi World Health Organization tentang AIDS tahun 1994. Namun demikian, kedua sistem tersebut sebenarnya ditujukan untuk pemantauan epidemi dan bukan untuk penentuan tahapan klinis pasien, karena definisi yang digunakan tidak sensitif ataupun spesifik. Di negara-negara berkembang, sistem World Health Organization untuk infeksi HIV digunakan dengan memakai data klinis dan laboratorium; sementara di negara-negara maju digunakan sistem klasifikasi Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat.
Sistem tahapan infeksi WHO


Grafik hubungan antara jumlah HIV dan jumlah CD4+ pada rata-rata infeksi HIV yang tidak ditangani. Keadaan penyakit dapat bervariasi tiap orang. jumlah limfosit T CD4+ (sel/mm³) jumlah RNA HIV per mL plasma
Pada tahun 1990, World Health Organization (WHO) mengelompokkan berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan sistem tahapan untuk pasien yang terinfeksi dengan HIV-1.[46] Sistem ini diperbarui pada bulan September tahun 2005. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi oportunistik yang dengan mudah ditangani pada orang sehat.
• Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS
• Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluran pernafasan atas yang berulang
• Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari sebulan, infeksi bakteri parah, dan tuberkulosis.
• Stadium IV: termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru-paru, dan sarkoma kaposi. Semua penyakit ini adalah indikator AIDS.
Sistem klasifikasi CDC
Terdapat dua definisi tentang AIDS, yang keduanya dikeluarkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Awalnya CDC tidak memiliki nama resmi untuk penyakit ini; sehingga AIDS dirujuk dengan nama penyakit yang berhubungan dengannya, contohnya ialah limfadenopati. Para penemu HIV bahkan pada mulanya menamai AIDS dengan nama virus tersebut.[47][48] CDC mulai menggunakan kata AIDS pada bulan September tahun 1982, dan mendefinisikan penyakit ini.[49] Tahun 1993, CDC memperluas definisi AIDS mereka dengan memasukkan semua orang yang jumlah sel T CD4+ di bawah 200 per µL darah atau 14% dari seluruh limfositnya sebagai pengidap positif HIV.[50] Mayoritas kasus AIDS di negara maju menggunakan kedua definisi tersebut, baik definisi CDC terakhir maupun pra-1993. Diagnosis terhadap AIDS tetap dipertahankan, walaupun jumlah sel T CD4+ meningkat di atas 200 per µL darah setelah perawatan ataupun penyakit-penyakit tanda AIDS yang ada telah sembuh.
Tes HIV
Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi virus HIV.[51] Kurang dari 1% penduduk perkotaan di Afrika yang aktif secara seksual telah menjalani tes HIV, dan persentasenya bahkan lebih sedikit lagi di pedesaan. Selain itu, hanya 0,5% wanita mengandung di perkotaan yang mendatangi fasilitas kesehatan umum memperoleh bimbingan tentang AIDS, menjalani pemeriksaan, atau menerima hasil tes mereka. Angka ini bahkan lebih kecil lagi di fasilitas kesehatan umum pedesaan.[51] Dengan demikian, darah dari para pendonor dan produk darah yang digunakan untuk pengobatan dan penelitian medis, harus selalu diperiksa kontaminasi HIV-nya.
Tes HIV umum, termasuk imunoasai enzim HIV dan pengujian Western blot, dilakukan untuk mendeteksi antibodi HIV pada serum, plasma, cairan mulut, darah kering, atau urin pasien. Namun demikian, periode antara infeksi dan berkembangnya antibodi pelawan infeksi yang dapat dideteksi (window period) bagi setiap orang dapat bervariasi. Inilah sebabnya mengapa dibutuhkan waktu 3-6 bulan untuk mengetahui serokonversi dan hasil positif tes. Terdapat pula tes-tes komersial untuk mendeteksi antigen HIV lainnya, HIV-RNA, dan HIV-DNA, yang dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi HIV meskipun perkembangan antibodinya belum dapat terdeteksi. Meskipun metode-metode tersebut tidak disetujui secara khusus untuk diagnosis infeksi HIV, tetapi telah digunakan secara rutin di negara-negara maju.
Pencegahan
Perkiraan risiko masuknya HIV per aksi,
menurut rute paparan[52]

Rute paparan Perkiraan infeksi
per 10.000 paparan
dengan sumber yang terinfeksi
Transfusi darah 9.000[53]

Persalinan 2.500[44]

Penggunaan jarum suntik bersama-sama 67[54]

Hubungan seks anal reseptif* 50[55][56]

Jarum pada kulit 30[57]

Hubungan seksual reseptif* 10[55][56][58]

Hubungan seks anal insertif* 6,5[55][56]

Hubungan seksual insertif* 5[55][56]

Seks oral reseptif* 1[56]§

Seks oral insertif* 0,5[56]§

* tanpa penggunaan kondom
§ sumber merujuk kepada seks oral
yang dilakukan kepada laki-laki
Tiga jalur utama (rute) masuknya virus HIV ke dalam tubuh ialah melalui hubungan seksual, persentuhan (paparan) dengan cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi, serta dari ibu ke janin atau bayi selama periode sekitar kelahiran (periode perinatal). Walaupun HIV dapat ditemukan pada air liur, air mata dan urin orang yang terinfeksi, namun tidak terdapat catatan kasus infeksi dikarenakan cairan-cairan tersebut, dengan demikian risiko infeksinya secara umum dapat diabaikan.[59]
Hubungan seksual
Mayoritas infeksi HIV berasal dari hubungan seksual tanpa pelindung antarindividu yang salah satunya terkena HIV. Hubungan heteroseksual adalah modus utama infeksi HIV di dunia.[60] Selama hubungan seksual, hanya kondom pria atau kondom wanita yang dapat mengurangi kemungkinan terinfeksi HIV dan penyakit seksual lainnya serta kemungkinan hamil. Bukti terbaik saat ini menunjukan bahwa penggunaan kondom yang lazim mengurangi risiko penularan HIV sampai kira-kira 80% dalam jangka panjang, walaupun manfaat ini lebih besar jika kondom digunakan dengan benar dalam setiap kesempatan.[61] Kondom laki-laki berbahan lateks, jika digunakan dengan benar tanpa pelumas berbahan dasar minyak, adalah satu-satunya teknologi yang paling efektif saat ini untuk mengurangi transmisi HIV secara seksual dan penyakit menular seksual lainnya. Pihak produsen kondom menganjurkan bahwa pelumas berbahan minyak seperti vaselin, mentega, dan lemak babi tidak digunakan dengan kondom lateks karena bahan-bahan tersebut dapat melarutkan lateks dan membuat kondom berlubang. Jika diperlukan, pihak produsen menyarankan menggunakan pelumas berbahan dasar air. Pelumas berbahan dasar minyak digunakan dengan kondom poliuretan.[62]
Kondom wanita adalah alternatif selain kondom laki-laki dan terbuat dari poliuretan, yang memungkinkannya untuk digunakan dengan pelumas berbahan dasar minyak. Kondom wanita lebih besar daripada kondom laki-laki dan memiliki sebuah ujung terbuka keras berbentuk cincin, dan didesain untuk dimasukkan ke dalam vagina. Kondom wanita memiliki cincin bagian dalam yang membuat kondom tetap di dalam vagina — untuk memasukkan kondom wanita, cincin ini harus ditekan. Kendalanya ialah bahwa kini kondom wanita masih jarang tersedia dan harganya tidak terjangkau untuk sejumlah besar wanita. Penelitian awal menunjukkan bahwa dengan tersedianya kondom wanita, hubungan seksual dengan pelindung secara keseluruhan meningkat relatif terhadap hubungan seksual tanpa pelindung sehingga kondom wanita merupakan strategi pencegahan HIV yang penting.[63]
Penelitian terhadap pasangan yang salah satunya terinfeksi menunjukkan bahwa dengan penggunaan kondom yang konsisten, laju infeksi HIV terhadap pasangan yang belum terinfeksi adalah di bawah 1% per tahun.[64] Strategi pencegahan telah dikenal dengan baik di negara-negara maju. Namun, penelitian atas perilaku dan epidemiologis di Eropa dan Amerika Utara menunjukkan keberadaan kelompok minoritas anak muda yang tetap melakukan kegiatan berisiko tinggi meskipun telah mengetahui tentang HIV/AIDS, sehingga mengabaikan risiko yang mereka hadapi atas infeksi HIV.[65] Namun demikian, transmisi HIV antarpengguna narkoba telah menurun, dan transmisi HIV oleh transfusi darah menjadi cukup langka di negara-negara maju.
Pada bulan Desember tahun 2006, penelitian yang menggunakan uji acak terkendali mengkonfirmasi bahwa sunat laki-laki menurunkan risiko infeksi HIV pada pria heteroseksual Afrika sampai sekitar 50%. Diharapkan pendekatan ini akan digalakkan di banyak negara yang terinfeksi HIV paling parah, walaupun penerapannya akan berhadapan dengan sejumlah isu sehubungan masalah kepraktisan, budaya, dan perilaku masyarakat. Beberapa ahli mengkhawatirkan bahwa persepsi kurangnya kerentanan HIV pada laki-laki bersunat, dapat meningkatkan perilaku seksual berisiko sehingga mengurangi dampak dari usaha pencegahan ini.[66]
Pemerintah Amerika Serikat dan berbagai organisasi kesehatan menganjurkan Pendekatan ABC untuk menurunkan risiko terkena HIV melalui hubungan seksual.[67] Adapun rumusannya dalam bahasa Indonesia:[68]
“ Anda jauhi seks,
Bersikap saling setia dengan pasangan,
Cegah dengan kondom.
21